Pasar bertahan tiga pekan sebelum mereka yang tak suka perdamaian datang mengganggunya.
Maharani seharusnya menduga. Adama sudah memperingatkannya: pasar yang berhasil adalah ancaman bagi semua yang untung dari permusuhan. Bagi milisi Kambale, pasar adalah bencana — warga yang berdagang dengan tetangga seberangnya adalah warga yang sulit ditakuti, sulit diadu, sulit diusir dari tanah mineral. Anak yang ibunya kembali punya penghasilan dari pasar lebih sulit direkrut dengan janji makan. Setiap karung garam yang berpindah tangan di zona penyangga adalah satu paku di rencana yang membutuhkan lembah tetap berdarah dan terpecah.
Sabotase pertama halus. Kabar burung mulai beredar — ditanam, Maharani yakin, oleh tangan yang tepat — bahwa pedagang tepi barat mencurangi timbangan, bahwa pedagang tepi timur menjual ternak sakit. Hal-hal kecil yang menabur kecurigaan. Lalu sebuah keranjang madu “ditemukan” telah dicampur sesuatu yang membuat seorang anak muntah. Tak ada bukti, tapi tuduhan tak butuh bukti untuk menjalar.
Dan kemudian, pada hari pasar keempat sejak kabar-kabar itu mulai, terjadilah insiden yang dirancang untuk meledak.
Seorang lelaki muda dari tepi timur menuduh seorang pedagang tepi barat mencuri dompetnya. Tuduhan itu meledak terlalu cepat, terlalu keras, dengan kemarahan yang terlalu siap — dan Maharani, yang sedang berada di pinggir pasar, langsung tahu ada yang salah. Lelaki itu berteriak, menarik kerumunan, menunjuk-nunjuk. Pedagang tepi barat membela diri, lalu kawan-kawan sesama tepi mulai berkumpul di belakangnya, dan dari sisi lain, kawan-kawan tepi timur mengelilingi si penuduh. Dalam hitungan detik, transaksi berubah menjadi dua dinding manusia yang saling memaki, dan di antara kata-kata mulai terselip yang lama, yang berbahaya — tuduhan bukan tentang dompet lagi, tapi tentang perang, tentang siapa yang membakar desa siapa, tentang darah yang belum terbayar.
Maharani melihat tangan-tangan mulai mengepal. Ia melihat seorang lelaki mengambil batang kayu dari tumpukan dagangan. Ia tahu bahwa satu pukulan, satu lemparan, satu tetes darah, akan cukup. Tiga pekan perdamaian yang dibangun susah payah bisa runtuh dalam satu sore, dan milisi akan menonton dari kejauhan, puas, karena mereka tak perlu menembak satu peluru pun untuk membakar pasar — cukup memprovokasi orang untuk membakarnya sendiri.
Regu helm biru bergerak ke posisi, tapi Maharani tahu kehadiran bersenjata bisa memperburuk — kerumunan yang panik melihat seragam dan senjata bisa berbalik atau pecah. Bagas, di sisinya, ragu sepersekian detik, dan dalam keraguan itu Maharani membuat keputusan.
Ia berjalan ke tengah.
Bukan dengan helm yang dilepas demi gertakan, bukan dengan tangan terangkat memohon. Ia berjalan ke titik di mana lelaki yang memegang batang kayu berdiri, dan ia tidak menatap lelaki itu — ia menatap seorang lelaki muda lain di belakangnya, yang tergeletak, terinjak dalam kekacauan, mengerang memegangi lengannya yang terkilir saat kerumunan mendorong. Maharani berlutut di samping lelaki muda itu, di tengah dua dinding manusia yang siap saling bunuh, dan mulai memeriksa lengannya.
Keganjilan tindakan itu — seorang perempuan berseragam helm biru berlutut merawat orang di pusat keributan — menciptakan jeda. Suara-suara meredup sedikit, karena kerumunan tidak tahu bagaimana bereaksi terhadap sesuatu yang tidak mereka harapkan.
“Lengannya keseleo,” kata Maharani keras, agar terdengar, dalam bahasa setempat yang patah-patah yang ia pelajari dari Adama, lalu diperjelas Adama yang sudah ada di sisinya. “Siapa pun yang terluka, bawa ke sini. Aku tidak peduli dari tepi mana. Aku merawat siapa pun yang berdarah.”
Lalu ia melihat seorang perempuan dari tepi barat yang juga terjatuh, dahinya tergores, dan ia memanggilnya juga. Ia merawat keduanya di tempat yang sama, berdampingan, di tengah pasar, di depan mata semua orang. Lelaki tepi timur yang terluka, perempuan tepi barat yang terluka, tangan yang sama merawat keduanya.
Adama berbicara cepat dan keras kepada kerumunan, dan Maharani menangkap inti dari yang ia katakan: bahwa insiden dompet ini dipanaskan oleh orang yang tidak ada di pasar ini, oleh orang yang ingin kalian saling bunuh agar tanah kalian kosong; bahwa dompet bisa dicari, kebenaran bisa ditelusuri, tapi sekali darah tumpah di pasar ini, tak ada yang bisa mengembalikannya, dan satu-satunya yang menang adalah yang membakar desa kalian.
Keributan tidak berhenti seketika. Tapi luruh, perlahan, seperti air yang kehilangan tekanannya. Lelaki yang memegang batang kayu menurunkannya. Kerumunan mulai pecah menjadi orang-orang lagi, bukan dinding lagi. Dan dompet yang “dicuri” itu, ketika akhirnya diperiksa, ditemukan di kantong si penuduh sendiri — entah ia memang melupakannya atau sengaja diberi peran, tak ada yang akan pernah tahu.
Malam itu, di tenda medis, Bagas berdiri di pintu memandang Maharani membereskan peralatan.
“Kau bisa terbunuh di tengah itu,” katanya.
“Mungkin,” kata Maharani. “Tapi kalau regu maju dengan senjata, pasar mati malam ini. Kalau aku berlutut merawat orang, mungkin pasar hidup besok.” Ia memandang Bagas. “Netralitas bukan diam, Komandan. Itu yang aku pelajari hari ini. Netralitas adalah merawat kedua sisi secara terbuka, di depan semua orang, dengan keberanian. Kelambanan bukan netralitas. Kelambanan hanya memberi waktu pada yang ingin membakar.”
Bagas tidak membantah. Ia memandang ke arah zona penyangga yang gelap, tempat pasar akan berdiri lagi besok pagi kalau mereka cukup beruntung, dan ia tahu bahwa milisi akan mencoba lagi, dengan cara yang lebih licik. Tapi malam ini, setidaknya, perdamaian bertahan — bukan karena helm biru menjaganya dengan senjata, melainkan karena seorang bidan membuktikan bahwa adil dijalankan dengan berani lebih kuat daripada netral dijalankan dengan diam.