Rintik-rintik air hujan yang tadi hanya gerimis sekarang kian deras. Keya sudah sedari tadi menunggu di halte dengan seragam sekolah setengah basah. Ia melihat smartwatch yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, kemudian ia berdecak sebal.
“Lama-lama jadi daging beku, nih,” celetuknya sambil melingkarkan tangan memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan.
Seorang ibu dengan bayi tertidur di gendongannya izin duduk di samping Keya. Gadis itu pun tersenyum ramah dan mempersilakannya.
“Sendirian, dek?” tanya ibu itu ramah.
Keya menoleh. “Iya, Bu, ini lagi nunggu teman beli mantel hujan,” jawab Keya dengan sopan.
“Teman? Oh, kalian tadi kehujanan, ya?”
‘Ini ibu gak lihat baju aku udah basah gini, ya?’ batin Keya keheranan.
Pasal nya baju pramuka nya sudah hampir sepenuhnya basah, dan ibu ini masih bertanya?!
“Iya, Bu, kehujanan. Hujannya tiba-tiba turun, dan kami lupa bawa mantel,” jelas Keya.
Ibu itu mengangguk paham. “Kelas berapa emang, Dek?” tanyanya lagi.
“Kelas 2 SMA, Bu.”
‘Please, jangan bertanya lagi,’ batin gadis itu berharap.
Ternyata ibu itu kembali melontarkan pertanyaan yang bahkan lebih kurang penting bagi kondisi Keya sekarang. “Kedinginan ya, Dek? Sampai pucat gitu tangannya?”
Keya hanya tersenyum dan mengangguk kecil. ‘Enggak, Bu, saya kepanasan!’ batin Keya mulai kesal.
‘Ampun, deh, kemana sih kamu Milaaaa! Kamu beli mantel apa jahit mantel?!’
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah minimarket, gadis berambut pendek dengan bando merah itu sibuk memilih mantel.
“Duh, warna apa ya bagusnya? Pink, atau biru? Oh, ungu juga lucu,” ia membolak balik beberapa plastik bungkusan berisi mantel dengan warna yang berbeda-beda.
Penjaga minimarket itu sampai melongokkan kepalanya melihat nya, karena sudah hampir 10 menit lebih gadis itu berdiri di sana. “Dek, lagi cari apa? Ada masalah, Dek?”
Akhirnya gadis itu menoleh dan menyengir. “Hehe, gak ada masalah, Mas!”
Ia pun mengambil dua mantel hujan, dan membawanya ke kasir. “Ini, Mas, dua mantel warna putih sama warna hitam,” ucapnya sembari menyodorkan kedua mantel itu di atas meja kasir.
Setelah hampir lewat 5 menit berlalu, akhirnya Keya bisa bernafas lega melihat ibu itu pergi menaiki bus yang baru datang.
Energinya seakan terkuras selama ibu itu berada di dekatnya. Kemudian sebuah pengendara motor matic mendekat, dan berhenti di depan halte.
Mila berlari kecil mendatanginya yang sudah sedari tadi ia tinggal, wajah Keya yang sudah kesal kian merengut setelah di sodorkan mantel hitam oleh sahabatnya ini. “Maksud kamu apaan ngasih aku mantel hitam, Mila? Kamu mau aku kayak pelaku pembunuhan di film-film thriller?!”
Gadis di panggil Mila itu tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.
“Yah, gimana, aku bingung milih warnanya. Yaudah aku pilihin warna hitam buat kamu, kamu kan suka warna hitam-“
“Sejak kapan aku suka warna hitam, Mila?! Aku sukanya warna janda!” seru Keya kelewat kesal sampai mencuri perhatian orang-orang yang sedang menunggu di halte bus.
***
Setelah membersihkan diri dan berendam dengan air hangat, Keya duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Rintik-rintik gerimis di luar rumah masih terdengar, padahal hujannya sudah dari tadi sore sampai malam tak kunjung berhenti.
“Key,” panggil Mila.
Gadis itu masih berada di rumah Keya, ia memilih menghabiskan malam sebelum libur sekolah besok dengan menginap di rumah sahabatnya.
Keya hanya berdeham menanggapi nya.
“Kamu masih ingat Arjuan, gak?” tanya Mila tiba-tiba, ia sedang berbaring di atas kasur sembari menggulir sosial media di ponselnya.
“Arjuan? Maksud mu, Juan si bau bangkai itu?” jawab Keya santai.
Mendengar ucapan Keya, membuat Mila mendengus kasar. “Iya, si itu, mantan kamu itu.”
“Masih, tapi gak begitu ingat wajahnya.” Setelah di rasa rambutnya cukup setengah kering, kini ia mengambil hair tonic dan menuangkan nya sedikit demi sedikit ke akar rambut.
