Imera pikir ini terlalu cepat. Soal dia dan Noah. Well, memang tidak ada apa-apa. Tetapi untuk ukuran yang baru kenal dan mereka sudah pergi berdua dan mengurus hal penting, agaknya terasa aneh dan asing. Tetapi Noah bahkan tak merasa seperti baru kenal. Sore ini bahkan ia menjemput Imera di mansion dan membawa gadis itu ke sebuah tempat.
"Ini, file yang kamu pesan." Noah menyerahkan flashdisk berisi rekaman cctv.
Imera menerimanya. "Aku akan melihatnya nanti, di rumah."
Noah cuma mengangguk dan fokus menyetir. Mobil sunyi kembali, terasa dingin seperti biasa. Imera sesekali berpikir, lelaki ini begitu misterius dan sebenarnya sulit dibaca. Ekspresinya yang terkontrol dengan apik membuat Imera terkadang salah paham.
"Noah," panggilnya.
"Hm?"
"Kamu menyukai bunga? Kamu tampak begitu tahu tentang bunga. Tentang maknanya."
Pertanyaan itu telah menarik atensinya. Noah bahkan melambatkan laju mobil. Butuh beberapa sekon untuk menjawab pertanyaan Imera.
"Tidak bisa dibilang suka juga, tidak semua bunga aku tahu maknanya. Hanya beberapa. Kenapa memang?"
"Pertama kali bertemu, di toko bunga itu. Seandainya kamu tidak menegur, mungkin sesuatu yang kuberi bisa salah diartikan. Bagaimana kamu tahu setiap makna bunga?"
"Seseorang yang kubenci sangat menyukai bunga. Di sebuah rumah, dia memiliki ruang berisi bunga-bunga. Dia selalu mengajakku ke tempat itu dan menceritakan makna-maknanya."
"Seseorang yang kamu benci? Bukankah rasa benci setara dengan rasa cinta? Atau kamu membenci karena tidak mendapat cinta itu."
Noah mendadak mempercepat laju mobil. Raut wajahnya masih sama datar dan berusaha untuk tak peduli. "Bunga adalah manipulasi paling indah. Bentuk yang cantik belum tentu memiliki makna yang apik."
Itu dia. Nada bicaranya sebeku mayat. Seolah ada ribuan luka dan cerita yang tersimpan rapi di sana.
Imera membisu. Tak berniat melakukan konversasi lebih lanjut. Ia lebih memilih diam dan tertidur selagi Noah menyetir.
Mereka telah sampai. Imera sempat menatap Noah terkejut sebab mereka telah sampai di depan rumah sakit jiwa. Imera ingin melepas sabuk dan mengikuti Noah keluar dari mobil. Tetapi Noah segera berujar, "Tunggu di sini sebentar, aku tidak bisa mengajakmu ke dalam."
Imera mengernyit. "Lalu untuk apa kamu membawaku?"
"Nanti kamu tahu, tetapi bukan untuk ini. " Lantas Noah mengunci mobil dan membiarkan jendelanya sedikit terbuka.
"Lalu kenapa kamu mengunciku di dalam mobil? Hei! Noah!!" Imera berteriak tatkala Noah telah beranjak dari sana.
Lalu Noah kembali lagi. "Supaya kamu tidak kabur. Aku bukan orang jahat, sungguh. Aku cuma berjaga-jaga."
Lelaki gila! Imera menggerutu dalam hati. Tetapi memang tak lama, Noah kembali dan meminta maaf. Lalu mereka kembali melaju.
Dan di sini. Di tempat yang membuat Imera terkejut waktu mereka telah tiba di kantor kejaksaan.
"Noah?"
Noah yang telah berjalan lebih dulu terpaksa menghentikan tungkai dan menunggu Imera supaya sejajar dengannya.
"Kamu gila? Tadi kamu membawaku ke rumah sakit jiwa dan mengunciku di dalam mobil. Sekarang kamu membawaku ke kantor kejaksaan."
Noah tak memberi jawaban. Mulutnya seolah terkunci rapat. Imera semakin tidak tahu bagaimana kinerja otak lelaki ini berjalan. Selalu datar, tetapi tingkahnya tak gagal untuk membuat Imera terkejut.
Mereka masuk ke dalam lift. Noah menekan tombol tiga. Imera cuma diam sembari menahan kekesalan. "Sungguh, kamu macam-macam denganku!"
"Aku bahkan tidak menyentuhmu, macam-macam bagaimana?"
"Aku akan menelepon Kakek!" Imera sudah siap meraih ponselnya.
