"Di saat sihir menjadi takhta, dan kegelapan menjelma raja...
Akan lahir jiwa yang membawa cahaya,
dari reruntuhan darah dan kehilangan...
Ia tak hanya menuntut tahta—
tapi keadilan yang telah lama terkubur oleh mantra."
•••
Alexius turun dari singgasananya—mata tajamnya membelah kabut sihir yang bergulung di ruang takhtanya. Kabar angin membawa berita dari utara: ada kawasan baru yang ingin ia kuasai. Negeri Eldoginia, yang dulunya tunduk pada kerajaan agung, kini mencoba berdiri sendiri dan menyusun kekuatan. Bagi Alexius, ini adalah pengkhianatan.
Dengan hentakan tongkat sihirnya yang berkepala tengkorak, ia memanggil pasukan kegelapan—prajurit-prajurit istana yang telah ia sihir menjadi monster mengerikan, makhluk tanpa rasa yang membawa senjata magis di tangan, dan haus akan kehancuran.
“Lekas! Jelajahi kawasan Negeri Eldoginia!” suaranya bergemuruh, membelah udara, “Kota itu harus segera jatuh ke tanganku sebelum para pemberontak dari negeri-negeri asing menjadi duri dalam perjalanan kita! Jangan beri mereka waktu untuk bernapas!”
Dengan sorot mata menyala dan tawa dingin menggema, Alexius menaiki kendaraan sihir miliknya—seekor serigala logam raksasa dengan mata merah membara. Diikuti oleh pasukannya yang melesat bersama angin sihir, mereka berangkat. Argedonia kembali bergetar di bawah telapak kaki sang tiran.
Perang baru… telah dimulai.
•••
Sementara itu, jauh di selatan Argedonia…
Rorencia melangkah menyusuri jalanan terjal di tengah hutan lebat. Dedaunan menggantung berat oleh embun, dan akar-akar pohon menyembul liar di sepanjang tanah lembap. Di tangan kanannya, tergenggam erat tongkat sihir warisan George Davinci—tabib, penyihir, dan sekaligus ayah angkat yang telah membesarkannya dengan kasih dan perlindungan.
Ia telah memutuskan: ini saatnya kembali ke Argedonia, ke negeri yang pernah menjadi tanah kelahiran sekaligus ladang darah keluarganya. Kekuatan angin, elemen yang sejak lama telah ia latih, kini membimbing langkah-langkahnya menembus batas hutan dan kabut takdir.
Sebelum keberangkatannya, George sempat memberinya peringatan terakhir—namun juga hadiah paling berharga.
•••
𝙁𝙇𝘼𝙎𝙃𝘽𝘼𝘾𝙆
“Princess Roren, bawalah tongkat ini. Telah kusetel pelindung sihir di dalamnya—perisai dari segala mantra mematikan yang mungkin menyerangmu di luar sana.”
George menyerahkan tongkat itu perlahan, dengan mata penuh harap dan kekhawatiran. Hari itu adalah ulang tahun ketujuh belas Rorencia Aguithania—putri tunggal King David Aguithanio dan Ratu Venus Reancia, yang keduanya telah gugur di tangan kejam penyihir Alexius.
Rorencia menerima tongkat itu dengan tangan gemetar, tapi matanya bersinar.
“Terima kasih, George. Kau bukan hanya menyelamatkanku… tapi memberiku kehidupan kedua. Aku tak akan pernah melupakan semua yang kau ajarkan. Ini bukan sekadar pengembaraan… ini adalah pengambilan kembali apa yang menjadi milikku.”
Seketika, ia mengangkat tongkat itu ke langit. Dalam sekejap, CLING!, tubuhnya bersinar dan berubah: gaun istana menghilang, berganti menjadi pakaian serba hitam, praktis, dan sederhana—seperti gadis tomboi dari kalangan rakyat jelata. Itu adalah bentuk kamuflase terbaik selama perjalanannya.
Ia bukan lagi sekadar putri tersembunyi. Kini, ia adalah Rorencia sang pewaris tahta, yang menantang kekuatan tergelap di Argedonia.
•••
Dua kekuatan tengah bergerak.
Satu untuk membinasakan.
Satu untuk merebut kembali.
Maka, pengembaraan pun dimulai.
•••