Maharani mulai menghitung. Itu kebiasaan lama seorang bidan — menghitung napas, menghitung detak, menghitung minggu — dan kali ini ia mengarahkannya ke kamp. Lewat catatan imunisasi anak yang ia kelola, lewat daftar pasien, lewat ibu-ibu yang datang ke tenda, ia mulai memetakan siapa yang ada dan siapa yang tidak lagi datang. Dalam dua minggu ia menemukan empat nama. Empat remaja laki-laki, usia dua belas sampai lima belas, yang sebelumnya rutin terlihat — satu membantu ibunya mengambil air, satu pernah ia jahit alisnya, satu selalu mengintip ke tenda medis dengan rasa ingin tahu — dan kini tak satu pun masih ada di kamp.
Ia membawa daftar itu ke Adama, dan mereka mulai melacak dengan cara Adama: bukan dengan interogasi, melainkan dengan percakapan kecil di tempat-tempat yang tidak mencurigakan. Adama berbicara dengan para ibu sambil membantu memikul air. Maharani mendengarkan saat ibu-ibu itu menunggu giliran di tenda, di saat-saat ketika kesedihan kadang keluar tanpa diminta.
Apa yang muncul adalah pola yang persis seperti yang dijelaskan Mzee Saidi. Anak-anak itu tidak diculik. Mereka direkrut. Ada seorang lelaki muda — warga kamp menyebutnya hanya “yang bersepatu bagus” — yang datang dan pergi, duduk di antara anak-anak, membagi rokok dan kadang uang receh, mendengarkan keluh kesah mereka, dan perlahan menanam gagasan. Ia tidak pernah memaksa. Ia hanya menunggu sampai seorang anak cukup putus asa, cukup marah, cukup lapar akan rasa berarti. Lalu malam tertentu anak itu pergi, dan beberapa hari kemudian ibunya akan menerima sedikit uang lewat perantara, cukup untuk diam, cukup untuk membuat duka bercampur dengan rasa malu yang membungkam.
“Ini jaringan,” kata Adama suatu malam di tenda medis, suaranya rendah. “Bukan satu orang. Yang bersepatu bagus hanya pemetik. Di belakangnya ada yang mengangkut, yang melatih, yang memberi makan. Ini cara Kambale memperbanyak orang tanpa harus menyerbu desa lagi. Setiap kamp pengungsi adalah ladang. Ia membakar desa untuk menciptakan pengungsi, lalu memanen anak-anak dari penderitaan yang ia ciptakan sendiri.” Ia memandang Maharani. “Kekejamannya rapi. Ia menanam dan menuai dari benih yang sama.”
Maharani merasakan kemarahan yang sudah ia kenal baik sejak bayi di tangannya mati karena air — kemarahan dingin pada sistem yang menjadikan penderitaan sebagai bahan baku. Insting medisnya, insting lamanya, menuntut tindakan cepat: menemukan yang bersepatu bagus, menyeretnya keluar, menghentikan rekrutmen malam ini juga. Tapi ia sudah belajar. Bertindak sendirian, tergesa, hanya menyelamatkan satu malam.
Maka ia membawa temuannya kepada Bagas, dan di sanalah ia menabrak batas mandat sekali lagi, dari sisi yang berbeda.
Bagas mendengarkan seluruh laporan dengan wajah yang semakin keras. Ketika Maharani selesai, ia berdiri dan berjalan ke peta sektor yang tergantung di dinding kontainer.
“Aku percaya setiap kata,” kata Bagas akhirnya. “Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Komandan—”
“Dengarkan dulu.” Bagas berbalik. “Rekrutmen anak adalah kejahatan perang. Aku tahu itu. Kau tahu itu. Tapi kontingen ini adalah pasukan pemeliharaan perdamaian, bukan polisi, bukan penyidik, bukan pasukan penegak hukum. Kita tidak punya wewenang melakukan operasi penangkapan. Kita tidak boleh menahan warga sipil. Kita tidak boleh memburu orang yang kau sebut yang bersepatu bagus dan menyeretnya ke pos. Kalau kita melakukan itu, kita melampaui mandat persis seperti yang ditakutkan markas, dan kali ini mereka tidak akan punya alasan apa pun untuk membela kita. Kita hanya bisa melaporkan.”
“Melaporkan ke siapa?” kata Maharani, dan suaranya lebih pahit dari yang ia inginkan. “Ke markas yang butuh tiga jalur birokrasi untuk memutuskan apakah aku boleh menyeberang sungai? Ke otoritas misi yang akan menyimpan laporan ini di rak sampai anak-anak itu sudah tewas atau sudah membunuh? Berapa lama, Komandan? Berapa anak lagi hilang sementara laporan kita naik berlapis-lapis dan turun tanpa jawaban?”
Bagas tidak membantah, karena ia tidak bisa. Itulah yang paling menyakitkan. Ia tahu Maharani benar, dan ia tahu ia tetap tidak bisa bertindak, dan ia harus berdiri di antara kedua kebenaran itu setiap hari.
“Lalu apa yang bisa kita lakukan?” kata Maharani, kali ini lebih pelan, lebih sungguh-sungguh bertanya daripada menuduh. “Bukan melanggar. Aku tidak akan mengulangi sungai itu. Tapi diam juga bukan jawaban. Pasti ada ruang di antara melanggar dan diam.”
Bagas memandangnya lama. Lalu ia kembali ke peta, dan untuk pertama kalinya ia berbicara tentang celah, bukan tentang dinding.
“Kita tidak bisa menangkap,” katanya. “Tapi kita bisa membuat ladangnya tidak subur. Kalau anak-anak direkrut karena lapar, kosong, dan marah, maka makanan, kegiatan, dan rasa berarti adalah hal-hal yang ada dalam mandat kemanusiaan kita. Kita tidak bisa memburu pemetik. Tapi kita bisa membuat tanaman tidak tumbuh.”
Maharani menatap komandannya, dan ia merasakan sesuatu yang ganjil: harapan yang tipis dan keras. Ini bukan tindakan heroik. Ini bukan satu perahu di tengah gelap. Ini lambat, tidak pasti, mungkin tidak akan menyelamatkan keempat anak yang sudah hilang. Tapi itu adalah ruang. Dan untuk pertama kalinya, Bagas — komandan yang dulu hanya melihat dinding mandat — yang menunjukkannya kepadanya.
Malam itu, sebelum tidur, Maharani menambahkan empat nama itu ke buku sakunya, di bawah daftar nama-nama mati dari malam penyeberangan. Tapi nama-nama ini berbeda. Ini bukan nama yang sudah hilang. Ini nama yang masih bisa direbut kembali, kalau mereka cukup cepat, cukup sabar, cukup pandai. Ia memandang keempat nama itu lama, dan ia bersumpah dalam hati untuk tidak membiarkan tinta itu mengering menjadi nisan.