Rumah Fatou masih berdiri. Itu hal pertama yang membuat napas Maharani tertahan ketika ia mengenali bentuknya dari deskripsi Adama: dinding tanah rendah, atap rumbia yang sebagian sudah menghitam tapi belum runtuh, ambang pintu kayu yang miring. Api belum sampai ke sini, atau sudah lewat begitu saja, mungkin karena rumah ini terlalu kecil dan terlalu di pinggir untuk diurus oleh tangan-tangan yang sibuk merampas di pusat desa. Tapi pintu itu terbuka, menganga ke dalam kegelapan, dan tak ada suara dari dalam.
Maharani masuk lebih dulu, menentang isyarat Wanto agar ia menunggu. Ia tak bisa menunggu. Ruangan itu kacau, kain berserakan, periuk terguling, dan baunya, bau yang ia kenali, bau ketakutan dan keringat dan sesuatu yang lebih tajam. Kosong. Untuk satu detik yang menjatuhkan perutnya ke dasar, ruangan itu kosong, dan ia membayangkan yang terburuk, membayangkan Fatou diseret keluar, membayangkan dirinya datang terlambat sebagaimana ia datang terlambat untuk pasien pertamanya bertahun-tahun lalu.
Lalu ia mendengarnya. Sangat samar. Dari sudut ruangan, dari bawah lantai. Sebuah suara yang bukan suara, lebih seperti ketiadaan suara yang berusaha menjadi suara, sengau dan tercekik.
Lubang penyimpanan. Maharani sudah melihatnya di desa-desa seperti ini, lubang di lantai tempat keluarga menyimpan ubi dan biji-bijian agar dingin dan tersembunyi, ditutup papan dan tikar. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai, menyingkirkan tikar, mengangkat papan dengan jari-jari yang mencakar, dan di bawah, dalam gelap pekat, terbaring Fatou, meringkuk di ruang sempit yang nyaris tak cukup untuk satu tubuh, memeluk sebuah buntalan ke dadanya.
"Fatou." Maharani meraihnya. Perempuan itu hidup, matanya terbuka, tapi pandangannya kabur oleh kelelahan dan ketakutan dan sesuatu yang lebih buruk: keputusasaan diam orang yang sudah menyiapkan diri untuk mati di lubang ini. Fatou mengangkat buntalan itu dengan tangan gemetar, mendorongnya ke arah Maharani sebelum apa pun, sebelum dirinya sendiri, dan Maharani mengerti tanpa kata. Bayinya.
Ia mengambil buntalan itu, dan jantungnya berhenti. Bayi itu diam. Wajahnya, dalam cahaya samar yang masuk dari pintu, kebiruan, bibir kecilnya gelap, dada mungilnya tak bergerak. Fatou, dalam kepanikan bersembunyi, dalam usaha mati-matian agar tangis bayi tak terdengar oleh orang-orang bersenjata di luar, telah menutup mulut dan hidung anaknya dengan kain, terlalu rapat, terlalu lama. Ia telah menukar kemungkinan ditemukan dengan kemungkinan mati lemas, perhitungan mengerikan seorang ibu di lubang gelap, dan kini napas anaknya nyaris hilang.
Maharani tidak berpikir. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Ia membuka kain dari wajah bayi, memiringkan kepala mungil itu, membersihkan mulut kecil dengan jarinya, lalu menutup hidung dan mulut bayi dengan mulutnya sendiri dan meniupkan napas, lembut, sangat lembut, embusan sekecil yang bisa dilakukan paru-paru orang dewasa, lalu berhenti, lalu lagi. Ia merasakan dada kecil itu naik di bawah telapaknya. Sekali. Ia menekan dada itu dengan dua jari, ritme yang dihafal tangannya, lalu meniup lagi, dan di belakangnya ia mendengar Fatou mengeluarkan suara yang bukan tangis dan bukan doa melainkan keduanya sekaligus.
Lalu bayi itu tersedak. Sebuah suara basah, kecil, marah. Dan kemudian tangis, tipis dulu, lalu menguat, suara yang sama yang Maharani dengar di ruang berbau tanah beberapa malam lalu, suara hidup yang menolak padam. Warna kembali ke bibir kecil itu. Dada itu naik turun atas kehendaknya sendiri. Maharani memeluk bayi itu sejenak ke dadanya, menutup matanya, membiarkan satu detik kelegaan yang ia tahu tak akan bertahan, lalu menyerahkannya kembali ke tangan Fatou yang terentang.
"Dia hidup," kata Maharani, dan Adama tak ada untuk menerjemahkan, tapi Fatou mengerti dari wajahnya, dari tangis bayi di dadanya, dan ia menangis tanpa suara sambil menutupnya kembali, kali ini cukup untuk menghangatkan, tidak untuk membungkam.
Tapi ketika Maharani membantu Fatou keluar dari lubang, perempuan itu memekik tertahan dan jatuh ke samping. Maharani menangkapnya, dan tangannya menemukan kehangatan basah di kaki Fatou, di betis, di bawah kain yang sobek. Luka. Bukan baru dari bayi, tapi dari pelarian; ketika kekerasan tiba, Fatou pasti berlari ke rumah dari suatu tempat, dan sesuatu, pecahan atau peluru atau kayu tajam, telah merobek dagingnya, dan ia bersembunyi di lubang dengan luka itu sambil menjaga bayinya tetap diam. Maharani membuka kotak medisnya di lantai rumah berdinding tanah itu, di bawah cahaya senter yang ditutup Wanto dengan tangan agar tak terlihat dari luar, dan mulai bekerja: membersihkan, menekan, membalut, dengan tangan yang sudah berhenti gemetar karena ada pekerjaan untuk dilakukan, dan pekerjaan selalu menenangkan tangannya.
Wanto berdiri di pintu, punggung ke dinding, mengawasi jalan. "Bu Sersan," katanya pelan tanpa berbalik. "Mereka belum pergi jauh. Saya dengar mereka di ujung utara. Sebagian masih di desa."
Maharani mengikat balutan terakhir. Ia memandang Fatou yang memeluk bayinya, kaki terluka, terlalu lemah untuk berjalan jauh apalagi berlari. Ia memandang Wanto di pintu, satu senjata yang tak boleh ditembakkan. Ia memandang pintu yang menganga ke desa tempat orang-orang bersenjata masih bergerak dalam gelap. Dan ia menyadari kenyataan yang dingin dan jelas: mereka tidak bisa kembali ke perahu sekarang. Tidak dengan Fatou yang tak bisa berjalan, tidak melewati pusat desa tempat kelompok itu masih menjarah, tidak dengan bayi yang bisa menangis kapan saja. Mereka bertiga, sekarang berempat dengan bayi, terjebak di sisi yang salah dari sungai, di tengah desa yang sedang mati, dengan fajar yang masih berjam-jam jauhnya.
Maharani menutup kotak medisnya. "Kita tidak pergi sekarang," katanya pelan, pada Wanto, pada Fatou yang tak mengerti kata-katanya tapi mengerti nadanya. "Kita tunggu. Kita sembunyi sampai mereka pergi, sampai terang. Lalu kita cari jalan." Ia memandang ke pintu, ke arah api yang masih memerahkan langit. "Sampai saat itu, kita tetap hidup. Itu saja tugasnya sekarang. Tetap hidup sampai pagi."