Aran dengan tanpa senyum berjalan ke arah mobil yang sedang menghadang jalanan yang sepi.
"Ya ampun! Kenapa orang menghadang jalan seenak jidatnya sendiri sih! Apa ini jalan nenek moyang dia!" tukas Aran mengumpat.
Tok..
Tok..
Tok..
Aran mengetuk pintu mobil itu dengan tidak sabar.
Seorang pria kaya nan gagah membuka kaca mobil dengan penampilan penuh darah di tubuhnya membuat Aran syok di buatnya.
Tapi ternyata itu belum seberapa, di samping pria itu terdapat seorang gadis yang mati tertembak tepat di dahinya.
Aran ingin berteriak saat itu juga ketika melihat semua ini.
Pria misterius itu langsung memegang tangan Aran dan berkata sangat lirih.
"Pinjami aku ponselmu," ujar pria misterius itu.
Aran melihat jika lengan pria itu juga tertembak. Sepertinya barusan ada pembunuhan di tempat itu.
Aran tidak tahu harus berkata apa, dia sedang terburu-buru karena dia juga harus segera melakukan interview untuk sebuah pekerjaan baru yang selama ini dia dambakan. Tapi nyawa seseorang kini sedang dalam bahaya, tidak mungkin Aran membiarkan orang ini mati di tempat sepi seperti ini.
Aran dengan tanpa ragu memberikan ponselnya untuk di gunakan oleh pria itu.
Pria itu bicara aneh membuat Aran hanya bisa mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.
"Terima kasih banyak, Nona. Aku akan membalas kebaikan mu. Aku harap kamu segera pergi sekarang karena tempat ini sangat berbahaya," ujar pria misterius itu.
Aran yang mendengar itu pun sangat syok dan tidak tahu harus berkata apa. Dia memilih jalan tikus supaya lekas sampai ke kantor tempat dia akan bekerja, tetapi tidak menduga akan melihat orang celaka di depan matanya.
"Tuan, saya akan membantu mu untuk pergi kerumah sakit!" ujar Aran yang merasa tidak tega melihat pria tampan dengan wajah yang memucat.
Ketika Aran ingin membantu pria itu, sebuah helikopter datang menghampiri mereka.
Seorang pria berbadan tegap dan tinggi berjalan ke arah mereka.
"Nona, terima kasih atas bantuan anda. Dia adalah Tuan kami, sekarang biar kami yang mengurusnya," ujar pria itu memberi kode supaya Aran pergi sisi pintu mobil.
"Oh!" Hanya itu yang keluar dari bibir Aran.
Aran hanya bisa melihat beberapa orang berbaju rapi mengurus pria yang sepertinya tidak akan bertahan lagi.
Setelah beberapa saat melihat tanpa berkutik, akhirnya Aran terdiam sendirian di jalanan yang kini sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
Mobil itu sudah di bawa oleh salah satu anak buah dan helikopter sudah membawa pria misterius itu pergi.
Aran yang baru ingat jika dirinya sedang akan melakukan interview langsung bergegas dan melupakan kejadian singkat yang barusan terjadi di depan matanya.
...
Setelah sampai di kantor, ternyata Aran terlambat dan terpaksa tidak lolos.
Aran dengan perasaan frustasi berjalan keluar dan meratapi nasibnya yang kurang bagus.
Aran ingin sekali memaki orang yang sudah membuatnya terlambat, tapi ketika ingat jika dia kini sedang sekarat membuat Aran kembali berpaku pada takdir.
"Huft! Mungkin bukan rezeki aku bekerja di tempat ini. Aaa... Tapi ini adalah kesempatan aku! Andai aku tidak terlambat, aku pasti sudah di terima bekerja di tempat itu," ujar Aran yang tertunduk lesu.
Aran duduk di kursi taman sembari melihat ke arah sungai bersih yang ada di tengah-tengah kota.
Aran teringat dengan neneknya yang kini sedang sakit keras dan membutuhkan pengobatan. Tapi dia telah gagal mendapatkan pekerjaan yang sudah dia nanti-nantikan selama ini.
"Kemana aku harus mencari uang. Apakah aku jual saja mobil tua milik Ayah. Tapi itu adalah kenang-kenangan dari Ayah. Mobil itu memiliki banyak kenangan bersama Ayah dan Ibu. Hm.. Bagaimana ini!?" gumam Aran yang kini berada di ujung keputusasaan.
Ketika sedang tertunduk, betapa terkejutnya Aran ketika melihat pria berbaju rapi sudah berdiri di depannya.
