Elsha duduk di depan pintu apartemen sepanjang malam. David tahu itu karena dia sendiri tidak tidur, dan setiap kali dia melewati ruang tamu, kucing gempal itu masih di sana, menghadap daun pintu dengan ekor melingkar rapi di kaki, tidak mau makan dan tidak mau dipindahkan.
Pukul tujuh pagi, bel berbunyi. Bukan sekali pendek. Tiga kali, nyaring, dengan irama orang yang marah.
Ron berdiri di lorong dengan setelan serba hitam, dari kemeja sampai sepatu. Sama sekali tidak ada merah di tubuhnya. Itu saja sudah cukup memberi tahu David bagaimana pembicaraan ini akan berjalan.
“Aku tahu semuanya,” kata Ron sambil masuk. “Kirana telepon aku jam sepuluh malam. Dia bilang Lanna sudah di sana, basah kuyup, dan nggak mau bicara. Lalu dia bilang satu kalimat lagi.”
“Apa?”
“Dia bilang, ‘Ron, aku mau tanya apa kamu tahu soal seratus juta itu.’ Dan aku, Vid, harus jawab. Karena aku memang tahu. Karena kamu dulu cerita sambil tertawa.”
David menutup pintu. Tangannya yang memegang gagang terasa lemas.
“Aku tidak tertawa.”
“Kamu bilang ‘aku cuma pasang sedikit tekanan’. Kamu bilang ‘dia pasti setuju kalau sudah ketakutan’. Itu kata-katamu, Vid. Aku masih hafal.” Ron berjalan ke sofa, tidak duduk, hanya berdiri dengan kedua tangan di pinggang. “Pasalmu itu, yang kalian tulis di lembar belakang. Sudah kamu langgar tiga kali dalam seminggu. Surel Darell. ‘Urusan kantor’. ‘Macet’.”
“Empat. Ada seratus juta.”
“Itu bukan pasal! Itu sebelum pasal!” Suara Ron pecah, dan Elsha menoleh dengan telinga ditarik rapat. Ron menurunkan volumenya, menarik napas. “Aku bukan marah karena kamu kejam. Aku marah karena kamu pintar. Kamu tahu cara mengurus perusahaan, kamu tahu cara bernegosiasi dengan orang-orang yang ingin menelanmu. Tapi kamu nggak tahu cara bilang ‘aku takut’ kepada satu orang saja.”
“Aku sudah bilang semalam.”
“Kamu bilang ‘ya’. Itu bukan ‘aku takut’.”
David duduk di lengan sofa dan memegang kepalanya dengan dua tangan. Lama.
“Aku harus apa, Ron?”
“Jangan bicara.” Ron berjongkok di depannya, dan untuk sesaat wajahnya kembali menjadi wajah teman sekolah yang pernah menyelundupkan gorengan ke kelas. “Kalau kamu ke sana dan bicara, kamu akan membela diri. Kamu nggak sadar, tapi kamu akan. Tulis. Biar dia baca sendiri, biar dia boleh membaca ulang, biar dia boleh merobek. Surat nggak bisa menyela atau menatap dia dengan wajah menyedihkan.”
“Wajahku menyedihkan?”
“Kamu mirip anjing basah yang ditinggal di hujan.”
David nyaris tertawa, tapi kerongkongannya terlalu sempit.
***
Dia menulis sepanjang pagi. Halaman pertama dibuang karena terlalu panjang dan terlalu banyak alasan. Halaman kedua dibuang karena terlalu manis. Halaman ketiga dia tulis dengan tangan kiri sambil menunggu tinta di pena kanan kering, dan hasilnya justru yang paling jujur: pendek, kasar, tanpa kata sifat.
Pukul dua siang, dia mencetak ulang tiga lembar kontrak dari berkas di laptop. Bukan untuk ditandatangani lagi. Hanya untuk ada. Tiga lembar kosong tanda tangan, supaya Lanna bisa melihat apa yang bisa dia robek, bukan sekadar mendengar bahwa dia boleh merobek.
Surat itu, dan tiga lembar kertas itu, dia masukkan ke amplop cokelat polos tanpa nama. Dia memandang amplop itu lama. Tidak ada yang bisa ditulis di luarnya. ‘Untuk Lanna’ terlalu mengklaim. ‘Dari David’ terlalu mengemis.
