Aska memasang wajah tidak suka menatap Aran. Niat baiknya bahkan sudah di tolak mentah-mentah sebelum Aran mendengarkan penjelasan dari Aska.
"Nona, saya hanya ingin membantu anda," ujar Aska dengan suara yang serius.
Aran berdecak tidak percaya.
"Apakah saya terlihat begitu menyedihkan!? Kita baru saja kenal. Tidak! Kita baru saja bertemu dan saya tidak kenal dengan anda. Tapi sekarang anda berada di depan saya dan mengatakan akan menikahi saya? Apakah anda sehat!?" hardik Aran terlihat sangat kesal.
Aska hanya memasang wajah datar.
"Saya beri kamu waktu selama 1x24 jam. Datanglah pada saya jika anda mau menikah dengan saya. Saya akan menunggu mu. Saya tidak akan memberimu kesempatan dua kali jika sampai waktu itu telah usai. Saya harap anda tidak salah paham terhadap dengan apa yang saya lakukan. Saya hanya ingin membalas budi karena anda sudah menyelamatkan hidup saya," ujar Aska.
Aran tertegun dan terdiam. Dia tidak tahu mengapa takdir hari ini bisa membawanya sampai ke titik ini. Bertemu dengan pria misterius dan kini dia bersedia menikahinya padahal mereka tidak saling mengenal.
Aran masih berdiam diri ketika Aska pergi bersama dengan sekertaris Ajo. Aran tersenyum kecut tidak mengerti harus berbuat apa.
Neneknya sakit parah dan menginginkannya untuk segera menikah. Lalu datang pria misterius bersedia menikahi dirinya.
Aran mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin sekali dia menangis meraung-raung tetapi rasanya itu tidak mungkin untuk saat ini. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bersedih-sedih. Aran harus segera mencari pekerjaan supaya bisa mengganti biaya yang sudah di keluarkan oleh Aska.
"Heh, dasar pria aneh. Sedari awal aku bertemu dengan dia, dia selalu saja membuat aku dalam masalah. Iiiih..! Dasar pria menyebalkan!" umpat Aran benar-benar merasa kesal.
...
Di sisi lain, Aska sedang duduk manis di ruang inapnya. Dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan betapa gemasnya wajahnya Aran ketika dirinya datang dan mengatakan akan menikahinya.
"Aku yakin kamu akan datang dan meminta aku untuk menikahimu!" gumam Aska merasa tidak sabar menunggu hal itu terjadi.
Sekertaris Ajo datang dan memberikan informasi kepada Aska.
"Tuan, dari penyelidikan kami mereka adalah orang suruhan Max. Sepertinya Ana adalah tangan kanan Max. Max sengaja membunuhnya karena tidak ingin Ana mengkhianati mereka dan mengatakan semua kepada kita," jelas sekertaris Ajo.
Aska mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Kurang ajar! Jadi selama ini musuh sudah sangat dengan kita. Sial! Mengapa kita pernah tahu jika Ana adalah tangan kanan Max!" umpat Aska geram.
Sekertaris Ajo hanya bisa menundukkan kepalanya. Jelas itu adalah kesalahannya juga.
"Apa papah tahu soal ini?" tanya Aska.
"Belum, Tuan!"
"Dia pasti sedang sibuk dengan isteri barunya. Kamu tidak perlu mengatakan apapun kepada papah soal hari ini. Aku yakin jika isteri barunya papah memiliki niat terselubung karena menikahi mantan calon mertuanya sendiri!" ujar Aska mengepal tangannya dengan kuat jika mengingat penghianatan yang telah di lakukan oleh mantan tunangannya.
"Nyonya Sarla telah membeli pulau baru dengan persetujuan Tuan Presdir," ujar sekretaris Ajo.
"Cih, dasar wanita siluman. Ternyata dia memperalat papah dan menggerogoti hartanya. Kita biarkan saja dulu, mau sampai mana wanita itu bertingkah," ujar Aska.
Sekertaris Ajo teringat sesuatu dan memberikan sebuah tab kepada Aska. Itu adalah sebuah data indentitas lengkap dari Aran Eny.
Aska yang melihat Poto profil Aran langsung tersenyum dan melupakan kekesalannya kepada Ayah dan juga ibu tirinya yang bukan lain adalah mantan tunangannya.
Seketika Aska merasa tertarik dengan kehidupan Aran. Meski dia orang tidak mampu, tetapi terlihat dari sudut matanya yang tidak mudah getar di tindas dan di injak. Aran memilih berdiri di kakinya sendiri meski dia tahu itu pasti akan sulit baginya.
