Komen kuy gais ^^
Happy reading, ya!
~M E M O R I E S~
Dara tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba di saat ia berada ambang keputus-asaan. Hari di mana ia menemukan setitik harapan bak secercah cahaya paling terang yang ia temukan di tengah gulita yang mengurungnya selama ini. Seperti halnya menemukan sebuah keajaiban yang memberikan alasan kepadanya untuk tetap bertahan hidup. Hari ini pula entah sudah yang ke-berapa kali gadis itu mengucapkan kalimat syukur dalam hati. Jika saja Tuhan tak lagi baik padanya, mana mungkin Dara bisa menatap Ben lagi sedekat ini setelah kejadian kemarin.
Cewek yang kini sibuk membereskan barang-barang Ben itu, mengganti kardus susun menyedihkan yang digunakan Ben sebagai rak. Menata ulang pakaian Ben di sebuah lemari pakaian yang lebih layak, mengisi kulkas mini dalam ruangan tersebut dengan beberapa jenis buah, beberapa potong kue dan bahan makanan lain. Dan karena kebetulan di kosan Ben diperbolehkan untuk membawa kompor, Dara juga mengisi beberapa sayuran hijau di sana. Gadis itu tak bisa diam sejak masuk ke kamar Ben. Bahkan setelah Ben selesai mandi pun, Dara masih sibuk dengan aktivitas beres-beres.
Sedangkan di sofa kecil itu Ben duduk bersila menatap Dara. Cewek bertubuh kecil yang sangat keras kepala itu tak juga mendengarkannya. Padahal Ben sudah ketar-ketir jika mendadak Bu Denok datang dan memergokinya membawa seorang gadis masuk ke kamarnya.
"Gue bisa sendiri, Ra. Lo balik aja," kata Ben sekali lagi.
Tapi, Dara tak menggubris. Gadis itu meletakkan sepotong pakaian terakhir Ben yang ia lipat ke dalam lemari. Kemudian tersenyum senang menatap pekerjaannya yang telah selesai denggan rapi. Sedetik kemudian cewek itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan bergegas menghampiri Ben dan nasi bungkus yang masih menganggur di atas meja.
"Gue balik abis makan," kata Dara, "lo nggak liat gue udah kayak Mbak Kunti begini? Tega lo, kalau gue sampe teller di jalan gara-gara kelaparan?" Dara membuka sebungkus nasi sambil memberondongi Ben dengan tanya.
"Lagian gue juga belum tidur semaleman tau."
Cowok itu tak berkutik, Ben hanya menelan salivanya kasar menatap Dara dengan kebiasannya berbicara dengan sangat cepat.
"Nih." Sebungkus nasi yang sudah di buka itu disuguhkan oleh Dara tepat di depan Ben.
Kemudian gadis itu merebut nasi bungkus yang belum terbuka dari tangan Ben. Cowok itu terdiam selama beberapa saat melihat hal kecil yang Dara lakukan untuknya. Dadanya berdebar lagi tanpa alasan yang jelas. Dan debaran-debaran itu nyatanya merambat sampai menciptakan efek geli yang membuat Ben ikut tersenyum. Sama sepertinya senyum milik Dara.
Gadis paling senyum-able yang pernah Ben temui. Dalam segala kondisi bahkan setelah menangis tersedu sekalipun, Dara akan kembali menyuguhkan senyum kepadanya. Senyum yang seolah mengatakan bahwa 'Nggak ada kesedihan yang abadi.' yang seolah mengatakan kepada Ben bahwa semuanya akan membaik pada masanya. Sama seperti Dara yang tersenyum padanya di dalam mimpi yang membawanya kembali.
Sedetik terhanyut dalam lamunan itu, Dara bersiap menyuap nasi ke dalam mulut. Jika kebanyakan gadis di luar sana makan dengan sangat feminim, inilah Dara yang apa adanya di depan Ben. Sejak cewek itu makan bakso, bahkan cake di mall, juga hari ini di mana Ben mendapati Dara hendak makan tanpa menggunakan sendok.
Ben menahan tangan Dara yang belum sempat menyentuh ujung nasi padang. Sehingga tatapan bingung dilemparkan kepada Ben oleh cewek itu.
"Cuci tangan dulu."
Dara mematung, bibirnya membeo seperti orang bodoh menatap Ben yang rambutnya berantakan karena habis mandi tersebut. Entah kenapa, pesona Ben selalu berlipat-lipat saat cowok itu keluar dari kamar mandi. Wangi sabun, rambut berantakan yang basah, Dara jadi gemas. Gemas sampai ingin mencium cowok itu.
"Ra," panggil Ben menyadarkan lamunan Dara.
"Hh-Ha? Tangan gue bersih, ya." Meski sudah mengatakan kalimat itu, Ben tak juga meloloskan tangan Dara dari genggaman.
"Bersih dari mana? Lo abis beberes kayak gitu. Sana cuci tangan dulu." Ben dengan aura sialannya itu membuat Dara menelan ludah, cewek itu sebenarnya malas beranjak. Tapi kedua bola mata Ben seolah memberikan isyarat bahwa Dara harus bergegas pergi, sebelum ia semakin tak bisa menahan diri untuk tak mencium Ben detik itu juga.
