Wabah datang lewat air, seperti yang selalu terjadi.
Maharani melihat tanda pertamanya pada anak berusia tiga tahun yang dibawa ibunya ke tenda medis sebelum subuh: diare cair tanpa henti, mata cekung, kulit yang ketika dicubit tidak segera kembali. Dehidrasi parah. Ia menstabilkan anak itu dengan cairan, tapi pada siang hari ada lima kasus lagi, dan pada malam hari belasan, dan Maharani mengenali pola yang ia takuti sejak kamp berdiri. Bukan kasus terpisah. Wabah.
Ia menelusuri sumbernya dengan ketelitian seorang yang tahu nyawa bergantung padanya. Kamp mengambil air dari sungai, dari titik di hilir tempat warga mencuci, buang air, dan mengambil minum dalam jarak yang terlalu dekat. Air sungai yang tampak mengalir bersih membawa apa yang tak terlihat mata. Maharani tahu apa yang harus dilakukan: isolasi yang sakit, rehidrasi besar-besaran, dan yang terpenting, air bersih.
Di situlah ia membentur tembok yang lebih jahat dari mandat mana pun.
Lembah punya satu sumber air bersih yang andal selain sungai: mata air di kaki bukit utara, jauh dari pencemaran, yang sudah dimanfaatkan warga sejak sebelum perang. Tapi ketika Maharani meminta Adama mengatur agar pengungsi bisa mengambil air dari sana, Adama kembali dengan wajah suram.
"Mata air itu dikuasai," kata Adama. "Bukan oleh faksi. Oleh kelompok bersenjata yang sama yang menyerang desa Fatou. Mereka menempatkan orang di sana. Siapa pun yang ingin air harus membayar, atau berjanji setia, atau menyerahkan anak laki-laki untuk bergabung dengan mereka."
Maharani menatapnya, mencerna kebusukan dari apa yang baru saja ia dengar. "Mereka menjual air bersih kepada orang yang mereka jadikan pengungsi sendiri."
"Lebih dari itu," kata Adama. "Mereka membakar desa agar warga jadi pengungsi yang putus asa. Lalu mereka menguasai air agar pengungsi yang putus asa itu datang pada mereka. Mereka tidak butuh peluru untuk perang ini, Bu Bidan. Mereka cukup menguasai air, dan orang akan datang sendiri, menyerahkan anak-anak mereka demi seteguk." Ia meludah ke tanah. "Ini perang tanpa peluru. Dan itu sama mematikannya."
Maharani berdiri diam, dan dalam dirinya sesuatu mengeras. Ia telah memahami kelompok bersenjata ini sebagai penyerang, pembakar, pembunuh. Tapi ini lebih dingin. Ini perhitungan. Mereka menciptakan penderitaan, lalu menjual kelegaan dari penderitaan itu sebagai cara merekrut, menguasai, mengosongkan tanah. Setiap anak yang sakit di tendanya bukan korban kebetulan. Mereka korban strategi.
Ia tidak bisa merebut mata air itu. Itu di luar mandat, dan kali ini ia tidak akan mengulangi penyeberangan — bukan karena takut hukuman, tapi karena ia mulai memahami pelajaran yang lebih dalam: melanggar sendirian hanya menyelamatkan satu malam. Yang dibutuhkan kamp adalah air yang berkelanjutan, bukan satu serbuan heroik.
Maka ia melakukan hal yang lebih membumi dan lebih melelahkan. Ia mengubah masalah air menjadi masalah yang bisa ia selesaikan dengan tangannya sendiri.
Air sungai tidak bersih, tapi air sungai bisa dibersihkan. Maharani mengingat pelatihan kesehatan lapangan, mengumpulkan apa yang ada: drum bekas, kain saring, pasir, kerikil, arang dari dapur Jumadi. Ia membangun penyaring sederhana, lapis demi lapis, lalu mengajari para perempuan kamp cara merebus air yang sudah disaring sebelum diminum. Ia mengatur titik pengambilan air sungai jauh di hulu, terpisah dari titik mencuci dan buang air, menanamkan disiplin sanitasi yang asing tapi menyelamatkan nyawa. Ia mengisolasi tenda-tenda yang sakit, melatih relawan dari kalangan pengungsi sendiri untuk memberi larutan rehidrasi.
Ia bekerja melampaui batas yang ia kira ia miliki. Hari-hari menyatu menjadi satu rentang kelelahan tanpa garis siang dan malam. Ada saat-saat tangannya gemetar karena lapar yang ia abaikan, mata kabur karena kurang tidur. Jumadi, sang juru masak, mulai diam-diam menyisihkan porsi untuknya dan meletakkannya di sudut tenda medis, tahu ia tak akan ke ruang makan. Wanto memikul drum air, mengangkat yang berat, mengambil alih tugas-tugas otot agar Maharani bisa menyimpan tenaganya untuk yang sakit.
Pada puncak wabah, seorang bayi mati di tangannya — terlalu kecil, datang terlalu terlambat, dehidrasi yang sudah melewati titik yang bisa ia putar balik. Maharani memegang tubuh kecil itu, dan untuk sesaat ia merasakan hantu lama bangkit, pasien pertama yang ia kehilangan bertahun-tahun lalu, beban yang ia bawa tujuh belas jam ke selatan. Ia ingin berhenti. Ia ingin duduk di tanah dan menyerah pada kelelahan yang menariknya ke bawah.
Tapi ibu bayi itu, dalam dukanya, menatap Maharani dan berkata sesuatu yang Adama terjemahkan dengan suara pelan: "Dia bilang, jangan berhenti. Anaknya sudah pergi, tapi masih banyak yang bisa kau jaga. Jangan berhenti karena anaknya. Lanjutkan untuk yang lain."
Dan Maharani, dengan air mata yang tak ia izinkan jatuh, bangkit. Ia meletakkan bayi itu dengan lembut, mencuci tangannya, dan memanggil pasien berikutnya. Karena itulah, ia mulai memahami, arti menjadi bidan: bukan tak pernah kehilangan, melainkan terus hadir meski kehilangan datang.
Wabah surut pada hari kesembilan, ditahan bukan oleh satu tindakan heroik melainkan oleh ribuan tindakan kecil — air yang disaring, tangan yang dicuci, larutan yang diberikan tetes demi tetes. Maharani menghitung yang hilang: empat. Empat dari lebih seratus yang sakit. Dan ia menghitung yang bertahan, dan jumlah itu, betapapun berat empat nyawa itu, adalah kemenangan yang ia raih dengan drum bekas dan pasir dan keteguhan yang menolak jatuh.
Tapi di balik kelegaan itu, satu pengetahuan kini tertanam dalam dirinya seperti duri: kelompok yang menguasai mata air itu masih ada, masih menjual air bersih dengan harga anak-anak, masih menjalankan perang dingin mereka. Wabah ini dikalahkan. Tapi tangan yang menciptakan kondisinya belum tersentuh. Dan Maharani tahu, dengan kepastian yang membuat darahnya dingin, bahwa ia harus mencari tahu siapa tangan itu.