“Suni, maafkan aku ya.”
“Aku kira, setelah aku berada di kota, dan ..”
“Suni, cinta tidak bisa dipaksakan. Jangan terus bermimpi. Sungguh aku tidak bisa mencintai kamu.”
“Siapa gadis itu?”
“Kamu tidak perlu tahu, yang penting kamu harus melupakan aku. Sekali lagi maaf ya. Dan kalau bisa, rubah penampilan kamu dengan pakaian seperti itu.”
“Suniiii!” sebuah teriakan dari arah pintu mengejutkan Suni. Ia langsung berdiri dan berjalan terbungkuk kembali memasuki toko. Gunawan berlalu, menghampiri mobilnya dan berusaha mencari kado ke toko lain.
“Apa yang kamu lakukan?” kata pemilik toko dengan marah.
“Maaf bu, saya.. ketemu teman.”
“Kamu sedang bertugas membersihkan toko. Harusnya kamu bilang kepada teman kamu bahwa kamu tidak bisa menemuinya saat melakukan tugas kamu.”
“Maaf bu..” kata Suni sambil mengambil kembali alat pel nya dan melanjutkan pekerjaannya.
“Jangan lakukan itu lagi kalau tak ingin aku memecat kamu.”
“Maaf bu.”
Pemilik toko berlalu, dan masuk kembali kedalam ruangannya, sementara Suni melanjutkan pekerjaannya dengan hati teriris pedih.
“Makanya, kalau bekerja itu yang bener, jangan karena ada cowok ganteng lalu kamu berteriak-teriak sok kenal,” ledek salah seorang penjaga toko.
Suni memonyongkan mulutnya.
“Dia itu dulu pacar aku, tahu!”
Dan tawa beberapa pegawai toko meledak.
“Kasihan, kamu mimpi disiang bolong bukan?”
“Gara-gara kamu dia kabur, nggak jadi beli apapun tadi,” pelayan toko yang sudah terlanjur mengeluarkan barang dagangan mengomel.
“Nggak percaya ya sudah. Aku tidak bohong kok.”
“Kamu nggak bohong, cuma mimpi.. ya kan?”
Suni tak menjawab, ia juga tak mengerti harus menjawab apa, karena nyatanya Gunawan tak mempedulikannya.
“Ia mencintai gadis lain. Siapa ya gadis itu? Sakit sekali hatiku,” kata batin Suni, sakit.
Tiba-tiba seorang wanita berpakaian mewah mendekati Suni.
“Kamu pelayan disini?”
“Sudah tahu kalau aku sedang mengepel masih juga bertanya. Kalau bukan pelayan mana mau mengepel lantai, membersihkan toko,” gerutu Suni dalam hati. Mana berani dia menjawab, wanita itu tampak bukan orang sembarangan.
“Kamu cantik, mengapa mau melakukan pekerjaan kotor seperti ini?” kata wanita itu lagi.
“Nggak apa-apa bu, orang saya nggak makan sekolahan, bisanya ya bekerja seperti ini,” kata Suni sambil melanjutkan pekerjaannya.
“Berapa gaji kamu?”
Suni menatap wanita itu. Ia cantik, walau usianya tak lagi muda. Bau wanginya barangkali sudah menyebar ke seluruh ruangan toko ini. Tapi Suni kesal wanita itu banyak bertanya-tanya. Sekarang malah bertanya berapa gajinya segala.
“Banyakkah?”
“Menurut saya ya banyak. Cukup untuk beli pakaian,” katanya sambil melanjutkan lagi pekerjaannya. Lalu wanita itu mendekati pelayan dan memesan beberapa baju.
Sepertinya dia pelanggan toko ini.
Suni sudah mengepel sampai kedepan toko, ketika nyonya cantik itu keluar sambil menenteng belanjaannya.
“Kamu tampak seksi dengan pakaian kamu. Siapa namamu?”
“Suni.”
“Nama gadis dusun, nggak pantas gadis cantik namanya Suni. Tapi aku suka cara kamu berpakaian, sungguh.”
Suni tersenyum tipis. Baru saja Gunawan mencela cara dia berpakaian dan belum sempat menggantinya, wanita cantik ini justru memujinya.
“Kamu masih gadis ?”
“Ya gadislah bu, perawan ting-ting,” jawab Suni sambil bersiap masuk ketoko.
“Eh, tunggu. Maukah kamu ikut aku?”
“Ikut ibu kemana?”
“Ikut bekerja bersama aku. Nanti aku belikan baju-baju yang lebih bagus. Dandan yang lebih cantik.”
