SORA
Hal yang tak pernah aku sangka, hari ini terjadi. Dulu, aku hanya mampu berangan-angan, menyusuri indahnya khayalan sampai aku tidak menyadari semua itu hanya dalam bayangan. Menerawang begitu jauh hingga tak terbatas. Namun, kenyataan menyadarkanku akan kemustahilan. Semua khayalanku lenyap, hanya menyisakan sesak di d**a. Aku tersenyum dalam kepahitan hingga tetes air mata harapan jatuh tak tertahan.
“Sora! Apa kau baik-baik saja?” ucap salah satu temanku.
“Tentu,” sahutku.
“Semangat! Puncak di depan mata.”
“Aku tahu, saking di depan matanya semua menjadi tidak terlihat.”
“Kau sangat tahu itu. Lima menit lagi kita sampai.”
“Omong kosong.”
Aku tahu semua hanya bualan, tapi aku mengerti tentang harapan dan juga kekecewaan. Aku merasa masih tidak percaya dengan apa yang aku alami saat ini. Aku meninggalkan jejak kaki di tanah yang cukup lembab demi meniti tujuan yang selama ini aku impikan. Begitu sunyi, begitu damai. Sulit berkata hanya untuk menjelaskan isi hati yang aku sendiri belum mengerti. Lelah yang terasa di balik dinginnya udara yang semakin menandakan tujuanku hampir sampai. Ya, hampir karena aku tidak tahu sudah sejauh mana kaki ini yang sejak tadi melangkah semakin lama semakin terasa terjal dan sulit.
Jantung ini berdegup kencang ketika mata ini menelusuri semua titik yang membahayakan nyawa seseorang. Otakku bekerja lebih keras dari biasanya. Menetapkan fokus pada level tinggi meski tenaga sudah sangat terkuras. Aku tidak pernah merasa selelah ini, bahkan sudah berkali-kali ingin menyerah karena keadaan, antara diam sejenak untuk melanjutkan atau kembali. Nafasku mulai tersenggal, aku cukup kesulitan bernafas. Entah karena kelelahan, kekurangan asupan, atau tekanan udara yang semakin rendah. Bahkan aku tidak melihat matahari bersinar hari ini. Cahayanya pun tidak tampak hanya sekedar lewat celah daun di dahan pohon yang begitu rindang dan juga menjulang tinggi menutupi langit yang entah dalam keadaan cerah atau mendung, aku tidak tahu. Aku hanya tahu ini sudah jam dua siang karena di tangan kiriku melingkar sebuah jam tangan berwarna hitam, berarti sudah sekitar enam jam aku berjalan. Kali pertama aku berada di sebuah hutan punggungan demi menuju pucak gunung yang selalu menjadi dambaan setiap para petualang.
“Aku baru tahu ternyata di atas sini sangat dingin. Apa matahari tidak ingin melihatku?” ucapku.
“Untuk apa matahari ingin melihatmu?”
“Mungkin karena aku manis.”
“Kau sangat percaya diri, Sora.”
“Bahkan percaya diriku harus tinggi bisa sampai di titik ini. Walau aku menyukai perjalanan, ini adalah perjalananku paling lama dan paling ekstrim yang pernah aku lalui.”
“Hm, kau benar, tapi aku yakin kau pasti bisa melewatinya.”
“Harus!”
Mengingat bagaimana kesempatan ini bisa aku dapatkan dan bagaimana antusiasnya mereka yang ingin segera sampai pada titik puncak yang selama ini diimpikan itu membuatku tidak ingin menyerah dengan segala situasi dan kondisiku saat ini. Janji yang begitu indah yang kita saja tidak tahu akan seperti ekspektasi atau tetap hanya harapan semata. Kaki ini mulai gemetar merespon hembusan angin yang menerpa tubuh, begitu lembut, bahkan sangat lembut, tapi ini membuatku menjadi menggigil tak tertahan. Kabut yang terkadang naik lalu tiba-tiba turun kemudian menutupi arah pandang membuatku sedikit kesulitan untuk bergerak bebas.
Apa matahari benar-benar tidak ingin nampak hari ini? Sungguh, aku merindukannya. Melebihi rinduku pada daratan yang biasa aku pijak.
