Di rumah Maria tiba-tiba ada sebuah ilusi yang datang dan menghampiri ruangan, sepasang sepatu kulit menginjak lantai rumah Maria, yang merupakan menuju ke kamar utama. Di depan pintu, tangan ajaib milik Haww terangkat dan pintu langsung terketuk. Kemudian setelah mendengar ketukan pintu itu Maria langsung membuka pintu. Empat mata bertemu saling memandang, satu karena keingintahuan dan penasaran mengapa Haww datang ke situ dan yang satu yaitu menunjukkan wajah kesedihan yang bercampur aduk dengan keengganan. Bibir merah muda Maria membuka mulutnya terlebih dahulu untuk memulai pembicaraan.
“Apakah kau mencari Pangeran Axel?" tanya Maria kepada Haww.
“Tidak. Aku mencarimu," ucap Haww sambil menggelengkan kepalanya kepada Maria.
“Menemui aku, ada apa?” tanya Maria bingung pada Haww.
"Aku datang membawa kabar yang sebenarnya dilarang untuk kau dengar," ucap Haww.
Maria membuka pintu lebih lebar dan mempersilakannya masuk. Ia menutup pintu kamar itu rapat-rapat, kemudian berbalik dan bersandar padanya.
"Dilarang oleh siapa?" tanya Maria.
"Oleh Putra Mahkota sendiri," jawab Haww. "Kalau dia sadar dan tahu aku berdiri di sini, aku yang akan dijadikan abu, bukan iblis-iblis di luar sana."
"Katakan," ucap Maria. Suaranya pendek dan tegas, tidak ada nada memohon sedikit pun di dalamnya.
Haww menghela napas. Ia melihat ke arah jendela sebentar, seolah menghitung ulang keputusannya sendiri, kemudian menatap wanita di depannya.
"Obat yang membuat semua rasa sakitmu berpindah ke tubuhnya itu, aku yang meraciknya," ucap Haww. "Dia yang memaksaku. Dia yang meminum sendiri dan menciummu supaya obat itu bekerja. Waktu itu aku sudah mengatakan harganya, dan dia tetap meminumnya."
"Harganya?" tanya Maria.
"Obat itu tidak bisa dihentikan dari luar," jelas Haww. "Selama kau hidup, setiap luka yang seharusnya masuk ke tubuhmu akan berpindah ke tubuhnya. Kau ditabrak truk, dia yang remuk. Kau jatuh dari mobil, dia yang berdarah. Tubuh manusianya sudah tidak sanggup lagi, itu sebabnya dia terbaring dengan kabel di rumah sakit. Sekarang tubuh iblisnya yang mulai habis."
Maria merasa lantai di bawah kakinya bergerak. Ia meraih tepi meja untuk menahan tubuhnya.
"Kalau begitu, hentikan dari dalam," ucap Maria. "Ada caranya, kan? Kau tidak akan datang jauh-jauh ke sini kalau tidak ada caranya."
Haww tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ada senangnya.
"Kau memang cocok jadi istri orang keras kepala itu," ucap Haww. "Ada satu cara. Obat itu mengalir dari tubuhnya ke tubuhmu lewat segel yang dia tanam di dadamu. Kalau kau berdiri di sampingnya di dunia kami dan segel itu dibuka, semua yang sudah dia tanggung akan kembali kepadamu sekaligus. Semuanya, Nyonya. Sekaligus. Tabrakan truk itu, jatuh dari tebing itu, semuanya dalam satu tarikan napas."
"Aku bisa mati," ucap Maria.
"Ya," jawab Haww tanpa memperhalus apa pun. "Kemungkinan besar begitu."
Maria diam. Di luar, suara televisi Marion masih terdengar samar dari lantai bawah. Anak itu tertawa sendirian menonton acaranya.
"Dia menciumku waktu itu," batin Maria. "Aku pikir dia sedang manja. Ternyata dia sedang menandatangani kematiannya sendiri, dan aku membalasnya dengan omelan karena dia meninggalkanku pulang sendirian."
Wanita itu menutup matanya sebentar. Kalau ia menangis sekarang, Haww akan berbalik pulang dan menganggapnya tidak sanggup. Jadi Maria menahan semuanya di dalam dadanya, di tempat yang sama dengan segel yang mulai memudar itu.
"Berapa lama lagi waktunya?" tanya Maria membuka matanya.
"Dua malam. Mungkin tiga, kalau dia masih mau melawan," jawab Haww. "Tetapi tiap kali kau terluka, walaupun hanya jatuh dari tangga, hitungan itu berkurang."
"Kenapa segel ini memudar?" tanya Maria sambil menarik kerah bajunya sedikit, memperlihatkan tanda samar yang sejak sore tadi warnanya semakin hilang.
"Karena pemiliknya sedang sekarat," jawab Haww. "Segel itu bukan gambar, itu tangan Putra Mahkota yang sedang memegangmu. Kalau tangannya melemah, yang dia pegang akan terlepas satu per satu."
"Yang dia pegang," ulang Maria pelan. Sesuatu di kepalanya tersambung. "Haww, apakah Pangeran menahan arwah manusia?"
Wajah Haww berubah. Ia menatap Maria lebih lama dari yang seharusnya.
"Dari mana kau tahu?" tanya Haww.
