Mawar biru, itulah sebutanku pada wanita yang kini tampak tertawa lepas hanya karna celotehan bayi dipangkuannya, jika dilihat dari kedekatan keduanya, semua pasti mengira mereka adalah ibu dan anak, yah, mereka ibu dan anak, lebih tepatnya ibu dan anak tiri.
Bayi itu bernama Azril Rahandika Alfariq putraku dari pernikahan pertamaku, dan jangan bertanya kemana wanita yang melahirkannya, ia pergi kepangkuan Ilahi tepat usia putra kami mencapai 2 minggu. Aku kembali menikah 2 minggu setelah kematian istriku, dan penggantinya ialah wanita yang aku sebut mawar biru, wanita yang memiliki segudang keanehan, ia memiliki banyak topeng diwajahnya, sulit menebak apa dan seperti apa ia sesungguhnya.
" Atthar Mauza Alfariq"
Itu namaku, tiga puluh dua tahun, seorang dosen disalah satu universitas swasta dikota ini, seorang duda yang kembali menikah dua minggu setelah istrinya dikuburkan, dan seorang ayah yang bahkan belum sempat belajar bagaimana caranya menjadi seorang ayah.
Aku menyandarkan bahuku diambang pintu ruang tengah, menatap keduanya yang sama sekali tak menyadari kehadiranku. Sikecil menendang-nendang udara, tangan gembulnya menarik ujung kerudung wanita itu sampai miring, dan wanita itu hanya tertawa, membiarkan kerudungnya ditarik semaunya, seolah tak ada satupun hal didunia ini yang lebih penting dari tarikan tangan mungil tersebut.
"Ayah kamu berdiri disana dari tadi nak"
"Katanya dosen, tapi kerjanya ngintipin orang"ucapnya tanpa menoleh sedikitpun kearahku, membuatku berdecak dan masuk keruangan itu
"Kamu punya mata dibelakang kepala"tanyaku mendudukkan diri disofa seberangnya
"Punya"jawabnya cuek, matanya masih tak lepas dari wajah sikecil
"Mana"
"Rahasia"jawabnya singkat dan kembali menempelkan hidungnya keperut sikecil, membuat putraku memekik senang, suara yang belum pernah aku dengar dari mulut kecil itu sebelum wanita ini datang.
"Kak"
"Jangan lupa makan malamnya"
"Udah aku tutupin dimeja"ucapnya lagi, dan sebelum aku sempat menjawab apapun, ia sudah kembali sibuk dengan celotehan sikecil, seolah kalimat barusan memang tak butuh dijawab.
Begitulah dia, selalu menutup setiap pintu yang aku coba buka, sekecil apapun pintunya. Aku bertanya soal mata dibelakang kepala, jawabannya rahasia. Aku bertanya soal masa kecilnya, jawabannya nanti kakak juga tau. Aku bertanya kenapa ia mau dijodohkan dengan lelaki yang baru saja kehilangan istri dan menggendong bayi merah, jawabannya cuma satu kalimat, karna mama kakak yang minta.
Dua minggu, itulah jarak antara kepergian Syifa Aurora Arrahman dan hari dimana aku mengucapkan akad untuk kedua kalinya. Aku tau apa yang orang bisikkan dibelakang punggungku, aku dengar semuanya, malah sebagian sengaja diucapkan cukup keras supaya sampai ketelingaku. Lelaki tak tau diri, mayat istrinya belum kering tanahnya sudah cari pengganti. Aku diam saja. Mereka tak pernah melihat bagaimana putraku menangis sepanjang malam mencari sesuatu yang tak akan pernah ia temukan lagi, mereka tak pernah menggendong bayi dua minggu yang tubuhnya panas sementara ayahnya sendiri tak tau harus berbuat apa selain menangis dipojok kamar.
Mama yang datang membawa jalan keluar itu, dan jalan keluar itu berdiri diruang tamu rumah orang tuaku dengan kemeja panjang dan rok abu-abu, menunduk, tanpa satupun raut menolak diwajahnya.
"Namanya Zhian Ayunda Assyfa"
"Nikahi dia Thar"ucapan mama waktu itu bukan permintaan, melainkan perintah, dan aku, yang saat itu sudah tak punya tenaga untuk membantah apapun, hanya mengangguk sekali.
Aku ingat betul, sepanjang prosesi akad, wanita itu tak sekalipun mengangkat wajahnya untuk melihatku. Tak ada air mata bahagia, tak ada juga air mata terpaksa. Wajahnya kosong, sekosong halaman pertama buku yang belum ditulis apa-apa. Tapi begitu mama menyerahkan sikecil kepelukannya, wajah kosong itu langsung berubah, matanya berair, dan ia mendekap putraku sambil berbisik sesuatu yang tak sempat aku dengar.
Sejak hari itu aku menyimpan satu pertanyaan yang sampai sekarang belum juga aku temukan jawabannya. Kenapa gadis berumur dua puluh lima tahun, yang katanya belum pernah menikah, bisa menangis untuk anak orang lain secepat itu.