Aku menatap langit yang ditutupi dedaunan sekali lagi. Aku berharap Tuhan mendengarku. Aku terbiasa dengan terik matahari, bahkan meski menyengat sekalipun di siang hari aku tetap menyukainya dengan segala aktivitas yang aku lakukan. Namun, sekarang aku sedang terjebak dengan udara yang sangat menusuk tulang. Tidak ada yang salah karena walaupun aku tersiksa secara tidak langsung, tapi aku meyukainya, bahkan sangat meyukainya. Olahraga ekstrim seperti ini adalah keinginan terpendamku yang akhirnya terwujud meski tanpa persiapan yang matang. Aku yakin aku mampu menjalani ini semua. Tekadku terlalu bulat, sampai berani mengambil risiko yang aku sendiri tidak bisa membayangkan risiko apa yang telah aku ambil tanpa aku ketahui sebelumnya. Terlepas dari semua itu, aku harus berterima kasih pada mereka yang dengan senang hati membawaku berpetualang bersama mereka walaupun aku cukup merepotkan karena sebagai pemula dan minim ilmu alam. Tidak lupa dengan orang tuaku yang mengizinkan anaknya yang manja ini hidup di alam bebas tanpa mereka tahu apa yang sedang aku alami sekarang atau apa yang akan aku alami setelah ini.
Aku harap tubuh ini cukup kuat dengan segala kemungkinan buruk nantinya.
Sungguh, aku masih tidak menyangka semua ini menjadi sangat sulit untuk diri ini yang bisa dikategorikan cukup kuat untuk menempuh perjalanan yang jauh. Bahkan aku bisa pastikan aku tidak pernah selemah ini sebelumnya, sebelum hari ini datang. Namun, nyatanya Tuhan memberikan pelajaran berharga untuk diri ini yang lemah dengan kekuasaan-Nya yang luar biasa. Aku berusaha terus berjalan dengan sisa tenaga yang aku punya.
“Jika terjadi sesuatu padamu bilang padaku. Aku sungguh merasa bersalah melihatmu begitu lelah dengan perjalanan kita. Bahkan kau terlihat sangat pucat melebihi kita semua,” ucap salah satu temanku dengan raut wajah khawatirnya.
“Tentu, tenanglah! Aku baik-baik saja. Ini adalah kesempatanku yang langka, yang entah setelah hari ini aku masih bisa kembali ke sini atau justru ini akan menjadi yang pertama dan juga terakhir untukku. Aku hanya ingin menikmati setiap momennya dari awal kita melangkah sampai detik ini, aku bisa berdiri di titik tertinggi selama hidupku,” aku mencoba menenangkannya agar dia bisa sedikit bernafas lega.
“Jangan bilang ini yang terakhir, aku yakin suatu hari nanti kau bisa kembali,” ucapnya.
“Semoga saja, walau aku tidak begitu yakin tentang itu,” ucapku.
“Kau harus yakin!” dia mencoba meyakinkanku agar aku tidak putus asa.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Senyuman yang terlukis dari bibir yang mulai pucat ini. Aku menatap lurus, menerawang sejauh yang aku bisa dan aku merasa semua ini masih saja seperti mimpi. Sulit dipercaya. Namun, dinginnya udara yang diperkirakan saat ini mencapai lima belas derajat selsius menyadarkanku akan sebuah kenyataan. Aku berpijak di atas tanah yang selama ini aku impikan. Sekarang aku tahu perasaan apa yang menyelimuti hatiku. Rasa bahagia, ya, aku begitu bahagia, bahkan terlalu bahagia sampai aku tidak ingin mengidahkan kakiku yang terus gemetar karena udara dingin.
Kami melanjutkan kembali perjalanan sampai akhirnya kami sampai pada tujuan terakhir kami, yaitu menapaki kaki kami di atas puncak gunung. Rasa haru menyelimuti hati hingga air mata ini menetes mengaliri pipi yang semakin kering karena suhu yang tidak biasa untuk kulitku terima. Bahkan ini terlalu dingin, lebih dingin dari yang sebelumnya, lebih dingin dari lemari esku yang ada di rumah. Pengalaman ini begitu luar biasa bagiku, meski bagi orang lain semua ini adalah hal yang lumrah sampai mampu menjelajahi sebagian besar ketinggian yang selalu menjadi idaman para pejalan untuk berpetualang. Mungkin aku juga bisa lebih dari mereka suatu hari, ya, mungkin suatu hari.
Tuhan, terima kasih untuk segalanya. Aku sangat bahagia atas kesempatan ini, karena untukku ini sangatlah berharga di mana aku merasakan suasana puncak gunung di ketinggian sembilan ribu dua ratus lima puluh lima kaki. Sekali lagi terima kasih.
Terlalu banyak kesalahan yang harus aku perbaiki di lain waktu, tapi apa aku masih punya kesempatan untuk bisa merasakan semua ini dengan tenang , damai, dan juga nyaman? Aku harap aku memiliki jawaban yang cukup meyakinkan hati atas keraguan tentang harapan. Kupandangi bentang alam menakjubkan yang kini mulai berkabut dan semakin tebal. Mungkin bagi sebagian orang, ini sungguh mengecewakan. Tidak ada bias cahaya matahari yang menawan untuk memanjakan mata mereka. Tidak ada hamparan samudera awan yang selama ini di dambakan para pencinta alam. Semuanya tidak sesuai harapan yang selalu dijanjikan tentang mereka. Namun, bagiku ini sudah lebih baik. Aku bisa berdiri di ketinggian ini adalah hal yang luar biasa. Ini adalah pengalaman yang tidak sempurna yang bisa aku pelajari di kemudian hari agar lebih siap menghadapi tantangan alam yang tidak terduga.
