"Di tengah kutukan yang membatu,
harapan menyusup dalam bentuk yang tak disangka.
Sebab bahkan sihir tergelap pun bisa goyah,
saat hati yang tulus datang menyentuh luka."
•••
“Aku harus bisa lepas... dari sihir Alexius... dari mantra membius yang membelenggu ini...”
“Aku tak bisa terus terperangkap. Sebelum dia tahu siapa aku sebenarnya...”
Dalam wujud berang-berangnya, Rorencia mencoba mengerahkan sisa kekuatan batinnya.
Ia fokus pada tongkat sakti yang ikut membatu dan melekat pada tubuhnya. Dengan mata batin, ia mencoba menggerakkannya.
CLING!
Langit bergemuruh. Petir membelah langit di kejauhan. Tapi tubuhnya tetap membatu. Tak ada perubahan. Hanya adu kekuatan sihir yang sesaat memercik di udara, lalu sirna. Nyeri merambat dari ujung tubuh hingga ke hatinya yang mulai putus asa.
“Sial...! Bagaimana ini? Apa tak ada jalan lain...?” gumamnya lirih. Kepanikan mulai menyergap.
Namun tiba-tiba...
Suara derap kaki kuda terdengar mendekat dari kejauhan. Dua sosok muda turun dari kuda hitam yang gagah. Salah satu dari mereka—seorang gadis penyihir—mengayunkan tongkat.
CLING!
Seketika, kuda itu menghilang dalam kabut tipis, lalu tongkatnya ia sisipkan ke pinggang.
“Kak Willy... aku merasa asing dengan tempat ini. Sejak kapan tebing yang dulu curam jadi jembatan semegah ini?” tanya gadis cantik bernama Tereshia Amora, menoleh ke pemuda di sampingnya.
Willy Davian, pemuda berwajah tampan, tenang dan cerdas yang dulu satu sekolah sihir dengan Tereshia, mengerutkan dahi.
“Ini tipuan, Mora! Kau harus lebih jeli.”
Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
CLING!
Mantra pemulih menyapu sekeliling. Dalam sekejap, pemandangan berubah—jembatan batu lenyap, berganti kembali menjadi tebing curam dan jalanan terjal yang sebelumnya ada.
“Wah... kemampuanmu makin hebat saja, Kak. Aku jadi salut padamu!” ujar Tereshia, kagum.
Namun pujiannya terhenti saat matanya menangkap sosok mungil—seekor berang-berang kecil—tergeletak di antara bebatuan.
“Hei, lihat...! Ada yang terluka!”
Ia refleks ingin mengangkatnya.
“Jangan sentuh! Dia bukan hewan biasa! Dia jelmaan!” seru Willy cepat, menahan tangan sahabat kecilnya.
“Hah...? Jelmaan? Maaf, Kak... penglihatan supranaturalmu jauh lebih jeli dariku.”
Willy mendekat, mengangkat si berang-berang dengan hati-hati. Ia mencoba menyihirnya kembali ke bentuk semula, namun…
WHUUSS!
Energi sihir dari tubuh berang-berang itu menolak keras. Willy nyaris terpental ke belakang. Tubuh kecil itu terlepas dari tangannya.
“A-Ah! Sakit...!”
Suara lirih dan menyayat. Suara... manusia.
Tereshia langsung menghampiri Willy yang terduduk.
“Kak, kau baik-baik saja?”
“Iya, hanya terkejut. Tapi sihir yang mengurungnya... luar biasa kuat. Kasihan... siapa pun yang terjebak di balik wujud itu.”
Willy bangkit, lalu berdiri dan mendekati berang-berang yang gemetar. Ia menatapnya dengan lembut.
“Kau kasihan sekali... siapa namamu?”
Dengan suara parau dan sesak, Rorencia menjawab:
“Bawa aku... nanti akan kuceritakan semuanya...”
“Ada penyihir jahat yang mengutukku menjadi batu. Aku tak bisa bebas... kecuali sihir itu dipecahkan oleh kekuatan penangkal. Tapi... kalian datang... membuatku bisa bernafas lagi...”
Air matanya jatuh.
“Terima kasih...”
Willy menatap Tereshia, lalu mengangguk.
“Mora, kita bawa dia ke kastil. Di sana, mungkin ada penangkal atau ahli sihir yang bisa membantunya. Kita harus selamatkan dia sebelum penyihir itu kembali.”
“Baik. Mari kita pergi dari sini.”
Tereshia segera mengayunkan tongkat.
CLING!
Seekor kuda sembrani bersayap keluar dari cahaya, berdiri gagah dengan surai perak dan mata biru berkilat. Mereka naik bersama, membawa Rorencia yang masih dalam wujud berang-berang.
“Terima kasih... aku tak akan pernah melupakan jasa kalian ini...” ucapnya sesenggukan.
“Kau tak perlu khawatir lagi. Kami akan membawamu ke tempat yang aman,” jawab Willy, memacu kuda sembrani itu ke langit.
Tereshia tersenyum hangat, duduk di belakang Willy, sambil mengelus kepala berang-berang kecil itu.
“Kau lucu sekali... imut!”
Mereka terbang menuju kastil sementara, tempat mereka bernaung selama pengembaraan... tanpa tahu bahwa makhluk mungil yang mereka bawa adalah putri kerajaan yang hilang, sang pewaris tahta yang sedang diburu oleh kekuatan paling kelam di seluruh Argedonia.
•••