Hari keenam dimulai dengan langit masih gelap. Kiran meminta perawat menghubungi Banyu dan memastikan Bella sudah tiba sebelum ia dibawa. Ia tidak ingin banyak orang berkumpul, tetapi ia ingin melihat wajah mereka. Rio datang setelah mendapat izin melalui perawat.
"Aku masih setuju," kata Kiran, menjawab pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya. "Aku takut, tapi aku tahu kenapa aku memilih ini."
Rio duduk di sisi ranjang. "Aku dengar."
Ia tidak berjanji Kiran akan pulih atau ia akan menyelamatkannya. Ia hanya bertanya apakah Kiran ingin tangannya digenggam. Kiran mengangguk. Banyu dan Bella berdiri di sisi lain, memberi ruang.
Tim datang untuk membawa Kiran. Prima memastikan persetujuan masih berlaku dan menjelaskan bahwa mereka akan memperbarui informasi kepada pendamping melalui jalur yang disepakati. Kiran menjawab bahwa ia mengerti. Ia sempat melihat Rio, yang berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
"Jangan menyalahkan dirimu kalau aku takut," kata Kiran.
"Aku tidak akan."
Sebelum pintu tertutup, Kiran mengucapkan terima kasih kepada Banyu dan Bella. Ia tidak sempat mengatakan banyak hal. Ia tidak perlu mengucapkan perpisahan atau membuat janji. Penanganan yang ia pilih akan dimulai, dan ia mempercayakan dirinya kepada tim yang bertanggung jawab.
***
Rio tidak ikut masuk. Prima menjelaskan sejak awal bahwa ia tidak akan terlibat dalam tindakan langsung karena kedekatan emosional dan posisinya sebagai direktur. Rio menerima pengaturan itu. Ia pergi ke ruang tunggu bersama Banyu dan Bella.
Waktu berjalan panjang. Tidak ada yang memiliki informasi di luar pembaruan yang disetujui. Rio berdiri dan berjalan beberapa langkah, lalu kembali duduk. Banyu menawarinya air. Ia menerimanya dengan ucapan terima kasih.
"Kalau lo butuh marah, jangan ke gue," kata Banyu tanpa menatapnya.
"Gue enggak marah sama lo."
"Lo marah sama keadaan. Tapi jangan cari orang buat disalahin."
Rio mengangguk. Ia menyadari setiap bagian dirinya ingin melakukan sesuatu—meminta kabar, bertanya pada tim, menggunakan jabatan untuk mempercepat informasi. Ia memilih menahan diri dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Kiran.
Bella membuka ponselnya, tetapi tidak mampu fokus. Ia menutupnya lagi. Banyu mengatakan mereka tidak harus saling menghibur dengan kata-kata. Mereka boleh takut.
Beberapa waktu kemudian Prima keluar dan memberi kabar singkat bahwa tahap penanganan berjalan sesuai rencana sejauh ini. Ia tidak menjanjikan hasil akhir. Rio mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Ia tetap duduk, menunggu kabar berikutnya dengan rasa takut yang belum hilang.
Kiran meminta Banyu membacakan kembali daftar orang yang akan menerima informasi. Ia ingin memastikan tidak ada rekan kerja atau orang lain dihubungi tanpa izin. Banyu menyebut namanya, Bella, Prima, dan Rio dalam batas yang sudah disepakati. Kiran mengangguk. Ia juga meminta barangnya tidak dibawa pulang semuanya.
Rio berdiri di sisi ruangan dan mendengar. Ia tidak menawarkan diri menjadi kontak utama. Ia baru memahami bahwa berada paling dekat secara emosional tidak otomatis memberinya hak paling besar.
***
Sebelum tim membawa Kiran, seorang perawat bertanya apakah ia ingin keluarganya mendekat. Kiran memilih Banyu dan Bella. Rio tetap sedikit menjauh, tapi Kiran memanggilnya. Ia meminta Rio tinggal di rumah sakit, bukan untuk menjamin hasil, melainkan karena ia ingin melihatnya sebelum pintu tertutup.
