Kirey menyusuri lorong kantor dengan wajah masam, hak sepatunya berbunyi keras seakan ikut marah bersama pemiliknya.
"Aku benar-benar sibuk, Kir. Aku benar-benar sibuk," Kirey menirukan kata-kata Darren tadi dengan nada mengejek. "Sibuk untukku, tapi tidak untuk wanita itu."
Di dalam lift, Kirey mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Helo, Aunt?"
"Iya, Sayang. Ada apa?"
"Aku gagal lagi, Aunt. Darren menyuruhku diam dan tak mengganggunya."
Rosaline menghela napas di seberang sana. "Kamu terlalu terburu-buru, Sayang. Darren memang tak suka di ganggu ketika bekerja, sejak kecil dia begitu."
"Lalu aku harus bagaimana? Selama wanita itu masih ada di mansion, Darren tak akan pernah melihatku, Aunt."
"Kalau begitu keluarkan dia dari mansion."
Kirey terdiam sejenak, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Kenapa aku tak berpikir sampai ke situ, ya?"
"Kamu pintar, Sayang, Aunt hanya perlu mengingatkan," kata Rosaline.
****
Di rumah sakit Patton, Nancye menekuri berkas pasien yang sejak tadi tak juga selesai ia baca. Barisan huruf itu seakan berjalan sendiri dan tak satu pun masuk ke kepalanya.
"Nancye?" panggil Gerald.
"Oh ... iya, Ger?"
"Kau tak apa-apa? Sejak pagi wajahmu pucat."
"Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur semalam."
"Kalau kurang tidur, jangan memaksakan diri. Kita ini calon dokter, bukan mesin," kata Gerald.
Nancye tersenyum kecil. "Makasih, Ger."
"Sama-sama. Oh iya, soal semalam ... maafkan aku, ya, kalau kedatangan kekasihmu ke cafe itu gara-gara aku yang mengajakmu."
"Bukan salahmu, Ger."
"Syukurlah kalau begitu."
Gerald melangkah pergi dan Nancye kembali menekuri berkasnya, namun yang terbayang di kepalanya tetap saja pelukan Darren dan Kirey pagi tadi.
"Kesalahanku cuma pulang terlambat, kenapa hukumannya seberat ini?" gumam Nancye. "Aku sudah minta maaf, aku sudah menjelaskan, tapi dia bahkan tak mau mendengarku."
****
Sudah hampir malam ketika Nancye sampai di mansion. Dari pintu utama ia melihat Darren baru saja turun dari mobil bersama Kirey, wanita itu memegang lengan Darren begitu erat seakan takut terjatuh.
Nancye berdiri mematung. Darren melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun, seakan yang berdiri di situ hanya patung penghias ruangan.
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Rosaline yang tiba-tiba muncul dari arah ruang makan.
"Aku tinggal di sini, Aunt."
"Tinggal? Kamu itu hanya menumpang, Sayang. Lihatlah Darren, dia bahkan tak mau menatapmu. Wanita yang tahu diri itu pergi sebelum di usir."
"Aku tak pernah meminta apa pun dari mansion ini, Aunt."
"Tapi kau juga tak pernah pergi, ‘kan? Kirey itu sudah bersama Darren sejak mereka masih kecil, sedangkan kamu? Darren mengenalmu berapa bulan? Berpikirlah sedikit."
Nancye menahan air matanya sekuat tenaga dan naik ke lantai atas tanpa menjawab. Dari atas ia mendengar tawa Kirey di ruang tengah, tawa yang sengaja di keraskan agar sampai ke telinganya.
Malam itu Nancye tak turun untuk makan malam.
****
Pukul sepuluh malam, Nancye mengetuk pintu kamar Darren.
"Masuk."
Darren sedang duduk di tepi ranjang dengan segelas wine di tangannya. Ia tak menoleh sama sekali.
"Aku mau bicara sebentar," kata Nancye.
"Bicara saja."
"Izinkan aku kembali ke penthouse."
Untuk pertama kalinya sejak semalam Darren menoleh, tatapannya tajam. "Apa?"
"Aku ingin kembali ke penthouse. Rumah sakit juga lebih dekat dari sana."
"Kau mau lari?"
"Aku tak lari, Darren. Aku hanya tak mau berdiri di rumah yang setiap sudutnya membuatku merasa tidak di inginkan," kata Nancye dengan suara bergetar.
