Kalau ada satu hal yang paling sering aku tolak dalam hidup, itu adalah permintaan tolong yang berhubungan dengan mereka.
Bukan karena aku pelit ilmu. Bukan juga karena aku sombong.
Tapi karena aku bukan orang pintar.
Aku ini cuma orang yang kebetulan bisa melihat. Dan melihat itu beda jauh dengan bisa menyelesaikan. Sama seperti orang yang bisa membaca resep obat belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya.
Cuma masalahnya, orang tidak mau tahu soal itu.
Begitu tahu aku bisa melihat, pertanyaannya langsung meloncat ke mana-mana.
***
Aku sampai hafal urutannya.
Pertama, mereka basa-basi dulu.
"Mbak, lagi sibuk gak?"
Kalau sudah dibuka begitu, sembilan dari sepuluh, ujungnya pasti bukan soal cuaca.
Kedua, mereka cerita.
"Mbak, di rumahku tuh sering ada suara langkah kaki di atas plafon."
"Mbak, anakku tiap malam nangis jam dua, padahal gak sakit."
"Mbak, aku kok mimpinya itu-itu terus ya."
Ketiga, baru pertanyaan intinya.
"Gimana cara ngusirnya, Mbak?"
Dan di titik itu aku selalu menjawab hal yang sama, dan selalu bikin mereka kecewa.
Aku tidak tahu.
Beneran, aku tidak tahu.
Aku bisa bilang di rumahmu memang ada, aku bisa bilang bentuknya seperti apa dan dia sedang berada di sudut mana. Tapi kalau soal mengusir, membuang, memutus, memagari, itu bukan bagianku.
Yang bisa aku berikan cuma solusi sementara. Dan yang aku benahi pun bukan mereka yang tak kasat mata itu, melainkan kepala orangnya.
Kenapa? Karena dari yang aku alami sendiri bertahun-tahun, yang membuat gangguan itu terasa semakin kuat adalah pikiran yang kacau. Pikiran yang semrawut, yang tiap malam mengulang-ulang ketakutan yang sama. Semakin dipikirkan, semakin terbuka pintunya.
Jadi kalau ada yang bertanya ke aku, biasanya yang aku urus dulu tidurnya, jam bangunnya, kebiasaan sebelum tidurnya, dan hubungannya dengan Tuhan.
Kedengarannya membosankan, ya. Tidak ada mantra, tidak ada air, tidak ada garam yang ditabur di empat penjuru rumah.
Tapi itu yang jujur.
***
Ada satu yang paling aku ingat.
Seorang ibu, sebut saja Bu R, mengirim pesan panjang sekali sampai layar ponselku penuh. Isinya soal rumah barunya. Katanya sejak pindah, dia jadi sering merasa ada yang mengintip dari jendela dapur.
Aku tanya beberapa hal, lalu dia kirim foto dapurnya.
Dan memang ada.
Aku tidak bilang bentuknya seperti apa. Sampai sekarang aku pegang prinsip itu, jangan pernah mendeskripsikan bentuk kepada orang yang sudah ketakutan, karena setelah itu yang mereka lihat setiap malam adalah gambar yang kita berikan, bukan yang benar-benar ada.
Yang aku sampaikan cuma, "Iya Bu, ada. Tapi dia gak ngapa-ngapain."
Bu R langsung memohon-mohon minta diusirkan.
Aku jelaskan pelan-pelan, aku tidak bisa. Aku bukan orang pintar.
Beliau tidak percaya. Katanya aku pasti bisa, cuma tidak mau.
Aku jelaskan lagi. Beliau tetap mendesak. Sampai akhirnya beliau bilang, "Kalau Mbak gak mau bantu, ya sudah, saya cari orang lain saja."
Dan aku jawab, "Iya Bu, silakan. Memang lebih baik begitu."
Beliau kesal. Beberapa hari kemudian dia mengirim pesan lagi, kali ini nadanya sudah lain. Katanya dia sudah memanggil seseorang, sudah bayar mahal, sudah diasapi seisi rumah, dan tetap saja terasa.
Aku tidak menjawab dengan kalimat "kan sudah saya bilang", karena itu tidak akan menolong siapa-siapa.