"Astaga! Ya tuhan, kamu menganggetkan aku saja!" pekik Aran terkejut. "Tunggu, bukankah kamu pria yang tadi datang dengan helikopter!?" tanya Aran ketika dia mengingat sesuatu.
"Benar Nona. Perkenalan, saya adalah Sekertaris Ajo. Saya adalah Sekertaris pribadi Taun muda Aska. Kedatangan saya mendatangi anda adalah karena Tuan kami ingin secara pribadi berterima kasih kepada anda karena telah menyelamatkan hidupnya," ujar Sekretaris Ajo memperkenalkan dirinya juga Tuannya.
Aran terdiam tidak percaya.
Ya tuhan, dari mana dia tahu jika aku berada di sini!? batin Aran heran.
"Em, sampaikan kepada Tuan Anda untuk tidak berlebihan. Saya hanya melakukan tugas saya sesama manusia," jawab Aran dengan senyum yang di paksakan. Entah mengapa Aran merasa jika berhubungan dekat dengan orang-orang ini tidaklah baik untuknya.
"Tuan kami ingin bertemu dengan anda secara pribadi. Dia ingin berterima kasih kepada anda karena telah menyelamatkan hidupnya. Biarkan Tuan kami bertemu dengan anda. Anda tidak perlu cemas, kami adalah orang baik," ujar sekretaris Ajo yang sepertinya paham apa yang di dalam pikiran Aran.
"Oh, hahaha.. Apa maksud Anda Tuan. Saya tidak berfikir begitu," ujar Aran merasa kikuk karena pikirannya telah di tebak.
"Jika begitu silahkan ikut dengan kami," ujar Sekretaris Ajo mengulurkan tangannya untuk mempersilahkan Aran berjalan menuju mobil.
Aran benar-benar sangat gugup tetapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa mengikuti perkataan sekretaris Ajo supaya tidak terlihat jika dirinya sebenarnya sangat takut saat ini.
Aran duduk di sebuah mobil panjang yang mewah dan berkelas. Ketika masuk ke dalam mobil, Aran sedikit tersenyum karena merasakan kenyamanan di dalam mobil yang benar-benar sangat mewah itu.
Aran bahkan sedikit menutupi bibirnya menggunakan tangannya karena takut jika terlihat oleh Sekertaris Ajo.
Akhirnya mereka telah sampai di sebuah rumah sakit besar.
Aran berjalan mengikuti Sekertaris Ajo menuju ruangan Tuannya.
Terlihat pria misterius itu berdiri sambil menatap jendela. Wajah beberapa saat yang lalu ini berganti dengan wajah yang sangat garang.
"Tuan!?" sapa Sekertaris Ajo.
"Dia adalah wanita telah menyelamatkan hidup anda," lanjutnya.
Aska berputar dan menatap Aran dengan sangat intens. Wajah yang tadi terlihat garang kini berganti dengan wajah manis tersenyum ke arah Aran.
"Nona, saya memanggil anda karena saya ingin mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan anda. Berkat anda, saya akhirnya terselamatkan. Ini adalah sebuah cek kosong, saya harap anda bisa mengisinya dengan nominal yang anda inginkan. Ini adalah perwujudan dari rasa terima kasih saya yang mendalam," ujar Aska.
Hari ini Aran benar-benar tidak percaya jika hidupnya akan melalui drama yang sangat rumit.
Dari melihat orang sekarat sampai ada yang meninggal, juga harus merasakan pahitnya di tolak kerja karena keterlambatan. Tapi sepertinya tuhan sedang menyiapkan kejutan yang lebih besar.
Aran memegang sebuah cek kosong di tangannya. Aran tersenyum senang melihat sebuah kesempatan untuk mengobati neneknya akan segera terwujud.
Aran mengalihkan pandangannya ke arah Aska. Dia sedikit terheran-heran dengan keadaan Aska yang terlihat sangat baik-baik saja. Padahal, beberapa jam yang lalu dia terlihat seperti akan mati.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" tanya Aran memecahkan keheningan.
Mendengar itu, Aska tersenyum tipis. Dia tidak menduga jika wanita yang ada di depannya ini perduli dan menanyakan keadaannya.
"Saya baik, berkat anda!" sahut Aska tersenyum.
Aran melihat senyum itu merasa ikut senang. Meski Aran tidak jadi mendapatkan pekerjaan, tetapi nyawa seseorang terselamatkan karena keterlambatannya.