Pagi ini diawali dengan laporan Quartal, yang berarti pengawasan perkembangan Deluna sedang sangat diawasi.
Luna sangat sibuk diruangannya sampai didengarnya pintu diketuk.
"Kamu sibuk? Boleh Papa masuk?" Membeku sejenak, Deluna menganggukan kepala. Herman Herlambang pemilik perusahaan yang saat ini sedang Luna pimpin.
"Papa mau minum apa?" Tawar Luna pada Papa nya.
"Tidak perlu, Papa tidak lama. Papa cuma mau minta kamu pulang malam ini! Kita akan kedatangan tamu dan banyak yang akan Papa bahas malam ini di rumah." Jelas Papanya
"Tamu siapa Pa?" Tanya Luna semakin penasaran.
"Pastikan kamu pulang dan berdandan dengan baik malam ini. Papa tunggu di rumah." Setelah mengatakan niatnya Herman langsung meninggalkan ruangan putri sulungnya.
Perasaan tidak enak langsung menghinggapi hati Luna. Setahun ini Papanya gencar menanyakan perihal pasangan hidup untuknya. Tidak sekali Papanya mengenalkan beberapa kenalan dan anak temannya untuk lebih dekat dengan Luna. Tapi tidak pernah membahas lebih jauh tentang hubungan asmaranya ataupun menjurus masalah perjodohan. Tapi kedatangan Papanya pagi ini ke kantornya jelas berbeda. Bahkan untuk menyuruhnya pulang untuk makan malam, Herman bisa menghubunginya via telephone atau pesan.
Tidak ingin berlarut-larut dengan pemikirannya, Luna melanjutkan pekerjaannya karena lusa adalah rapat pemegang saham sekaligus meeting perihal deviden tahun ini.
Senja sudah beranjak ketika Luna terburu-buru pulang ke apartemen untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Teringat pesan Papanya untuk berdandan, Luna memakai gaun yang indah namun sopan. Setelah selesai berdandan dan merapihkan tatanan rambutnya, dia bergegas pergi ke rumah orangtuanya.
Mobil Luna sampai di kediaman orang tuanya yang berdiri mewah, nampak 2 mobil asing terparkir di halaman. Luna yakin tamu yang Papanya maksud sudah sampai. Mencoba untuk tenang, Luna mulai memasuki pintu rumahnya. Terdengar suara obrolan di ruang tengah, Luna yakin tamunya lebih dari 1 orang.
"Nah yang ditunggu sudah sampai" Seru Herman ceria menyambut putrinya.
"Ma.. malam semua" Suara Luna tecekat melihat tamu yang datang. Sargam duduk di sofa dengan senyum merekahnya. Di sampingnya Mama dan Papanya pun menunjukkan ekspresi yang sama. Berusaha menguasai diri Luna beranjak menghampiri dan menyalami orang tua dan
orang tua Sargam.
"Apa kabar Luna? Tante kangen ama kamu Nak." Kata Mama Sargam lembut.
"Baik Tante." Aku hanya menjawab singkat.
"Ayo, kita makan dulu. Nanti lanjut ngobrol-ngobrolnya." Sahut Mamaku antusias sambil mengantarkan tamu ke ruang makan.
Aku hanya benar-benar makan dalam diam, dan hanya sesekali menanggapi pertanyaan-pertanyaan ringan disela-sela makan. Mereka berbincang dengan antusias, entah tentang bisnis atau pertanyaan-pertanyaan lainnya. Aku bukan tidak peka dengan senyum Sargam yang penuh arti. Semenjak pertemuan kami di depan loby hotel aku tidak pernah bertemu dengannya, lalu tiba-tiba dia datang beserta orang tuanya. Aku yakin ada tujuan makan malam ini.
"Luna, Om dan tante. Kedatangan saya dan orang tua saya kemari dengan maksud melamar Luna untuk jadi istri saya. Sesuai obrolan kita beberapa hari lalu Om, saya benar-benar serius meminang Luna." Seperti petik kata-kata Sargam seakan meluluh lantakan bentengku.
"Maksudnya apa Gam? Menikah? Sama kamu?" Tanyaku sarkas dengan sedikit senyum meremehkan. Oh, aku sudah mengerti arah acara malam ini. Tapi tidak, aku bukan anak remaja labil lagi yang akan jatuh pada pesona Sargam. Dulu mungkin duniaku hanya dipenuhi dia. Tapi tidak dengan sekarang.
"Iya, Lun. Sargam sudah datangi Papa ke kantor berapa hari lalu dan bicara tentang niat dan hubungan kalian. Papa senang akhirnya kalian akan menikah setelah berhubungan bertahun-tahun." Terang Papaku. Aku tersentak kaget, hubungan bertahun-tahun?
"Maaf Pa, maaf Om dan Tante. Saya tidak menerima pinangan Sargam. Seharusnya ini bisa dibicarakan terlebih dulu dengan saya. Tapi sepertinya pendapat dan perasaan saya tidak dianggap disini. Dan ada yang perlu diluruskan disini. Saya dan Sargam sudah tidak ada hubungan dari 5 tahun lalu. Jadi sepertinya tidak mungkin kami menikah." Terangku berapi-api.
"Kita tidak pernah putus Lun, kamu harus ingat itu. Aku janji sama kamu, aku pasti akan datang buat melamar kamu suatu hari nanti. Dan ini saatnya, aku datang melamar kamu." Suara Sargam meninggi.
"Maaf Bapak Sargam yang terhormat, saya kira hubungan kita sudah berakhir lama. Jadi sejak saat itu janji-janji anda sudah berakhir juga. Saya harap anda mengerti yang saya sampaikan. Mohon maaf ketidak sopanan saya Om dan Tante. Saya permisi." Tanpa menoleh kembali kearah Mama dan Papa yang sejak awal bungkam aku langsung berlari keluar rumah. Aku mengindahkan teriakan panggilan mereka. Aku sudah muak. Aku melajukan kendaaranku dengan cepat tak perduli Sargam yang mengejarku. Picik sekali dia, dengan mudah membuangku layaknya sampah lalu dia kembali semaunya. Tidak, aku tidak biarkan dia semena-mena kembali padaku.