Enam tahun kemudian.
Sore ini seperti janji ku kepada youra,aku pun mengajak nya berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan di salah satu kota.
Sore itu aku youra dan adikku fani ikut serta, kami menjelajahi setiap toko yang ada di mall tersebut sebelum pergi ke arena bermain dan restoran di tempat tersebut.
Aku dan Fani mengajak Youra ke salah satu toko buku terlengkap di mall itu. Kami hendak membeli perlengkapan sekolah untuk Youra.
Minggu depan dia akan memulai aktivitas di sekolah baru nya, dan sekalian membelikan Youra alat gambar baru.
"Ohh ... mama ini sangat indah banyak buku di sini," ucap nya polos.
Yah, Youra kami sangat menyukai buku. Bahkan isi kamar nya penuh dengan buku dan juga gambar yang ia buat sendiri.
"Bagaimana apa kau senang," tanya Rania.
"Ohh ... ia Youra sangat senang, Ma," jawab nya dengan gemas.
Mendengar jawaban anak nya, Rania merasa bahagia.
"Yah, sudah kamu dan Tante Dani ke sana yah, Mama mau ke sana dulu cari perlengkapan sekolah kamu sayang," ucap nya sembari mengelus rambut anak nya.
"Baik ma," jawab youra.
"Fan, tolong jaga yah dek," pesan nya ke Fani.
"Baik kak, Fani paham kok," jawab fani sembari tersenyum.
Dia tau kekhawatiran sang kakak, tapi bukan kah ini sudah berlalu selama enam tahun apa yang harus dia takut kan.
Setelah memberi pesan ke adik nya, Rania pun segera meninggalkan mereka berdua dan segera mencari apa saja yang di butuhkan anaknya.
"Tante, Youra pengen ke sana seperti nya di sana banyak alat lukis," ucapnya sopan.
"Hmm ... ayo kita ke sana," jawabnya dan segera menggandeng tangan keponakan nya itu.
Saat rania sedang memilih-milih barang untuk putri nya tiba-tiba ada seorang yang menyenggolnya nya hingga dia terjatuh ke lantai.
Bruk...
"Ahh ...," teriak Rania kesakitan.
"Ohh ... maaf kak saya tidak ..." ucapan pria itu terputus saat dia mulai berjongkok untuk membantu wanita itu berdiri.
"Astaga ... punya mata gak sih?" tanya Rania kesal sambil membersihkan diri dan memungut barang-barang yang berserakan.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria dari belakang.
Mendengar suara itu seketika Rania berhenti dan segera mengangkat kepala nya.
"What ... suara itu gak mungkin dia kan," batin Rania, dia pun segera mengangkat kepala nya untuk memastikan.
Betapa terkejut nya mereka bertiga saat pandangan mata mereka saling bertemu.
Seketika Rania merasa gugup dan jantung nya serasa akan loncat keluar.
Rania pun segera berdiri dan mengangkat keranjang nya lalu pria yang menabrak nya tadi memasukan sebuah buku tulis dan pensil yang berserakan tadi.
"Ini beneran kak rania," tanya pria yang menabrak nya.
Mendengar pertanyaan itu membuat Rania semakin gugup,seketika dia berkeringat.
Sedangkan pria yang baru datang tadi hanya menatap nya dingin dan sinis. Tatapan yang masih sama saat terakhir kali mereka bertemu.
"I ... ia apa kabar dengan mu," jawab nya gugup.
"Astaga, tadi nya aku pikir aku salah orang ternyata ini beneran kakak," ucap nya senang.
"Kabar aku baik kak, kakak kemana aja selama ini," tambah nya.
Mendengar pertanyaan itu membuat hati Rania semakin tak karuan, entah dia akan menjawab apa.
"Ohh ... aku ... aku sibuk ker—"ucap nya terpotong.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri mereka bertiga.
"Sayang, ternyata kalian disini dari tadi aku nyariin tau," ucap wanita itu, dan segera mengandeng mesra tangan pria yang satunya.
