Lanna menekan bel apartemen, bukan memasukkan kode. Itu hal pertama yang David catat, dan hal itu membuatnya berdiri diam di balik pintu hampir tiga detik sebelum membukanya.
Kamis pagi, pukul sepuluh. Hujan sudah berhenti, tetapi lorong masih beraroma tanah basah. Lanna berdiri di sana dengan ransel kecil di punggung dan pot lavender di tangan. Rambutnya digerai. Sejak Senin, baru kali ini dia tampak seperti orang yang sempat tidur beberapa jam.
“Aku masuk ya,” katanya.
“Itu rumahmu juga.”
“Itu bukan jawaban.”
David menyingkir. “Silakan.”
Elsha melompat dari sofa sebelum pintu menutup, mengeong tiga kali beruntun dengan nada yang jelas-jelas omelan, lalu menggosokkan seluruh badannya ke betis Lanna sampai hampir menjatuhkannya. Lanna berjongkok, meletakkan pot di lantai, dan membenamkan wajah di bulu putih gempal itu.
“Dia makan?” tanyanya, teredam.
“Setengah kaleng tuna kemarin. Pagi ini dua kaleng.” David menggaruk tengkuk. “Dia bilang dia kesal sama aku.”
“Dia benar.”
Lanna berdiri. Dia melepas ransel, menaruhnya di kursi, lalu berjalan ke meja makan. Bundel kontrak kosong dari kafe kemarin ada di sana, di sebelah pena. David menaruhnya semalam dan tidak berani menyentuhnya lagi.
“Duduk,” kata Lanna.
Mereka duduk berhadapan.
“Aku mau bilang dulu,” katanya, “aku kembali bukan karena ancaman. Seratus juta, sedan hitam, Darell, atau apa pun. Aku nggak kembali karena takut ditinggal sendirian. Aku nggak kembali karena rumah di Menteng atau uang miliaran itu, dan soal itu aku nggak mau bicara sekarang. Aku nggak mau uang itu menjadi sebab, jadi nanti, nanti sekali.”
David menahan napas.
“Aku kembali karena aku mau,” lanjut Lanna. “Aku sudah mempertimbangkan pergi. Aku bahkan sudah memegang tiket kereta ke Bandung di ponselku, Kirana yang pesan. Aku membatalkannya jam lima pagi.”
“Kenapa?”
“Itu yang mau kutanyakan sekarang.” Dia mencondongkan badan. “Kenapa aku? Jangan jawab ‘karena Kakek’ atau ‘karena warisan’. Itu alasan kamu butuh seorang istri. Aku tanya kenapa kamu memilih aku, dari semua orang, yang kebetulan lewat di hidupmu hari itu.”
Pertanyaan itu berdiri di meja di antara mereka seperti satu benda tambahan. David memandangi pena di atas bundel kertas. Jawaban-jawaban yang licin muncul, dan dia menyingkirkan semuanya.
“Aku nggak tahu apakah ini jawaban yang bagus.”
“Aku nggak butuh yang bagus.”
“Waktu lift mati,” katanya pelan, “aku nggak lihat apa pun. Gelap total. Aku cuma merasakan ada orang yang memegang lenganku keras sekali, napasnya cepat, badannya gemetar. Aku pikir dia akan berteriak, atau menangis, atau memintaku melakukan sesuatu.”
“Aku memang gemetar.”
“Kamu bilang ‘maaf’.” Suara David serak. “Kamu cengkeram lengan orang asing dalam gelap, kamu takut setengah mati sampai nggak bisa bernapas, dan hal pertama yang keluar dari mulutmu adalah ‘maaf, maaf, maaf’. Kepada orang yang tidak kamu kenal. Itu satu-satunya hal yang kuingat dari hari itu, Lann. Hari itu aku punya empat rapat, satu perselisihan dengan vendor, dan surat dari Kakek di meja. Aku nggak ingat satu pun. Yang kuingat cuma suara kamu.”
Lanna tidak bergerak. Cahaya dari jendela jatuh di sisi wajahnya.
“Itu jawabanku,” kata David. “Aku nggak punya yang lain. Aku sendiri baru tahu dua hari lalu, waktu aku menulis surat itu.”
“Kamu menulisnya di surat?”
“Halaman pertama. Aku buang.” Dia menggeleng. “Terlalu manis.”
Lanna tertawa kecil, pendek, lalu menutup mulut. Matanya basah. Dia mengambil pena dari meja, membuka klip bundel kontrak, dan membalik ke lembar terakhir yang kosong.
“Sekarang dengar,” katanya. “Aku nggak mau kontraknya batal begitu saja. Kalau batal, aku jadi orang yang pergi diam-diam, dan kamu jadi orang yang melepaskan. Aku mau kontraknya tetap ada. Tapi aku yang menulis ulang aturannya.”
