Pintu kamar diketuk tiga kali, pelan tapi tidak bisa ditawar, tepat pukul setengah enam.
David membuka mata dan melihat bintang-bintang hijau di langit-langit kamar Lanna, yang sudah hampir mati cahayanya. Lanna masih meringkuk di kasur dengan selimut sampai hidung. Elsha tidur di atas kakinya.
“David,” kata suara dari balik pintu. Hanya itu.
Dia bangun dengan satu gerakan yang bahkan dia sendiri heran, memakai jaket, dan membuka pintu. Papah Lanna berdiri di lorong dengan sandal jepit, kaus oblong, dan topi rajut cokelat.
“Pah.”
“Ayo.”
Hanya satu kata lagi. David mengikutinya keluar.
Udara Bandung pagi itu dingin dan basah, membawa bau tanah dan asap kayu dari dapur tetangga. Di ujung gang, di bawah tenda terpal biru yang penuh bercak minyak, seorang bapak bertopi kupluk mengaduk bubur di panci besar. Papah Lanna memesan dua mangkuk tanpa menoleh, lalu duduk di bangku kayu panjang. David duduk di sebelahnya.
Bubur datang. Lengkap dengan ayam suwir, cakwe, kerupuk, bawang goreng, dan sambal sesendok.
“Diaduk atau tidak?” tanya Papah.
“Aku... ikut Papah saja.”
“Itu bukan jawaban.”
“Tidak diaduk.” David menjawab dengan keyakinan seorang pria yang tidak punya pendapat sama sekali tentang bubur.
Papah Lanna menatapnya sebentar, lalu menyendok bubur dari pinggir mangkuk tanpa mengganggu susunan di tengah. “Anak saya diaduk,” katanya. “Dari kecil. Saya sudah bilang berkali-kali, hasilnya sama saja. Dia tetap mengaduk.”
“Kelihatannya dia memang begitu.”
“Keras kepala.”
“Iya, Pah.”
“Itu dari saya.” Papah Lanna menyuap, mengunyah lama. “Kamu tahu apa lagi yang dia punya dari saya?”
David diam, menunggu.
“Dia nggak bisa bohong.”
Sendok di tangan David berhenti di udara.
“Dari kecil. Pernah memecahkan vas ibunya, lalu bilang sendiri sebelum ditanya. Nilai jelek disodorkan sendiri sebelum rapor dibagikan. Sampai pernah Mamahnya kesal, bilang ‘Nak, sekali-sekali bohong, biar manusiawi.’” Papah mengusap bibirnya dengan punggung tangan. “Makanya, kalau suatu hari dia bohong, artinya dia sedang melindungi seseorang. Dia nggak akan bohong demi dirinya sendiri.”
“Pah...”
“Jangan bikin dia harus melindungi kamu.”
Suara tukang bubur mengaduk panci terdengar lebih keras daripada tadi. David menunduk ke mangkuk dan baru sadar bahwa dia lagi-lagi menatap sesuatu yang bukan wajah lawan bicaranya. Dia memaksa kepalanya naik.
“Aku mengerti,” katanya.
“Belum,” kata Papah Lanna, tanpa nada menghukum. “Tapi suatu hari.” Dia menepuk bahu David sekali, singkat, seperti menutup berkas. “Habiskan buburmu.”
***
Lanna terbangun pukul enam lewat tiga puluh dan langsung duduk tegak, karena kasur lipat di lantai sudah kosong dan seprainya terlipat rapi.
Dia menemukan Mamahnya di dapur, sedang menggoreng tempe dengan celemek bergambar ayam.
“Mah, David mana?”
“Dibawa Papah beli bubur.”
“Mah!” Lanna menyambar kardigan. “Papah itu... Papah bisa bikin dia keringat dingin cuma dengan diam. Kalau dia tanya yang aneh-aneh—”
“Tanya apa?” Mamah membalik tempe. “Papahmu nggak pernah tanya aneh-aneh. Dia cuma lihat orang dari belakang.”
“Dari belakang?”
“Cara orang berjalan di sebelah Papahmu itu menjawab semuanya. Kalau dia mendahului, artinya dia tidak sabaran. Kalau dia ketinggalan terus, artinya takut. Kalau dia berjalan sejajar tanpa pikir panjang...” Mamah menoleh dan mengedip. “Nanti Mamah kasih tahu hasilnya.”
“Mah, aku nggak mau tahu.”
“Bohong.”
Lanna membuka mulut, menutupnya, lalu mencomot tempe goreng yang masih panas dari wajan. Tangannya melepuh sedikit dan dia tidak peduli.
