Rain berjalan ke arah keluar gedung sekolah dimana orang-orang malah berebut ingin masuk karena takut terlambat, namun beda dengan dirinya yang malah ingin keluar dengan diam-diam menyerobot anak-anak yang ingin masuk agar tidak ketahuan. Sementara itu, gadis itu sama sekali tidak sadar jika ada seseorang yang saat ini mengikutinya. Ya. Joon Min mengikutinya sejak ia melihat Rain pergi membawa tasnya menuruni gedung.
Dilihat nya gadis itu mengeluarkan jaket dari tasnya dan memakainya. Joon Min sama sekali tak bisa berpikir soal alasan gadis itu membolos. "Oh jadi dia sudah bersiap-siap untuk ini?" gumamnya sendiri, masih asik dengan aksi secret stalking-nya. Joon Min menatap Rain yang malah duduk di kursi panjang taman, terlebih lagi, sendirian.
Entahlah, dari lubuk hatinya, ia malah ingin menghampirinya dan sebenarnya ingin sekali meminta maaf atas segala hal yang telah ia lakukan sejak pertama kali mereka bertemu di kelas. Dan mungkin mengenang sesuatu yang mungkin dilupakan gadis itu. Namun apa daya? Ia telah salah jalan sejak awal, dan tidak mungkin ada jalan kembali kecuali ia menjelaskannya lagi dan hal itu tentu sulit karena Rain bahkan cenderung menghindarinya. Jadi, selama ini kesempatannya hanya untuk meledeknya atau tidak bertemu sama sekali.
Seorang gadis menghampiri Rain tak lama kemudian. Namun, hanya beberapa menit, gadis itu pergi lagi dan meninggalkan Rain yang lagi-lagi jadi sendirian. Reflek, lelaki itu malah mengizinkan kakinya untuk berjalan mendekati Rain.
"Dasar badung."
Rain menoleh padanya. Tentu saja! Gadis itu sudah ingat betul bentuk dari suara lelaki yang sering menganggunya. Masa iya dia tak mengenalinya, matanya langsung melotot tajam, menatap bulatan mata Joon Min yang terlihat polos.
"KAU!! Mengapa kau- aihhh, Ya Tuhan! Sedang apa kau disini?!" Akhirnya hanya kata-kata itu yang meluncur dari bibir Rain.
Tak membalas, justru sebaliknya, Joon Min duduk di samping Rain dan menatap lurus kedepan. "Menurutmu?" ujarnya dengan nada datar. Gadis yang memang sudah kesal itu semakin naik pitam.
Lantas ia mendekatkan diri pada lelaki itu berniat ingin berteriak di telinga berharap bisa membuat telinga lelaki itu pengang dengan kalimat, "KAN AKU YANG-"
DEG!
Pada detik itu juga Joon Min malah menengok dengan wajah yang berdekatan dan mereka malah jadi saling bertatapan canggung.
Embusan napas mereka terasa berat, bahkan mereka bisa saling merasakan embusan itu masing-masing berkat hidung mereka yang hamper berpapasan. Mata Rain melotot hebat dan lantas menjauhkan diri dari lelaki itu sejauh mungkin. "Apa sih?" tanya Joon Min lagi-lagi datar, namun kali ini matanya tepat menuju mata Rain dan itu membuat Rain merasa aneh.
Mata Joon Min masih terus menatap lekat ke arahnya. Bisa dibayangkan, Rain masih shock hingga bibirnya bahkan kaku untuk mengucapkan alasanya. "Aku bertanya, bukan menyuruhmu diam," ujar Joon Min lagi.
Rain masih terdiam. Dan entah ini hanya halusinasi matanya, atau memang benar, Joon Min malah mendekatkan dirinya ke arah Rain.
Hatinya tak karuan, ia lantas ikut mundur seiring Joon Min juga mendekat ke arahnya karena kini mereka saling berhadapan. Dan checkmate. Rain berada di ujung kursi dan hanya bisa menyilangkan tangan berpikir menutupi diri dengan telapak tangannya yang kecil sedangkan itu Joon Min sudah mencondongkan tubuh ke arahnya. "Kenapa? Kau takut sekarang?" tanyanya dengan nada meremehkan. Sedetik kemudian ia menegakan kembali tubuh nya dan duduk menatap lurus kembali ke depan. "Dasar bodoh.”
Makian itu membuat telinga Rain panas. "Huh? Kau bilang bodoh padaku?!
"Kau pilih rumah sakit? Atau kuburan, huh?!" teriaknya sambil menunjukkan kedua kepalan tangannya ke depan Joon Min.