Aku tidak menginginkan apa pun, tapi aku akan tetap berdo’a pada-Nya tentang keindahan dan juga kebahagiaan, tentang rencana dan juga tujuan. Aku bersyukur bisa menapakkan kakiku di sini, di ketinggian ini, di puncak gunung ini yang di mana dulu aku hanya berkhayal untuk bisa seperti ini. Aku hanya memiliki keraguan tentang harapan untuk kembali, tapi semoga Tuhan bisa mengabulkan do’a dalam hati.
Air mataku menetes kembali. Rasa syukurku tidak pernah pudar dari hati. Aku bangga pada diri yang cukup payah setelah aku menjalani petualangan ini. Aku juga bangga pada diriku yang mampu bertahan sampai detik ini. Walau aku tahu ada orang yang sedang mencemaskanku di bawah sana dengan jutaan do’anya agar aku bisa kembali dengan sehat dan selamat. Sampai akhirnya aku melihat salah satu temanku menghampiri yang tadi dia lebih dulu pergi untuk mendirikan tenda yang akan kami tempati untuk bermalam di sini. Dengan segera aku menghapus jejak air mata yang sejak tadi berkali-kali menetes, aku tidak ingin dia bertanya terlalu banyak karena dia sudah sangat khawatir sejak kami masih melakukan pendakian. Kondisi tubuhku juga sepertinya mulai kebas, mungkin karena udara yang terlalu dingin untuk tubuhku yang terbiasa dengan kehangatan. Aku tidak pernah merasa begitu tidak berdaya dengan apa yang aku rasakan. Bahkan ketika sakit pun aku merasa baik-baik saja, tidak seperti sekarang.
Aku pun tersenyum padanya menandakan bahwa aku baik-baik saja ketika dia sudah berdiri di sampingku karena rasa khawatir yang tidak pernah hilang dari raut wajahnya.
“Kau menunggu lama?” tanyanya.
“Tidak juga, aku hanya sedang menikmati apa yang Tuhan persembahkan di sini,” ucapku.
“Aku juga senang kita bisa merasakan suasana ini bersama.”
“Maafkan aku yang merepotkan ini, harusnya aku lebih banyak membantu ketimbang menyulitkan kalian.”
“Sudah, lupakan! Kita hanya perlu bersenang-senang sekarang, kita hanya perlu menikmati atas usaha yang tidak sepele.”
“Kau benar,” aku kembali menatap langit yang luas.
“Sora! kau terlalu pucat, apa kau baik-baik saja?”
“Aku cukup baik, hanya dingin.”
“Apa kita perlu kembali ke tenda sekarang? Aku rasa semua sudah siap.”
“Sebentar lagi, boleh? Aku masih suka memandanginya.”
Aku merasakan bibirku sangat kaku karena mungkin terlalu kering. Bahkan mulutku jadi berasap karena dinginnya udara di ketinggian dua ribu delapan ratus delapan belas meter di atas permukaan laut pada pukul enam sore di mana langit sedang bersiap untuk meninggalkan terangnya hari demi menyambut malam. Kabut yang tadi menutupi indahnya senja, akhirnya mulai menyingkir beberapa saat memberikan kesempatan untuk para penikmat senja di ketinggian sampai bias cahaya yang cantik itu menutup hari yang melelahkan dengan sempurna sebelum semua menjadi gelap gulita.
Hari semakin malam udara pun semakin dingin dan aku tidak pernah merasa kedinginan sampai menggigil seperti ini, padahal aku hanya berdiam diri di dalam tenda yang teman-temanku dirikan. Ya, aku belum belajar bagaimana caranya mendirikan tenda di puncak gunung. Anggap saja aku tidak berguna. Sungguh, aku merasa bersalah untuk itu. Bagaikan remaja labil yang penuh dengan ambisi tanpa mempertimbangkan segala risiko yang telah diambil.
“Sora, kau baik-baik saja?” tanya salah satu teman grup.
“Iya, aku baik-baik saja, kenapa kalian terus bertanya seperti itu?” aku berusaha menenangkannya agar dia tidak terus menerus khawatir padaku.
“Aku tidak tega padamu, kami hanya khawatir. Apalagi ini adalah yang pertama untukmu.”
“Sungguh, aku tidak apa-apa.”
“Kau yakin?” dia mencoba meyakinkanku.
