Ben masih senantiasa menepuk punggung Dara dengan pelan. Mungkin saja sudah sejak setengah jam yang lalu cowok itu berada di posisi seperti ini. Setengah memeluk Dara yang belum sepenuhnya kembali dalam ingatan Ben. Meski pada awalnya ia merasa canggung dengan perlakuan Dara, tapi lama-kelamaan cowok itu mulai dapat mengatur detak jantungnya menjadi lebih tenang. Lagipula, selain Dara dan orang-orang yang kemarin menjenguknya, siapa lagi yang harus Ben percayai selain mereka?
Toh, Ben tak punya siapa-siapa lagi selain mereka. Jadi, tak ada salahnya jika ia mempercayai apa yang ia lihat dalam mimpinya meski semua itu masih samar. Terutama tentang pernikahannya dengan Dara yang masih kelabu di mata Ben. Tepukan pelan Ben berhenti, mengingat orang-orang yang kemarin mengunjunginya di rumah sakit. Ben teringat akan sosok Galang. Dokter Gito bahkan menyebutkan bahwa Galang yang membawanya ke rumah sakit. Galang pula lelaki yang membuat Dara tertawa dan memeluk gadis itu saat menangis.
Lantas, sebenarnya siapa Galang dalam kehidupan Dara? Atau siapa Galang dalam kehidupan Ben? Kenapa juga Galang mau menolongnya? Yah, katakanlah semua itu tentang rasa simpati atas sesama manusia, tetapi kenapa harus Galang?
"Heh! Nggak, enggak." ia bergumam sendirian. Mengusir segala prasangka buruk yang muncul secara dadakan dalam angannya.
Hanya saja, perasaan tak suka saat Ben melihat Galang tengah bersama Dara itu tak bisa Ben elak lagi. Jujur, sejujur-jujurnya. Ben tak menyukai tawa Dara yang tercipta selain karenanya. Ben tak meridhoi air mata Dara tumpah di pundak lelaki lain selain dirinya.
Tt-tapi, kenapa?
Tatapan Ben kini jatuh pada wajah Dara yang tenggelam dalam dekapan dadaaanya. Ben bahkan tak tau sejak kapan dadaaanya menjadi sering berdebar seperti ini saat berada di sebelah Dara. Bahkan hanya saat ia menatap wajah Dara yang terlihat begitu lelap dalam tidurnya.
"Mulai sekarang, jangan deket-deket lagi sama cowok itu, ya Ra. Gue nggak suka," bisik Ben pelan pada Dara yang masih memejamkan mata.
Tangannya kembali terulur menyelipkan rambut Dara ke belakang telinga. Ben yang tadinya merasa was-was karena Dara tak mau pulang, kini malah merasa nyaman karena tak lagi merasa kesepian meski nyatanya mereka sedang tak berada dalam keramaian.
"Emang kenapa?" cicit Dara dengan suara serak.
Khas seperti orang yang bangun tidur setelah menangis. Ben terkejut sontak tangannya menyentuh jidat Dara dan menjauhkan kepala gadis itu dari dadaaanya.
"Lo?" ucapan Ben menggantung menatap Dara yang matanya sembab dan berkantung. Ben sungguh nggak menyangka kalau Dara akan mendadak bersuara seperti ini. Jangan-jangan ... cewek itu mendengar semua yang baru saja ia katakan? Haiiis!
Gadis itu mengedipkan mata beberapa kali menatap reaksi aneh yang diciptakan oleh Ben. Lagipula, meskipun matanya terpejam Dara tak bisa benar-benar terlelap. Gila saja, sakit perut ini bahkan tak pernah membiarkan Dara merasa tenang. Bagaimana ceritanya ia akan tertidur pulas. Hanya saja, berada dalam pelukan Ben membuatnya merasa lebih nyaman. Gadis itu bahkan mendengarkan semua hal yang dikatakan Ben barusan.
"Apa?" ulang Dara mengingatkan Ben pada pertanyaannya yang belum terjawab.
Dahi Ben berkerut tak mengerti, "Apanya?"