Mawar biru, aku menyebutnya begitu bukan tanpa alasan. Waktu masih kuliah dulu, aku pernah membaca kalau mawar biru tak pernah tumbuh dialam, warnanya harus dibuat, harus diberikan dari luar, karna bunga itu memang tak punya zat untuk membuat dirinya sendiri berwarna biru. Cantik, tapi palsu. Ada, tapi sebenarnya tidak ada.
Seperti dia.
Didepan mama, ia menantu yang manja, ia akan bercerita panjang lebar sampai mama tertawa terpingkal-pingkal. Didepan tetangga, ia istri dosen yang santun, bicaranya diatur, senyumnya diukur. Didepan sikecil, ia seorang ibu, ibu yang sesungguhnya, bukan pura-pura, aku berani bertaruh untuk yang satu ini. Dan didepanku, ia berubah lagi, jadi seseorang yang sopan, rapi, dan sejauh tiga langkah, tak pernah lebih dekat dari itu.
Topeng-topeng itu berganti begitu cepat sampai aku sendiri bingung, yang mana wajah aslinya, atau jangan-jangan semuanya asli, dan justru akulah satu-satunya orang dirumah ini yang belum pernah ia beri wajah yang benar.
Satu kali, cuma satu kali, aku pernah melihat topeng itu jatuh.
Malam itu sikecil demam, dan aku terbangun karna mendengar suara langkah diluar kamar. Aku pikir maling, ternyata dia, berdiri didepan jendela dapur yang gelap, menggendong sikecil dengan handuk kecil dibahunya, tanpa kerudung, rambutnya diikat asal-asalan.
"Zhi"panggilku pelan dan ia langsung menoleh, cepat sekali, seperti orang yang ketahuan mencuri
"Kenapa ngak dibangunin"tanyaku mendekat, dan disitu aku melihatnya, matanya merah, kelopaknya bengkak, jelas ia sudah menangis lama sebelum aku datang
"Ngak apa-apa kak"
"Panasnya udah turun"jawabnya cepat, terlalu cepat, sambil membalik badan supaya wajahnya tak lagi menghadapku
"Aku nanya kenapa kamu nangis"
"Ngak nangis"
"Kelilipan"jawabnya, jawaban paling bodoh yang pernah aku dengar seumur hidupku, dan yang lebih bodoh lagi, aku diam saja mendengarnya.
Aku ingin sekali menarik bahunya waktu itu, membalik badannya, dan memaksanya bicara. Tapi tanganku berhenti diudara, lalu turun lagi kesisi tubuhku. Aku ingat, akulah orang yang dulu memintanya menjaga jarak, akulah yang menggambar garis itu diantara kami dihari kedua pernikahan kami, dan sekarang aku tak punya muka untuk melangkahi garis yang aku buat sendiri.
"Ya udah"
"Kalo capek, kasih ke aku"ucapku akhirnya, kalimat paling tak berguna yang bisa keluar dari mulut seorang suami
"Insya Allah ngak capek kok kak"jawabnya, dan malam itu berakhir seperti itu saja, dengan aku kembali kekamar, dan dia tetap berdiri disana sampai subuh.
Esok paginya wajahnya sudah normal lagi, sudah tersenyum lagi, sudah bercanda dengan mama ditelepon lagi, seolah wanita yang menangis didapur semalam itu orang lain sama sekali.
"Kak"panggilannya membuyarkan lamunanku
"Ya"
"Gendong bentar"ucapnya menyodorkan sikecil kearahku, dan aku menerimanya dengan kikuk seperti biasa, sementara ia beranjak membetulkan kerudungnya yang sudah tak berbentuk
"Ngak dilepas aja sekalian"ucapku asal
"Ngak boleh kak"jawabnya, tangannya sibuk merapikan lipatan kain itu
"Kenapa"
"Ya ngak boleh aja"jawabnya lagi, dan seperti biasa, pintunya tertutup lagi.
Aku menunduk menatap wajah putraku yang mulai memberat matanya. Azril Rahandika Alfariq, bayi enam bulan yang tak akan pernah punya kenangan tentang wanita yang melahirkannya, tapi punya seseorang yang menggendongnya setiap malam sampai lengannya sendiri kesemutan.
"Sini kak"
"Udah waktunya tidur"ucapnya mengambil alih sikecil dari tanganku, dan seperti selalu, ia menepuk pelan punggung mungil itu sambil melangkah pelan menuju kamarku, kamar yang dulu aku tempati bersama Syifa, kamar yang sampai detik ini tak pernah ia naiki ranjangnya barang sekali.
Aku membiarkan punggungnya menjauh, lalu bangkit menuju ruang kerjaku, membuka laptop, dan berpura-pura sibuk dengan berkas nilai mahasiswa yang sebenarnya sudah selesai aku periksa sejak sore tadi.
Karna sebentar lagi, seperti malam-malam sebelumnya, akan ada suara yang berhenti didepan pintu ruang kerjaku, mengucapkan tiga kalimat yang sama persis, lalu pergi tanpa menunggu jawabanku.
Dan aku, sampai malam ini, masih belum berani menahannya untuk tinggal sedikit lebih lama.
Mawar biru, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan.