Tak mudah untuk membangun rasa Cinta di hati yang penuh luka. Maka jangan pernah memaksanya.
Tak mudah bagi untuk menyembuhkan seseorang yang pernah mengalami kegagalan dalam rumah tangganya, termasuk Mia. Namun, besarnya cinta sang suami membuatnya berusaha untuk bisa keluar dari bayang masalalunya.
Mia juga tak habis pikir, kenapa hatinya masih sangat mencintai Reza, sang mantan suami padahal lelaki itu yang sudah menggoreskan luka yang hingga detik ini masih saja menganga. Tapi ia berjanji dalam hati, akan berusaha mencintai suaminya.
Selama tiga bulan ini ia benar-benar memulai kembali hidup barunya bersama David. Selama itu juga tak sekalipun David memaksakan kehendaknya. Bahkan sampai detik ini mereka belum menikmati waktu berdua saja, apalagi honeymoon.
Namun, tanpa sepengetahuan Mia, David merencanakan acara bulan madu nereka dengan putri kecilnya, Salsa. Hari ini tepat empat bulan hari pernikahannya. Sebuah rencana pun siap di laksanakan oleh ayah dan anak itu.
Bali menjadi lokasi yang David pilih sebagai tujuan bulan madunya. Karena David mempunyai beberapa properti di sana. Sebelum berangkat David sudah mengurus semua hal-hal yang menyangkut acara bulan madunya dengan Mia.
Malam hari sebelum keberangkatan kedua orang tuanya, Salsa meminta di atarkan ke rumah nenek dengan alasan kangen.
"Ma boleh ya Salsa menginap di rumah Nenek?" rengek Salsa.
"Iya boleh." Mia yang tak mengetahui akan rencana itu mengiyakan permintaan putrinya.
Salsa bersorak karena Mia sudah masuk ke dalam rencananya. David segera mengantar Salsa ke rumah mertuanya dengan senang hati.
"Anak pintar," puji David pada Salsa.
"Anak siapa dulu dong?" jawab Salsa dengan gaya lucunya.
"Anak siapa?" goda David.
"Anak Mama dan Papa tampan dong," jawab Salsa lagi dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Tak lama mereka pun tiba di rumah orang tua Mia. Dengan senang hati mereka segera membawa Salsa masuk .
"Papa tampan, semoga sukses!" teriak Salsa sebelum mobil David meninggalkan halaman rumah orang tua Mia.
David hanya memberi jempolnya sembari tersenyum, dan segera melajukan mobilnya. Sesampainya di rumah, David segera ke dapur untuk membuat s**u hangat. Ia berjalan santai menuju kamarnya untuk menemui sang istri yang belum tidur, David memberikan segelas s**u hangat yang sudah ia campur dengan obat tidur.
"Malam, Sayang minumlah agar tidurmu nyenyak."
Mia menerimanya dan segera menghabiskan s**u hangat itu. David beranjak kembali ke dapur untuk menyimpan gelas kosong itu. Sesampainya di kamar Mia sudah terlelap, obat tidur itu sudah bereaksi. David tersenyum puas, rencananya kali ini tidak gagal.
Tengah malam David tampak sibuk menata keperluan mereka yang hanya seberapa, selebihnya sudah siap di sana. Dengan perlahan David menggendong tubuh Mia memasuki mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Supir pun melajukan mobil saat David memberi isyarat.
Mia sama sekali tak membuka matanya. Pengaruh obat itu membuat ia tertidur dengan nyenyak. Bahkan saat David kembali menggendongnya menuju pesawat pribadinya, Mia masih setia di alam bawah sadarnya. David mendekap wanitanya dengan penuh kasih sayang selama di perjalanan.
°°°°
Langit malam pun mulai berganti dengan langit pagi yang begitu cerah. Di atas ranjang, kedua pasangan suami istri itu masih terlelap. Mia membuka matanya, sedikit mengeliat untuk merenggangkan tubuhnya. Namun, ia menghentikan gerakannya saat melihat suasana sekitar yang asing baginya. Ia pun berpikir keras apa yang terjadi semalam, dan di mana ia saat ini?
Jantungnya semakin bedetak begitu cepat, saat melihat seorang lelaki tanpa mengenakan pakaian, tidur terlungkup di sampingnya. Ia sama sekali tak berpikir jika itu David, karena begitu terkejutnya saat ia membuka mata sudah tak berada di kamarnya.
Mia segera turun dari ranjang, ia terlihat mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri. Mia keluar dari kamar menuju dapur, ia pun mengambil botol minuman yang berada di meja makan. Dengan sangat keras botol itu di pukulkan ke meja untuk memecahkannya dan di jadikan alat perlindungannya.
David langsung membuka mata saat mendengar suara botol yang di pecahkan Mia. Ia berbalik badan, tetapi tak menemukan istrinya. David pun berjalan mencari Mia ke seluruh ruangan. Langkahnya terhenti saat melihat sang istri berada di dapur. David yang tidak mengetahui jika Mia sedang ketakutan langsung memeluknya dari belakang.
