Dari tangga mulai terdengar sales divisiku mulai berdatangan, aku tahu karena suara mereka juga ikut terdengar, dan aku sudah hafal dengar suara mereka. Aku membatasi hubungan pertemanan dengan mereka, karena mereka aku anggap adalah teman kerja saja, tidak lebih dan tidak kurang. Satu persatu mulai masuk keruangan, aku melihat jam kurang lebih sudah setengah sembilan pagi. Jumlah personel di divisi ini ada 7 orang. Terdiri dari dua supervisor, dan empat sales lapangan.
“ No, sudah datang dari tadi ? “ Kata supervisor ku
“ Sudah donk pak, sampai ketiduran saya disini .”
Supervisorku bernama Rahmat, umurnya hanya beda satu tahun diatas ku, tapi masa kerja nya sudah dua kali lipat dariku. Tergolomg orang senior juga dikantor ini. Rahmat sering bercerita bahwa dia memliki kemampuan untuk melihat makshluk astral, padahal aku sudah tahu dia tidak bisa, saya hanya mengiyakan saja karena saya sering kali berperan sebagai orang yang skeptis tentang hal gaib, dan untungnya citra itu cukup terjaga .
Terdengar suara langkah dari tangga , seketika suasana ruangan menjadi tegang, benar saja Pak Bambang menuju ke ruangan divisi. Dari ketika masuk ruangan raut wajahnya sudah menunjukan aura negatif yang cukup besar.
“ Wah, pasti lama nih briefing pagi nya “ pikirku
dan yang lebih aneh lagi tiba tiba Itin ikut masuk ke ruangan divisi, seperti yang tertarik dengan aura tidak baik dari Pak Bambang, atau setidaknya itu harapanku.
Briefing dimulai dengan dengan pembahasan performa masing masing sales, untungnya semua performa sales sedang tidak terlalu baik, setidaknya bukan hanya aku saja yang ditegur.
Nama pertama yang dipanggil adalah aku
“ Ono, kenapa performance mu dibulan ini hanya tiga puluh enam persen?” Tanya Pak Bambang.
Dalam sepersekian detik aku harus mencari alasan yang cukup masuk akal .
“ Daya beli konsumen sedang menurun Pak, karena rata rata perputaran uang di konsumen sedang menurun sehingga budjeting untuk maintenance sedang di hold “ jawabku, dan aku yakin pasti semua sales akan meniru alasanku. Perhatianku agak teralihkan dengan Itin yang melayang kesana kemari diruangan, Aku berusaha memfokuskan pandanganku agar tidak terlihat seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang tidak kelihatan.
Terlihat Pak Bambang sedang mencari kesalahan pada alasanku tadi
“ Memang Kamu tidak konsumen yang lain ?”
“ Jadwal untuk follow up konsumen yang lain memang belum bisa pak, karena jadwalnya di Bulan depan”
“ Terus untuk mengejar performa Kamu ,bagaimana solusinya ?”
“ Jujur saja saya belum terpkirkan Pak, hanya ketertinggalan performa ini saya usahakan bisa saya tutup di bulan depan”
Sebenarnya jawaban skenario ini sudah aku susun tadi malam, karena sudah hafal dengan pertanyaan pertanyaan Pak Bambang jika beliau sedang tidak mood.
Memang ritme didunia penjualan seperti ini , banyak naik turunnya, hanya kembali ke SDM nya saja untuk menangani reaksi dari atasan. Untungnya jawaban tadi sudah cukup membuat Pak Bambang tidak meneruskan lagi, sehingga rekanku yang dipanggil berikutnya
.
Perhatianku mulai teralihkan ke Itin, dia seperti yang gelisah tapi tidak mau keluar dari ruangan , dan matanya semakin terbuka, seperti yang merasa terintimidasi oleh sesuatu. Memang Pak Bambang memilki pegangan yang membuat semua bawahnnya terdunduk, semenjak kehadiranku , efek dari pegangan itu aku kikis perlahan lahan agar tidak terlalu mengganggu, berefek ke mood nya beliau saja yang semakin tidak jelas naik turunnya.
Setelah 1 jam briefing mengenai performa sales, kami pun ditugaskan untuk berangkat ke lapangan sesuai dengan jadwal masing masing , walaupun ada sebagian yang akan pulang terus melanjutkan tidur nya ( bahkan sebagian besar ). Aku perhatikan Itin masih diam diruangan divisi ku, tidak seperti biasanya. Rencananya aku ingin memeriksa dia terlebih dahulu, hanya Pak Bambang memutuskan untuk melakukan pekerjaan di ruangan divisi.
“ Mungkin nanti sore saja .” Pikirku.
