Hujan turun sejak subuh. Bukan hujan deras, hanya gerimis panjang yang seperti tak mau pergi. Raka duduk di ruang kerja dengan lampu meja menyala kuning redup, memeriksa lembar-lembar ulangan. Tapi pikirannya tak tinggal di sana.
Sudah dua minggu Aditya tinggal bersamanya. Rumah itu tak bertambah ramai—hanya terasa lebih berat. Seperti ada napas orang lain yang mengisi udara, tapi enggan bersuara.
Dari celah pintu yang tak sepenuhnya tertutup, terdengar batuk kecil.
Bocah itu sakit. Mungkin karena udara malam Ciamis yang makin dingin. Atau karena kamar di pojok kiri yang terlalu dekat jendela tua.
Tapi Raka belum melakukan apa pun soal itu. Hanya menyelipkan minyak kayu putih dan segelas air ke meja samping ranjang. Tanpa bicara.
Ia ingin tahu lebih, tapi takut mendekat. Takut melihat mata Sekar lagi—mata yang kini muncul tiap pagi di dapur, tiap malam di meja makan, tanpa pernah benar-benar hadir sebagai dirinya.
Hari itu, sepulang sekolah, Raka membuka pintu rumah seperti biasa—datar, pelan. Aditya sedang duduk di lantai dekat rak buku, membaca novel remaja yang sudah usang.
Ia tidak menoleh. Raka pun tidak menyapa.
Di dapur, Raka membuat dua gelas teh. Bukan karena ingin berbagi. Tapi karena kebiasaan mulai berubah—sedikit demi sedikit, tanpa disadari.
Ia meletakkan satu gelas di dekat Aditya, lalu kembali ke dapur. Tidak ada kata. Tidak ada terima kasih.
Tapi teh itu habis.
Malamnya, Raka sedang membersihkan meja makan ketika melihat selembar kertas kecil tertinggal. Sebuah gambar, digambar tangan: pohon mangga, rumah beratap miring, dan seorang anak kecil duduk di bawahnya.
Tak ada nama. Tapi ia tahu siapa yang menggambar.
Ia tak bertanya.
Ia hanya menyelipkan gambar itu di balik buku pelajaran di rak. Diam-diam. Sama seperti caranya menyimpan puisi lama Sekar—sebagai luka yang tak ingin disentuh, tapi tak bisa dibuang.
Beberapa hari kemudian, listrik padam.
Ciamis tahun 1999 belum kenal genset. Hanya lampu minyak dan lilin. Raka menyalakan lilin kecil di ruang tamu. Cahaya temaram menari di dinding. Aditya duduk meringkuk di sudut, memeluk lutut.
“Takut?” tanya Raka tanpa menoleh.
Aditya menggeleng. Tapi ia tak menjawab.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hujan mulai turun lagi—deras, seperti marah.
“Ayahku...” suara Aditya lirih. “...dulu juga sering diam.”
Raka menahan napas. Ia tahu kalimat itu bukan keluhan. Tapi pertanyaan tanpa tanda tanya.
“Dia... keras?” tanya Raka pelan.
Aditya tidak menjawab segera. Hanya menatap lilin yang berkedip.
“Dia jarang bicara. Kalau bicara... sering marah. Tapi kalau Ibu ada, dia jadi diam. Kayak Bapak.”
Raka menggigit bibir bawahnya. Tak tahu harus menjawab apa. Ia tak suka disamakan. Tapi juga tak sanggup menyangkal.
Hening lagi.
Lalu Aditya menoleh. Matanya menatap langsung. Mata itu—sekali lagi—mata Sekar.
“Bapak... benci aku?”
Pertanyaan itu menghantam seperti badai. Tapi wajah anak itu tenang, polos, tidak menuntut.
Raka memejamkan mata. Untuk waktu yang lama, ia tak menjawab. Lalu akhirnya, hanya menggeleng. Pelan. Hampir tak terlihat.
Aditya mengangguk, lalu bersandar ke dinding. Tidak ada kata ‘terima kasih’. Tidak ada pelukan. Tapi malam itu... sunyi terasa sedikit lebih ringan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Aditya datang, Raka tidak mengunci pintu ruang kerjanya saat malam.