Maharani diizinkan menjenguk Fatou pada hari kedelapan setelah penyeberangan. Izin itu sendiri terasa ironis — ia masih ditahan secara teknis, masih menunggu putusan, tapi seorang perwira di markas memutuskan bahwa membiarkan tenaga medis menengok pasien yang dievakuasi adalah hal yang akan terlihat baik dalam laporan. Maharani tidak peduli alasannya. Ia hanya ingin melihat Fatou hidup dengan matanya sendiri.
Rumah sakit lapangan misi adalah deretan tenda besar berpendingin di kompleks sektor, jauh lebih lengkap dari tenda medis pos lembah. Fatou berbaring di ranjang lipat di sudut bangsal perempuan, kakinya yang terluka dibebat rapi, dan di sebelahnya, dalam keranjang plastik, bayinya tidur dengan dada yang naik turun teratur. Maharani berdiri di pintu sejenak, hanya memandang dada kecil yang bergerak itu, dan sesuatu yang sejak penyeberangan terikat kencang dalam dirinya melonggar sedikit. Bayi itu bernapas. Setelah segala sesuatu, bayi itu bernapas dengan tenang.
Fatou membuka mata, melihat Maharani, dan wajahnya berubah — bukan menjadi haru atau air mata seperti yang setengah Maharani harapkan, melainkan menjadi tajam, hidup, menuntut.
"Bu Bidan," kata Fatou. Lewat penerjemah yang ikut, kata-katanya mengalir cepat. "Aku senang kau datang. Aku punya banyak pertanyaan dan tidak ada yang mau menjawab."
Maharani menarik bangku, duduk. Ia telah membayangkan pertemuan ini sebagai pertemuan penyembuhan, dua perempuan yang selamat dari malam mengerikan, mungkin air mata, mungkin pelukan. Tapi Fatou tidak ingin dipeluk. Fatou ingin jawaban.
"Mereka di sini memperlakukanku seperti barang pecah," kata Fatou. "Mereka memberi makan, mengganti perban, tersenyum padaku seolah aku tidak bisa memahami hal-hal sulit. Tapi tidak ada yang mau memberitahuku siapa yang membakar desaku. Tidak ada yang mau memberitahuku kenapa." Matanya menyala. "Tetanggaku, Aissata, mati di jalan dengan bayinya. Suaminya hilang. Rumah yang dibangun ayahku menjadi abu. Dan semua orang di sini ingin aku diam dan sembuh dan berterima kasih. Aku tidak mau diam, Bu Bidan. Aku mau tahu."
Maharani memandangnya, dan ia menyadari bahwa perempuan di hadapannya bukanlah korban yang ia selamatkan. Itu adalah cara ia salah membayangkannya selama ini — bahkan ia, yang menyeberang demi Fatou, telah membayangkan Fatou sebagai sesuatu yang ditolong, bukan seseorang yang bertindak. Tapi Fatou, yang menyembunyikan bayinya dalam lubang, yang bertahan dengan kaki terluka, yang kini menolak peran sebagai objek belas kasihan, adalah seseorang yang sama keras kepalanya dengan Maharani sendiri.
"Aku tidak akan memperlakukanmu seperti barang pecah," kata Maharani. "Tapi aku juga belum tahu semua jawabannya. Aku hanya tahu sebagian."
"Katakan sebagian itu."
Maharani ragu, lalu memutuskan Fatou berhak. "Mereka yang menyerang desamu, kami tidak yakin mereka dari dua faksi yang menandatangani gencatan senjata. Penerjemah kami, Adama, mengatakan ada pihak ketiga. Kelompok bersenjata yang tidak terikat gencatan apa pun."
Fatou mengangguk perlahan, seolah ini mengonfirmasi sesuatu yang sudah ia rasakan. "Mereka tidak menjarah seperti faksi menjarah," katanya. "Faksi mengambil ternak, makanan, lalu pergi. Mereka kembali ke desa mereka, mereka punya rumah. Tapi yang menyerang kami, mereka tidak mengambil apa-apa. Mereka membakar semua. Bahkan yang tidak bisa dibawa, mereka bakar. Sumur, mereka racuni dengan bangkai. Mereka tidak ingin barang kami." Suaranya turun. "Mereka ingin tanah kami kosong. Mereka ingin kami tidak bisa kembali."
Maharani merasakan dingin merayap di tengkuknya. "Kenapa? Apa yang ada di tanahmu?"
Fatou tersenyum pahit. "Itu yang aku tanyakan. Desaku miskin, Bu Bidan. Kami menanam singkong, kami memelihara kambing. Tidak ada yang berharga di tanah kami selain bahwa itu tanah kami." Ia berhenti, lalu menambahkan sesuatu yang membuat Maharani membeku. "Tapi ayahku dulu bercerita. Sebelum perang, ada orang asing datang membawa alat, mengukur tanah di bukit timur desa. Mereka mengambil contoh batu, contoh tanah. Lalu perang datang dan mereka pergi. Ayahku bilang mereka mencari sesuatu di dalam tanah. Sesuatu yang berharga." Mata Fatou menyipit. "Aku pikir ada orang yang ingat apa yang ditemukan orang asing itu. Dan aku pikir orang itu sekarang ingin tanahnya tanpa kami di atasnya."
Maharani duduk diam, mencerna kata-kata itu. Selama ini ia memahami lembah sebagai dua faksi yang saling membenci, satu gencatan senjata rapuh, dan pos kecil di tengahnya. Tapi Fatou baru saja membuka pintu ke ruang yang lebih dingin. Bukan kebencian lama antara dua kubu. Sesuatu yang lebih dihitung. Keserakahan yang menggunakan kebencian sebagai kedok.
"Kau akan mencari tahu?" tanya Fatou. Itu bukan permintaan tolong. Itu nyaris perintah, dari satu perempuan keras kepala kepada yang lain.
"Ya," kata Maharani. "Aku akan mencari tahu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku."
"Apa?"
"Sembuh dulu. Kakimu, badanmu. Karena aku punya firasat lembah ini akan butuh kau berdiri kuat, bukan berbaring di ranjang ini."
Untuk pertama kalinya, Fatou tersenyum sungguh-sungguh, dan dalam senyum itu Maharani melihat bukan korban yang ia selamatkan, melainkan sekutu yang baru saja ia temukan.