"Aku bertemu salah satunya. Anak perempuan sepuluh tahun, memakai seragam sekolah, dianiaya sampai meninggal oleh ayah tirinya. Dia bilang dia masih ada di sini karena Pangeran," ucap Maria.
Haww mengangguk pelan.
"Itu benar. Arwah yang mati dengan dendam terlalu besar tidak bisa langsung pergi. Kalau dibiarkan, dia akan menjadi roh jahat seperti pengantin di gedung pernikahan itu, dan membunuh siapa saja yang berdiri di dekatnya. Putra Mahkota menahan mereka, menyimpan mereka, dan menghukum satu per satu orang yang berutang kepada mereka. Itu pekerjaannya sejak dulu," jelas Haww. "Sekarang tangan yang menahan mereka sedang melemah. Anak itu lepas, Nyonya. Dan yang lepas lebih dulu selalu yang paling banyak dendamnya."
"Suami wanita itu ditemukan mati tiga hari lalu di dekat taman," ucap Maria.
"Berarti anak itu sudah mulai," ucap Haww. "Dia tidak akan berhenti di satu orang. Semua yang melihat lalu diam akan dia datangi. Dan kau, malam itu kau melihat mayat itu, kan? Kau dan seseorang lagi."
Tangan Maria mengepal sampai buku-buku jarinya memutih. Marion. Anak itu bahkan tidak tahu apa yang sedang mengintainya.
"Kalau Axel sembuh, apakah anak itu bisa ditahan lagi?" tanya Maria.
"Kalau dia sembuh, ya," jawab Haww.
Maria berjalan ke lemari, mengambil jaket hitamnya, dan memakainya. Gerakannya cepat, seperti orang yang sudah selesai berpikir jauh sebelum pertanyaan terakhir diucapkan.
"Antarkan aku kepadanya," ucap Maria.
"Kau sudah dengar bagian matinya, kan?" tanya Haww lagi memastikan.
"Sudah," jawab Maria. "Kau tahu, dia menyeberangi dunia dalam keadaan terluka hanya untuk menarikku dari gang buntu itu. Kalau aku duduk di sini menunggu kabar, aku bukan istrinya, aku hanya perempuan yang beruntung."
Haww menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
"Dua orang keras kepala menikah, dan sekarang aku yang repot," ucap Haww.
Maria turun ke lantai bawah. Marion masih di sofa, kakinya diletakkan di atas meja seperti biasa. Maria melepaskan pesona pemberian ibunya dari saku jaketnya, benda yang selama ini selalu ia bawa ke mana pun sejak malam pertama ia pergi ke Gua Iblis, lalu menyelipkannya ke tangan adiknya.
"Simpan ini. Jangan dilepas, jangan diberikan kepada siapa pun, walaupun yang meminta itu aku," ucap Maria.
"Kakak mau ke mana malam-malam begini?" tanya Marion sambil menegakkan badannya. Mata anak itu langsung berubah waspada.
"Menjemput Kakak Iparmu," jawab Maria. "Kalau ada anak kecil mengetuk jendelamu, jangan dibuka. Kalau dia memanggil namamu, jangan menyahut."
"Kakak menakutiku," ucap Marion dengan suara yang mengecil.
"Bagus. Takut itu membuatmu hidup lebih lama," jawab Maria sambil mengusap kepala adiknya dengan kasar. Kemudian ia berbalik dan berjalan ke halaman belakang, tempat Haww sudah menunggu.
Haww mengangkat tangannya. Udara di depan mereka terbelah dan menampakkan lorong gelap yang di dalamnya berkelip cahaya-cahaya kecil seperti abu yang terbakar. Maria melangkah masuk tanpa ragu, dan Haww menyusul di belakangnya.
Sesampainya di seberang, dingin langsung menyerbu wajah Maria. Mansion Haww berdiri di atas tanah hitam, tinggi dan sunyi, dengan lampu-lampu biru yang menyala tanpa api di sepanjang dindingnya. Langit di atas sana tidak punya bintang, hanya bulan besar berwarna kelabu yang menggantung terlalu dekat, seolah-olah bisa disentuh kalau seseorang mau memanjat atapnya. Di kejauhan terdengar lolongan panjang yang bukan suara anjing.
"Jadi ini rumah temannya," batin Maria. "Pantas saja dia betah tidur di kamarku yang sempit itu."
Leah dan Iris muncul di kanan-kirinya begitu kaki Maria menyentuh tanah.
"Iblis penjaga menunggu di halaman," ucap seorang pelayan yang menyambut mereka di tangga. "Ruangan Putra Mahkota tidak boleh dimasuki bangsa rendahan."
Maria hendak membantah, tetapi Leah menahan lengannya.
"Kami akan menunggu di sini, Nona," ucap Leah.
Maria mengangguk dan mengikuti Haww naik ke lantai atas. Di halaman, Leah dan Iris berdiri diam di bawah pohon hitam yang tidak berdaun. Angin membawa bau logam dan tanah basah.
Beberapa saat kemudian, dari balik pilar, seorang wanita melangkah keluar. Gaunnya merah gelap, langkahnya pelan, dan senyum di wajahnya sama sekali tidak sampai ke matanya. Vexy berhenti tepat di depan Iris, memiringkan kepalanya, lalu berbicara dengan suara yang selembut sutra.
"Kau iblis penjaga wanita manusia itu, bukan? Kelihatannya kau tidak senang berdiri di halaman ini," ucap Vexy.