Selagi Keya sibuk dengan perawatan rambutnya, Mila terus melanjutkan obrolannya.
“Aku jumpa dia di akun insgram orang random, nih. Dia di video-in sama si pemilik akun, di stasiun kereta api. Caption nya—pulang kerja di kasih pemandangan berondong ganteng di kereta api. Kamu mau lihat, gak? Dia agak beda loh, sekarang,” ia memancing dengan suara yang terdengar santai.
Tapi Keya sudah tau jalan pikirannya, dan gadis itu hanya menggeleng. “Enggak tertarik,” tukasnya. Kemudian ia berdiri dan kini setelah menyelesaikan perawatan rambutnya, gantian ia melakukan perawatan untuk kulitnya.
“Kenapa emang nya? Kamu Naksir dia yang sekarang?”
Mendengar nya, sontak Mila terduduk menatap melotot sahabatnya yang sibuk mengoleskan lotion di lengannya. “Apa? Siapa? Aku naksir dia?! Ew, se-ganteng, se-famous apapun dia sekarang pun, tapi kalau bekas kamu gak sudi, ya!”
“Permisi? Bekas aku? Kamu kira kami ngapain, sampai bilang-bilang bekas aku?” tanya Keya tak terima.
Mila bersilang d**a, dan menaikkan bahunya santai. “Kan, mantan, berarti bekas, kan.”
“Yah, gak gitu juga maksudnya … “ geram Keya. Ingin sekali ia mencakar mulut temannya ini.
“Lagian ya, kita pacaran dulu itu cuma karena cinta monyet doang kali. Gak sampai sebulan, udah putus.”
“Iya juga, sih. Gara-gara hal konyol yang kalian perdebatkan itu,” Kembali gadis dengan pakaian tidur bermotif Hello Kitty itu membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Mila kembali membuka ponselnya, kemudian ia kembali menceletuk. “Tapi sumpah, dia beneran beda loh. Apa ya bahasanya, hah … glow up!”
Keya berdecak, dan menyingkirkan kaki Mila agar ia bisa duduk bersandar di kepala kasur.
“Udah lah, Mila, kenapa kamu jadi ngomongin dia. Masa lalu biarlah berlalu,” ujar Keya sedikit dramatis, meski sebenarnya di sudut hatinya ia penasaran juga, bagaimana rupa laki-laki itu sekarang.
“Tadi lewat aja video nya di reels. Awal lihat kek familiar gitu, kan, terus ku perhatikan lagi … eh beneran si Arjuan. Dia duduk sama temannya kek nya, soalnya mereka kelihatan akrab gitu. Tapi-tapi-tapi, temannya ganteng njir, naksir aku sama yang rambut coklat,” ia menjelaskan dengan heboh.
Ia kemudian membalikkan tubuhnya, dan bertopang dagu menatap Keya dengan tatapan menggoda. “Tapi serius, kamu gak penasaran? Lihat dikit aja lah,” tawarnya.
Keya melirik nya sekilas, sebelum kembali mengalihkan perhatiannya ke ponselnya sendiri. “Enggak,” balasnya singkat padat.
Mila menghela napas, dan membalikkan lagi tubuhnya telentang menghadap langit kamar. “Kalau semisal kamu ketemu dia lagi, kamu bakal gimana?” Pertanyaan Mila kali ini membuat Keya menghentikan aktivitas game yang baru ia mulai di ponsel nya.
Sekian detik suasana hening, Keya baru membalas dengan suara yang terdengar santai. “Enggak mungkin, lah. Aku aja gak tau dia pindah kemana.”
“Yah, mana tau, Key. Kita kan gak tau jalannya takdir kita gimana,” ujar Mila begitu santai.
Keya sampai menatap Mila dengan aneh. “Bentar. Ini beneran, Camila Enika, kan?” tanyanya sambil memicingkan matanya curiga.
“Apaan, sih?” alis Mila merengut heran.
“Sejak kapan Mila ku bisa ngomong bijaksana gitu?” cetusnya, mendapat tatapan datar oleh gadis berambut pendek di depannya.
Mila memutar bola matanya malas, dan beranjak dari kasur untuk mengambil minum di teko yang sudah di sediakan di atas meja. Setelah puas menyegarkan tenggorokan nya, Mila kembali duduk di tepi kasur.
“Tapi serius, deh. Dia itu pindah kemana, sih? Tiba-tiba banget kan, dulu dia pindah sekolah waktu SMP. Bahkan anak murid gak ada yang tau dia pindah kemana, bahkan guru pun gak mau bocorin. Kenapa, ya?” tanyanya dengan raut begitu penasaran.
“Udah deh, Mila … “ gemas Keya ingin mencubit pipi gadis berpipi tembam itu.