"II-iya, iya." Meski sempat mendumel dengan wajah cemberut, tapi cewek itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Menatap langkah Dara yang bergegas ke kamar mandi Ben tersenyum tipis. Jika memang foto pengantin itu adalah dirinya bersama Dara, betapa lucu takdir yang sudah Tuhan gariskan. Ben tersentak pelan, mengingat perihal foto itu, gariskan ia menceritakan semua itu kepada Dara?
Tapi, sepulang dari rumah sakit kotak beserta isinya yang sempat membuat Ben syok itu sudah tidak ada ditempat. Bahkan yang tersisa hanya secarik foto dirinya yang mengenakan setelan jas hitam dan seorang gadis mungil yang ia peluk membelakangi kamera.
Jika dilihat-lihat dari postur tubuh, tinggi cewek itu sangat mirip dengan Dara.
"Wey, makan Om!" sentak Dara menyipratkan sisa air ke wajah Ben yang sontak membuat cowok itu tersadar dari lamunannya barusan.
"Makan. Mikir apa sih?" tanya Dara.
'Mungkin nggak sekarang, lain kali aja gue cerita sama Dara.' batin Ben.
"Ah, gue tau. Jangan-jangan sebenernya elo udah inget sama gue, tapi lo masih pura-pura lupa, ya?"
"Kalau gue beneran inget semuanya, buat apa pura-pura? Gue bahkan nggak tau gimana orang tua gue meninggal," kata Ben menatap nasi miliknya di atas meja.
Sejenak kemudian Dara mengulum bibir merasa bersalah atas ucapannya. Tapi, sungguh ia nggak bermaksud membuat Ben merasa buruk. Dara hanya ingin mencairkan suasana dengan candaan ringan, tapi justru kalimat yang ia ucapkan barusan membuat air muka Ben mendadak berubah.
"Maaf, bercanda gue kelewatan." Dara menyesal mengatakan hak tersebut. Sedangkan Ben yang menangkap reaksi tersebut mengangkat tangannya untuk meraih jemari Dara.
Cowok itu juga tak bermaksud untuk membuat Dara merasa bersalah. Karena sejujurnya selama ini pula Ben merasa kebingungan dengan hidupnya.
"Lo nggak salah. Cukup bantu gue buat nemuin apa yang udah hilang."
Rasanya sudah lama sekali sejak Ben bersikap manis seperti ini pada Dara. Cewek itu hampir saja meneteskan air mata haru merasakan tangannya digenggam oleh Ben.
"Nggak usah lo minta, gue pasti bantuin elo. Lo harus inget semuanya, semua tentang masa lalu lo yang pernah ilang," timpal Dara.
"Lo tau kalau ngadepin elo itu nggak gampang, 'kan? Jadi, hari ini gue nginep di sini gimana?"
Raut wajah Ben berubah seketika mendengar ucapan gila dari Dara. Bagaimana bisa ia bilang begitu di indekos. Sedangkan Bu Denok saja sering berpatroli dan tak segan-segan mengeluarkan denda pada mereka yang berani membantah. Tanpa menanggapi kalimat dari bibir Dara barusan Ben ikut menyuapkan nasi ke dalam mulut. Membiarkan Dara mencebik dan kembali makan setelah tak ditanggapi oleh Ben. Lagi pula sejak kemarin Ben juga sudah kelaparan, dan hari ini juga sepertinya Ben sudah sepenuhnya pulih. Nyatanya selera makan cowok itu sudah kembali seperti semula, ditambah melihat Dara yang makan dengan lahap di depannya seperti seorang yang sedang berlomba.
"Sandara?" panggil Ben pelan.
Sialannya, suara cowok itu selalu menjadi candu untuk Dara. Ditambah lagi cowok itu menyebut namanya secara lengkap dengan gamblang pula, adalah bagian paling favorit sepanjang hidup Dara. Gadis itu menatap Ben dengan mulut penuh makanan dan menghentikan kunyahannya. Keduanya saling tatap dengan jarak meja kecil sebagai penghalang dalam keheningan.
"Paan?" balas Dara malas karena Ben sama sekali tak menanggapi permintaannya untuk menginap di sana.
"Makasih, dan maaf buat semuanya, ya," kata Ben sebelum kemudian menutup kalimatnya dengan suguhan senyum manis.
Shitt!
Dara bahkan belum selesai makan, kenapa pula sudah di suguhi dessert lewat senyuman Ben yang sukses membuat hatinya meleleh. Memang untuk masalah yang satu ini, Ben paling juara menurut Dara.
~M E M O R I E S~
-Jhon Legend : All Of Me-
What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You've got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind?
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose, I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh-oh
How many times do I have to tell you?
Even when you're crying, you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing in my head for you
My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose, I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh-oh
Give me all of you, oh
Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose, I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you
I give you all of me
And you give me all of you, oh-oh
-B e r s a m b u n g-