Musim hujan belum berakhir. Tapi pagi itu cerah. Burung-burung gereja beterbangan di halaman, hinggap sebentar di genting, lalu terbang lagi. Raka duduk di bawah pohon mangga, mengenakan sweater lamanya. Di sampingnya, Aditya membentangkan kertas gambar, pensil warna tersebar di rumput.
Sudah beberapa minggu sejak Aditya memanggilnya Ayah untuk pertama kalinya. Kata itu tak ia ucapkan setiap hari. Tapi saat ia ucapkan, Raka tahu: dunia telah berubah.
Raka mengangkat cangkir tehnya. Hangat. Diam. Tapi dalam hatinya, segala sesuatu sudah mulai menemukan tempatnya.
"Kau menggambar apa kali ini?" tanyanya.
Aditya menoleh, tersenyum. "Potret."
"Potret siapa?"
"Entahlah. Mungkin... potret yang belum pernah ada."
Raka mengangguk. Ia paham maksud anak itu.
Beberapa menit kemudian, Aditya mengangkat kertasnya, lalu memutar gambar itu ke hadapan Raka.
Raka menurunkan cangkirnya ke rumput.
Di kertas itu ada seorang pria. Duduk di bawah pohon, mengenakan sweater, memegang cangkir. Wajahnya digambar dari depan. Jelas. Alisnya tebal, rahangnya keras, dan ada garis-garis halus di sudut matanya—garis yang hanya muncul pada orang yang sedang menahan tawa.
Raka menatapnya lama.
“Ini aku?”
“Iya.”
“Kenapa dari depan?”
Aditya mengangkat bahu, seolah jawabannya sudah jelas sejak tadi. “Karena wajah Ayah aku hafal.”
Raka tak menjawab. Tenggorokannya mengatup lagi, sama seperti pagi beberapa minggu lalu di teras.
Ia teringat gambar yang dulu: seorang pria duduk membelakangi, di sebuah taman, digambar dari punggungnya saja karena anak itu tak pernah sempat melihat wajahnya.
Di kertas ini tak ada punggung. Tak ada bayangan.
Hanya wajah. Wajah yang setiap hari ada.
“Potret yang belum pernah ada,” ucap Raka pelan, mengulang kata anak itu.
“Iya,” jawab Aditya. “Dulu belum ada. Sekarang ada.”
Angin lewat. Beberapa daun mangga jatuh, satu mendarat di sudut kertas. Aditya menyingkirkannya hati-hati, seperti menyingkirkan sesuatu dari wajah orang yang sedang tidur.
“Mau ditaruh di kotak?” tanya Raka.
Aditya menggeleng. “Yang ini jangan.”
“Kenapa?”
“Kotak itu buat yang sudah lewat.” Ia menatap Raka. “Ini belum lewat.”
Raka menunduk. Lalu tersenyum—senyum yang tak ia sadari sendiri, dan mungkin justru senyum itulah yang lebih dulu dihafal anak itu.
Sore harinya mereka menempelkan gambar itu di ruang tamu. Bukan di tengah, bukan di tempat yang paling terlihat. Hanya di dinding sebelah kiri, sejajar dengan foto perempuan berkebaya yang tersenyum ke arah kamera.
Dua bingkai. Berdampingan.
Raka mundur selangkah, menatap keduanya bergantian.
Ia teringat kalimatnya sendiri di malam kotak kayu itu dibuka: yang ia takutkan bukan lupa, tapi kehilangan dua kali.
Ternyata ia keliru lagi.
Yang tersisa dari Sekar bukan cuma kenangan yang harus dijaga di dasar kotak. Yang tersisa dari Sekar sedang berdiri di sampingnya sekarang, memegang lem, dan mengeluh karena kertasnya sedikit miring.
“Miring, Yah.”
“Biarkan saja.”
“Nggak. Besok aku betulin.”
Besok. Kata itu diucapkan begitu ringan, seolah memang selalu tersedia, seolah tak pernah ada orang yang kehilangannya.
Raka mengangguk pelan. “Ya. Besok.”
Di luar, langit mulai kelabu lagi. Hujan akan turun sebentar lagi—seperti biasa, seperti selalu.
Tapi rumah tua di Cikoneng itu sudah lama tidak terasa sunyi.