November lima tahun silam menjadi cerita. Perkenalan tanpa sengaja yang menjadi indah sampai hari ini. "Ini pake aja, hati-hati di jalan". Dua gadis cantik yang hari itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Berbicara soal diriku, aku seorang mahasiswa bahasa dengan level abal-abal yang terhitung sampai hari ini belum juga mentas dari kampus. Hampir terisak ketika kunyatakan ini kepada kalian, sedang dia telah jauh menepati janjinya dan kini bersedia memegang tanganku. Waktu menjadi cepat untuk dia tumbuh dan berkembang dengan baik, banyak laki-laki yang rela berbaris demi menemaninya melenggang, mengajaknya makan ataupun menjadi driver gratis bagi perempuan secantik ia. Apalah aku, daya ingat pas-pasan, kantong jebol meronta-ronta, tampang juga tidak memadai. Mundur teratur dan pura-pura tidak mengenalinya adalah langkah terbaik. Sampai pada kesempatan tak terduga. Ada hari dimana akhirnya bisa mendekati, memandanginya sepuasku. Eitz..tunggu dulu, hal ini tidak semudah yang kalian bayangkan! Aku masih tidak bisa mendapatkannya. Jangankan mendapatkannya, untuk mencari tahu kesehariannya aku tidak bisa. Kita masih sekedar mengenal dan lagi-lagi sekedar teman. Berjalan dan beriringan, tanpa melibatkan perasaan yang terpendam baik di hati. Aku masih selalu menjadi pendukung terbaiknya dalam setiap hal. Setiap apapun yang ia ceritakan, setiap apapun yang ia mau, setiap apapun yang ia ingin. Entah sampai hari ini, ia menyadarinya atau tidak. Cerita-cerita tentang banyak batang-batang yang hidup dipeternakannya, yang bahkan membawa bala kurawa datang menemuinya, mengajaknya berkencan sampai diteror mantan, lelaki yang bahkan merelakan diri untuk diperlakukan sesukanya. Perempuan itu membuat teman-temanku merasakan mekarnya bunga buatan yang ia semai. Ia tinggalkan ketika mereka mulai menumbuhkan rasa suka. Bagiku.. tidak ada salahnya ia berlaku demikian toh wajar bagi perempuan berparas sepertinya memperlakukan kami. Batangan seperti kami layak diperlakukan seperti itu mengingat bahwa kami jua melirik perempuan yang seperti ia.
Demikian akhirnya waktu mempertemukan ia dengan seorang lelaki, namun lagi-lagi bukan aku. Laki-laki yang cukup kalem untuk menaungi si perempuan. Sebagai teman baik, aku pun mendukungnya. Mempersilahkan seorang yang ada di dalam hati bahagia dengan sesama kaumku. Kembali ke beberapa kalimat di awal, aku dan dia memiliki janji. Sebagai pertemanan yang diluruskan oleh keadaan, hari dimana cerah hadir dan hujan tidak ada disana aku dan dia duduk di depan ruang kelas. Ketika tugas sedang menumpuk dan banyak mata kuliah yang gencar memberi tugas praktek. Kutawarkan padanya untuk lulus tahun ini, 2019. Iya, dia menepatinya dan aku masih tetap tak bisa mentas. Aku? Benar-benar merasa bebal dan bodoh. Pantaslah aku tidak masuk dalam kriteria pendamping idamannya. Singkat waktu, ia menemukan orang lain. Dua orang laki-laki yang bertengger dihatinya. Satunya mapan satunya berjuang mati-matian memperjuangkan. Aku hanya menjadi pendengar baik ketika ia bingung menceritakan akan memilih yang mana, tanpa sadar pertimbangannya menjadi hal memuakkan yang pernah kudengar dari mulutnya. Berakhirlah cerita itu kemudian waktu berlalu lebih lambat lagi. Setelah pertemuan terakhir dengannya yang sebelumnya sempat kulihat dia pergi bersama laki-lakinya yang mapan hari itu dan kuberikan ikatan bunga flanel tanda ia menyudahi kuliahnya. Aku hilang arah dan terhempas dengan pelukan angin hari itu. Di awal bulan setelahnya aku melangkahkan kaki keluar rumah. Mencoba membalaskan dendam dengan peralihan lain. Bekerja di salah satu kota terbesar kedua di indonesia. Tanpa membuahkan hasil yang banyak, akhirnya kembali lagi ke rumah. Akhirnya, sebuah kebetulan yang menyenangkan aku bisa bekerja di dekat kampus. Berharap dengan begitu, tugas akhir bisa kuselesaikan. Aah...nyatanya sama saja ketika uang berbicara buku sudah menjadi cerita usang. Sembari bekerja disana aku juga menyalurkan pekerja ke kota. Seringkali menjemput dan mengantar mereka-mereka mencari pekerjaan.
Suatu sore di hari yang cukup baik aku menunggu calon pekerja datang menjemputku. Sembari menunggu, tangan ini berselancar bebas di f*******: dan kulihat si perempuan ini di beranda atas dengan tanda hijau. Iseng-iseng kukirimkan pesan menanyakan kabar dan keberadaannya. Tuhan benar luar biasa, ia mempertemukan tanpa kita minta. Hari itu kita bertemu untuk pertama kalinya setelah menjalani kisah sendiri-sendiri. Mengesalkan dan membuat remuk ketika ia menceritakan kesendiriannya, luka dan sakitnya. Aku pikir dia telah hidup dengan baik. Nyatanya ia kembali padaku dengan keadaan terburuk. Dua laki-laki yang kuceritakan di awal ternyata meninggalkannya dan satunya lagi bermain-main api untuk mendapatkannya. Kau tau bagaimana rasanya ketika rasa yang terpendam dalam hatimu menggeliat ingin muncul ke permukaan? Begitulah akhirnya rasaku heboh dan meremukkan kokohnya hati, "aku yang akan menjadi obat dan pelindungnya". Semenjak pertemuan itu, aku menjadi semakin mesra padanya. Bukan untuk menggoda namun memberikan perhatian bagaimana tentang kesehariannya, lelah, atau apapun yang ingin ia ceritakan. Perlu waktu cukup lama untuk membuatnya yakin dan percaya lagi. Memercayakan hati, meyakini bahwa cinta tidak selamanya buruk, membuat ia mengerti bahwa ketika ia jatuh cinta dengan orang yang tepat akan membuatnya bahagia tanpa syarat. Iya betul, seperti yang kutuliskan dan kalian tebak. Kini, perempuan dengan paras cantik itu menjadi milikku. Saling memegang tangan, menguatkan dan berjalan beriringan. Bagaimana kedepannya ? Semoga kita tidak saling menyakiti, tidak saling menemukan nyaman pada yang lain, tidak saling merasa paling benar, bisa menghadapi rasa bosan, mau beristirahat dan melanjutkan perjalanan bersama sehingga tidak ada diantara kita yang saling meninggalkan dengan atau tanpa alasan. Pun jika akhirnya aku harus kehilangan, akan kupastikan ia tidak memiliki kesempatan untuk melupakan. Masih dengan hujan yang basah nyaring suaranya masih terdengar dan namanya terpampang di layar.