Sakit hati merupakan hal yang sangat pasti sekali untuk terjadi di saat sang putri satu-satunya yang kita miliki dilukai begitu dalamnya oleh pria lain, terlebih pria tersebut adalah anak dari sahabat kita. Andai bisa marah pun Eva dan Damares pasti akan melakukan itu semua demi putrinya. Pun satu hal yang mereka sesali adalah sang putri dituduh sebagai pelakor oleh sahabatnya sendiri karena ulah pria b******k tersebut. Sungguh, itu semua adalah hal yang paling menyakitkan. Eva dan Damares sebagai orang tua saja sakitnya tak tertolong, bagaimana dengan Anara yang merasakan itu semua secara langsung. Bagaimana dengan Anara yang langsung diperlakukan seburuk itu. Pastinya trauma akan selalu ada di dalam hidup Anara. Trauma yang membuatnya takut membuka hati kembali.
“Aku gak tau harus gimana, Mas. Anak dari sahabat aku sendiri ternyata nyakitin perasaan anak kita satu-satunya. Anara enggak pantes dapet itu semua, Mas. Anara sama sekali enggak pantes buat dijadiin pilihan kedua, dia enggak pantes jadi cadangan. Kita ngelahirin dia, dia udah jadi satu-satunya. Dia enggak boleh dapet semua penderitaan ini. Aku sama sekali enggak setuju kalau dia disakitin kayak gini,” ujar Eva dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Air mata bening yang diartikan sebagai rasa sakit yang begitu dalam. Air mata dari ketidakrestuan seorang ibu.
Damares yang ada di sebelah Eva pun hanya bisa mengusap punggung sang istri dengan baik. Berusaha menenangkan sebaik mungkin supaya sang istri masih bisa dikontrol, tidak begitu saja meluapkan rasa kesal dan emosinya. Marah itu hal yang sangat wajar, Damares pun marah dan tidak terima jika anaknya diperlakukan demikian. Namun sebagai orang yang memiliki akal sehat, tidak seharusnya meluapkan emosi dengan berapi-api, bukan? Meluapkan sewajarnya saja, asal semua emosi bisa dikontrol dengan baik.
“Sssttt, Sayang! Kamu jangan kayak gini, dong. Kita harus kuat karena kita harus kasih bukti ke Anara, semua ini masih bisa dilewati dengan mudah. Semua ini bukan akhir dari segalanya. Nanti kalau kita gak kontrol emosi kita, yang ada Anara bakalan jauh lebih terpuruk. Yang ada dia merasa kalau dia enggak punya siapa-siapa, dia sendirian. Kamu kan tau kalau sahabat Anara yang bertahan cuman Mikhaella aja, setelah kejadian semalam, Mikhaella pergi. Sahabat satu-satunya anak kita pergi dari sisi anak kita. Jadi sebisa mungkin kita harus merangkul anak kita supaya semuanya baik-baik aja. Kita harus tau posisi dia, Sayang.”
Benar apa yang dikatakan oleh Damares, yang namanya transisi itu sangat berat sekali jika harus dijalani dan pada saat ini Anara sedang merasakan transisi itu. Pada saat ini Anara sedang merasakan sebuah peralihan di mana dulunya ia bisa have fun, di mana dulunya ia memiliki sahabat yang sangat dipercaya, dan sekarang semua itu berubah.
Anara saat ini tidak butuh apa pun selain rangkulan dari keluarganya. Anara saat ini tidak butuh belas kasih dari siapa pun juga. Ia hanya butuh orang yang selalu ada di sisinya. Ia hanya butuh orang yang bisa merangkulnya di kala susah maupun senang.
Merasa sadar dengan emosinya yang sudah cukup larut karena sedari tadi Eva hanya menangis saja, wanita tersebut langsung mengusap lembut air matanya, meninggalkan jejak air mata di pipi ayu wanita paruh baya tersebut. “Kamu bener, Mas. Kita harus kuat. Kita harus bisa merangkul Anara supaya dia enggak sendirian.”
Hari ini Eva dan Damares berjanji, mereka tidak akan pernah membiarkan Anara sendirian dan kesepian lagi. Mereka berdua akan membiarkan Anara healing dari masa lalu serta trauma yang dibuat oleh lelaki b******k itu. Tak akan memaksa untuk Anara melakukan hal yang memang belum siap Anara lakukan, entah itu menikah atau yang lainnya.
Ini adalah janji dari orang tua Anara, dari Damares dan juga Eva. Mereka akan membiarkan Anara melakukan hal yang Anara sukai, jika Anara ingin melanjutkan studinya pun silakan. Jika Anara ingin melanjutkan karirnya juga silakan.
