Pagi itu Kiran terbangun dengan bunyi roda troli di lorong. Tubuhnya masih lemas, tetapi rasa nyeri yang semalam membuatnya panik sudah mereda. Ia mengingat percakapan dengan Prima dan keputusannya untuk mendengar penjelasan lebih lanjut. Belum ada keputusan tindakan. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan pikirannya berhenti pada kata belum, bukan tidak akan pernah.
Banyu muncul membawa pakaian bersih dari kost. Ia meletakkannya di kursi dan bertanya apakah Kiran ingin ditemani saat menemui Prima. Kiran mengangguk. Banyu tidak menanyakan apa yang akan dipilihnya. Ia hanya memastikan ponsel Kiran terisi dan barang-barang penting disimpan.
Sebelum Prima datang, Rio mengirim pesan melalui perawat, menanyakan apakah Kiran mengizinkannya masuk. Kiran membaca pesan itu dua kali. Ia menjawab boleh, tetapi ia ingin berbicara dengan Prima lebih dulu. Rio mengirim balasan singkat: baik, aku tunggu.
Ketika Prima tiba, Kiran menyampaikan kekhawatirannya tentang masa pemulihan, pekerjaan dan biaya. Prima menjawab satu per satu, membedakan apa yang sudah diketahui dan apa yang belum dapat dipastikan. Kiran tidak meminta jaminan. Ia ingin tahu siapa yang akan menghubunginya untuk urusan praktis dan bagaimana ia bisa menyatakan persetujuan atau menolak.
"Keputusanmu harus jelas dan tidak dipengaruhi hubunganmu dengan Rio," ujar Prima. "Kamu boleh meminta pendamping yang kamu percaya."
Kiran meminta Banyu berada di sampingnya saat konsultasi berikutnya. Ia juga mengizinkan Rio mendengar penjelasan, tetapi tidak menjadikannya pengambil keputusan. Prima mencatat pilihan itu.
***
Setelah konsultasi, Rio masuk. Ia tidak membawa hasil pemeriksaan atau membuka berkas tanpa permintaan. Ia bertanya apa yang boleh ia lakukan. Kiran berkata ia ingin ia membantu menghubungi pemilik kost soal pintu yang rusak dan menyimpan beberapa barang di restoran Banyu. Rio menyanggupi.
"Jangan mengurus biaya tanpa tanya aku dulu," kata Kiran.
"Aku tidak akan."
"Dan jangan bilang kamu pasti bisa menyembuhkan aku."
Rio menelan ludah. "Aku tidak tahu hasilnya. Aku akan tetap berharap, tapi aku tidak akan menjanjikan sesuatu yang tak bisa kupastikan."
Kiran melihat ia berusaha menjaga kata-katanya. "Aku butuh kamu jujur, bahkan kalau jawabannya menakutkan."
"Aku akan jujur."
Di luar kamar, Rio bicara dengan Banyu tentang pintu kost dan barang-barang Kiran. Banyu menjelaskan ia telah menghubungi pemilik rumah, tetapi belum berani masuk mengambil barang tanpa izin Kiran. Rio berterima kasih karena Banyu memikirkan privasinya. Banyu hanya berkata, "Dia yang harus memutuskan."
Kiran melihat mereka berbicara dari celah pintu. Ia belum siap berdamai dengan semua yang terjadi di antara kedua lelaki itu, tetapi setidaknya mereka tidak lagi menjadikan dirinya alasan untuk saling menuduh. Pagi tersebut tidak menyelesaikan penyakitnya atau hubungan mereka. Namun Kiran mulai merasakan bahwa bantuan bisa diatur dengan batas yang ia tentukan sendiri.
Kiran juga menanyakan apakah ia dapat meminta salinan penjelasan yang diberikan Prima. Prima mengatakan informasi itu bisa dicatat dan disampaikan kepadanya melalui jalur rumah sakit. Kiran meminta Banyu membantunya menyimpan catatan, bukan menafsirkannya. Banyu setuju. Ia akan menulis pertanyaan dan jawaban sesuai kata-kata dokter.
