Mereka mengejar nama itu dengan cara yang sabar, dan kesabaran itu sendiri terasa asing bagi Maharani, yang seluruh insting medisnya menuntut tindakan cepat. Tapi Adama mengajarinya bahwa di lembah ini, tergesa adalah cara cepat untuk mati, dan pengetahuan dikumpulkan bukan dengan satu pukulan melainkan dengan banyak percakapan kecil di tempat-tempat yang tak mencurigakan.
Selama dua minggu Adama bergerak melalui jaringan yang tak terlihat oleh siapa pun di markas: tetua di kamp pengungsi, pedagang yang melintasi kedua tepi, perempuan yang mengambil air, lelaki tua yang mengingat lembah sebelum perang. Maharani bekerja dari sisinya sendiri, mendengarkan apa yang pasien ceritakan saat mereka merasa aman di tenda medis, mencatat pola: dari mana milisi datang, ke arah mana mereka menghilang, siapa yang pernah melihat mereka berbicara dengan siapa. Potongan demi potongan, sebuah bentuk mulai muncul dari kabut.
Dan akhirnya, pada suatu sore yang panas, Adama datang ke tenda medis dengan wajah yang berbeda — lebih pucat, lebih hati-hati, seperti orang yang baru saja memegang sesuatu yang membara.
"Aku punya namanya," kata Adama, suaranya nyaris berbisik meski tenda kosong. "Tapi sebelum aku mengucapkannya, kau harus paham apa artinya tahu nama ini."
Maharani meletakkan perban yang sedang ia gulung. "Katakan."
"Mereka memanggilnya Le Colonel," kata Adama. "Bukan karena dia kolonel sungguhan. Itu gelar yang ia berikan pada dirinya sendiri. Nama aslinya Bernard Kambale, tapi tidak ada yang berani menyebut nama itu. Dia bekas perwira tentara pemerintah lama, dari masa perang saudara pertama. Ketika perang berakhir dan tentara lama bubar, sebagian besar perwira pulang, atau melarikan diri, atau mati. Tapi Kambale melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain." Adama menarik napas. "Dia melihat bahwa di lembah ini, perdamaian justru menciptakan kekosongan. Tentara lama pergi. Tentara pemerintah baru belum kuat. Dua faksi sibuk dengan gencatan senjata mereka. Dan di tengah kekosongan itu, siapa pun yang punya senjata dan tidak punya nurani bisa menjadi raja kecil."
"Dan dia mengincar tanah mineral," kata Maharani.
"Lebih dari mengincar. Dia sudah punya pembeli," kata Adama. "Inilah bagian yang membuatku tidak tidur semalam. Kambale tidak menggali sendiri. Dia tidak tahu cara menambang. Dia hanya tahu cara membersihkan tanah dari orang. Ada perusahaan — orang-orang berdasi di kota, mungkin di luar negeri, aku tidak tahu sejauh mana — yang ingin mineral di bukit timur. Tapi mereka tidak bisa menggali di tanah yang penuh penduduk, dengan helm biru di dekatnya, dengan mata dunia kadang melihat. Maka mereka membayar Kambale untuk melakukan pekerjaan kotor: mengosongkan tanah, mengusir warga, menciptakan kekacauan yang membuat tak ada yang mau datang melihat. Setelah tanah kosong dan lembah dicap terlalu berbahaya untuk diurus, mereka bisa menggali dalam diam."
Maharani duduk, mencerna kedalaman dari apa yang baru saja ia dengar. Ini bukan lagi panglima perang yang kejam. Ini sebuah rantai. Kekejaman di lapangan terhubung ke meja-meja di kota, ke kontrak, ke permintaan dunia akan logam untuk baterai dan telepon. Setiap desa yang terbakar adalah satu langkah dalam strategi bisnis yang dingin. Setiap pengungsi di kamp adalah ongkos yang sudah diperhitungkan. Bayi yang mati di tangannya karena air yang dikuasai bukanlah kecelakaan perang. Itu adalah biaya operasional dari sebuah usaha.
"Dan dia pandai bersembunyi," kata Maharani pelan, mengulang apa yang sudah ia pahami.
