Baiklah, sudah tugas Imera memahami bagaimana Damian menjalani hidup. Mungkin karena Damian sering membangkang dan keras kepala. Sejak kecil Imera juga merasakan kasih sayang yang diberikan orang tuanya untuk Damian tak sebesar yang diberikan untuk Jason. Entah karena kinerja otak Damian tak seunggul Jason, atau karena hal lain. Tetapi meski begitu setiap anak dilahirkan dengan kemampuan masing-masing. Damian punya bakat, dia bahkan menghasilkan uang dari bermain game dan menyumbangkanya untuk panti asuhan. Imera merasakan apa yang Damian rasakan sewaktu Uncle Juan mengadu pada Kakek William kalau Damian sehari-hari cuma bermain game dan tidak belajar. Lalu Kakek Will menghapus akun game dan you tubenya.
"Kamu bisa memahaminya tanpa merasakan, hargai bila ada yang bercerita tanpa mencampurkan ego atas rasa bencimu."
Ia melirik buku yang singgah dalam pangkuan Imera. "Kamu sendiri kenapa tidak membaca fiksi romansa bila merasakan cinta? Malah membaca novel misteri! Bukankah kamu bilang dengan membaca, suaramu akan terwakilkan di sana?"
"Cinta juga misteri, kok. Well, cinta kan banyak makna. Tidak diperlihatkan bukan berarti tidak ada."
"Hei, omong kosong! Cinta perlu dipamerkan, Imera! Orang kalau sedang kasmaran, dunia seolah milik berdua, yang lain cuma mengontrak!"
"Dipamerkan, ya? Pilihan katamu agak ambigu, Dami!" Imera menahan beludak tawa, mengingat postingan Jason beberapa waktu lalu. "Ya terserah mereka, sih. Hidup kan memang soal pilihan. Setiap pilihan selalu ada konsekuensi. Mereka memilih untuk menunjukkan secara terus terang, secara tidak langsung mengundang banyak perspektif orang."
"Kalau kamu sudah punya pacar, kamu ingin yang model bagaimana? Yang posesif saling tukar password dan membatasi pertemanan? Atau yang elegan saja?" tanya Damian seraya menggoda Imera dengan menoel pipinya.
"Cinta menurutmu itu bagaimana, sih? Banyak yang melakukan hal-hal memuakkan lalu mengkambing-hitamkan cinta."
"Entahlah, kenapa kamu menanyakannya pada orang yang tak pernah mencicipi cinta? Banyak juga yang bilang cinta itu bisa membuat bodoh, bisa memperbudak dan mengekang."
Ini dia. Orang bilang hidup tanpa cinta bagai kerang tak bermutiara. Tetapi terkadang, tak sedikit manusia menodai cinta itu sendiri. "Cinta sudah disalah artikan, Dami! Sesungguhnya cinta itu suci. Nah, yang kamu katakan itu salah satu contoh mengkambing-hitamkan. Manusia yang bodoh dan mudah terlena. Makanya penting sekali mencintai diri sendiri dan mampu mengendalikan perasaan. Bukan, bukan salah cinta, tetapi salah manusianya."
Imera memasukkan buku dan membenarkan posisi duduk. "Semua orang punya cara untuk menunjukkan dan bersikap, beberapa juga menganggap sikap posesif terhadap pasangan hal yang wajar. Mereka bilang, itu cara membuktikan cinta. Terserah mereka mau bagaimana, bertukar password, saling sadap pesan, saling tidak percaya dan terus menjalin hubungan penuh kecurigaan, mereka yang menjalani, Damian. Terserah mereka meski melakukan hal sia-sia. Tetapi terkadang mereka tidak sadar terlalu mengekang juga merugikan orang lain."
"Loh? Kan yang dikekang kekasihnya, bukan orang lain."
"Yang bersikap mengekang cendurung menganggap pacar itu mutlak miliknya. Mau apa saja harus izin. Pasangan dituntut untuk selalu ada untuknya, padahal ia juga punya orang tua dan kawan. Manusia hidup juga untuk orang lain, bukan untuk pacar saja. Mereka selalu mencari pembenaran atas nama cinta, alibinya takut kehilangan."
Imera pandangi raut Damian seolah menahan beludak tawa. "Kamu jadi sentimeter begini sih, Imera?"
