Aku Yang Kembali
.
.
.
HEADLINE NEWS!!
Wow! Tidak di sangka-sangka. Dia perempuan berinisial D.W kembali lagi. Setelah pekerjaan panjang di sebuah maskapai penerbangan terbesar di Arab, Kini wanita berusia 27 tahun bulan maret ini memutuskan untuk kembali. Benarkah D.N kembali untuk meminta restu? Karna di kabarkan D.N tengah dekat dengan salah satu Pemuda Tampan asal Arab ......
"Astagfirullah! Kenapa sih mereka nyebar-nyebar gosip mulu" decakan kesal menjadi hari yang buruk bagi seorang perempuan yang mengenakan gamis dengan lengan mengembang bewarna grey-navy serta khimar navy tidaj terelakkan. Bertahun-tahun lamanya ia telah meninggalkan tanah air tercinta tapi saat kembali lagi, para wartawan yang haus akan berita masih saja mengejarnya tidak kenal lelah.
Ia langsung keluar dari website yang sedang hangat membicarakan dirinya itu. Dan mencari nomor asisten kepercayaannya untuk segera menangani masalah itu.
"Mia, Aku gak mau tahu. Urus semua masalah itu. Kalau perlu tutup aja tuh penerbitan koran itu."
Tanpa menunggu ucapan balasan dari orang yang di teleponnya, Dinaviarshyta Wirdahaya atau yang lebih sering di sapa Via langsung mematikan panggilan ponselnya.
"Akhirnya" ucap Via bersyukur saat ia berhasil meraih koper ukuran sedangnya yang ada di atas belt konveyor itu. Ia langsung menggeret kopernya keluar dari bandara.
Saat berada di luar pintu kedatangan, ia melihat kesetikar untuk mencari keberadaan orang yang berjanji akan menjemputnya di bandara. Tapi sayang, orang itu tidak terlihat di matanya.
"Auntyy! Ia" Pekikan senang dari suara yang sangat di kenalnya membuat Via langsung menolehkan kepalanya menuju sumber suara.
Mata Via menangkap Fabian Putera, si anak laki-laki berumur Lima tahun berlari ke arahnya. Dengan sigap, Via langsung memeluk keponakan tersayangnya itu. Satu-satunya keponakan laki-laki yang di miliki keluarga Wirdahaya yang entah kenapa sangat minim sekali akan keturunan laki laki.
"Ugh! Abang udah mulai berat ya" Via menciumi seluruh wajah Fabian yang kini telah mengalungkan kedua tangannya ke leher Via memeluk Aunty nya itu. "Iya dong! Kan Abang halus banyak makan supaya bisa jagain Adek bayi dalam pelut mama"
Via terkekeh kecil. Fabian memang sangat lucu apalagi cadelnya yang belum sembuh. "Assalammualaikum dek" sapa Kakak keduanya Winiarty Wirdahaya yang kini telah berada di hadapannya bersama Abang iparnya Berlian Mutaqqin.
Via menyalami Kakaknya begitu juga dengan Ian-panggilan Abang iparnya itu. "Ih, Kirain Kakak gak jadi jemput. Hampir ajak aku pesen gocar"
"Haha. Maaf dek. Itu tadi ponakan kamu itu minta makan karna kelamaan nungguin kamunya." jelas Wini pelan.
Via mengangguk memaafkan. Ia masih setia menggendong Fabian yang kini malah meletakkan kepalanya di bahu Via dengan nyaman. "Abang, jangan di gendong sama Aunty Via dong. Aunty Vianya kan pasti capek nak"
"Nggak Mau. Abi mau ama aunty ia"
Fabia semakin menggelengkan kepalanya dan mempererat pelukan nya pada Via. "Gak apa-apa Bang. Lagian Via juga kangen sama Abi" Ian dan Wini akhirnya membiarkan saja Fabian anak pertama mereka di gendong Via.
