Sejak kejadian tetangga depan rumah itu, aku benar-benar menjaga mulutku.
Aku tidak lagi asal menyuruhnya pergi ke sana ke mari, karena ternyata ucapan yang aku anggap sekedar ngomel itu, dia terima sebagai perintah. Dan Marliani, dia tidak pernah bertanya dulu, apakah aku serius atau tidak, dia langsung saja mengerjakannya.
Jadi kalau ada yang bertanya, apa susahnya punya teman tak kasat mata, ya itu salah satunya. Kita harus mikir dua kali sebelum bicara, padahal manusia normal mana yang sempat mikir dulu setiap kali kesal.
Tapi bukan berarti dia jadi kalem, sama sekali tidak.
Marliani hanya berpindah cara. Kalau dulu dia menggeser mangkuk sambal dan memutar mesin cuci, sekarang dia mulai mendekati orang-orang di sekitarku, satu per satu, pelan-pelan, seperti orang yang baru pindah rumah lalu keliling menyapa tetangga.
Yang pertama tentu saja suamiku.
Aku ingat betul waktu itu suamiku baru pulang kerja. Dia menyampirkan jaketnya di sandaran kursi, sama persis seperti waktu di rumah sakit dulu. Belum juga dia duduk, jaket itu jatuh sendiri ke lantai. Dia ambil, dia sampirkan lagi, jatuh lagi.
Sampai tiga kali.
"Bu, ini jaket kenapa, ya?" tanyanya sambil melihat ke arahku.
Aku cuma tersenyum. "Kayaknya ada yang mau duduk situ, Yah."
Suamiku diam sebentar, lalu mengambil jaketnya dan menggantungnya di paku dekat pintu, tanpa protes, tanpa bertanya lagi. Sejak awal aku memang tidak pernah menyembunyikan apa pun dari dia, jadi dia sudah terbiasa. Dia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tapi dia percaya padaku, dan buat aku itu sudah lebih dari cukup.
Malamnya aku tegur Marliani.
"Kenapa jaketnya kamu jatuhin?"
"Aku suka duduk di situ." jawabnya pendek.
"Ya kan bisa bilang, jangan main jatuhin barang orang."
Dia diam. Dasar hantu, kalau ditegur diam, kalau dibiarkan usil lagi.
***
Setelah suamiku, giliran anak-anakku.
Ini yang paling tidak aku suka, dan sampai sekarang pun tetap tidak aku suka.
Anak bungsuku, Fath, mulai sering terbangun tengah malam. Bukan menangis, cuma duduk di ujung kasur sambil menghadap ke pintu kamar. Kalau aku tanya kenapa, dia jawab, "Ada yang berdiri di situ, Bu."
Aku tanya, berdiri di mana, dia tunjuk sudut dekat lemari.
Dan memang di situ Marliani berdiri, tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri memandangi anakku.
Aku marah. Marah beneran, bukan pura-pura.
"Kalau kamu mau ganggu, ganggu aku saja. Jangan anak-anakku. Sekali kamu bikin mereka takut, aku benar-benar gak mau lihat kamu lagi." ucapku pelan tapi tegas, malam itu, di dapur, sambil pura-pura mencuci gelas supaya tak ada yang mengira ibunya lagi ngomong sendiri.
Marliani bilang dia tidak berniat menakuti, katanya dia cuma penasaran, karena Fath bisa merasakan dia padahal tidak bisa melihatnya.
Aku bilang, penasaran itu urusan dia, ketakutan anakku itu urusan aku.
Setelah malam itu dia memang jarang masuk ke kamar anak-anak. Jarang, bukan tidak pernah. Dan seperti yang sudah-sudah, aku tidak bisa memaksa lebih dari itu.
***
Yang bikin aku heran, orang-orang di sekitarku malah lebih dulu menyadari kehadirannya ketimbang aku menceritakannya.
Suatu sore sepupuku datang bertamu. Baru duduk sebentar dia sudah menggeser posisi duduknya dua kali.
"Kok di sini dingin banget, ya? Padahal gak ada kipas." katanya sambil mengusap lengannya sendiri.
Aku bilang mungkin karena rumahku memang banyak angin. Bohong, sih. Tapi masa iya aku bilang, itu karena ada perempuan yang duduk persis di samping kamu.