Darren meletakkan gelasnya kasar. Ada sesuatu yang ingin sekali ia katakan, tapi gengsinya berdiri lebih tinggi dari perasaannya.
"Terserah kamu," jawab Darren dingin.
Nancye mengangguk pelan, air matanya jatuh tepat ketika ia berbalik.
"Besok pagi aku berangkat."
Darren tak menjawab, dan Nancye keluar menutup pintu.
Beberapa menit setelah pintu tertutup, Darren mengambil ponselnya.
"Nyonya Ursten? Bersihkan penthouse malam ini juga. Nancye akan tinggal di sana lagi mulai besok."
"Baik, Tuan."
"Satu lagi. Setiap hari siapkan makanannya, jangan sampai dia melewatkan satu kali makan pun. Pakaiannya juga akan saya kirim, semua urusannya biar saya yang atur."
"Baik, Tuan muda."
Darren mengakhiri telponnya dan memijat pelipisnya sendiri.
"Kenapa mulutku selalu mengatakan hal yang berlawanan dengan hatiku?" gumam Darren.
****
Esok paginya Nancye turun dengan sebuah koper kecil. Tom sudah menunggu di depan pintu utama.
"Biar saya bawakan, Nona."
"Tak usah, Tom. Ini ringan kok."
Kirey berdiri di anak tangga sambil melipat tangannya, senyum kemenangan tak juga hilang dari wajahnya.
"Hati-hati di jalan, Nancy," kata Kirey.
Nancye tak menjawab. Ia hanya menoleh sekali ke lantai atas, ke pintu kamar Darren yang tertutup rapat, lalu melangkah keluar.
Darren berdiri di balik jendela kamarnya dan melihat mobil itu keluar dari gerbang mansion. Tangannya mengepal begitu kuat.
"Turunlah, Darren, tahan dia," kata hatinya. Namun kakinya tak bergerak sedikit pun sampai mobil itu hilang dari pandangan.
****
Sampai di penthouse, Nyonya Ursten sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat datang kembali, Nona."
"Nyonya Ursten sudah tahu saya akan datang?"
"Tuan muda yang menelpon semalam. Semuanya sudah beliau atur, kamar Nona juga sudah saya bersihkan."
Nancye terdiam sejenak. Pria itu tak mau berbicara dengannya semalam, tapi diam-diam menyiapkan semuanya.
"Makasih, Nyonya," kata Nancye sembari masuk dan meletakkan kopernya di ruang tamu.
Penthouse itu masih sama seperti dulu, rapi dan wangi. Namun entah kenapa hari ini terasa begitu sepi.
****
Seharian itu Darren tak bisa bekerja dengan benar. Berkali-kali ia membuka ponselnya, mengetik pesan untuk Nancye, lalu menghapusnya lagi sebelum terkirim.
"Kau yang salah, Nancye. Kau yang membuatku begini," kata Darren, walaupun ia sendiri tak yakin dengan kata-katanya.
Kirey masuk ke ruangan membawa segelas kopi. "Kamu kelihatan lelah."
"Aku tidak apa-apa, Kir."
"Wanita itu sudah pergi, kenapa kamu masih memikirkannya?"
Darren menatap Kirey tajam sampai wanita itu buru-buru menunduk.
"Jangan pernah menyebutnya 'wanita itu' di depanku."
Kirey terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa takut kepada sahabat kecilnya sendiri.
"Sorry," kata Kirey pelan sembari meletakkan kopi dan keluar dari ruangan.
Sepanjang sore itu ruangan Darren begitu sunyi. Ia menatap kursi kosong di sudut ruangan, kursi yang biasanya di duduki Nancye ketika menunggunya pulang.
Sore hari ketika kembali ke mansion, mansion itu terasa jauh lebih besar dan jauh lebih dingin dari biasanya. Tak ada suara Nancye yang menegurnya agar makan, tak ada yang membenarkan letak dasinya.
Darren melangkah ke kamarnya dan membuka lemari.
"Malam ini aku akan ke penthouse. Aku akan meminta maaf, walaupun aku tak tahu harus mulai dari mana," gumam Darren.
Ia mengambil ponselnya. "Tom, siapkan mobil sebentar lagi."
"Baik, Tuan."
BERSAMBUNG.
.
.
Jika kalian suka jalan ceritanya jangan lupa tekan like / love ya, karena dari love / like kalian, saya bisa berkarya dan memberikan cerita-cerita yang lebih baik lagi.
Salam cintaku.
Irhen Dirga