Pukul 09.00 WIB, ruang rapat utama Pesona Cakrawala sudah penuh seperti hati mantan yang belum move on. Kopi baru saja diseduh, aroma robustanya menenangkan, tapi suasana rapat justru terasa seperti bom waktu: tinggal tunggu siapa duluan yang meledak.
Di ujung meja, duduk Sheila Rosalina—sang dewi keuangan, berkulit putih mulus, tinggi semampai, wajahnya tenang seperti saldo rekening yang stabil. Excel adalah bahasa cintanya, dan laporan keuangan adalah kitab sucinya. Ia duduk dengan postur tegak, mengenakan blazer abu-abu dan tatapan tajam seperti grafik inflasi yang menanjak.
Di seberangnya, dengan senyum setengah nakal dan dasi sedikit miring seperti niat kerjanya hari ini, duduk Glendy Perdana. Posturnya menjulang, keturunan Indonesia-Jerman-Tionghoa, rambut rapi berkilau seolah ada sponsor pomade. Kepala Divisi Marketing yang ide-idenya selalu bikin jantung divisi Keuangan berdebar—bukan karena cinta, tapi karena biaya.
"Baik," Sheila memulai, suaranya tenang namun menggigit. “Saya ingin membahas lonjakan anggaran bulan ini. Tercatat naik 70% dari bulan sebelumnya. Dan... ya, tentu saja, sumber utamanya dari divisi marketing.”
Ia melirik Glendy dengan tatapan yang tidak menusuk, tapi cukup untuk membuat seseorang menyesal beli kopi mahal tanpa promo.
Glendy membalas dengan senyum penuh percaya diri. “Itu dari campaign ‘Meledak Bersama Merek Kita’. Konsepnya memang... agak eksplosif.”
Sheila menyipitkan mata. “Saya kira itu metafora. Ternyata budget-nya juga ikut meledak seperti petasan tahun baru.”
Beberapa rekan rapat menahan tawa. Bahkan Bram dari divisi HRD sempat menyemburkan kopi ke arah notulen.
Glendy menyandarkan tubuhnya ke kursi, berlagak santai. “Begini, Mbak Sheila—boleh saya panggil Mbak?”
Sheila mengangguk pelan. “Silakan, Mas. Asal jangan panggil saya ‘Mbak Sayang’ di nota pengeluaran.”
Tawa kembali pecah.
Glendy terkekeh. “Sip. Jadi, campaign ini rencananya mencakup video cinematic, iklan di media sosial, kolaborasi influencer, dan... ya, sewa helikopter.”
Sheila membeku. Kepalanya menoleh perlahan, seperti protagonis drama Korea yang baru tahu tunangannya ternyata alien. “Helikopter, Mas? Ini kita launching produk perawatan wajah, bukan nyelamatin pahlawan super.”
Glendy nyengir. “Justru itu, biar launching-nya memorable! Nanti helikopternya dropping banner raksasa di atas kota. Biar orang-orang bilang, ‘Wah, skincare-nya niat banget!’”
Sheila menutup laptopnya dengan gerakan pelan. Seperti menutup pintu hati pada ide-ide yang tidak logis. “Mas Glendy, kita ini bukan Marvel Studios. Kita cuma mau bilang: ‘Kulit sehat mulai dari sini.’ Bukan ‘Kulit sehat dari ketinggian seribu kaki.’”
Glendy menangkupkan tangan seperti berdoa. “Tapi bayangin deh, Sheila... langit malam, lampu kota, banner melambai... dan kemudian—”
“—dan kemudian saya dapat surat cinta dari atasan karena overbudget,” potong Sheila cepat.
“Yah, surat cinta itu bisa bermacam bentuknya.”
Sheila menghela napas. “Mas, saya kerja pakai logika, bukan logika sinetron. Yang keluarin dana ya saya, bukan dari kamu.”
Tawa makin riuh. Cindy dari tim Operasional mulai mencatat "Quote of the Day" di Slack kantor.
Glendy mengangkat alis. “Oke. Gimana kalau campaign-nya kita downgrade dikit. Nggak usah helikopter, cukup pakai... drone?”
Sheila berpikir sejenak. “Asal bukan drone ukuran kulkas yang bisa bawa billboard, mungkin bisa dipertimbangkan.”
Glendy langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya bersinar seperti anak kecil habis dibelikan es krim. “Setuju! Drone kecil, video sinematik, dan... kalau bisa, kamu juga muncul di video.”
Sheila terdiam. Matanya menatap Glendy dengan ekspresi “kamu-serius-atau-lagi-ngigau”.
“Kenapa saya?” tanyanya datar.
“Karena kamu simbol kestabilan. Dan wajah kamu... ya ampun, putih banget. Cocok jadi testimoni ‘kulit glowing karena disiplin budgeting.’”
Sheila hampir tersedak napas sendiri. “Mas, saya ini akuntan. Bukan bintang iklan.”
Glendy tersenyum. “Tapi kamu bintang di neraca pengeluaran saya.”
Seluruh ruangan kompak bersuara: “Eaaaa!”
Sheila meraih berkasnya, berdiri dengan anggun. “Mas Glendy, saya tunggu revisi proposal dalam bentuk logis dan dalam batas wajar. Kalau nggak... saya usulkan kampanye ganti nama produk kita jadi ‘Skincare Penyesalan’.”
Saat Sheila melangkah keluar ruangan, Glendy memandangi punggungnya. Tatapannya dalam, seperti sedang mengalkulasi perasaan yang tak bisa dimasukkan ke dalam spreadsheet.
Ia bergumam pelan, nyaris tak terdengar:
“Galak sih... tapi ya, cakepnya tuh kayak inflasi. Nggak bisa dilawan.”