Di Lantai 1 Kris dan Rahmat menghampiriku
“ No, kita ngopi dulu yuk?” Kata Kris
“ Iya, sekalian kita membahas Pak Bambang “ lanjut Rahmat
“ Wah, mau ngegibah nich ahaha “ Jawabku.
“ Yoi, punya atasan kok gitu gitu amat ya.” Kata Kris
“ Kalau bukan karena bakat kebutuhan mah, sudah resign saya “ Kata Rahmat
Waktu aku masih jadi sales baru disini, aku punya pemikiran yang sama dengan mereka, seiring berjalan dengan waktu aku sudah terbiasa dengan sifat Pak Bambang jadinya sudah tidak terlalu dipikirkan lagi.
“ Yah, kalian sajalah, saya sudah ada janji juga dengan klien.’ Jawabku.
Aku pun langsung meninggalkan mereka berdua menuju ke mobilku. Sesegera mungkin aku ingin segera berangkat dari kantor, biasanya jika sudah bergosip ujung ujungnya akan bergosip sampai makan siang, biasanya sesudah itu akan sangat malas sekali untuk beraktifitas ke lapangan. Aku pun menuju perjalanan menuju Klien ku yang ada di Bandung Barat.
Setelah tiga puluh menit perjalanan , aku sampai di Klien ku , berupa pabrik kain. Digerbang pabriknya terilhat dua makhluk yang bentuknya mirip dengan goblin di cerita dongeng amerrika, aku rasa mereka penjaga pabrik itu, atau penghuni sebelum pabrik itu ada, entahlah aku berusaha tidak memikirkannya. Setelah konfirmasi dengan pos penjaga pabrik , aku dipersilahkan untuk memakirkan kendaraanku di area parkir tamu. Di area ini banyak sekali makhluk astral yang lalu lalang , dari gaya busananya mereka ada sebelum pabrik itu didirikan, mungkin dari tahun 1800 an. Mereka banyak yang melirik kepadaku , biasanya “mereka “ akan menyadari jika ada manusia yang masih hidup yang sadar akan kehadiran “ mereka”. Aku berusaha untuk fokus saja , biasanya “mereka “ akan mengacuhkanku jika aku tidak merespon, karena bukan kali ini saja aku ke area pabrik ini. Dari parkiran tamu menuju lobi pabrik tidak terlalu jauh, begitu aku masuk ke lobi pabrik, terasa tiupan ac yang begitu segar, memang hari ini cuasa cukup panas. Di loby aku sudah ditunggu oleh Klien ku, yang bernama Pak Yadi, Beliau orang yang cukup senior di pabrik, perbedaan umurnya dengan ku sekitar 10 tahun ( Jelas beliau lebih tua dari ku ).
“ Bagimana Pak Yadi, apakah sudah ada kebutuhan barang ?”
“ Wah kebetulan Pak Ono, kami sedang ada trouble dengan salah satu mesin kami, jika ada waktu bisa tidak Bapak untuk mengecek kondisinya?”
“Tentu saja bisa Pak Yadi, untuk itulah saya disini .”
Perasaan senang bercampur tegang mulai merasuki ku, akhirnya ada kesempatan untuk penjualan.
“ Baik Pak Ono, saya koordinasikan dengan kepala teknisinya ya’
“ Siap Pak Yadi !”
Pak Yadi meminta kepada resepsionis untuk memanggil kepala teknisi. Tidak lama berselang, kepala teknisi yang dimaksud datang. Ketika Kepala Teknisi itu masuk, dia diikuti oleh makhluk astral yang menyerupai wujud kakek kakek. Kakek itu bukan hanya mengikuti, lebih tepatnya menempel pada pundaknya. Kepala teknisi itu memperkenalkan dirinya dengan nama Dedi. Umurnya lebih Muda dariku, terlihat memang agak lesu. ” Mungkin karena kakek itu .” Pikirku.
“ Terima Kasih sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya Pak Dedi.”
“ Saya yang berterima kasih Pak Ono, siapa tahu produk yang Bapak jual bisa memberikan solusi untuk maintenace mesin kami.”
“ Semoga Bisa memberi solusi Pak, bisa saya liat kondisi mesinnya ?”
“ Bisa Pak Ono, mari ikuti saya .”
Pak Yadi pun mohon ijin karena tidak bisa menemani untuk melihat mesin , Hanya aku dan Pak Dedi yang masuk ke area Produksi. Terlihat Pak Dedi agak sempoyongan ketika berjalan.
“ Pak Dedi sedang tidak enak badan ya?”
“ Iya Pak, dari kemarin siang badan saya tidak fit, sekarang pundak saya terasa berat, mungkin masuk angin.”
Aku sedikit melirik ke arah kakek yang menempel di pundak Pak Dedi, pasti ada penyebabnya kakek ini menempel .