aku langsung menyebrang menuju kafe metroma, nama kafe ini cukup menarik dan tidak umum, sesampainya di depan kafe mataku takjub.
bunga yang tampak biasa dari jauh ternyata dari dekat terlihat sangat cantik berwarna- warni ah mirip seperti permata.
kondisi kafe sedang sepi pengunjung, saat pintu terbuka hidungku langsung dimanjakan oleh bau kopi dan stroberi, " selamat pagi, selamat datang di metroma, mau pesan apa" ucap pegawai kafe dengan senyum ramah.
mataku melihat buku menu dan menemukan hal yang menarik " satu es amerikano dan satu kue coklat menu terbaru ini" ucapku sambil tersenyum ramah.
"silahkan tunggu sebentar kami akan siapkan pesanannya, totalnya 40 ribu kak" ucap pelayan dengan ramah.
aku menyodorkan satu lembaran biru, lalu membawa minuman dan kue ke meja yang inginku duduki, mata ini melihat sana sini, lalu ketemu tempat pojokan yang menghadap taman sebelah kafe.
"srupuuuut" bunyi amerikano yang aku minum jatuh dengan ringan ditenggorokan.
yang jelas ya pait, lalu ku masukkan satu suapan roti coklat, hemmmmmm rasa yang pekat dari coklat dan asam manis dari selai stroberi yang di dalamnya.
" rasa ini benar-benar spesial dan baru" gumamku sambil menyendok kue, tak butuh waktu lama untuk kue yang berukuran segitiga sama sisi itu untuk habis.
"drttttt drtttt drtttt" bunyi hanphone di atas meja, tulisan Crazy tertera di layar.
Aku : "halo, ada perlu apa? "
Crazy: "bagaimana kencanmu! "
Aku : "luar biasa ekstrim"
Crazy: "hah, apa maksudmu ekstrim, dia tidak macam-macam padamu kan! " suaranya terdengar marah dan frustasi.
Aku : "tidak, aku dihalangi pacarnya sebelum sampai di tempat janjian, dia menjambak rambutku sekarang penampilanku berantakan".
Sebelum crazy menjawab telefon sudah kumatikan,begitu juga handphone agar crazy tidak terus menelfon.
"hahhhh" nafas berat keluar, "dia sungguh menganggu" gumamku. lebih baik segera pulang ke kosan saja.
saat berjalan keluar kafe, tidak sengaja berpapasan dengan laki-laki yang sibuk dengan bukunya lalu, "braaaak" bukunya terjatuh karena dia menabrak ku.
"sial" kata itu keluar dari mulutnya, lalu dia menatapku, ekspresinya kesal namun setelah itu dia tak berekspresi.
aku berjongkok mengambil bukunya " maaf tapi kamu yang tidak memperhatikan jalan" ucapku padanya lalu pergi keluar
dari kafe.