Rio melihat daftar itu saat Kiran mengizinkan ia masuk. Ia bertanya apakah ada bagian yang ingin ia bantu jelaskan. Kiran menjawab ia ingin penjelasan dari tim yang bertanggung jawab, bukan interpretasi Rio sebagai mantan pasangan. Rio menerima tanpa menunjukkan rasa tersinggung.
"Kalau begitu aku bisa bantu urusan praktis saja," katanya.
Kiran meminta Rio menghubungi pemilik kost untuk memastikan pintu yang rusak diperbaiki sebelum ia pulang. Ia juga meminta agar biaya perbaikan tidak dibayar diam-diam. Rio menghubungi pemilik rumah dan menjelaskan ia hanya akan mengatur jadwal tukang. Kiran menyimak percakapan dari sisi ranjang dan menyetujui.
***
Sore hari Kiran berbicara dengan Banyu tentang kerja. Ia khawatir rekan-rekan menganggap ia meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Banyu berkata ia sudah mengirim pesan sesuai kata-katanya dan tidak ada yang menuntut jawaban. Kiran meminta melihat pesan itu. Banyu menyerahkan ponselnya dan menunggu sampai Kiran selesai membaca.
Kiran kemudian menambahkan satu kalimat bahwa ia akan mengabari bila sudah siap. Banyu mengirimnya hanya setelah Kiran menyetujui.
Rio datang menjelang malam dan menanyakan apakah ia ingin ditemani. Kiran menjawab ia ingin mendengar kabar tentang restoran, bukan tentang rumah sakit. Rio menceritakan Fahri mengatur stok dan Banyu mengeluh ada pelanggan yang selalu memesan tepat saat dapur hendak tutup.
Kiran tersenyum. Ia meminta Rio menyampaikan terima kasih kepada Fahri karena menutup jadwalnya. Ia tidak tahu kapan bisa kembali, tetapi tidak ingin orang lain merasa ia melupakan mereka.
Rio tidak berkata bahwa Kiran pasti akan kembali. Ia mengatakan ia akan menyampaikan pesannya persis.
Malam itu Kiran meminta Rio pulang setelah satu jam. Rio berdiri dan pergi tanpa membuatnya merasa bersalah. Ia berhenti di lorong untuk mengirim pesan bahwa ia sudah keluar dan akan menunggu kabar jika Kiran memerlukannya. Kiran melihat pesan itu, lalu menaruh ponsel.
Ia masih takut menghadapi hari berikutnya. Namun ia mulai mengatur bantuan dengan cara yang membuat hidupnya tetap miliknya.
Sebelum tidur, Kiran meminta Banyu memastikan perawat mengetahui ia ingin diberi tahu sebelum seseorang masuk. Banyu menyampaikan permintaan itu dan petugas mengonfirmasi. Kiran merasa lebih tenang karena ia tidak perlu mengulang batas yang sama kepada setiap orang.
Rio mengirim pesan singkat bahwa ia sudah pulang sesuai permintaan. Kiran tidak membalas, dan Rio tidak mengirim pesan lagi. Perhatian itu terasa berbeda karena tidak meminta jawaban sebagai bukti bahwa Kiran menghargainya.
Kiran meminta perawat menjelaskan ulang cara meminta bantuan jika nyeri kembali. Ia ingin tahu siapa yang akan datang dan bagaimana ia dapat memberi tahu bila obat atau suasana ruangan membuatnya tidak nyaman. Perawat menjawab dengan tenang dan mencatat permintaan tersebut.
***
Rio menunggu di luar sampai Kiran memanggil. Ia bertanya apakah ada hal praktis yang bisa dilakukan. Kiran meminta ia menyampaikan pada pemilik kost bahwa ia akan menghubungi sendiri setelah keluar. Rio tidak mengambil alih panggilan itu.
Kiran menyimpan nomor pemilik rumah di ponsel. Ia ingin tetap mengurus tempat tinggalnya sendiri ketika sudah mampu. Rio berkata ia akan membantu bila diminta, tetapi tidak akan menghubungi siapa pun tanpa izin.
Sebelum Rio pergi, Kiran berkata ia merasa sedikit lebih aman karena dapat menentukan siapa yang tahu dan siapa yang hadir. Rio menjawab ia akan terus menghormati itu. Ia pulang setelah Kiran mengizinkan, tanpa menunggu di depan pintu.
=