Otorisasi itu turun pukul tujuh kurang sepuluh menit pagi, dan Bagas menerimanya tanpa rasa kemenangan.
Suara di radio berbeda dari biasanya, lebih cepat, kehilangan nada terlatih yang menenangkan sambil tak melakukan apa-apa. Otorisasi evakuasi medis lintas sektor disetujui. Operasi terbatas pada penjemputan personel misi dan evakuasi medis warga sipil terluka. Tidak ada mandat untuk pertempuran. Tidak ada izin mengejar pelaku. Hanya menyeberang, menjemput, dan kembali. Dan klausa terakhir yang dibacakan operator dengan datar membuat sesuatu di dalam Bagas mengeras: operasi harus didokumentasikan penuh, dan keberadaan personel di seberang akan menjadi subjek tinjauan terpisah.
Mereka tahu. Tentu mereka tahu. Tapi itu urusan nanti.
Konvoi menyeberang resmi untuk pertama kalinya dalam sejarah pos ini, dan Bagas memimpinnya sendiri, berdiri di perahu pertama dengan helm biru di kepalanya, menyeberangi air yang sama yang semalam ditembus Maharani tanpa izin. Perbedaannya hanya selembar otorisasi, beberapa jam, dan rantai komando yang akhirnya berderak ke posisi. Tapi perbedaan itu, Bagas tahu, adalah perbedaan antara penyelamatan dan pelanggaran, antara pulang sebagai pahlawan dan pulang sebagai tahanan, dan ironi bahwa keduanya melakukan hal yang nyaris sama dengan beberapa jam jarak menggerogoti dirinya sepanjang penyeberangan.
Mereka menemukan desa itu dalam terang pagi, dan terang membuat segalanya lebih buruk. Apa yang semalam disembunyikan gelap kini terbuka penuh: rumah-rumah yang menjadi arang, jalan yang dipenuhi barang berserakan, dan tubuh-tubuh yang belum sempat dikuburkan, terbaring di tempat mereka jatuh. Bagas, yang sudah melihat banyak hal dalam kariernya, merasakan dirinya harus berhenti sejenak sebelum bisa terus berjalan. Para prajuritnya, yang lebih muda, sebagian tak bisa menahan apa yang naik ke tenggorokan mereka. Ini bukan pertempuran. Ini akibat dari pertempuran yang tak boleh mereka cegah, dan akibat itu punya wajah, punya nama, punya tangan-tangan kecil yang tak lagi bergerak.
Mereka menemukan Maharani di reruntuhan klinik.
Bagas berhenti di pintu yang tak lagi punya daun pintu, dan untuk waktu yang lama ia tak bisa bicara. Di dalam, di ruang yang dindingnya berlubang dan lantainya berdebu, terbaring dan duduk dan terbaring lagi puluhan orang. Yang terluka. Yang dirawat. Diberi nomor dengan spidol di dahi, ditata berdasarkan berat luka, dibalut dengan kain yang disobek dari pakaian. Dan di tengah-tengah mereka, berlutut di lantai, dengan seragam yang kaku oleh darah kering yang bukan miliknya, dengan wajah yang abu-abu oleh kelelahan dan asap, Maharani bekerja, tangannya masih bergerak, menjahit luka di lengan seorang anak yang menangis pelan.
Wanto berdiri di sampingnya, menahan kantong infus, dan ketika ia melihat Bagas di pintu, ia tidak menegakkan tubuh dengan rasa bersalah seorang prajurit yang tertangkap. Ia hanya menatap komandannya dengan mata yang sudah melihat terlalu banyak dalam satu malam, dan mengangguk pelan, dan kembali memandang kantong infus, karena tangan itu tak boleh turun.
Maharani mendongak. Ia melihat Bagas, melihat helm biru di kepalanya, melihat para prajurit dengan tandu di belakangnya, dan untuk satu detik wajahnya menampakkan kelegaan yang begitu mentah sehingga menyakitkan untuk dilihat. Lalu kelegaan itu tertahan oleh sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dingin, dan Maharani menyelesaikan jahitannya sebelum bicara.
"Komandan," katanya, suaranya serak. "Yang nomor satu sampai lima harus dievakuasi pertama. Mereka tidak akan bertahan tanpa rumah sakit lapangan. Fatou di ruang belakang, dengan bayinya, luka di kaki, stabil tapi butuh dirujuk. Sisanya bisa menunggu giliran tapi semua harus ikut. Tidak ada yang ditinggal."
Bagas menatapnya, dan ada begitu banyak yang ingin ia katakan. Tentang mandat. Tentang pelanggaran. Tentang beban yang ia letakkan pada seluruh kontingen. Tentang berjam-jam ia mendesak markas dengan kata personel dalam bahaya seperti orang yang menggedor pintu yang tak mau terbuka. Tapi ia melihat ruangan itu, melihat puluhan nyawa yang masih ada karena seseorang menolak menunggu kertas bergerak, dan ia menelan semuanya untuk nanti.
"Mengerti, Sersan," katanya, dan suara komandan itu kembali, tegas, profesional, menyelamatkan dirinya sendiri dengan kembali pada hal yang ia tahu cara lakukan. "Patar, mulai dari nomor satu. Oddie, bantu yang di belakang, perempuan dan bayinya. Hati-hati dengan kakinya." Para prajurit bergerak, dan reruntuhan klinik berubah lagi, dari pos darurat menjadi titik evakuasi, tandu masuk dan keluar, tubuh-tubuh diangkat dengan hati-hati menuju perahu yang menunggu di tepi sungai.
Bagas berlutut di samping Maharani saat ia akhirnya berdiri, kakinya kaku, dan menahannya saat ia hampir terhuyung. "Berapa lama kau berdiri tanpa istirahat?" tanyanya pelan.
"Aku tidak menghitung," kata Maharani. Ia memandang ruangan yang perlahan mengosong, memandang yang sudah tak bisa diselamatkan dan dibaringkan dengan kain menutup wajah di sudut, dan sesuatu di wajahnya yang tegar sepanjang malam akhirnya retak sedikit. "Kita terlambat, Komandan. Lihat. Berapa banyak. Kalau kita datang sejam lebih awal. Setengah jam."
"Kau tidak terlambat," kata Bagas, dan ia mengejutkan dirinya sendiri dengan kelembutan dalam suaranya. "Sistem yang terlambat. Kau datang lebih dulu dari kami semua." Ia menatap ruangan yang penuh nyawa yang masih bernapas, lalu menatap bidannya yang nyaris runtuh oleh kelelahan. "Inilah yang dirancang untuk tidak terjadi, Sersan. Dan inilah, juga, yang seharusnya terjadi sejak semalam." Ia membantu Maharani berdiri tegak. "Kita bawa mereka pulang dulu. Lalu kau dan aku, kita hadapi yang menunggu di seberang. Tapi nanti. Sekarang, mereka."
Maharani mengangguk, dan dengan sisa tenaga yang entah dari mana, ia kembali bekerja, mengawasi setiap tandu, memastikan urutan, menahan tangan seorang lelaki sampai ia naik ke perahu. Apa yang tampak seperti penyelamatan, ia tahu, sebenarnya adalah pengakuan kegagalan, sebuah sistem yang dirancang untuk netralitas akhirnya bergerak hanya setelah salah seorang penjaganya melanggar dan mempertaruhkan diri. Tapi perahu-perahu itu penuh dengan orang yang bernapas, dan untuk pagi ini, itu harus cukup.