"Lepas," ucap pria itu sembari berusaha melepaskan diri dari si wanita.
Matanya tak berhenti menatap Rania yang sedang berdiri di hadapan nya saat ini.
Entah kenapa melihat pemandangan di hadapannya membuat hati Rania sedikit kesal, dan ada sedikit kecemburuan di hatinya.
"Mereka akhirnya bersama," batin rania.
Dia sangat ingin menangis saat ini,tapi dia tak ingin memperlihatkan di hadapan ketiga orang ini.
"Aku duluan yah, maaf sebelum nya," ucap Rania pamit.
"Kok cepat banget kak, kita baru ketemu loh," ucapnya.
"Aku buru-buru Di," jawab nya.
Dia pun segera memutar badan nya lalu pergi, dia benar-benar sakit sesakit-sakit nya.
"Apa aku benar-benar tak ada di hatimu kak," batin Rania.
Melihat ekspresi wajah Rania saat ini bisa di pastikan dia merasa kecewa dan sedih. Dan hal itu yang di baca oleh Hardi saat ini.
Dia sangat ingin mengejar Rania saat ini,tapi ia juga tak bisa bertindak karna kakak nya saja tak berniat berlari dan mengejar Rania saat ini.
Saat Rania telah menghilang dari pandangan mereka bertiga,Hardi pun dengan segera kembali mencari buku yang ia ingin kan sedangkan sang kakak Yohanes sibuk mencari alat lukis.
"Kamu masih suka wanita itu yo." Ucap Leonie bertanya.
Dari pertanyaan nya itu terlihat raut wajah yang tak bersahabat,dan Yohanes yang mengetahui itu hanya bisa tertawa kecil dengan penuh kejenuhan.
"Kenapa diam aja sih jawab dong." Ucap nya kesal.
"Memang kenapa." Jawab Yohanes judes.
"Ingat yo,kita itu sudah." Ucap nya terpotong.
"Sudah apa ... Sudah tunangan." Jawab nya kesal.
Yohanes meletakan alat lukis nya dan segera pergi. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Leonie dia benar-benar berbeda dengan Rianti.
Dia pun segera meninggalkan Leonie seorang diri di tempat tersebut.
"Yo,mau kemana kamu." Teriak nya kesal.
Tapi teriakan itu tak di gubris sedikit pun Oleh Yohanes,dia tetap melangkah menjauh dari Leonie.
Hal itu membuat Leonie semakin kesal,dan segera mengejar Yohanes.
Tiba-tiba saat mengejar Yohanes dia menabrak seorang gadis kecil di hadapan nya.
Bruuuukkkk ...
Leonie dan Youra pun terjatuh di lantai secara bersamaan.
"Ehh ... Apa kau tak punya mata ha,dimana orang tua mu mengapa dia membiarkan anak kecil berkeliaran sendiri di toko buku ini." Ucap Leonie kesal sembari membentak Youra.
Mendengar keributan tersebut Hardi segera menghampiri Mereka untuk melihat apa yang terjadi.
Youra pun segera berdiri dan meminta maaf kepada Leonie.
"Maaf tante." Ucap nya ketakutan.
"Maaf kamu bilang,kamu tau ga baju saya jadi kotor kena debu." Jawab nya kesal.
"Tapi kan tante yang salah." Ucap nya gemetar.
Mendengar perkataan Youra membuat nya semakin kesal dengan cepat dia berdiri dan mengangkat tangan nya.
Ia hendak menampar gadis kecil yang di tabrak nya itu,tiba-tiba ada tangan Yohanes yang menahan nya.
"Mau apa kamu ha,apa kamu sudah gila." Ucap Yohanes kesal.
"Anak ini kurang ajar banget loh Yo." Jawab Leonie membela diri.
"Ada apa ini ribut-ribut." Tanya hardi saat tiba di depan Yohanes dan Leonie.
"Tanyakan pada wanita gila ini." Jawab Yohanes kesal.
Dengan segera Leonie menarik tangan nya yang di cengkram oleh Yohanes.