Koper milik Via langsung di geret Ian dan mereka berjalan menuju parkiran dimana letak mobil Ian dan Wini.
. . . . . . . . .
Perjalanan yang memakan waktu yang cukup lama hingga Fabian telah tertidur nyaman di pelukan Via dalam posisi tengkurap. Wini yang melihat bagaimana adiknya yang sayang pada anaknya itu tersenyum. "Udah cocok kamu itu" Pernyataan bergantung membuat Via mengangkat sebelah alisnya menatap Kakaknya yang menatap balik dirinya melalui kaca spion depan mobil.
"Cocok apanya? Kakak aneh ya"
"Mas, beneran kan. Si Via udah cocok buat berumah tangga. Malah udah keduluan sama Ranti lagi. Masa iya Kakaknya belum adiknya aja udah mau punya anak juga" Sindiran yang diberikan Wini hanya di tanggapi angin lalu oleh Via yang kini lebih memilih untuk menyandarkan dengan nyaman dirinya di kursi mobil.
"Mungkin Via lagi pengen seneng-seneng dulu Win." Via tersenyum, Abang iparnya itu memang selalu netral, tidak berpihak pada istrinya maupun juga dirinya. Itu yang Via suka selain Bang Ian juga telah ia anggap sebagai Abang kedua setelah Abang kandungnya sendiri.
Pertanyaan terus di lontarkan Wini yang seakan-akan mempromosikan seorang Pria yang merupakan tetangga mereka. Tapi tetap saja Via tidak tertarik sama sekali, ia sudah lelah.
"Kak, emangnya aku gak laku apa. Kalau emang belom ketemu jodohnya ya nunggu aja. Lagian aku juga mau dapat yang terbaik. Dan aku juga masih mau memperbaiki diri aku agar kelak calon imam aku nanti juga baik."
Percakapan mereka tidak berlanjut lagi karna Wini tahu batasannya dan ia sebagai Kakak hanya bisa berdoa dalam hati agar kelak adiknya mendapatkan calon yang baik dan bisa membimbing adiknya itu ke jalan yang benar.
Mobil yang Ian kendarai tiba di pelataran rumah keluarga Wirdahaya. Via langsung turun dengan masih menggendong Fabian yang tenang dalam pelukannya tidak terganggu sedikitpun. "De-"
Baru saja Wini akan menyusul Via untuk masuk ke dalam kamar perempuan itu, Ian menahannya "Biarkan saja Via istirahat dulu sayang. Kamu tahu kan kejadian enam tahun lalu itu tidak akan mudah untuk di lupakan oleh Via sendiri." Wini baru sadar. Ucapan Suaminya benar.
"Aku kakak yang buruk ya" ucap Wini dan Ian menyanggah semua itu. "Gak sayang, kamu Kakak yang baik untuk Via. hanya saja mungkin Via masih memerlukan waktu"
Rumah kedua orang tua mereka kosong karna Ayah dan Ibunya tengah berada di luar kota untuk urusan bisnis. Sedangkan adik bungsunya ikut suaminya dan Abangnya sendiri mungkin di rumah istrinya. Semuanya telah memiliki keluarga masing-masing.
Via meletakkan Fabian di atas kasurnya pelan. Ia sungguh menyayangi keponakannya itu daripada apapun. Meskipun ia tidak terlalu sering bersama Fabian dikarenakan kesibukannya, Via tetap melakukan Video Call.
Ia menelusuri kamar yang telah lama tidak ia tempati ini. Foto-foto yang tergantung di dinding kamarnya itu membuat sesuatu dalam dirinya menjadi sesak. Ia lupa menyuruh Bi Imah membereskan semua foto-foto itu.
Dengan hati yang berat namun ia harus melakukannya untuk menghapus semua kenangan yang menyakitkan itu. Bahkan terlalu sakit untuk sekedar di kenang.
Tbc.
Friday, 2 February 2018