Mengeram pelan sambil memutar bola mata malas, gadis itu kemudian menyingkirkan tangan Ben yang menahan kepalanya menjauh dari lelaki itu. Kemudian dengan gerakan cepat, gadis itu kembali maju ke depan mempersempit jarak di antara dirinya dan Ben. Bahkan kini keduanya saling berhadapan dalam posisi miring rebahan. Deru napas satu sama lain pun saling terdengar di masing-masing telinga mereka. Dara masih menatap Ben yang terlihat tak nyaman.
"Kenapa gue nggak boleh deket sama Galang?" tanya Dara lagi.
Namun, Ben bungkam. Ia menatap sepasang manik mata Dara kemudian menelan salivanya kasar.
'Cewek ini bener-bener, ya!'
Wajah Ben saat ini mungkin saja sudah memerah karena kelakuan Dara, tapi Ben juga tak kunjung menjawab pertanyaan Dara. Sedangkan gadis itu juga tak bisa menahan setitik kegembiraan mendengar kalimat yang sama setelah sekian tahyn lamanya dari Ben.
"Kenapa, Ben?" tanya Dara mendesak cowok itu untuk bicara.
Sehingga Dara sangat dengan sengaja mempersempit jarak mereka, kedua tangan Dara mencengkeram ujung hoodie milik Ben dan cowok masih berusaha menjauhkan wajahnya dari jangkauan Dara. Padahal saat ini jarak antara hidung Ben dan Dara hanya tinggal dua senti.
"Gue nggak ngomong apa-apa, nggak usah ngaco deh," balas Ben, "Jadi, nggak usah ngadi-ngadi!"
Pada akhirnya, Ben kembali meletakkan tangannya ke jidat Dara untuk menjauhkan wajah cewek itu darinya. Sebelum Ben khilaf dan melakukan hal yang iya-iya. Karena bagaimanapun juga, sealim-alimnya kucing pasti akan mengeong saat disuguhi ikan asin.
Begitulah lelaki.
Kini mereka berdua saling telentang di atas kasur yang tak besar milik Ben. Namun, hanya berselang beberapa detik Dara merubah posisinya menjadi menunggiiing dan mengganjal perut dengan bantal kepunyaan Ben. Gadis itu tak cemberut dan memilih menerima bahwa Ben tak ingin membalas ucapannya. Bagi Dara, tak masalah selagi Ben masih bisa sedekat ini dengannya.
"Dulu lo juga pernah bilang kayak gitu," kata Dara sangat pelan.
Nada penuh semangat membara dan berkobar ala Dara malam ini sepertinya sedang padam karena Dara sedang dalam mode alien. Tapi, nyatanya ucapan itu sukses membuat Ben menoleh padanya. Menatap tepat pada sepasang manik mata Dara cukup lama.
"Gue beneran pernah ngomong gitu?"
Dara mengangguk, "Jadi, dari dulu gue emang nggak suka sama cowok yang namanya Galang itu?"
"Emang sekarang lo nggak suka sama Galang?" Dara justru membalikkan pertanyaan Ben dengan kerutan tipis di dahi.
"Bukan nggak suka, lebih ke nggak respek aja, sih."
"Sama aja, Dodol!" kekeh Dara.
Hanya sekejap kemudian digantikan lagi dengan ringisan kecil. Kini sepasang mata Dara terpejam. Sementara Ben yang menyaksikan hal itu bergegas berdiri dari posisinya. Setelah mengutak-atik ponsel selama beberapa detik, cowok itu kembali membuka kulkas mini di sudut ruangan dekat sofa mini. Ben mengambil sekitar dua ruas jari jahe yang sudah dicuci bersih. Kemudian menyalakan kompor gas dan mengisi ya dengan satu gelas air galon. Ben memotong jahe tersebut tipis-tipis setelah itu memasukkannya ke dalam air yang setengah mendidih. Begitu air rebusan tinggal setengah nanti, Ben akan menyaringnya dan menambahkan sedikit madu. Cowok yang memang kebetulan menyukai ilmu kedokteran itu tau bahwa rebusan air jahe sangat bagus untuk meredakan nyeri haid ketimbang obat di apotik.
