Polisi merancang informasi palsu bahwa salinan dokumen masih tersembunyi di Animalia Pet World. Kabar itu disebarkan lewat jalur yang mereka tahu bocor, pelan-pelan, agar terdengar seperti bisik-bisik yang tidak sengaja tertangkap telinga. Dine diminta mengizinkan klinik dipakai sebagai lokasi pengawasan, tetapi ia tidak diwajibkan berada di sana.
Ia mendengarkan seluruh rencana sampai selesai, memandang denah kliniknya yang dibentangkan di meja, lalu menunjuk satu bagian dengan ujung jari.
"Saya setuju tempatnya digunakan, tetapi hewan-hewan harus dipindahkan lebih dulu," katanya.
Seluruh pasien dibawa ke klinik mitra dalam dua kali pengangkutan. Kandang ditutup kain agar hewan tidak panik, dan Dine memeriksa satu per satu sebelum pintu mobil ditutup. Staf diliburkan dan kamera tambahan dipasang di sudut-sudut yang selama ini kosong. Dine tinggal di rumah Nola, meski sulit menerima tempat yang dibangunnya berubah menjadi umpan.
Malam itu ia membayangkan ruang periksanya gelap dan tanpa suara, tanpa cakar yang menggaruk lantai atau napas anjing yang tertidur. Bangunan itu masih miliknya, tetapi untuk sementara ia meminjamkannya kepada orang lain untuk dipakai sebagai jebakan.
Nola membuatkannya teh dan duduk di seberang meja tanpa banyak bicara. Dine memutar gelas di tangannya, memperhatikan uap yang naik dan hilang, lalu menyadari bahwa yang paling ia takutkan bukan kerugian bangunan. Yang paling ia takutkan adalah kehilangan rasa aman ketika membuka pintu depan pada pagi hari, karena rasa itu dibangun bertahun-tahun dan hanya perlu satu malam untuk dirusak.
Bian tidak terlibat dalam operasi lapangan. Ia diperintahkan tetap menghadiri rapat dewan agar Edrick percaya keponakannya tidak mengetahui rencana penangkapan.
Ruang rapat berbau kayu poles dan kopi. Dua belas orang duduk mengelilingi meja panjang, dan sebagian dari mereka tidak lagi menatapnya langsung.
Dewan mempertanyakan kemampuan Bian karena serangan dilakukan oleh keluarganya sendiri. Beberapa anggota meminta ia mengambil cuti sampai penyelidikan selesai. Alasannya diucapkan dengan sopan, tetapi maksudnya jelas bagi siapa pun yang pernah duduk di ruangan semacam itu.
"Saya bersedia melepaskan kewenangan terkait pemeriksaan," kata Bian. "Tapi operasional perusahaan tidak boleh lumpuh karena pelaku menginginkannya."
Ia mengucapkannya tanpa menaikkan suara. Beberapa tahun lalu ia mungkin akan membalas dengan sindiran, tetapi kini ia tahu bahwa nada tenang lebih sulit dibantah daripada kemarahan.
Komite independen mempertahankannya dengan pengawasan tambahan. Bian menerima batas itu tanpa menganggapnya penghinaan. Diawasi bukan hal yang menyenangkan, tetapi ia lebih memilih dipercaya karena diperiksa daripada dipercaya karena namanya.
Menjelang tengah malam, seorang lelaki memasuki Animalia melalui lorong pet hotel menggunakan kunci duplikat. Langkahnya pelan dan hafal arah, tidak sekali pun menyalakan senter di ruang terbuka. Petugas membiarkannya mencapai ruang kerja Dine sebelum menyalakan lampu.
Cahaya menyala serentak. Lelaki itu membeku dengan tangan masih di dalam laci, dan bunyi paling jelas di ruangan tersebut adalah napasnya sendiri.
Lelaki tersebut bukan Marcus atau Edrick. Ia adalah mantan petugas keamanan Emery Holding yang dipecat setahun lalu. Dalam tasnya ditemukan alat pembuka, telepon, dan foto tata ruang klinik yang dikirim Marcus.
Foto itu diambil dari dalam, pada jam buka, oleh orang yang berdiri seperti pelanggan biasa. Ada sudut meja resepsionis di tepi gambar, dan sebagian bahu seorang staf yang sedang menunduk mencatat. Tidak ada yang mencurigakan pada foto tersebut kecuali kenyataan bahwa foto itu pernah dibuat sama sekali.
