September, 2015
Seorang wanita sedang berjalan menuju sebuah sekolah yang terletak di tengah-tengah perkampungan. Sekolah yang masih asri, di keliling sawah, hutan, dan tanaman liar yang masih tumbuh di lingkungan sekolah itu. Tak lupa,pemandangan gunung yang sangat indah.
Matusha Dwi Elang, Sekolah yang baru saja didirikan pada tahun 2013 dengan jenjang pendidikan hanya SMP saja. Dua tahun kemudian, sekolah ini membuka jenjang SMK untuk bisa bekerja dengan baik dan efisien. Pihak sekolah menerima para siswa-siswi untuk belajar di Matusha Dwi Elang dengan melalui tes wawancara. Setelah tes wawancara selesai, calon siswa-siswi melakukan Masa Orientasi Sekolah atau biasa di kenal dengan MOS agar lebih mengenai sesama teman, guru dan lingkungan sekolah Matusha. Setelah selesai MOS, calon siswa-siswi telah resmi menjadi bagian dari siswa-siswi Matusha dan mengikuti pelajaran seperti biasa.
Wanita itu berdiri di depan gerbang dengan ragu-ragu melihat sekolah barunya.
"Serius, ini sekolahan? Kok begini banget" Gumam wanita itu sambil geleng-geleng kepala
"Ainun" Teriak seseorang di belakang wanita itu, yang bernama Ainun Sholihah. Biasa dipanggil Ainun.
"Halo, Tik. Baru berangkat?" Tanya Ainun kepada Sahabat nya, Tika Julianti
"Yah biasa. Akhirnya, kamu sekolah disini. Aku senang banget. Kamu tau ga? Anak-anak antusias banget lho nyambut kamu" Ucap Tika sambil menarik tangan Ainun untuk memasuki sekolah Matusha
"Kok anak-anak bisa tau?" Tanya Ainun heran.
"Aku yang bilang, ehehe. Terus, aku minta tolong ke anak laki-laki nya untuk mengambil tempat duduk buat kamu" Jawab Tika cengengesan.
"Tapi, kan ada beberapa yang ga aku kenal, Tik"
"Yah, memang ada yang baru juga. Tapi, kebanyakan itu teman MI kita, Nun. Tenang aja, kalau baru pertama kenal, kamu di sambut baik kok" Ucap Tika menenangkan Ainun dari kegugupan.
"Woy, Aku di tinggalin" Teriak seseorang di samping Tika dan Ainun.
"Kamu ngapain aja? Lama banget. Lagian kasian juga Ainun, berangkat sekolah sendiri" Ucap Tika menatap Nur dengan kesal.
"Yah, maaf. Selamat datang, Nun. Wah, sekarang kita pasti kemana-mana bertiga terus" Nur menarik tangan Ainun menuju kelasnya yang berada di lantai tiga.
"Bosen banget bertiga terus. Belum di rumah, belum di sekolah. Udah kayak anak kembar s**l" Ainun menggelengkan kepalanya.
"Yah, gimana lagi. Udah takdir" Ucap Tika dengan acuh.
Mereka memasuki ruang kelas yang masih sepi, lalu meletakkan tasnya di tempat masing-masing.
"Nun, kamu di depan" Tika menunjuk kursi yang ada di depan dekat meja guru.
"Kok di depan? Ga mau akh. Males" Tolak Ainun dengan tegas.
"Masalah nya, ga ada tempat kosong lagi. Kemarin udah aku tempatin kamu di samping aku, tapi temen aku ga mau pindah" Ucap Tika memberi pengertian kepada Ainun.
"Yaudah deh" Ainun meletakkan tasnya dengan setengah hati.
Ainun, Tika dan Nur duduk di tangga depan kelas sambil bercerita satu sama lain dengan penuh canda tawa.
"Mana anak baru?" Tanya Seorang laki-laki.
"Nih" Tika menunjuk Ainun yang ada di samping nya.
"Ya Allah, Ainun. Elsa kangen sama kamu" Ucap seorang wanita yang bernama Elsa sambil memeluk Ainun.
"Udah lama yah, kita ga bertemu" Ainun membalas pelukan Elsa.
"Bosen amat gue ketemu lu lagi. Dari MI, MTs sampai sekarang SMK" Ucap seorang wanita yang ber penampilan tomboy.