Meski ia menyukai dunia kedokteran, tapi Ben justru masuk ke jurusan lain. Dan saat ini, ia bahkan masih belum sepenuhnya yakin kenapa dulu tak memilih jurusan tersebut.
Dara yang masih menungiiing sambil menyaksikan Ben yang sibuk, tersenyum senang. Baginya hari ini adalah hari paling bersejarah yang tak akan pernah bisa Dara lupakan. Hari di mana ia bisa selangkah lebih dekat dengan Ben. Bahkan melihat cowok itu dengan jarak yang sangat dekat.
"Lo ngapain deh, Ben?" pertanyaan Dari Dara barusan membuat Ben menoleh ke belakang. Benar-benar jarak yang tak begitu jauh, hanya tinggal selangkah Ben kini sudah kembali duduk di depan Dara membawa segelas minuman jahe hangat.
"Bagun, Ra. Minum dulu, biar enakan perut lo."
Tak ada bantahan dari Dara, hanya saja hatinya merasa tersentuh mendapati perlakuan seperti ini dari Ben. Tentu saja setelah sekian lama. Gadis itu mendekat, air matanya jatuh sambil duduk di sebelah Ben. Kedua tangannya yang terbalut sweater over size itu mengusap matanya yang sudah basah. Dara benar-benar nggak suka dengan mood-nya sendiri saat berada dalam masa alien begini. Karena ia bisa mendadak menjadi orang yang sangat menyebalkan. Menangis tanpa sebab, marah tanpa sebab, tertawa tanpa sebab.
"Sakit banget, ya?" tanya Ben.
Ia masih memegangi mug putih berisi jahe hangat tersebut sedangkan Dara berusaha menyeruputnya perlahan. Cewek itu kemudian menggeleng pelan.
"Nggak tau. Gue tuh jadi aneh kalo lagi haid gini, Ben. Suka nangis nggak jelas, marah nggak jelas. Dan, sekarang rasanya gue pengen nangis, tapi nggak tau mau nangisin apaan," ucap Dara panjang lebar.
Meski sejujurnya ia tau hal apa yang membuatnya ingin menangis, tapi gadis itu tak ingin mengatakannya di depan Ben. Pelan-pelan, ia tak ingin terburu-buru dan membuat semuanya menjadi kacau kembali, sehingga ia sendiri yang akan terluka lagi.
Tanpa di sangka-sangka pula, detik itu juga Ben meletakkan mug di tangannya hingga berpindah ke lantai. Posisi yang aman agar tak tersenggol gerakan mereka berdua. Lantas, Ben menarik kepala Dara dan meletakkannya di bahu Ben. Membiarkan Dara menangis di sana serta dielus punggungnya. Mirip seperti anak kecil yang sedang di peluk oleh ayahnya.
"Nangis, aja Ra. Nangis semau lo asal jangan kenceng-kenceng," bisik Ben tepat ke telinga Dara.
Hanya saja Dara paling tak bisa lagi menahan air matanya saat Ben mengucapkan sebuah kalimat yang paling tak pernah Dara duga akan ia dengar secepat ini.
"Maaf udah bikin lo sedih. Maaf karena gue udah lupain semuanya."
Finaly, Dara menangis tersedu malam itu dipundak Ben. Benar-benar menumpahkan semua tangisnya di pundak cowok itu hingga hoodie yang dikenakan Ben basah bagian pundaknya. Tapi, Ben tak keberatan dengan hal itu. Cowok itu justru merasa lega, setidaknya bisa menenangkan Dara.
Setelah sekian lama menorehkan luka.
