Kendaraan yang membawa Maharani ke markas sektor adalah Land Cruiser putih dengan logo misi di pintunya, dikemudikan seorang perwira logistik dari kontingen Bangladesh yang tak banyak bicara. Bagas duduk di sebelahnya, seragamnya disetrika tajam, baret birunya lurus. Mereka tidak banyak bicara sepanjang tiga jam perjalanan di jalan tanah merah yang berdebu. Hanya sekali, saat melewati reruntuhan desa di tepi timur yang masih menghitam, Bagas berkata pelan, "Mereka akan menanyaimu seolah malam itu cuma deretan keputusan. Jangan biarkan mereka melupakan bahwa di balik tiap keputusan ada orang yang masih bernapas hari ini."
Markas sektor terletak di bekas kompleks pemerintahan kolonial yang dipugar, dikelilingi tembok beton dan kawat silet. Di dalamnya, Maharani memasuki dunia yang sama sekali berbeda dari pos lembah. Lorong-lorong berlantai keramik yang dingin oleh pendingin udara. Bendera-bendera dari belasan negara berbaris di aula utama. Perwira-perwira berseragam berbeda potongan, berkulit berbagai warna, berbicara dalam bahasa yang campur aduk, lewat sambil membawa map dan gelas kopi. Tempat ini berbau kertas, tinta, dan kopi instan, bukan tanah dan obat dan darah. Tempat ini tidak terlihat seperti tempat yang tahu apa itu lubang penyimpanan tempat bayi nyaris mati lemas.
Ruang rapat yang dimasuki Maharani panjang dan terang. Di sepanjang meja duduk tujuh perwira. Seorang perwira senior dari kontingen Rwanda memimpin, di sisinya perwira hukum misi yang sudah Maharani kenal dari interogasi pertama, seorang perempuan Kanada berwajah keras bernama Mayor Lavoie. Yang lain Maharani tidak kenal: perwira penghubung dari Eropa, dari Asia Selatan, dari sebuah negara Amerika Latin. Masing-masing memegang berkas yang sama. Masing-masing, Maharani segera mengerti, membaca berkas itu lewat kacamata yang berbeda.
"Sersan Saputri," kata perwira pemimpin. "Kami tidak memanggilmu ke sini untuk mengulang interogasi. Kami memanggilmu agar kau memahami posisi kasus ini." Ia membuka berkasnya. "Kasusmu sudah tidak lagi sekadar pelanggaran disiplin satu personel. Kasusmu menjadi pertanyaan tentang seluruh arsitektur misi ini."
Seorang perwira di ujung meja, dari kontingen Eropa, menyela dengan nada datar. "Yang kami khawatirkan, Sersan, bukan apakah kau benar atau salah secara moral. Mungkin kau benar. Mungkin malaikat akan berdiri di pihakmu. Yang kami khawatirkan adalah preseden." Ia mengangkat tangannya, menggambar garis di udara. "Jika satu peacekeeper boleh menentukan sendiri kapan mandat tidak berlaku baginya, atas dasar nuraninya sendiri, maka mandat itu tidak lagi berarti apa-apa. Besok seorang prajurit dari kontingen lain memutuskan nuraninya menyuruhnya menembak sebuah faksi yang ia benci. Lusa yang lain memutuskan nuraninya menyuruhnya tinggal diam saat seharusnya bertindak. Mandat adalah satu-satunya hal yang membuat dua belas bangsa bisa berdiri di tanah yang sama tanpa membawa dua belas perang masing-masing ke sini."
Maharani mendengarkan, dan untuk pertama kalinya ia memahami beratnya argumen itu. Di lembah, melanggar terasa sederhana: ada nyawa, ada aturan, ia memilih nyawa. Tapi di ruang dingin ini, di hadapan tujuh bangsa, ia melihat bayangan dari hal yang ia robek malam itu. Bukan sekadar selembar perintah. Sebuah perjanjian rapuh yang menahan kekacauan agar tidak menjadi lebih besar.
"Aku mengerti," kata Maharani pelan. "Aku tidak datang ke sini untuk berkata aku tidak merusak apa-apa. Aku merusak sesuatu. Aku tahu itu."
Perwira pemimpin mengangguk, seolah jawaban itu memenuhi sebagian harapannya. Tapi perwira Asia Selatan, yang sejak tadi diam, kini bicara dengan suara lembut. "Boleh aku bertanya satu hal, Sersan? Bukan sebagai bagian dari penilaian. Hanya sebagai orang." Ia menunggu Maharani mengangguk. "Kalau kau bisa kembali ke malam itu, dengan semua yang kau tahu sekarang tentang apa yang dipertaruhkan, tentang preseden, tentang arsitektur misi, tentang dua belas bangsa — apakah kau akan tetap menarik tali perahu itu?"
Ruangan hening. Maharani merasakan tatapan tujuh pasang mata. Ia tahu jawaban yang aman. Jawaban yang aman adalah keraguan, penyesalan terukur, pengakuan bahwa kini ia paham lebih banyak dan mungkin akan memilih berbeda. Jawaban itu akan melunakkan mereka.
"Aku akan menariknya," kata Maharani. "Aku tidak tahu bagaimana memperbaiki sistem yang kalian jaga. Itu bukan tugasku dan aku tidak punya kuasa untuk itu. Tapi aku tahu bagaimana menahan napas seorang bayi sampai paru-parunya kembali bekerja. Malam itu, di antara dua hal yang aku tahu cara melakukannya dan yang aku tidak, aku memilih yang aku tahu. Kalau kalian ingin sistem yang tidak memaksa orang sepertiku memilih, perbaikilah sistemnya. Jangan minta aku berpura-pura tidak tahu cara menolong."
Mayor Lavoie, perwira hukum, menatapnya lama. Lalu ia menutup berkasnya. "Sersan," katanya, suaranya tanpa kehangatan tapi juga tanpa kebencian. "Aku harus memperingatkanmu secara resmi. Berdasarkan berat pelanggaran, salah satu hasil yang sangat mungkin dari proses ini adalah pemulangan dengan tidak hormat. Itu akan mengakhiri karier militermu, dan catatan itu akan mengikutimu seumur hidup. Aku tidak mengatakan ini untuk menakutimu. Aku mengatakannya karena kau berhak tahu apa yang kau pertaruhkan dengan jawaban yang baru saja kau beri."
"Aku tahu apa yang aku pertaruhkan, Mayor," kata Maharani. "Aku sudah menghitungnya di dermaga, sebelum aku menyentuh tali itu."
Bagas, yang berdiri di belakang dekat dinding, tidak mengatakan apa-apa. Tapi saat Maharani keluar dari ruangan itu, ia melihat sesuatu di mata komandannya yang bukan teguran. Sesuatu yang lebih dekat dengan hormat.