Ingin sekali Joon Min tertawa mendengar nada bicara Rain sekarang ini, namun ia memilih untuk mengikuti alur yang telah ia jalani dengan berkata, "Baiklah-baik. Aku juga tak mau wajah tampanku ini, berakhir di rumah sakit hanya karena hal sepele.” Ia kemudian berdiri berniat meninggalkan Rain sendirian dan mengamatinya lagi dari jauh.
Lelaki itu tidak hanya sombong. Tapi juga narsis. Ew.
***
Rain berjalan santai menuju kursi favoritenya. Bangku paling pojok dan tempat paling nyaman dari manapun untuk tertidur. Tidak mau sombong, tapi… walau ia anak yang sering tertidur di kelas, nilai rata-ratanya menunjukan hasil yang selalu sempurna.
Well, karena ia berada di tahun ajaran baru, maka dari itu kelas belum terlalu aktif dalam urusan kegiatan belajar mengajar, dan karena itulah kemarin Rain bisa dengan bebas membolos. Mata Rain mengernyit kebingungan saat ia melihat seorang lelaki tampan duduk di kursi sebelah miliknya. Karena sadar diperhatikan, lelaki itu pun berbalik membalas menatapnya dan kemudian tersenyum menggerakan tangannya seolah 'say hai' pada nya.
Rain kebingungan. Tentu saja. Dia tak ingat pernah kenal dengan orang yang sekarang duduk di sampingnya ini. Baiklah, satu keterangan baru dari gadis bernama Rain ini, ia gadis yang pelupa dan juga labil, mohon digarisbawahi.
"Halo, Rain." Suaranya terdengar familiar, tapi demi apapun, Rain benar-benar LUPA. Astaga, kebiasaannya melupakan sesuatu itu sudah terlalu parah. Akhirnya dia hanya bisa melambaikan tangannya kaku dan menunjukan wajah bingung yang super-duper kentara dari wajahnya. Bisa di bilang gadis itu dalam mood yang sangat baik hari ini, "Oh! Jangan bilang kau lupa padaku?" ujar lelaki itu dengan nada nya yang seperti nya memaklumi keadaan nya. Aneh? Iya. Memang nya lelaki itu siapa, pikir Rain.
"Kau ini benar-benar ya, tidak hanya aneh, kau juga selalu pikun," ujar lelaki itu sambil tersenyum yang menenangkan.
"Aku Taehyung. " Senyumnya kembali mengembang,
Taehyung…
Taehyung…
Taehyung…
Taehyung!
"Ah, iya maaf, seperti katamu tadi, pikun," balas Rain menebalkan suara di akhir kalimat. Beruntunglah Rain dalam mood yang sangat-sangat baik hari ini.
"Kau ini lucu yah." Taehyung memegang kepala Rain dan mengacaknya perlahan. Rain terdiam sebentar, bukan! Bukan karena jantung nya yang berdegup-degup seolah jatuh cinta, ayolah, dia orang yang baru Rain ketahui, masa iya dia langsung jatuh cinta. Tapi hal ini karena ia merasa familiar dengan Taehyung! Ucapan itu, dan juga, tangannya yang terulur dan mengacak rambut nya. Itu semua terasa sangat familiar.
Tapi siapa? Tiba-tiba kepala nya terasa berat, seakan ada memori di otak nya yang ingin berputar di kepala tapi sebagian dari memori itu telah rusak. Kepala nya sakit, dan mungkin saja dia akan terjatuh jika Taehyung tak menahan tubuhnya.
***
"Oppa." Rain menggumam. Sudah sejak saat Taehyung membawanya ke UKS, gadis itu sendirian di sana bahkan ia langsung tak sadarkan diri saat pihak UKS memberikan minyak kayu putih padanya.
Matanya terbuka perlahan, dan menyetarakan penglihatan-nya dengan cahaya tipis dari jendela UKS itu. Kepala nya masih terasa sedikit berat, ia mencoba memejamkan matanya sebentar dan bayangan seorang lelaki kecil membias di kepalanya.
"Kau ini manis sekali Rainy."
"Astaga, siapa dia?" Rain memukul kepala nya sendiri pelan karena bahkan di mimpi nya tadi ia memimpikan lelaki kecil itu dan ia memanggilnya dengan sebutan 'Oppa'
CKLEK
Ia terdiam mendengar suara pintu yang terbuka, berharap oranag yang datang itu adalah dokter UKS yang akan memberikannya obat lagi agar kepala nya tidak kembali sakit, atau sekedar bertanya apakah ia mau pulang atau tidak. Tapi kenyataannya….
"Hai, Badung."