"Sentimental, Damian! Sentimental!!" Pekik Imera seraya ingin melayangkan pukulan.
"Kamu emosi karena bertengkar dengan Jason, atau karena kedekatan Jason dengan Sherry?" Imera sudah memicing seolah siap memakannya. "Atau karena…."
"Mau bilang apa kamu?" serobot Imera.
"Atau karena tadi pagi dipeluk oleh Jason dan kamu merasa diberi harapan?" tebaknya kemudian tertawa keras.
"DAMIAN MALLORY!!" Imera menjerit. Lelaki itu bahkan telah mendapat bertubi-tubi pukulan. Damian bangkit untuk menghindar dan berlari. Entah apa yang terjadi padanya, Imera refleks bangkit dan mengejar Damian yang berlari cepat mengitari taman, lalu berbelok menuju koridor kampus.
"DAMIAN!!" Ini memang kekanakan, tetapi Imera bahkan tak sadar telah menabrak beberapa orang yang menghadang jalannya. Beberapa gadis yang kena serudukan Imera sempat mengumpat, sementara para lelaki malah memperingatkan Imera untuk hati-hati, padahal dalam hati berdoa supaya Imera jatuh menabraknya seperti adegan dalam film atau novel. Sedang beberapa lelaki yang memang sangat terobsesi pada Imera ikut mengejarnya untuk menangkap Damian.
"Aku akan menangkap Damiam untukmu, Imeku!" ujar seorang lelaki keren dengan penampilan seperti berandal waktu berlari di sampingnya, kemudian menambah kecepatan.
"Hati-hati, Sayang. Aku akan berlari di belakangmu, bila kamu jatuh aku siap meggendong," kata lelaki yang benar-benar tinggal di belakang Imera.
Beberapa juga menyerobot Imera dan meneriakkan nama Damian untuk segera berhenti. Koridor kampus jadi gaduh seolah hendak mengadakan tawuran dengan kelas lain. Ini lah akibatnya bila Imera sedikit saja tak sengaja menebar pesona.
Lalu langkah Imera mendadak terhenti saat mendengar seorang wanita menyindir, "padahal sahabatnya baru saja tewas mengenaskan, lalu sahabat yang satunya lagi juga baru aja dipulangkan dari rumah sakit. Tetapi lihat tingkahnya, tidak merasa kehilangan sama sekali. Tidak menghargai kematiannya."
Hati Imera teriris nyeri, ia benci pada orang yang gemar berkomentar tanpa tahu yang sebenarnya. Mata Imera menoleh, memicing pada wanita itu. Sementara beberapa lelaki yang berada di belakang Imera juga ikut melayangkan tatapan tak suka dan beberapa beradu mulut dengannya. Imera mengambil kesempatan untuk lepas dari mereka dan berjalan dengan cepat. Secepat yang ia bisa tanpa berlari atau bakal mengundang penilaiin sarkas orang lain.
Entahlah, semuanya jadi terasa semakin sulit dan tak terkendali. Padahal Imera bukan tipikal manusia yang mudah terbawa perasaan. Tetapi kali ini ada banyak sekali suara yang meneror isi kepala. Membuat Imera emosional dan hilang kendali. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, seharusnya Imera sadar dan memahai itu. Tetapi kini rasanya salit. Sherry Lovato. Wanita itu jadi pusat segala kekhawatiran dan kecemburuanya.
Imera menatap koridor kosong dan tak pedulikan di mana Damian menghentikan langkah. Ia hanya perlu menyendiri di toilet atau membolos ke mana saja. Tetapi mendada sekali. Kepala Imera terbentur keras pada d**a kekar. Membuat langkahnya terhenti sebab tak mampu menerobos. Imera mendongak. Menatap mata lelaki yang sedingin angin subuh. Dia belum berubah. Masih sedatar seperti pertama kali bertemu.
"Oh, kamu. Noah Smith." Lelaki itu cuma mengangguk tanpa mengganti objek pandang. Sementara Imera memberi spasi pada mereka dan mulai menepi. "Ada apa?"
"Menghentikan kamu." Lelaki itu menghela napas dan membuang arah pandang. "Entah juga. Tetapi aku harus menghentikan kamu."