Aku cuma bilang, coba dulu tidur jangan larut, coba jangan bahas ini di rumah, coba lampu dapur dinyalakan, dan coba berhenti bertanya ke banyak orang karena setiap orang akan memberi jawaban yang berbeda dan kepala Ibu yang akan penuh.
Dua minggu setelah itu dia mengabari, katanya sudah jauh lebih tenang.
Bukan karena aku hebat. Justru sebaliknya, karena aku tidak melakukan apa-apa selain menyuruh dia berhenti panik.
***
Si M, dia punya pandangan sendiri soal ini, dan pandangannya lebih tajam dari aku.
Katanya, tidak semua yang bertanya itu benar-benar tidak tahu.
"Ada yang nanya buat ngetes." bisiknya suatu hari.
Aku sempat tidak percaya. Tapi setelah aku perhatikan, ternyata benar.
Ada tipe penanya yang pertanyaannya terlalu rapi. Mereka sudah tahu jawabannya, mereka cuma ingin memastikan apakah aku tahu juga, atau seberapa jauh yang aku tahu.
Dan begitu aku menjawab, mereka tidak berterima kasih. Mereka malah menambah pertanyaan berikutnya, yang lebih dalam lagi, seperti orang yang sedang mengukur kedalaman sumur dengan tali.
Sejak itu aku belajar satu hal yang sekarang aku pegang erat-erat.
Tidak semua pertanyaan wajib dijawab.
Dan yang lebih penting lagi, kata si M begini, untuk apa punya ilmu tinggi kalau tidak bermanfaat buat orang lain. Lebih baik kelihatan bodoh, tapi dari hal yang mereka anggap bodoh itu orang lain jadi pintar.
Kalimat itu keluar dari mulut hantu, dan sampai sekarang masih aku simpan.
***
Ada juga yang datangnya bukan bertanya, tapi menantang.
Suatu kali ada orang mengirim pesan, isinya cuma satu kalimat.
"Kalau memang bisa lihat, coba tebak sekarang saya lagi di mana."
Aku baca, aku tutup, aku taruh ponsel.
Si M ketawa kecil waktu melihat aku diam saja.
"Kenapa gak dijawab?"
"Buat apa. Emang aku dukun yang buka praktek?"
Dan memang itu inti masalahnya. Banyak orang menyangka, yang namanya bisa melihat itu seperti punya senter yang bisa disorot sesuka hati. Padahal tidak. Kalau mereka tidak ingin terlihat, ya tidak akan terlihat. Aku bukan indigo yang bisa memaksa mereka nongol.
Aku pernah bilang begitu ke seseorang, dan dia malah tersinggung. Katanya aku merendah supaya dipuji.
Ya sudah, terserah.
Lama-lama aku belajar untuk tidak menjelaskan apa-apa lagi. Menjelaskan itu cuma berguna kalau lawan bicaranya memang mau mengerti. Kalau tidak, penjelasan sepanjang apa pun ujungnya cuma jadi bahan berikutnya untuk membantah.
***
Yang menarik, si M ini justru sering menegur aku soal cara aku menjawab, bukan soal isi jawabannya.
Katanya aku terlalu cepat kalau menjawab.
"Kamu itu belum selesai dia ngomong, kamu udah tau mau jawab apa."
Aku bantah, karena memang biasanya aku sudah tahu.
Tapi kata dia, tahu jawabannya dan tahu maksud orangnya itu dua hal berbeda. Ada orang yang bertanya soal suara di plafon, padahal yang sebenarnya dia ingin sampaikan adalah dia takut ditinggal sendirian di rumah itu.
Dan buat pertanyaan seperti itu, jawaban soal makhluk halus tidak akan menolong sama sekali.
Aku diam waktu dia bilang begitu.
Karena benar. Selama ini aku menjawab pertanyaannya, bukan menjawab orangnya.
Sejak itu kalau ada yang bertanya, aku biasakan diri untuk bertanya balik dulu satu dua kali sebelum menjawab. Dan ternyata memang banyak yang, begitu ditanya balik, akhirnya bercerita soal hal yang sama sekali berbeda dari pertanyaan awalnya.