"Duh, aku juga udah males ketemu kamu, Irma" Ainun menjawab dengan kesal.
"Mana anak baru?" Tanya laki-laki itu lagi "kenalin nama aku, Rijwan Febriana. Biasa di panggil Iwong atau Rijwan"
"Kenalin, aku Septi" Ucap seorang wanita yang memiliki bulu mata lentik, cantik dan putih.
"Maryani, biasa di panggil Yani" Seorang wanita yang memiliki kulit hitam manis.
"Haris" Ucap laki-laki itu yang berada disamping Rijwan.
"Hai, Nun. Kapan tinggi?" Ledek seseorang yang berada disamping Ainun.
Ainun menengok ke asal suara itu "Siapa yah?" Tanya Ainun bingung.
"Masa ga kenal? Temen MI juga. Laki-laki yang selalu bolos sekolah, Nun. Sekalinya masuk, satu bulan cuma lima kali absen" Jelas Irma.
"Dayat? Ya ampun, ga nyangka. Anak kecil yang dulunya pendek, hitam, kekurangan gizi terus ga pernah masuk kelas. Masih hidup? " Ucap Ainun terkejut.
"s****n. Sehina itu Dayat di mata kalian" Dayat mengendus dengan kesal.
"Haha, sorry" Ainun tertawa mendengar ucapan Dayat.
Kehidupan sekolah Ainun di SMK Matusha sangat menyenangkan. Bertemu teman yang menyenangkan, mempunyai guru yang mengasikkan ketika belajar, dan lingkungan yang masih asri menjadi favorit para siswa-siswi untuk berfoto ria.
Ainun sholihah, seorang wanita dengan bentuk tubuh yang mungil, mata hitam yg indah, hidung yg mancung dan wajah yang proposal karena tidak runcing ataupun bulat. Ainun, si wanita sholehah yang selalu berpakaian tertutup dengan menggunakan hijab namun tetap terlihat fashionabble.
Disekolah, Ainun banyak di sukai oleh laki-laki satu angkatannya dan para guru pun menyukai nya karena sifatnya yang sopan. Selain sopan, Ainun sangat menggemaskan dengan tubuh yang mungil itu dan terlihat imut di mata laki-laki.
Bahkan, saat ini Ainun sedang berpacaran dengan seorang laki-laki pendiam dan pemalu yang bernama Bana. Tidak berlangsung lama, hubungan itu kandas karena suatu masalah yang membuat Ainun kecewa.
Di tengah rasa kecewa itu, seorang laki-laki hadir menenangkan Ainun dari rasa kecewa. Laki-laki itu bernama Tajul, teman sekelas Ainun sekaligus teman ketika duduk di bangku sekolah MI.
Banyak yang tidak percaya dengan kabar kedekatan Ainun dan Tajul, karena baru putus dengan Bana. Tapi, Ainun dengan mudah nya sudah berpindah kelain hati. Banyak cibiran dan caci maki terhadap sikap Ainun yang hanya karena seorang laki-laki. Pernah Ainun di bully ketika sedang presentasi di depan kelas.
"Bana, kamu pacaran sama dia? Ck mau aja. Dia itu ga setia. Tuh, bukti nya dia sekarang dekat sama Tajul. Cwe ga tau diri" Cibir sepupunya Bana yang bernama Nurkomala Sari.
Ketika istirahat, Ainun menangis di teras depan kelas di temani oleh Tajul dan Tika untuk memenangkan Ainun dari rasa sakit itu.
Berbulan-bulan, Ainun dan Tajul berpacaran. Hubungan mereka pun putus nyambung karena selalu masalah. Seperti, Tajul yang terlalu mengekang Ainun tidak boleh dekat dengan laki-laki lain selain dirinya, chatting dan telpon setiap hari, kemana-mana selalu berdua, bahkan selalu tiduran di pangkuan Ainun yang membuat nya tidak nyaman. Bosen dan jenuh. Akhirnya, Ainun mengakhiri hubungan nya dengan Tajul. Karena, Ainun tidak suka hubungan yang terlalu mengekang dirinya. Baru aja jadi pacar, bukan suami, udah mulai mengatur hidup orang lain.
Sampai, akhirnya. Ainun bertemu seorang laki-laki yang membuat berubah 180°. Kehidupan yang tak pernah Ainun bayangkan ketika bersama laki-laki itu.