***
Setelah berdiskusi panjang dengan sang suami, akhirnya saat ini Eva memutuskan untuk menghampiri sang putrinya sendiri. Berbicara dari hati ke hati sebagai seorang ibu yang berusaha mengerti bagaimana kondisi Anara yang dapat dipastikan sedang tidak baik-baik saja. Sengaja memang Damares tak ikut di antara keduanya, mungkin lain kali Damares bisa meluangkan waktunya untuk berdua dengan sang putri namun tidak dengan saat ini. Saat ini biarlah hubungan antara ibu dan anak berjalan semestinya.
Berjalan dengan sangat pelan sembari menarik napas panjang, melupakan kejadian demi kejadian menyakitkan, terus menarik napas lagi sampai akhirnya rasa lega mulai terjadi di tubuh Eva. Berat, sangat berat ada di posisi seperti ini. Posisi di mana anak yang sangat kita sayangi dijadikan yang kedua apalagi yang pertamanya adalah sahabatnya sendiri. Ingin mencaci maki orang yang melakukan hal tersebut? Pasti. Namun Damares melarang itu semua. Damares tidak akan pernah mau berurusan dengan orang-orang yang menyakitinya karena baginya itu sama saja, sama saja membuat diri kita jauh lebih rendah daripada orang tersebut.
TOK TOK TOK!!!
Ini sudah lumayan sore, tetapi sedari tadi Anara masih belum keluar dari kamarnya, mungkin gadis itu masih menangis tersedu-sedu karena sakit hati yang dirasakan sampai lupa akan makan.
“Sayang! Mamah boleh ngomong sama kamu sebentar aja gak, Sayang? Bisa dibuka pintunya?” lirih Eva. Sengaja memang menurunkan oktaf suaranya dari yang biasa, supaya sang putri jauh lebih nyaman tentunya. Supaya Anara bisa mengerti apa yang Eva katakan dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Sebentar, Mah.” Setelah seperkian detik menunggu jawaban dari sang putri, akhirnya pintu yang sedari tadi tertutup terbuka sudah, menampilkan Anara yang berpenampilan acak-acakan dengan mata sembab dan rambut tak beraturan. Sudah dapat menebak itu semua, bukan? Yap! Pastinya Anara baru saja menangis.
Menunduk dan berusaha menguatkan diri, itu yang bisa Eva lakukan sembari menarik napas panjang-panjang lagi. Sungguh, melihat putrinya seperti ini menorehkan luka yang sangat dalam di hati Eva. Namun Eva harus tetap terlihat kuat supaya bisa merangkul putrinya, bukan?
“Ayo masuk, Sayang! Kita ngobrol di dalem aja,” ujar Eva dengan suara yang bergetar. Tangannya yang kanan langsung merangkul Anara dari belakang dan membawa Anara memasuki kamarnya.
Huhhh ... berat untuk memulai sebuah obrolan yang panjang. Obrolan yang akan mengandung banyak sekali makna di dalamnya.
Kembali, Eva lagi-lagi menarik napas panjang guna menetralisir kegugupannya yang bercampur dengan kegelisahannya.
“Sayang ... mamah tau ini berat banget buat kamu. Mamah tau kalau misalnya kamu susah buat ngelupain dua orang yang sama pentingnya di hidup kamu. Satu kekasih kamu yang udah dua tahun lamanya kamu bersama, satunya lagi sahabat yang selama ini menjadi orang satu-satunya yang selalu merangkul kamu di kala susah maupun senang. Enggak masalah, Sayang. Nikmati prosesnya aja, kelak semua penderitaan kamu akan dibalaskan dengan kebahagiaan tak terkira. Kelak semua orang akan tau kalau kamu enggak salah dan mereka akan malu karena telah menuduh kamu yang tidak-tidak. No problem, Sayang. Nikmati prosesnya. Banyak pembelajaran yang kita ambil dari kejadian ini.”
Buliran bening seketika terjatuh begitu saja saat Eva selesai berbicara. Ternyata benar yang dikatakan oleh orang-orang, sesuatu yang dikatakan dari hati pastinya akan sampai ke hati juga. Dan saat ini, untuk pertama kalinya, Anara setuju dengan ibunya setelah sekian lama ia beranggapan ibunya kolot. Dadanya terus naik-turun, menyesal sudah menyembunyikan hubungan dengan Dave dua tahun lamanya. Padahal jika ia memberitahu kepada dunia, efeknya tidak akan sehebat ini.
Sungguh ... Anara menyesal sekali dengan semua tindakan yang ia lakukan.
“Mah ... maafin Anara, Mah. Anara minta maaf banget sama mamah karena udah buat mamah ikut malu punya anak kayak Anara ini.” Memeluk tubuh ibundanya dengan erat, Anara mencurahkan semua tangisan penyesalannya di sana. Sang ibunda pun hanya bisa mengangguk dengan memeluk balik sang buah hati.
“Semuanya akan baik-baik saja, Sayang.”