***
Mereka berangkat pukul sepuluh. Mamah Lanna mengantar sampai mobil dengan tiga kantong plastik berisi nasi liwet, serundeng, dan kerupuk kulit, ditambah satu kantong lagi khusus untuk Elsha yang isinya, menurut Mamah Lanna, ikan teri tanpa garam. Papah Lanna berdiri di teras. Ketika mobil bergerak, dagunya naik, dan David membalasnya dengan klakson pendek yang terdengar terlalu semangat.
“Dia suka kamu,” kata Lanna begitu mobil keluar dari gang.
“Dari mana kamu tahu?”
“Papah membawa kamu ke tukang bubur. Teman-teman Rey saja nggak pernah dibawa ke situ.”
“Rey itu yang selingkuh?”
“Yang ke-SPG-an.” Lanna menyandarkan kepala ke jok. “Kita nggak bahas Rey. Papah ngomong apa saja tadi di tukang bubur?”
“Soal bubur.”
“Sepuluh menit di warung bubur dan cuma soal bubur?”
“Soal diaduk atau tidak. Papah bilang kamu mengaduk. Dari kecil.” David melirik sekilas. “Dan bilang kamu keras kepala. Katanya itu darinya.”
“Memang.” Lanna mendengus, tapi pipinya naik. “Tapi dia mengaku juga?”
“Mengaku sambil makan.”
Lanna tertawa kecil, dan David merasa dia baru saja menukar satu kejujuran dengan setengah kejujuran yang lain. Dia tidak menyebut bagian tentang bohong.
Jalan tol Cipularang menggulung ke depan, hijau di kiri-kanan, berkelok mengikuti punggung bukit. Lalu lintas Minggu siang renggang. Elsha tidur di pangkuan Lanna dalam keranjang kecil, dengkurnya naik-turun seperti ketel yang belum mendidih.
David melihatnya pada kilometer enam puluhan.
Sedan hitam. Tiga mobil di belakang, berada di lajur yang sama, tidak menyalip meski ada ruang. Tadi, di gerbang tol, dia sudah melihat sedan yang sama. Sebelum itu mungkin juga, di ujung gang, di balik jambu, tapi waktu itu dia mengira kebetulan.
Kebetulan tidak bertahan sejauh enam puluh kilometer.
Dia menaikkan kecepatan. Sedan itu ikut naik, tetap jaraknya. Dia turun ke seratus; sedan itu ikut turun. Telapak tangannya basah di setir.
“David?”
“Hm?”
“Kamu kenapa melihat kaca spion terus?”
“Mencari tempat nyalip.”
“Jalannya kosong.”
Dia tidak menjawab. Papan penunjuk rest area muncul. Tanpa menyalakan lampu sein terlalu jelas, dia membelokkan mobil ke lajur keluar, melambat, memutari area parkir sekali sambil memperhatikan spion, lalu keluar lagi lewat jalur masuk di ujung lain. Sedan hitam itu, dia lihat, lewat begitu saja di jalur utama tanpa melambat. Pengemudinya mengenakan topi.
Tiga menit kemudian, jalan tol itu kembali lengang, dan David mendengar suara napasnya sendiri yang baru pulih.
“Kenapa kamu masuk rest area?” tanya Lanna. Suaranya datar.
“Macet.”
“Macet?”
“Di depan. Aku lihat di aplikasi. Mending muter.”
Lanna tidak menjawab. Matanya tidak menatap David, melainkan jalan di depan, jalan yang terbentang kosong sampai tikungan jauh di sana, tanpa satu pun lampu rem menyala.
Satu menit. Dua menit.
Dia tahu itu bohong. Bukan karena firasat atau bakat. Dia tahu karena David menatap spion sebelum menjawab, dan karena jari-jarinya di setir pucat sampai ke buku-buku. Orang yang sedang bicara soal macet tidak mencengkeram setir seperti itu.
Dan kalimat Papah dulu, ketika dia kecil dan sedang menangis karena menyembunyikan nilai jelek temannya, tiba-tiba terdengar lagi di kepalanya: kalau kamu bohong, Nak, pasti kamu sedang melindungi seseorang.
Dia membuka mulut untuk bertanya. Menutupnya lagi. Pasal di lembar belakang kontrak itu menyuruh David jujur, dan sekarang David melanggarnya di depan matanya, tapi Lanna memandang tangan pucat di setir dan memutuskan sesuatu yang aneh: bahwa pasal itu bisa menunggu sampai David sendiri yang membukanya.
“Oh,” kata Lanna akhirnya. “Macet.”
Dia menoleh ke jendela. Elsha mendengkur di pangkuannya. Dan dalam hati, sebelum menutup mata pura-pura tidur, dia menghitung berapa lama lagi dia sanggup menunggu.