Ada juga teman lama yang tiba-tiba mengirim pesan, katanya semalam dia mimpi datang ke rumahku dan ada perempuan berambut panjang berdiri di dapurku.
"Rumah kamu ada penunggunya ya, Linn?" tanyanya.
Aku jawab sekenanya, "Namanya juga rumah, pasti ada yang numpang lewat."
Aku tidak berbohong, tapi aku juga tidak jujur-jujur amat. Aku belum siap menjelaskan, karena aku sendiri belum selesai dengan pertanyaanku sendiri soal dia.
***
Dari semua kelakuannya, yang paling baru dan paling bikin aku waspada adalah kebiasaan barunya, yaitu berbisik soal orang.
Awalnya sepele.
Ada tamu datang, begitu tamu itu pulang, Marliani berbisik, "Dia gak suka sama kamu."
Aku diamkan.
Lain hari ada yang menelepon, minta tolong sesuatu. Belum juga aku menjawab, Marliani sudah menyahut duluan, "Jangan dibantu, Linn."
Nah, di sinilah aku mulai berhati-hati. Bukan karena aku tidak percaya dia, tapi karena aku tahu, kalau aku mulai menilai orang berdasarkan bisikan, aku akan berubah jadi orang yang tidak ingin aku jadikan diriku.
"Kamu itu gak boleh gitu." kataku suatu malam. "Manusia itu memang berubah-ubah. Hari ini baik, besok kesal, lusa baik lagi. Aku juga begitu, kamu juga pasti begitu waktu masih hidup. Jadi jangan langsung kamu vonis."
Marliani diam lagi. Kalau sudah aku ceramahi, dia memang selalu diam, entah karena mendengarkan atau karena bosan.
Tapi jujur saja, ada satu dua bisikannya yang belakangan terbukti benar, dan itu justru yang bikin aku tidak nyaman.
Kenapa tidak nyaman? Karena aku jadi punya pilihan yang sama-sama tidak enak. Kalau aku percayai, aku curiga terus sama orang. Kalau tidak aku percayai, aku terus-terusan kecolongan.
Akhirnya aku ambil jalan tengah. Aku dengar, aku simpan, aku tidak sampaikan ke siapa-siapa, dan aku tetap memperlakukan orang seperti biasa sampai orangnya sendiri yang menunjukkan siapa dia.
Buatku itu yang paling adil. Mau dia manusia, mau dia hantu, semua tetap harus dinilai dari perbuatannya, bukan dari laporan pihak ketiga yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.
Marliani sempat protes waktu aku bilang begitu.
"Kalau nanti kamu kena, gimana?"
"Ya biar aku kena." jawabku. "Yang penting aku gak jadi orang yang jahat duluan."
Dia tidak membalas lagi. Kalau dipikir-pikir, itu kali pertama kami berdebat, dan mungkin karena itu juga dia jadi semakin betah.
***
Sore itu aku kembali ke pantai, ke pohon yang dulu, sendirian.
Bukan karena kangen pemandangannya, tapi karena aku penasaran, apakah trik pura-pura selfi itu masih berhasil.
Ternyata masih.
Dari lima belas foto, ada empat yang isinya bukan cuma aku dan pohon. Dan di salah satunya, di sela-sela akar yang menjuntai itu, ada wajah yang sudah aku hafal. Rambut terurai, jepitan kecil di sisi kiri, duduk dengan kedua lutut ditekuk, seperti orang yang sudah lama menunggu dan tidak keberatan menunggu lebih lama lagi.
Aku pandangi foto itu lumayan lama.
Hm ... aku ini kenapa, sih. Katanya mau menjauh, kok malah dicari-cari.
Waktu aku pulang, di jalan, aku bertanya dalam hati, kenapa dia sebegitu inginnya jadi sahabatku. Padahal kalau soal ditemani, dia bisa saja menempel ke orang lain yang jauh lebih senang dengan hal-hal seperti ini.
"Karena kamu ngeliat aku." jawabnya, dari belakang, tanpa aku tanya dengan mulut.
Cuma itu jawabannya. Karena aku melihat dia.
Dan sejujurnya, aku tidak punya bantahan untuk kalimat sependek itu.
***
Ada satu kejadian lagi yang sampai sekarang masih aku ingat betul.