Ia mengaku dibayar untuk mengambil penyimpanan data serta meninggalkan bahan mudah terbakar. Rencana membakar klinik dimaksudkan menghapus kemungkinan bukti sekaligus menakut-nakuti Banan. Ia menyebut jumlah bayarannya tanpa diminta, seakan angka itu bisa membuat perbuatannya terdengar lebih masuk akal.
Pengakuannya membawa polisi ke hotel tempat Marcus menginap. Kamar sudah kosong. Seprai masih rapi, gelas belum dipakai, dan pendingin ruangan menyala pada suhu paling rendah. Tetapi sebuah tanda terima menunjukkan pemesanan kendaraan menuju kawasan peternakan kecil milik Yayasan Satwa Dwipantara.
Dine langsung teringat hewan serta relawan di sana. Ia pernah menghabiskan tiga akhir pekan berturut-turut di tempat itu dan masih mengingat nama setiap orang yang menyodorkan teh panas dalam gelas plastik. Polisi menghubungi pengelola dan mengevakuasi lokasi tanpa menjelaskan rinciannya.
Bian mengetahui kabar tersebut saat rapat dan hampir meninggalkan gedung. Ia sudah berdiri, kursinya terdorong ke belakang, dan tangannya menggenggam ponsel terlalu erat. Zhian mengingatkan bahwa tindakannya dapat membocorkan operasi. Bian memilih tetap di tempat, menyerahkan lapangan kepada polisi.
"Aku benci hanya menunggu," katanya.
"Menunggu bukan berarti tidak melakukan apa-apa," jawab Zhian. "Anda sedang memastikan Marcus tidak tahu kita sudah menemukannya."
Bian duduk kembali. Ia membuka map di depannya dan membaca satu paragraf yang sama berulang kali tanpa satu kata pun benar-benar masuk ke kepalanya. Suara anggota dewan yang lain terdengar seperti berasal dari ruangan sebelah, tertahan dan tidak penting.
Ia mengingat kandang-kandang kecil di yayasan itu, atap sengnya yang rendah, dan bau pakan yang menempel di tangan. Tempat semacam itu tidak punya pengawal, tidak punya kamera, dan tidak punya apa pun untuk melawan orang yang datang membawa niat buruk. Yang bisa ia berikan malam ini hanyalah diam, dan diam terasa seperti membiarkan.
Polisi tiba di yayasan sebelum kendaraan Marcus. Mereka menempatkan diri di balik gudang pakan dan pagar bambu, sementara suara jangkrik menutupi bunyi radio yang dikecilkan. Ketika mobil itu mendekat lalu berbalik, pengejaran dimulai. Marcus menabrak pembatas dan berlari ke area kandang kosong. Ia membawa pistol serta botol bahan kimia.
Lampu sorot menyapu tanah yang becek. Bau pupuk dan jerami bercampur dengan asap dari mesin mobil yang rusak. Beberapa ekor sapi yang belum sempat diangkut bergerak gelisah di kandang paling ujung, dan bunyi kaki mereka menghantam papan terdengar bersahutan dengan teriakan petugas.
Kandang yang dituju Marcus sudah dikosongkan sejak sore. Kalau evakuasi terlambat satu jam saja, tempat yang kini gelap dan bau itu akan penuh oleh makhluk yang tidak mengerti kenapa manusia berlarian sambil membawa senjata.
Setelah negosiasi singkat, Marcus melepaskan tembakan ke udara dan mencoba kabur melalui sungai kecil. Petugas menangkapnya ketika ia terpeleset di tepian berlumpur, dan botol di tangannya menggelinding tanpa pecah ke rumpun rumput.
Tidak ada relawan atau hewan yang terluka. Namun Edrick tidak berada bersamanya.
Kesadaran itu datang kepada setiap orang di lokasi hampir bersamaan, dan sesaat tidak ada yang berani mengucapkannya.
Di ponsel Marcus terdapat pesan terakhir dari Edrick: ambil perempuan itu. Bian akan menyerahkan apa pun.
Polisi segera menuju rumah Nola. Sirene tidak dinyalakan. Pintu depan tidak rusak, lampu teras masih menyala, dan sepatu Dine masih berjajar rapi di rak.
Kamar Dine kosong dan jendela belakang terbuka. Tirainya bergerak pelan tertiup angin malam.
Di lantai terdapat ponselnya yang pecah.