"Itu kejeniusannya yang paling jahat," kata Adama. "Kambale tidak pernah menyerang sebagai dirinya sendiri. Dia menggunakan dua faksi sebagai topeng. Dia menyuap orang di dalam kedua kubu, memprovokasi, menebar fitnah. Ketika desa terbakar, satu faksi menyalahkan yang lain. Ketika patroli diserang, masing-masing curiga pada seberang. Kedua faksi terlalu sibuk saling membenci untuk menyadari bahwa ada tangan ketiga yang mengaduk keduanya seperti orang mengaduk dua periuk agar tak ada yang melihat ia mencuri dari dapur." Adama menatap Maharani lekat. "Selama dua faksi saling menyalahkan, Kambale tetap tak terlihat. Dan selama dia tak terlihat, perusahaan di kota bisa berpura-pura tidak tahu dari mana mineral mereka datang."
Maharani berdiri dan berjalan ke pintu tenda, memandang ke arah bukit-bukit timur yang membiru di kejauhan. Ia memikirkan briefing pertamanya, garis biru di atas peta, dua faksi, satu gencatan senjata rapuh. Betapa kecil dan tidak lengkap gambar itu sekarang. Lembah ini bukan tentang dua kubu yang saling benci. Lembah ini adalah panggung tempat keserakahan global menyamar sebagai perang lokal, tempat orang-orang termiskin di bumi dibakar dari tanah mereka agar orang-orang terkaya bisa membuat baterai. Dan helm biru, yang dikirim untuk menjaga netralitas antara dua faksi, sebenarnya berdiri di tengah kejahatan yang sama sekali berbeda, kejahatan yang menggunakan netralitas itu sendiri sebagai perisai.
"Adama," kata Maharani tanpa berbalik. "Berapa banyak orang yang tahu nama ini?"
"Sedikit," kata Adama. "Dan mereka yang tahu menjaganya seperti bara di telapak tangan. Karena Kambale punya aturan yang sederhana: siapa pun yang menyebut namanya, yang menghubungkannya dengan tanah, yang mencoba menyeretnya ke terang — orang itu, dan kadang keluarganya, menghilang." Ia menjeda. "Sekarang kita berdua tahu, Bu Bidan. Kita memegang bara itu. Dan begitu kita memegangnya, kita tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu."
Maharani berbalik menghadapinya. Ia merasakan ketakutan, jujur dan dingin, merayap di tengkuknya. Bukan ketakutan akan hukuman disipliner yang menggantung, bukan ketakutan akan dipulangkan dengan tidak hormat. Ini ketakutan yang lebih purba: ketakutan orang yang baru saja menatap wajah sesuatu yang akan membunuh untuk tetap tak terlihat.
"Kita simpan ini dulu," kata Maharani akhirnya, suaranya tenang meski jantungnya tidak. "Kita catat semua yang kita tahu, kita sembunyikan baik-baik. Kita tidak mengucapkan nama ini di tempat dengan banyak telinga, kita tidak bergerak gegabah. Aku sudah belajar dari malam penyeberangan: bertindak sendirian, tergesa, hanya menyelamatkan satu malam. Tangan seperti Kambale tidak dijatuhkan dengan satu perahu di tengah gelap." Ia menatap Adama. "Tapi kita juga tidak akan diam. Karena diam adalah persis yang ia inginkan. Diam adalah perisainya."
Adama mengangguk pelan, dan dalam matanya ada sesuatu yang Maharani kenali, karena ia merasakannya juga: kesadaran bahwa mereka baru saja melangkah melewati garis yang tak terlihat di peta mana pun. Bukan garis biru mandat. Bukan tepi sungai. Garis antara orang yang tidak tahu dan karenanya aman, dan orang yang tahu dan karenanya menjadi sasaran.
Di luar tenda, matahari mulai turun di balik bukit-bukit timur, mewarnai langit dengan jingga yang sama seperti api yang pernah membakar desa Fatou. Maharani memandang bukit-bukit itu, bukit-bukit yang menyimpan logam yang dunia inginkan dan darah yang dunia tak mau lihat, dan ia tahu bahwa lembah ini, yang ia kira ia mulai pahami, baru saja membuka lapisan terdalamnya. Ada nama di balik milisi sekarang. Ada wajah di balik api. Dan mengetahui nama itu, ia menyadari dengan kepastian yang dingin, telah mengubahnya dari saksi menjadi ancaman.