Rio bertanya apakah boleh menyentuh tangannya. Kiran mengiyakan. Mereka tidak saling menjanjikan masa depan. Kiran hanya mengatakan ia ingin mencoba dan tidak ingin siapa pun menyebut keputusan tersebut sebagai kemenangan Rio.
"Aku tidak akan," jawab Rio.
Ketika ranjang mulai bergerak, Kiran melihat wajah-wajah yang ia pilih sendiri. Ia tidak harus tersenyum atau tampak berani. Ia boleh takut dan tetap menyetujui langkah yang dipilihnya.
***
Setelah pintu menutup, Rio tidak berjalan mengejar staf. Ia duduk bersama Banyu dan Bella. Ia mengatakan jika ada pembaruan, mereka akan menerima sesuai jalur resmi. Banyu mengangguk. Bella menatap kedua tangannya.
Rio menyadari ia terus ingin mengulang setiap kalimat Kiran, mencari tanda bahwa ia tidak akan kehilangan dirinya. Ia meminta Renaldy membantunya berhenti mengulang skenario di kepala. Renaldy mengajaknya menghitung benda yang terlihat di ruang tunggu dan merasakan kaki menapak lantai. Rio merasa canggung, tetapi mencoba.
"Aku enggak bisa mengendalikan ini," katanya.
"Benar. Lo bisa menjaga tindakan lo sendiri."
Rio menarik napas. Ia tidak menjadi lebih tenang sepenuhnya, tetapi berhasil duduk tanpa menuntut pembaruan.
Antoni tiba dan berkata rapat rumah sakit akan ditangani Rama. Rio tidak perlu mengurusnya. Rio ingin menolak, tetapi akhirnya menerima. Ia tahu Kiran meminta dirinya tidak menjadikan tubuhnya korban lain.
Pagi terus berjalan. Penanganan Kiran dimulai, sedangkan orang-orang di luar belajar menunggu tanpa menempatkan seluruh beban pada satu orang.
Sebelum pintu membawa Kiran menjauh, ia meminta perawat memastikan ia dapat melihat Banyu dan Bella sampai akhir lorong. Perawat mengatur posisi agar mereka tetap terlihat. Kiran memandang mereka dan mengangguk sekali.
Ia tidak meminta Rio berjanji akan menunggu selamanya. Ia meminta Rio makan dan pulang bila tubuhnya tidak kuat. Rio berkata ia akan mendengarkan.
***
Di ruang tunggu, Rio mencatat waktu pembaruan yang dijanjikan tim. Ia tidak menelepon Prima sebelum waktu itu. Banyu duduk di sampingnya dan mereka berbagi keheningan. Rio belajar bahwa menjaga janji pada Kiran berarti juga tidak menuntut informasi sebelum tersedia.
Kiran meminta Banyu mengingatkan tim agar tidak membagikan kabar kepada rekan kerja lain tanpa persetujuannya. Banyu berkata ia akan menyampaikan persis. Rio menambahkan ia juga tidak akan membagikan apa pun melalui jalur direktur.
***
Sebelum tim mulai, Kiran bertanya apakah ia boleh mengubah keputusan jika ada informasi baru. Prima menjawab ia dapat menyampaikan pertanyaan dan tim akan menjelaskan. Kiran mengangguk, lalu meminta waktu tanpa percakapan.
Keputusan itu tetap miliknya, bahkan ketika proses sudah dimulai.
Tim meminta Kiran menyebutkan namanya dan mengonfirmasi persetujuan. Ia menjawab pelan tetapi jelas. Setelah itu ia meminta agar Banyu tetap menerima pembaruan. Tim mencatat dan memastikan pendamping mengetahui cara menghubungi mereka.
Rio mendengar konfirmasi itu dari luar. Ia tidak masuk untuk menambahkan sesuatu. Ia menghormati bahwa persetujuan Kiran adalah hal yang harus datang dari Kiran sendiri.
=