Dia menulis. Tangan kirinya menahan kertas, pena bergerak lambat dan bundar. David memperhatikan setiap huruf muncul. Dia menyalin dulu Pasal Kejujuran yang lama dari ingatan, kata demi kata, lalu di bawahnya menambahkan kata-kata baru, tinta hitam yang masih basah:
‘Pasal Kejujuran diperluas: Tidak ada bohong di antara kami berdua, termasuk soal hal yang membahayakan, sekecil apa pun, walau dengan alasan melindungi.’
Lalu satu pasal baru, di baris bawah.
‘Pasal Pintu Terbuka: Siapa pun boleh berhenti kapan saja tanpa ancaman dan tanpa denda.’
Dia memutar kertas itu ke arah David. “Baca.”
David membaca. Dua kali. Tangannya tidak stabil.
“Siapa pun,” ulangnya. “Bukan hanya kamu?”
“Siapa pun. Termasuk kamu.” Lanna menatapnya. “Kalau suatu hari kamu nggak mau, kamu boleh bilang. Tanpa seratus juta, tanpa pesan ancaman, tanpa apa-apa. Dan kalau aku nggak mau, aku bilang. Aku nggak mau tinggal karena aku takut. Aku mau tinggal karena pintunya terbuka dan aku masih di sini.”
David mengambil pena. Dia menandatangani di bawah dua pasal itu. Tulisannya miring, tekanannya terlalu kuat, dan ujung pena menembus kertas sedikit di huruf terakhir.
“Ada satu lagi,” kata Lanna.
“Apa?”
“Aku masih marah.”
“Aku tahu.”
“Aku akan marah beberapa hari. Mungkin lebih. Dan aku tidur di ruang baca.”
“Tentu.”
“Dan kapan-kapan aku mau makan siang berdua saja dengan Kirana, dan kamu nggak boleh bertanya aku bicara apa.”
“Tidak akan.”
“Bagus.” Lanna menutup pena. Bahunya, yang sejak tadi tegang, turun sedikit. “Sekarang aku lapar.”
David bangkit dan membuka kulkas dengan keyakinan orang yang sudah merencanakan segalanya, lalu mendapati isinya: enam butir telur, sisa bekal Mamah, dan botol sambal pedas yang mereka beli untuk latihan Bandung.
“Aku bisa buat roti panggang,” katanya.
“Kamu pernah?”
“Sekali. Waktu kuliah.”
“Hasilnya?”
“Alarm kebakaran berbunyi.”
Lanna mengambil alih tanpa berkata apa-apa, menggulung lengan, dan menyalakan kompor. Dalam sepuluh menit apartemen beraroma nasi goreng sambal. David berdiri di dekat konter, tidak membantu apa pun, hanya memperhatikan caranya mengaduk dengan sendok kayu yang sama dengan yang dia pakai mengomel beberapa hari lalu. Mereka makan dari satu wajan. Lanna tidak bicara banyak, tapi ketika David mengambil sambal terlalu banyak dan terbatuk, dia menyodorkan air putih tanpa memandang.
Itu belum maaf. Tapi itu pintu yang tidak dikunci.
***
Sore itu mereka turun bersama ke lobi untuk membeli tanah dan pupuk untuk pot-pot lavender baru. Resepsionis yang bertugas, seorang laki-laki muda berseragam biru, berdiri begitu mereka muncul, wajahnya setengah ragu.
“Mas David. Ada kiriman.”
“Dari siapa?”
“Nggak ada nama pengirimnya, Mas. Ditaruh di meja jam dua tadi. Katanya dari kurir, tapi saya nggak lihat kurirnya.”
Dia menyerahkan amplop putih polos. Tidak ada nama, tidak ada alamat. David menerimanya, dan di sebelahnya Lanna menahan napas.
Tinta di pasal baru itu baru kering beberapa jam. Hal yang membahayakan, tulis Lanna tadi pagi. Dia tidak menyangka hal pertamanya datang secepat ini.
“Buka,” kata Lanna. “Bareng.”
David menyobek tutupnya. Di dalam ada satu foto cetak: Lanna, dari jarak dekat, memasuki pintu kaca lobi gedung itu pagi tadi dengan ransel dan pot lavender di tangan. Wajahnya letih dan matanya menunduk. Lobi tempat mereka berdiri sekarang.
“Itu aku tadi pagi,” kata Lanna lirih. “Di tempat kita berdiri sekarang.”
“Malam ini aku ceritakan semuanya,” kata David. “Dari awal.”
Dia membalik foto itu. Di belakangnya, dengan spidol hitam tebal, dua kata:
‘Nice wife.’