Malam itu lembah tidak tidur, dan tak seorang pun di pos berpura-pura sebaliknya. Pengungsi memenuhi sudut kompleks yang disiapkan untuk mereka, anak-anak menangis pelan dalam gelap, perempuan-perempuan berdoa dengan suara yang nyaris tak terdengar. Maharani bekerja di tenda medis sampai tak ada lagi yang perlu dijahit, lalu ia naik ke menara pengawas karena ia tak tahan tinggal di bawah, dan karena dari atas ia bisa melihat tepi timur, dan karena ia harus melihat meski melihat akan menghancurkannya.
Wanto sudah di sana, mata di teropong malam, tubuhnya diam seperti batu. Bagas naik tak lama kemudian, dan ketiganya berdiri dalam gelap memandang ke seberang sungai, ke titik di luar garis biru tempat asap kini bercampur dengan kilatan.
Lalu suara itu datang, dibawa angin malam menyeberangi air. Tembakan. Tidak sporadis kali ini, tidak terputus-putus seperti malam pelanggaran yang lalu. Ini berkelanjutan, banyak, dari banyak arah, dan di antara letusan-letusan itu, samar tapi pasti, terdengar yang lain. Suara manusia. Jeritan, dibawa air dan udara, dari arah deretan dusun di tepi timur. Dari arah desa Fatou.
Maharani mencengkeram pagar menara sampai buku-buku jarinya putih. "Komandan," suaranya hampir tak keluar. "Itu desanya. Itu desa Fatou."
Bagas tidak menjawab. Ia menekan radio. "Sektor, ini pos penyangga lembah. Serangan terhadap warga sipil sedang berlangsung di koordinat yang sudah kami laporkan. Sedang berlangsung. Sekarang. Aku mengulang permintaan otorisasi untuk intervensi. Mohon respons segera."
Radio berderak, dan suara di seberang gelombang berkata bahwa permintaan masih dalam proses pada tingkat misi, bahwa belum ada keputusan, bahwa mereka diminta tetap pada posisi dan terus melaporkan perkembangan. Kata-kata yang sama. Bahasa yang sama. Penundaan yang dibungkus pemahaman, dikirim dari ruang berpenyejuk udara berkilometer jauhnya, ke menara kayu tempat tiga orang berdiri mendengarkan sebuah desa mati.
"Mereka belum memutuskan," kata Bagas, dan suaranya kosong. Ia meletakkan radio dan menatap lembah, dan Maharani melihat di wajah komandannya pertempuran yang sama yang berkecamuk dalam dirinya sendiri, kecuali bahwa Bagas telah memilih sisinya, dan harga dari pilihan itu terbaca jelas di setiap garis wajahnya.
"Komandan, kita harus..."
"Tidak, Sersan." Ia tidak berbalik. "Perintahku berdiri. Tidak ada yang menyeberang. Aku tidak akan mengirim satu pun dari kalian mati di luar mandat. Aku tidak akan menjadi komandan yang membakar gencatan senjata seluruh lembah dan membunuh ribuan untuk satu desa. Itu beban yang harus kupikul, dan aku akan memikulnya, dan aku akan menanggung jeritan itu seumur hidupku. Tapi aku tidak akan melanggar." Suaranya pecah di kata terakhir, lalu ia memaksanya kembali utuh. "Itu perintah. Untuk semua. Termasuk kau."
Maharani memandang punggung komandannya. Ia memandang Wanto, yang matanya masih di teropong, yang bahunya bergetar halus dengan beban menyaksikan tanpa boleh bertindak. Ia mendengar jeritan datang lagi melintasi air, tipis, jauh, manusiawi, jeritan yang tak punya faksi dan tak punya bendera dan tak peduli pada garis di atas peta mana pun.
Lalu, perlahan, ia turun dari menara.
Tak seorang pun menghentikannya saat ia melintasi kompleks. Mungkin mereka mengira ia kembali ke tenda medis. Mungkin mereka terlalu terpaku pada seberang. Ia melewati pengungsi yang berdoa, melewati gerbang yang dijaga, mengucapkan sesuatu pada penjaga tentang memeriksa perahu, setengah benar, setengah dusta yang ia tak sempat lagi merasa bersalah karenanya. Ia menuruni jalur tanah ke dermaga kecil di tepi sungai tempat sebuah perahu karet tertambat, gelap dan basah, bergoyang pelan dalam arus malam.
Di tangannya ia membawa kotak medis. Bukan senjata. Ia tidak punya senjata ofensif, tidak pernah, mandat melarangnya, dan ia tak menginginkannya. Ia hanya membawa yang selalu ia bawa, yang membuat dirinya dirinya: alat untuk menjahit luka, untuk menahan darah, untuk membantu nyawa bertahan beberapa jam lebih lama sampai mungkin, mungkin, otorisasi yang terkutuk itu turun dan seseorang datang.
Ia berdiri di tepi air dengan helm birunya di tangan yang satu dan kotak medis di tangan yang lain. Helm itu, lambang dari segala yang mengikatnya, segala yang melarangnya, segala netralitas yang malam ini terasa seperti pengkhianatan. Di seberang, jeritan dan kilatan berlanjut. Di belakangnya, di atas menara, perintah komandannya berdiri tegak dan benar dan tak terbantahkan, perintah yang dirancang untuk menyelamatkan lebih banyak, perintah yang jika ia langgar bisa mempertaruhkan seluruh kontingen Garuda, nama negaranya, nyawa rekan-rekannya, dan perdamaian rapuh ribuan orang di lembah ini.
Dua kebenaran. Patuh, dan menanggung jeritan Fatou seumur hidupnya, seperti yang dipilih Bagas. Atau menyeberang sendirian ke dalam kegelapan tempat kekerasan sedang berlangsung, melanggar segala yang ia janjikan untuk dipatuhi, mempertaruhkan segalanya, mungkin mati di sana, mungkin gagal menyelamatkan siapa pun, mungkin hanya menambah satu nama lagi pada daftar malam ini, dan menjadikan dirinya pelanggar, bukan pahlawan.
Ia memikirkan ibunya di Klaten, kalimat yang belum selesai. Ia memikirkan pasien pertamanya yang tak pernah pergi dari mimpinya. Ia memikirkan bayi Fatou, merah dan marah dan hidup, yang ia letakkan di dada ibunya beberapa malam lalu. Ia memikirkan sumpah yang ia ucapkan bertahun-tahun lalu, sumpah seorang bidan yang tidak menolak siapa pun yang terluka, sumpah yang lebih tua dari seragamnya, lebih tua dari mandat, lebih tua dari semua garis yang digambar orang di atas peta untuk membagi penderitaan menjadi kotak-kotak tanggung jawab.
Letakkan helm itu, atau pakai. Tinggal, atau pergi.
Angin membawa satu jeritan lagi melintasi air, dan jeritan itu seperti memanggil namanya, nama yang diberikan orang-orang di kedua tepi sungai, nama yang tak peduli pada bendera. Bu Bidan.
Maharani meletakkan helm biru itu di papan dermaga, pelan, seperti meletakkan sesuatu yang sudah mati. Ia memandangnya sekali, bulat dan biru dan diam dalam gelap. Lalu ia berlutut di tepi perahu, meletakkan kotak medisnya di dalam, dan mengulurkan tangan ke arah tali yang menambatkannya ke dermaga.
Jari-jarinya menyentuh tali itu, kasar dan basah dan dingin.
Di belakangnya, dari arah menara, ia mendengar suara langkah tergesa menuruni tangga dan seseorang meneriakkan namanya ke dalam malam.
Dan ia menariknya.