Si M memang cuma hantu. Tapi dari dia aku belajar banyak hal yang selama ini aku anggap biasa saja, dan justru dari situ pikiranku jadi lebih terbuka.
***
Sekarang aku mau cerita satu hal yang selama ini tidak pernah aku bagi ke siapa pun.
Ini soal bayangan hitam.
Dulu, waktu aku masih sering dirawat, ada satu masa aku sempat berada di ruang ICU. Bukan sebagai penonton, tapi sebagai pasien.
Yang namanya ICU itu suasananya beda sekali dengan ruang rawat biasa. Sepi, tapi bunyinya banyak. Mesin berbunyi, alarm berbunyi, langkah perawat cepat-cepat.
Dan di sana, di antara semua itu, aku melihat sesuatu yang sampai sekarang tidak bisa aku lupakan.
Ada bayangan hitam.
Bukan sosok. Bukan wajah. Bukan yang seperti si M atau yang lain, yang masih ada bentuk badannya, masih ada rambutnya, masih ada bajunya.
Ini benar-benar cuma bayangan. Gelap, rata, tidak ada matanya, tidak ada wajahnya. Diam saja, berdiri di dekat salah satu tempat tidur.
Aku pikir itu efek obat. Aku pikir aku halusinasi.
Besoknya, tempat tidur itu kosong.
Beberapa hari kemudian bayangan itu muncul lagi, kali ini di tempat tidur yang berbeda. Dan hasilnya sama.
Sampai tiga kali, sampai aku tidak bisa lagi menyebutnya kebetulan.
Yang paling bikin aku diam adalah, dua kali dari tiga itu, kondisi pasiennya justru sedang membaik menurut keterangan yang aku dengar dari keluarganya. Bayangan itu tidak peduli grafik, tidak peduli hasil lab.
Sejak itu aku tahu, kalau bayangan itu muncul, artinya bukan gangguan. Artinya sudah waktunya.
Dan aku juga langsung tahu satu hal lain.
Aku tidak boleh memberi tahu siapa pun.
Kenapa? Coba pikir. Apa yang bisa dilakukan seorang anak kalau aku bilang, "Maaf ya, ibumu sepertinya tidak lama lagi." Tidak ada. Yang ada dia jadi tidak bisa memeluk ibunya dengan tenang di sisa waktu yang ada, karena kepalanya penuh dengan hitungan mundur.
Aku juga tidak berhak. Bisa saja aku salah. Bisa saja itu bukan seperti yang aku kira. Dan yang paling penting, kematian itu urusan Tuhan, bukan urusan orang yang kebetulan penglihatannya bocor.
Jadi setiap kali aku melihat bayangan itu, yang aku lakukan cuma satu.
Diam, lalu berdoa.
***
Si M pernah bertanya kenapa aku tidak pernah mau menceritakan soal bayangan hitam itu, padahal semua hal lain aku tulis.
"Kalau semua aku ceritain, nanti orang yang baca malah takut sama fotonya sendiri." jawabku.
Dia diam sebentar, lalu bilang sesuatu yang cukup dalam untuk ukuran dia.
"Kamu bukan takut mereka takut. Kamu takut kamu benar."
Nah.
Kadang aku heran, kok bisa hantu ngomong sekena itu, sementara aku yang manusia masih suka muter-muter kalau bicara.
Dan dia memang tidak salah.
Aku memang lebih takut kalau ternyata aku benar. Karena kalau aku benar, artinya aku sudah tahu duluan, dan aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Dan tidak bisa berbuat apa-apa padahal sudah tahu duluan itu, percayalah, jauh lebih menyiksa daripada tidak tahu sama sekali.
***
Malam itu, seperti biasa, aku duduk sendiri di meja makan.
Kopi setengah gelas, ponsel di tangan, headset menempel di telinga.
Si M ada di seberangku, entah sejak kapan, karena dia memang tidak pernah pakai permisi.
Aku sudah agak lama tidak membuka media sosial. Bukan sengaja, cuma capek saja rasanya melihat orang-orang berdebat soal hal-hal yang besok juga sudah dilupakan.
Tapi malam itu aku buka juga.
Jari aku geser ke atas, pelan-pelan, sekedar melihat kabar teman-teman.
Dan dari situ semuanya dimulai lagi.