Aska benar-benar melihat sisi kewanitaan yang berbeda di diri Aran.
"Ajo! Siapkan pernikahan sekarang juga," perintah Aska.
Sekertaris Ajo sedikit bingung dengan perintah Aska. Karena Aran sampai saat ini belum menerima Aska.
"Aku yakin dia pasti akan datang kepadaku dan meminta aku nikahi. Ketika itu terjadi, maka semua akan sudah siap," ucap Aska sambil tersenyum senang. Dia menghalu di dunianya sendiri.
Sekertaris Ajo hanya bisa mematuhi ke gilaan majikannya. Sejak di khianati tunangannya, sampai saat ini Aska tidak pernah tertarik kepada lawan jenisnya.
Sepertinya Aran benar-benar memenangkan hati seorang Aska. Tuan muda dari perusahaan termuka di kota xxxxx.
...
Sore itu, Aran yang sedang bekerja paruh waktu di sebuah restoran langsung berlari kencang ke rumah sakit. Dia mendapat kabar jika neneknya sedang tidak baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit, Aran sangat terkejut karena di ruangan neneknya sudah Aska di sana.
"Nenek!?" teriak Aran yang langsung berlari ke arah neneknya dan memeluknya.
Terlihat nenek yang terengah-engah kesulitan bernafas.
"Nenek, apa yang terjadi dengan mu, nek!? Hiks...hiks... Nenek, bertahanlah!?" raung Aran benar-benar sangat sedih. Tidak bisa di jelaskan bagaimana jika sampai nenek benar-benar pergi.
"Sayang, waktu nenek mungkin sudah tidak lama lagi, nenek mohon, wujudkan lah permintaan nenek, menikahlah dengan Aska, pria yang kamu cintai ini," ucap nenek terbata-bata.
Aran berhenti menangis ketika nenek mengatakan jika Aska adalah pria yang dia cintai.
Aran menatap Aska yang terlihat bermuka datar. Aska tidak menunjukan ekspresi apapun membuat Aran tambah bingung di buatnya.
"Nenek, sebenarnya kami...-"
"Kami adalah sepasang kekasih baru nek. Saya paham jika Aran belum sudi menerima lamaran dari saya," sahut Aska memotong ucapan Aran.
Aran di buat mendelik mendengar ucapan busuk dari mulut Aska.
"Cinta akan bertambah jika kalian saling menyatu. Aran, nenek mohon, buatlah nenek supaya bisa pergi dengan tenang," ucap nenek membuat Aran tambah bingung.
"Nenek..?"
"Aran, nenek mohon!?"
Melihat mata nenek yang berkaca-kaca antara menahan sakit juga keinginannya melihat Aran menikah. Membuat Aran semakin tidak berdaya.
"Baiklah, aku akan menikah dengan tuan ini," ucap Aran sambil tertunduk.
Biasanya wanita akan tersenyum berbunga-bunga ketika menerima lamaran dari seorang pria, tetapi lain hal dengan Aran. Dia tidak tahu harus bahagia atau semacamnya karena telah menerima lamaran dari pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Aska yang mendengar itu pun langsung tersenyum. Tetapi sedetik dia pun memasang wajah acuh.
"Saya tidak mendengar apa?" ucap Aska membuat Aran menaikan kepalanya.
Dengan ragu-ragu dan bibir yang bergetar, Aran mengulangi perkataannya.
"Tuan, saya bersedia menikah dengan anda. Semua adalah demi nenek," ucap Aran memperjelas ucapnya.
Aska tersenyum kecut. Dia tidak percaya jika Aran mengatakan hal yang membuatnya patah hati. Menikah demi sang nenek, seharunya Aran tidak perlu mengucapkan hal itu.
"Baiklah, saya akan menikahi kamu dengan pesta yang sangat meriah," ucap Aska yang diam-diam tersenyum senang karena akhirnya dia dapat menikahi wanita yang dia cintai pada pandangan pertama.
"Saya tidak perlu pesta, yang penting kita sah menjadi suami istri di depan nenek," tolak Aran.
"Aran, dia calon suamimu. Dia adalah kepala keluarga di rumah tanggamu. Nenek juga ingin melihat kalian di rias dan di pajang di sebuah singgah sana," ucap nenek.
Aran memegangi kepalanya yang serasa ingin meledak saat ini juga. Di depan Aska, Aran benar-benar merasa jika dirinya tidak memiliki harga diri lagi.
Tetapi saat ini Aran tidak memiliki pilihan. Sepertinya takdir memang mengharuskannya menikah dengan pria yang tidak dia kenal.