"Untuk apa? Kamu mau bilang pada kakekmu kalau aku menculikmu?" Noah tertawa lirih. "Katakan saja."
Imera mendengus. "Kalau begitu aku akan menelepon Kak Jason untuk menjemputku."
Noah melirik Imera yang berdiri sampingnya. "Aku tidak melarang. Lakukanlah. Kamu boleh pulang setelah aku membwamu."
Pintu lift terbuka, Noah sudah keluar lebih dulu. Tetapi Imera tak bergeming dari sana. Noah membalikkan badan dan menarik lengan Imera untuk keluar. "Aku peka. Kamu baru saja mengode supaya aku menyentuhmu, kan?"
"Apa-apaan?" Imera menghempaskan tangannya dan terpaksa mengikuti Noah dari belakang. "Selain datar, kamu menjengkelkan juga."
Noah tertawa. "Datar? Kamu cuma belum tahu aku."
"Oh, begitu, ya?"
"Iya."
Noah terhenti di depan pintu. Imera mampu melihat jelas roman wajah yang mencoba tenang dan beberapa kali menghela napas. Kemudian Noah masuk diikuti oleh Imera.
"Noah!"
Seseorang yang usianya nyaris memasuki kepala empat itu memeluk Noah sekilas. Noah menepi dan menarik Imera untuk mendekat. "Ini Imera."
Lelaki itu menjabat tangan Imera dengan seulas senyum hangat. "Aku Nicholas Smith, pamannya Noah. Panggil saja Nick." Parasnya tampan, berkulit putih tetapi bak orang Korea. Well, kalau tidak salah ingat, lelaki itu mirip aktor Korea.
"Imera Mallory," Imera ikut memperkenalkan diri dan membalas senyum hangat itu.
"Aku tidak tahu kalau Noah justru membawa kamu." Nick keluar dari lingkup meja kerja dan menuju sofa tamu. Ia juga mempersilakan mereka untuk duduk. "Sudah lama kamu mengenal Noah?"
Imera duduk di samping Noah, di hadapan Nick. "Dua kali bertemu secara tidak sengaja, dan hari ini dia mendadak mengajakku untuk ikut."
"Kalian tidak bertemu cuma dalam hitungan jari. Tetapi mungkin kamu tidak ingat kalau keluarga Mallory dan Charles sering melakukan pertemuan sejak kalian masih duduk di bangku kelas satu."
"Ah, benarkah?" Imera menatap Noah yang tampak tak acuh denga pertanyaan itu.
"Tidak ingat, ya? Tak masalah, kok. Tuan William pernah bilang kalau kamu pernah jatuh saat kelas tiga dan mengalami masalah pada ingatan. Sayang sekali, Noah menjadi salah satunya yang terlupakan." Nick tertawa, seolah memojokkan Noah.
Meski begitu, memangnya ada apa dengan Noah?
"Aku membawa Imera ke sini bukan untuk cerita masa lalu, Bro. Cepat beri aku dokumennya!" Noah menyela sebelum Nick berbicara panjang lebar.
Noah kebali ke meja dan mengambil salah satu berkas. Ia membawanya ke hadapan Noah. Sementara Imera mengernyit. Nick kembali mendudukkan diri dan mulai bercerita dengan lirih selagi Noah membaca beberapa lembar kertas tersebuh.
"Garcia Riley. Kamu mengenalnya, Imera?"
Mata Imera terbelalak. Jantungnya berdegup cemas pun rasa takut menyelimuti. "Salah satu sahabatku."
"Mengenalnya dengan baik?"
"Setiap orang memiliki hal kelam yang terpendam. Aku tidak yakin soal itu."
Nick tersenyum hangat. "Tentu saja, Imera. Maksudku, kamu benar-benar sering bersamanya?"
Bibir Imera kelu, sahabat itu apa, sih? Apa sesuatu yang harus selalu dia ketahui? Atau cukup untuk berada di sisi saat duka maupun suka? "Ya, kami sering bersama. Garcia termasuk mahasiswa popular yang bisa menjalin pertemanan dengan siapa saja. Menurutku dia gadis yang normal seperti kebanyakan."
"Tetapi lagi, setiap orang pasti menyimpan ceritanya sendiri, kan?" Nick kembali bertanya.
Imera mengangguk. Sedang apa dia di sini sekarang?
"Kasus kematian Garcia akan ditutup sebab telah menemukan tersangka. Tetapi Noah justru ingin menyelidiki lebih lanjut sebab ia merasa ada yang janggal. Jadi Imera, ini rahasia di antara kami."
Jatung Imera bak dipukul batu. Untuk apa? Unuk apa Noah ingin menyelidikinya sendiri?