Malam itu aku sedang menggoreng tempe. Kompor menyala, minyak sudah panas, dan aku baru sadar kalau garamnya habis. Aku matikan kompor, aku ambil dompet, niatnya mau ke warung sebelah.
Belum juga aku sampai pintu, terdengar bunyi klik dua kali dari arah dapur.
Aku balik badan. Kompornya menyala lagi.
Aku matikan. Menyala lagi.
"Marliani!" seruku, setengah kesal setengah takut, karena kalau soal api aku memang tidak berani main-main.
Dia muncul di sudut dapur, berdiri seperti biasa.
"Jangan pergi." katanya.
"Aku cuma ke warung, sebentar."
"Jangan pergi." ulangnya lagi.
Akhirnya aku tidak jadi keluar. Malam itu tempeku tawar tanpa garam, dan suamiku makan tanpa protes karena dia memang jarang komentar soal masakan.
Besok paginya aku baru dengar dari tetangga, semalam ada motor yang jatuh persis di depan warung sebelah, sekitar jam segitu, gara-gara jalanan licin habis hujan sore.
Aku tidak bilang apa-apa ke Marliani. Dia juga tidak menyinggung sama sekali, tidak minta terima kasih, tidak sok berjasa.
Cuma sejak malam itu aku jadi tahu, dia bukan sekedar usil. Dia memperhatikan.
Dan justru itu yang membuat aku semakin bingung harus bagaimana. Kalau dia jahat, gampang, tinggal aku usir. Yang repot itu kalau dia baik.
***
Beberapa sahabatku, yang aku ceritakan soal Marliani, kompak menyarankan hal yang sama. Jangan diladeni, jangan dijadikan teman, kalian beda alam.
Aku mengerti kenapa mereka bilang begitu, dan aku tidak menyalahkan mereka sama sekali. Mereka menyayangi aku, mereka takut aku kenapa-kenapa.
Jadi jawabanku ke mereka juga selalu sama, "Iya, aku gak jadiin dia sahabat kok."
Dan itu benar. Sampai hari itu, dan sampai berbulan-bulan sesudahnya, aku memang belum pernah sekali pun mengucapkan kata sahabat untuk dia.
Cuma ada satu hal yang tidak aku ceritakan ke siapa pun.
Bahwa setiap kali aku duduk menulis, aku selalu menyisakan satu kursi kosong di seberangku. Bukan disengaja. Tahu-tahu sudah begitu.
Dan setiap kali aku membuka buku catatanku, nama Marliani selalu ada di sana, di baris terakhir, ditulis oleh tanganku sendiri, tanpa aku rencanakan.
Aku menolaknya dengan mulut, tapi tanganku sudah lama menerimanya.
Mungkin itu yang orang bilang, kita ini sering sekali membohongi diri sendiri dengan sangat rapi, sampai kita sendiri percaya.
***
Hari demi hari lewat begitu saja.
Marliani tetap datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang seminggu tidak nongol, kadang tiga hari berturut-turut nempel terus sampai aku bilang, "Ya ampun, kamu gak ada kerjaan lain apa?"
Dia mulai hafal jam-jamku. Hafal kalau aku suka ngopi malam. Hafal kalau aku paling malas disapa pagi-pagi sebelum cuci muka. Hafal kalau aku sedang sakit, dan di saat seperti itu dia tidak usil sama sekali, cuma duduk diam di sudut, memandangi aku, persis seperti waktu pertama kali kami bertemu di ruang Asoka 13 dulu.
Dan aku, tanpa sadar, juga mulai hafal dia.
Hafal kalau dia lagi ngambek, karena rumah jadi terasa sepi dengan cara yang aneh. Hafal kalau dia lagi senang, karena barang-barang kecil di rumah suka bergeser sedikit-sedikit.
Itulah yang tidak pernah aku ceritakan ke sahabat-sahabatku waktu mereka menasehatiku.
Bahwa yang namanya menolak seseorang, sambil tetap tinggal serumah dengannya setiap hari, itu tidak akan pernah benar-benar berhasil.
Aku belum menerimanya waktu itu.
Tapi jarak antara aku dan dia, pelan-pelan, tanpa pernah aku izinkan secara resmi, sudah semakin dekat saja.