~M E M O R I E S~
-Ember Island : Umbrella-
You have my heart
We'll never be worlds apart
Maybe in magazines
But you'll still be my star
Baby, 'cause in the dark
You can't see shiny cars
And that's when you need me there
With you, I'll always share
Because
When the sun shine, we shine together
Told you I'll be here forever
Said I'll always be your friend
Took an oath, I'ma stick it out to the end
Now that it's raining more than ever
Know that we still have each other
You can stand under my umbrella
You can stand under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh
Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh
Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh
Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh, eh
These fancy things will never come in between
You're part of my entity, here for infinity
When the war has took its part
When the world has dealt its cards
If the hand is hard, together we'll mend your heart
Because
When the sun shine, we shine together
Told you I'll be here forever
Said I'll always be your friend
Took an oath, I'ma stick it out to the end
Now that it's raining more than ever
Know that we still have each other
You can stand under my umbrella
You can stand under my umbrella, ella, ella, eh
Under my umbrella, ella, ella, eh
You can stand under my umbrella, ella, ella, eh
Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh, eh, eh, eh
It's raining
Oh, baby, it's raining
You can always come here to me
Come here to me
It's raining
Oh, baby, it's raining
You can always come here to me
Come here to me
It's raining
Oh, baby, it's raining
You can always come here to me
Come here to me
It's raining
Oh, baby, it's raining
You can always come here to me
Come here to me
Kunti masih menatap lurus ke depan yang begitu luas. Matanya sedikit menyipit meski tak ketara karena tertutup sebagian rambut. Ia bahkan baru saja sadar bahwa lagu favoritnya yang selalu diputar di tempat ini, di jam yang sama telah usai dinyanyikan dan kini digantikan oleh lagu lain. Setelah kejadian di kafe barusan, Kunti menyeret Han untuk pergi dari depan Galang. Tapi, sebenarnya cewek itu tak memaksa Han untuk mengikutinya sampai ke sini.
Tepatnya di dekat sebuah pasar loak yang tak begitu ramai. Berada di tepi kota yang jauh dari keramaian. Di dekat pasar loak itu pula ada taman bermain yang sering dijadikan tempat wisata untuk anak-anak TK. Tapi, itu dulu ... sekarang tempat itu sudah sepi. Paling hanya satu atau dua orang yang datang ke sana untuk duduk menyendiri seperti Kunti.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya Kunti tak datang sendirian. Ia ditemani Han yang sejak tadi bungkam. Tapi, tak juga kunjung beranjak pergi meninggalkan Kunti sendiri.
Sehingga gadis itu menoleh menatap Han, yang tertangkap basah tentang menatap Kunti sedari tadi.
"Ada apa?" tanya Kunti seperti biasanya.
Tak ada nada yang sangat istimewa, ia selalu datar, dan hampir tak pernah menunjukkan ekspresi apa pun di depan orang-orang. Karena itu pula tak heran mengapa orang yang baru menemui Kunti sudah menganggap gadis itu sebagai hantu sungguhan.
"Gue nggak harus bilang makasih, 'kan?" kini Han justru melemparkan balik pertanyaan pada Kunti.
Setelah cukup lama dian menatap Han, ia kembali berbalik menatap lurus ke depan. Padahal tak ada yang istimewa di sana selain pohon-pohon yang tumbuh tinggi nan rindang.
"Terserah kamu."
Dahi Han berkerut heran, gadis itu acuh padanya. Tapi, saat di kafe tadi sungguh Han merasa Kunti begitu peduli dan sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Aku cuma nggak mau kamu ambil jalan yang salah lagi." tiba-tiba gadis itu kembali bersuara membuat Han fokus menatap Kunti.
"Semua orang pernah salah, semua orang pernah kalah, tapi nggak semua orang mau kembali buat memperbaiki diri. Dengan atau tanpa kamu ambil uang dari pekerjaan yang nggak bener. Adikmu bakalan tetep lulus. Cuma jalannya aja yang beda. Dan jalan itu, kamu sendiri yang nentuin, jalan yang akan dilewati sama adik kamu," jelas Kunti begitu panjang.
Namun, nada bicaranya tak pernah begitu istimewa. Ia hanya seorang Kunti, yang tak banyak bicara, tapi kali ini bahkan mencerahami Han dengan ucapan panjang lebarnya yang teramat sangat datar.
"Kalau kamu aja ragu sama diri sendiri, siapa lagi yang mau percaya sama kita?"
"Tapi, kenapa lo peduli sama gue?" balas Han cepat, jawaban yang membuat Kunti terdiam cukup lama.
-B e r s a m b u n g! -
Gimana bagian Han sama Kunti? ???
Semoga ngefeel ya, haha.
Makasih udah baca, jangan lupa komen gais