“Tentu,” ucapku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku merasa pandanganku kabur dan mataku berat hanya untuk menatap teman yang berada di depanku. Di sini gelap, aku rasa dia tidak melihat betapa tidak berdayanya aku melalui wajahku. Aku hanya berusaha berbicara dengan normal, seperti biasanya.
“Kalau begitu kita keluar untuk makan malam, semuanya sudah disiapkan,” terangnya.
“Maaf, aku malah lebih menyusahkan kalian tanpa membantu apapun. Aku tidak berguna berada di sini,” aku menyesal dengan situasi saat ini dengan kondisi menyedihkan.
“Jangan bilang seperti itu, kita teman bukan. Kau hanya perlu baik-baik saja agar kita bisa pulang, aku hanya takut orang tuamu marah karena kami tidak menjagamu dengan baik,” dia berusaha menghibur atas sesalku.
“Aku pasti akan baik-baik saja,” balasku.
“Tentu,” ucapnya.
Aku pun mengikutinya keluar dari tenda untuk makan malam yang bahkan aku sendiri tidak membantu mereka. Aku terlalu payah dan begitu sibuk dengan menganalisis sesuatu yang sedang terjadi pada tubuhku yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Saat separuh kakiku melewati pintu tenda, seluruh tubuhku langsung merespon. Aku memejamkan mata sejenak untuk bisa menerima suhu yang terlalu rendah bagi tubuhku. Aku merasa berada di kutub utara walau sebenarnya aku belum pernah menginjakkan kakiku di sana, tapi aku yakin ini tidak jauh berbeda. Rasanya begitu menusuk ketika seluruh tubuhku sukses keluar dari dalam tenda. Bahkan aku takut jika tiba-tiba terjatuh ke dasar saat berusaha berdiri di sisa kesadaranku.
Aku berusaha menahan agar tanganku tidak bergetar walau kakiku tetap menggigil. Aku merasa kepalaku pusing sampai aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku untuk tetap berdiri tegak bahkan duduk pun aku merasa tubuhku melayang. Aku tidak tahu jika ini adalah sebuah kesalahan yang memang aku tidak tahu menahu tentang sesuatu yang akan aku alami karena sebelumnya aku tidak memprediksi semua ini. Ya, itu salahku, salah si anak manja yang terobsesi tentang kebebasan.
Aku pun mulai bergabung dengan beberapa temanku yang sudah menunggu sejak tadi untuk makan malam. Kami pun memulai makan malam dengan nasi yang tadinya sangat panas berubah menjadi dingin bahkan hampir beku. Aku segera menyelesaikan makan malam, walau selera makanku sudah hilang sejak kali pertama sampai di pucak.
Aku tidak tahan berlama-lama berdiam diri di luar tenda. Merasakan udara dingin yang begitu menusuk tulangku sampai terasa ngilu, bahkan aku merasa tulangku akan patah. Aku berusaha mempertahankan kesadaranku agar tetap terjaga walau sepertinya ini sangat sulit. Jarum jam terus berputar dan malam semakin larut. Aku merasakan tanganku semakin kebas. Tulangku semakin terasa remuk. Bahkan aku kesulitan untuk bergerak sekarang. Tenagaku terkuras habis, tidak tersisa. Pandanganku semakin kabur. Mataku semakin berat. Aku sudah tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku hanya mampu berharap agar semua ini segera berakhir.
“Sora, apa kau mendengarku?” tanyanya terdengar panik.
Aku mendengarmu.
“Sora, apa kau baik-baik saja? Kau kedinginan?” yang aku dengar dia semakin panik.
Ini terlalu dingin, tolong aku!
“Sora, jawab aku!”
“Hey, bangun!”
Entah mengapa aku kesulitan bicara. Aku tidak punya tenaga hanya sekedar berucap iya atau menganggukkan kepala. Tubuhku seakan mati rasa, seolah semua saraf tidak berfungsi. Aku tidak bisa merespon kekhawatiran temanku. Hatiku pilu, aku menangis dalam diamku. Kesadaranku hilang timbul. Merasakan ketidakberdayaan. Semua ingatan tiba-tiba terlintas begitu saja. Kenangan bersama orang-orang terdekatku begitu menyayat hati yang sedang merindukan mereka.
Aku sudah tidak sanggup menahan rasa ini yang sungguh menyiksa. Aku rindu mereka yang sedang menunggu kepulanganku dengan sehat dan juga selamat. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa karena tidak bisa menepati perkataanku yang akan pulang seperti yang mereka inginkan.
Tuhan… Jika memang aku akan berakhir dengan seperti ini, beri aku kesempatan untuk menatap orang-orang yang menyayangiku untuk terakhir kalinya. Aku hanya ingin memastikan bahwa mereka akan selalu baik-baik saja saat aku meninggalkan mereka.
Suara mereka mulai samar di telingaku bahkan hampir tidak terdengar dan semuanya menjadi gelap.