Sebelum berangkat, dia membuka satu kaleng tuna dari tumpukan yang dibawa Ramon dan menaruhnya di mangkuk dekat pintu. Elsha menciumnya, memandang David dengan tatapan penuh tuduhan, lalu memakan satu suap kecil seakan-akan itu bentuk kompromi. David mengelus kepalanya satu kali. “Dia akan pulang,” katanya pada kucing itu, lalu sadar bahwa dia tidak berhak mengatakannya.
Dia menyetir sendiri ke kantor dan turun ke lobi, di mana Kirana, tanpa banyak bicara, menerima amplop itu dengan dua tangan.
“Kalau dia mau,” kata David. “Kalau tidak, bakar.”
“Aku tidak membakar barang orang lain.” Kirana menyelipkan amplop ke tasnya. “Tapi aku akan lihat apakah dia mau.”
***
Apartemen Kirana kecil dan hangat, dengan bau teh melati yang dipanaskan ulang. Lanna duduk di sofa sempit, memakai kaus Kirana yang kebesaran, memeluk bantal kotak-kotak dan menatap dinding kosong.
Dia sudah menjawab pesan Ramon dengan satu kalimat pendek: ‘Aku baik-baik saja, Kak’. Dia sudah menolak telepon Mamah dengan alasan lembur. Dia sudah makan setengah mangkuk bubur instan. Dia belum sanggup menjawab pertanyaan paling sederhana: dia mau apa. Yang membuatnya takut bukan mau pergi. Yang membuatnya takut adalah sebagian dirinya yang masih mau pulang.
Kunci berputar di pintu pukul tujuh. Kirana masuk membawa plastik berisi martabak manis dan tas kerjanya, dan kakinya langsung menahan pintu supaya tidak membanting.
“Aku bawa martabak. Cokelat keju. Aku tahu nggak ada gunanya, tapi...”
“Ada gunanya.” Lanna menerima plastik itu dan membuka kotaknya. Uap manis naik. Dia menggigit sepotong. Rasanya enak, dan itu mengganggunya.
Kirana duduk di lantai di depan sofa. Dia melepas kacamata, mengusapnya dengan ujung baju, memakainya lagi. “Lann.”
“Mm.”
“Dia memberi ini.”
Dia mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya, meletakkannya di pangkuan Lanna. Amplop itu ringan, tapi terasa seperti batu.
“Bagas kirim stiker kucing tadi siang, tanya kamu baik-baik saja atau tidak,” kata Kirana, mencoba tersenyum. “Aku jawab, kamu lagi di Bandung. Dia balas stiker kucing lagi. Entah apa maksudnya.”
“Maksudnya dia baik.”
“Itu masalahnya. Aku jadi nggak bisa curiga.” Kirana mengembuskan napas, lalu wajahnya serius lagi. “Dia nggak ikut. Dia nggak datang ke sini, nggak telepon. Dia titip itu di lobi dan pergi. Dia bilang kalau kamu mau, silakan. Kalau tidak, ya sudah.”
“Aku nggak mau pulang.”
“Kamu nggak harus.”
“Aku nggak mau baca juga.”
“Kamu juga nggak harus.” Kirana menarik lututnya ke dada. “Kalau kamu mau pergi, Lann, aku bantu. Aku bisa pesankan tiket kereta ke Bandung besok pagi, aku bisa minta cuti dua hari, aku bisa membawakan semua barangmu dari apartemennya tanpa dia berani menghalangi. Aku serius. Kalau kamu mau tinggal...” Dia berhenti, memilih kata. “Kalau mau tinggal, tinggallah karena kamu mau. Bukan karena takut, bukan karena kasihan, bukan karena kamu pikir kamu berutang pada siapa pun. Aku nggak mau lihat kamu terjebak lagi.”
Lanna memandangi amplop di pangkuannya. Jari-jarinya meraba ujung kertas yang menyembul, lalu berhenti sebelum membuka.
Ada tulisan tangan David di sudut kiri atas, sangat kecil, hampir tak terbaca. Dia mendekatkannya ke lampu. Hanya satu kata: ‘Jujur’.
“Aku mau baca,” kata Lanna akhirnya, pelan. “Tapi nggak di sini, dan nggak sendirian. Aku baca di depan dia, supaya aku lihat mukanya waktu kalimat-kalimatnya sampai.”
Kirana berdiri dan mengambil piring dari dapur, memberinya waktu. Dari balik pintu kulkas, suaranya terdengar sekali lagi, lebih lembut daripada sebelumnya.
“Terserah kamu.”