Mia yang terkejut sontak melepaskan pelukan lelaki di belakangnya. Tubuh David sampai terpental karena dorongan Mia yang begitu keras.
"Jangan mendekat!" teriak Mia dengan wajah penuh ketakutan.
"Sayang ... kau kenapa?" David masih tak mengetahui ketakutan Mia. Ia malah semakin mendekat.
"Berhenti! Jangan mendekat, atau kau akan tahu akibatnya!" bentaknya lagi sambil menodongkan pecahan botol di tangannya.
David menggaruk kepalnya, ia bingung kenapa Mia bersikap seperti itu? Dan saat ia tak sengaja mengusap wajahnya, ia merasakan ada yang menempel di wajahnya. Ia pun teringat kejadian semalam. Ia ketiduran saat merokok, sehingga rokok yang ada di tangannya jatuh mengenai wajahnya. Sialnya ia lupa membawa salep luka bakar, dan untuk mengantisipasi agar kulit wajahnya tak terbakar ia berlari ke kamar mandi dan mengoleskan pasta gigi ke wajahnya. Seperti yang di ajarkan Mia jika dalam keadaan darurat.
Namun, dasar lelaki ia mengoleskan pasta gigi itu terlalu banyak. Padahal luka bakar itu sangat kecil, setelah mengoleskannya ia langsung tiduran di samping Mia. Niatnya ia akan membasuh muka, tetapi apalah daya matanya sudah tak bisa menahan kantuk yang melanda. David pun tertidur dalam keadaan wajah yang tertutup pasta gigi hampir di sebagian wajahnya. Jadi pantas saja Mia tak mengenalinya dan begitu ketakutan.
"Sayang ... ini aku David. Baik akan ku basuh wajahku dulu," ucap David sambil berlari menuju wastafel.
David mendekati Mia saat wajahnya sudah kembali bersih. Ia memamerkan deretan gigi putihnya. Mia menghela nafas panjang saat mengenali lelaki yang ia takuti sedari tadi. Tangisnya pun pecah saat David mendekap tubuhnya.
"Maaf, aku membuatmu takut," ucap David sambil mencium puncak kepala Mia.
"Kau hampir membuatku terkena serangan jantung, Mas," ucap Mia yang masih terisak.
"Maaf, tadinya aku mau memberimu kejutan yang romantis. Tapi ... malah menjadi kejutan yang buruk untukmu. Maaf, Sayang." David masih mencoba menenangkan istrinya.
David menggendong Mia kembali ke ranjang. Ia menghapus jejak air mata istrinya dengan sangat lembut.
"Kita ada di mana?" tanya Mia.
"Bali."
"Apa! Bali?" Mia begitu terkejut saat mengetahui sekarang mereka berada di Bali.
"Iya, sekarang kita sedang berbulan madu," jelas David dengan wajah mesumnya.
"Lalu, Salsa?"
"Dia di rumah Ibumu. Dan kau tahu? Ini adalah rencananya juga," beritahu David.
Mia tersenyum saat mendengar penjelasan David. Ketakutannya pun menghilang seketika. Ia pun berpikir mungkin ini adalah saatnya ia memang harus mengubur semua kenangan terindah bersama Reza di hidupnya. Karena masa depannya kini sudah berada di hadapannya.
David ikut tersenyum melihat senyum istrinya. Perlahan ia pun mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya. Ini sangat di luar rencananya, David melepas kancing piyama yang di kenakan Mia satu per satu tanpa melepas pangutannya. Piyama itu pun dalam sekejap sudah tergeletak di lantai, dengan penuh kelembutan David menjelajahi surga dunianya. Pagi itu pun menjadi pagi terindah di bulan madu mereka.
°°°°
Selama di sana David mengajak Mia mengelilingi pulau Bali, pulau yang terkenal dengan keindahannya. Mia benar-benar di manjakan oleh sang suami. Seperti sore ini di hari terakhir mereka di Bali, David mengajak Mia ke pantai Kuta menyaksikan sunset.
"Apa kau suka?" David memeluk Mia dari belakang.
"Sangat, ini indah sekali," Mia tampak begitu takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannnya.
David tersenyum melihat wajah polos sang istri yang begitu bahagia. Cintanya pun semakin besar pada Mia. Keduanya terlihat menikmati sore mereka yang begitu romantis. Itu sangat wajar bukan, perkenalan mereka yang sangat singkat dan langsung menuju ke jenjang pernikahan. Membuat mereka tak pernah melewati hal yang romantis. Jadi bagi mereka hal sekecil apapun itu adalah hal yang romantis.
Empat hari di Bali masih kurang untuk David, tetapi Mia menolak jika harus berlama-lama jauh dari putrinya. Mau tak mau David mengalah, ia juga sudah merindukan putri pintarnya itu. Malam ini juga mereka terbang kembali ke Jakarta.
Bersambung....