Hari itu, hujan turun tak menentu sejak siang. Langit mendung bergulung rendah, seperti menyimpan kemarahan yang ditahan-tahan. Raka pulang lebih awal dari sekolah, motornya basah oleh gerimis.
Saat membuka pintu rumah, ia langsung melihatnya—Aditya berdiri di depan cermin dekat ruang tamu, dengan tisu menempel di dagu. Baju seragamnya kusut. Ransel tergeletak di lantai.
“Kenapa itu?” tanya Raka tajam, refleks.
Aditya menoleh cepat, lalu buru-buru menunduk.
“Jatuh,” jawabnya singkat.
Raka mendekat. Ia mencium sesuatu yang aneh. Bukan hanya bau tanah basah dan keringat anak pulang sekolah. Tapi... bau darah. Tipis, samar, tapi familiar.
“Mana lukanya?”
Aditya ragu, lalu menyingkap tisu. Luka kecil, memanjang di dagu, tak dalam, tapi menganga sedikit. Darahnya sudah mulai mengering, tapi ada sisa merah di kerah baju.
“Kenapa bisa jatuh?”
Aditya diam. Lalu menggeleng. “Nggak apa-apa, Pak. Nggak sakit.”
Tapi mata anak itu berbohong.
Dan entah dorongan dari mana, Raka berjalan ke dapur. Mengambil kapas, air hangat, dan betadine. Ia duduk di kursi rotan dekat jendela.
“Ke sini.”
Aditya tak bergerak.
“Duduk. Di sini.”
Pelan-pelan, anak itu berjalan mendekat. Duduk di bangku kecil, tubuhnya kaku.
Raka membersihkan luka itu dengan tangan gemetar. Bukan karena takut—tapi karena baru sadar, ini pertama kalinya ia menyentuh wajah anak itu sejak tinggal bersama.
Dagu itu kecil. Kulitnya halus. Dan ada gemetar di tubuh Aditya yang tak bisa ditutupi.
“Kamu dipukul?” tanya Raka lirih.
Aditya menggeleng. Tapi matanya mulai basah.
“Dibully?”
Kali ini tak ada jawaban.
“Aditya...”
Anak itu mengedip cepat, menahan tangis. Tapi tetap diam.
Raka menahan napas. Tangannya berhenti.
Lalu, seperti air yang meluap dari wadah yang terlalu lama penuh, Aditya berbisik:
“Mereka bilang... aku anak yang dititipkan ke orang yang nggak mau punya anak.”
Seketika, ruang itu menjadi sunyi. Bahkan suara hujan pun seperti menjauh.
Raka tak tahu harus menjawab apa. Tapi ia meraih kepala anak itu, pelan, menyentuh ubun-ubunnya dengan canggung. Lalu berbisik:
“Dengar, Dit. Mereka nggak tahu apa-apa.”
Aditya mengangguk. Masih tak bicara. Tapi air matanya jatuh pelan ke celana seragamnya.
Raka tak mengusapnya.
Tapi ia duduk di sana, lama, menunggu sampai tangis itu reda. Dan ketika luka kecil di dagu itu ditutup plester, luka yang lebih besar di antara mereka juga mulai... tidak sembuh, tapi bernapas.
Malamnya, Raka menemukan secarik kertas di meja kerjanya. Tulisan tangan dengan huruf besar-besar.
“Terima kasih sudah obatin luka aku.
Aditya”
Dan untuk pertama kalinya, Raka tak memasukkan kertas itu ke laci. Ia biarkan tergeletak di atas meja. Terbuka. Terlihat. Seperti perasaannya.