“Saya?” senyum Suni mengembang, tak percaya akan apa yang didengarnya.
“Iya, sayang wajah cantik kamu kalau hanya bekerja seperti ini.”
“Saya hanya.. lulusan SMP.”
“Tidak masalah, yang penting kamu cantik. Dan kamu akan mendapatkan uang yang lebih banyak. Jauh lebih banyak dari yang sudah kamu dapatkan disini.”
“Benarkah ? Bekerja apa saya nanti disana?”
“Bekerja enak. Aku banyak tamu, kamu hanya harus melayani tamu-tamu aku.”
“Membuat minuman, menyajikan hidangan, begitu?”
“Ya, seperti itulah. Tidak berat, kamu akan senang. Berpakaian bagus, berdandan cantik dan wangi, menyajikan hidangan untuk tamu, tidak berat kan?”
Senyuman Suni semakin mengembang. Berdandan cantik.. pakai baju bagus, wangi? Aduhai.. itu benar-benar seperti kehidupan yang diimpikannya.
“Bagaimana Suni?”
“Saya mau bu, tapi kapan?”
“Hari ini juga kalau kamu mau.”
“Kok hari ini sih bu, aku kan belum gajian?”
“Aduuh, mengapa memikirkan gaji? Berapa gaji kamu, nanti aku yang menukarnya, dua kali lipat.”
Mata Suni berbinar.
“Benarkah? Berarti sebagian bisa saya kirimkan kepada bapak dikampung.”
“Nanti kamu akan bisa mengiriminya lebih banyak.”
“Tapi saya harus pulang dulu bu, biar bapak saya senang saya dapat pekerjaan bagus.”
“Kalau hari ini kamu pamit sama majikan kamu, aku akan menjemput kamu, sekalian mengantarkan kamu ke kampung kamu untuk memberikan uangnya pada bapak kamu.”
“Haaa, benarkah ? Naik mobil?”
“Ya naik mobil lah, masa jalan kaki.”
Suni menutup mulutnya, menyembunyikan kegembiraannya.
“Baiklah, saya akan pamit hari ini juga. Ibu menunggu?”
“Aku pulang dulu. Nanti sore aku menunggu kamu diluar situ, langsung aku antar kamu ke kampung. Tapi ingat, kalau kamu berpamitan nanti, kamu cukup mengatakan akan pulang kampung. Jangan sekali-kali bilang akan bekerja ditempat lain.”
“Baiklah bu.”
Suni memasuki toko sambil menjinjing alat pelnya dengan langkah ringan. Ia tak peduli mendengar ejekan para pelayan toko yang masih saja menggelitik telinganya.
“Mengocehlah sesuka hati kamu, beberapa hari lagi aku akan datang ketoko ini, bukan untuk mengepel dan membersihkan toko, tapi akan belanja baju yang bagus-bagus,” kata batin Suni.
Suni perawan desa yang lugu, yang memimpikan kehidupan gemerlap seperti yang pernah dilihatnya di televisi, kagum oleh penampilan wanita-wanita cantik dengan baju-baju seksi, dan dia merasa bahwa sebentar lagi impiannya akan terwujud. Begitu selesai melakukan tugasnya, ia mandi dan berdandan, kemudian menghadap ibu pemilik toko untuk berpamitan.
“Mengapa tiba-tiba kamu minta berhenti?”
“Saya mau pulang kampung saja bu.”
“Apa kamu kesal karena aku memarahi kamu tadi?”
“Bukan bu, tiba-tiba saya ingat bapak saya yang sudah tua. Kasihan dan pengin pulang saja.”
“Mengapa tidak menunggu minggu depan saja setelah kamu menerima gaji ?”
“Sungguh saya ingin pulang sekarang bu, saya ingat bapak saya.”
“Ya sudah, terserah kamu saja. Ini gaji kamu yang tidak genap sebulan. Aku tidak bisa memberi lebih karena kamu baru bekerja dua bulan kurang seminggu.”
“Tidak apa-apa bu, tidak diberipun saya mau, asalkan saya bisa pulang sore ini.”
***
Suni berdiri dipinggir jalan dengan gelisah. Hari mulai temaram karena sebentar lagi malam akan menjelang. Kemana nyonya cantik yang menjanjikan beribu kesenangan dan selalu diingatnya dengan riang?
Suni melihat kekanan dan kekiri, dan mengamati setiap mobil yang kebetulan berhenti.
“Apakah nyonya cantik tadi berbohong? Tapi untuk apa membohongi aku yang belum pernah dikenal sebelumnya?”
Suni hampir putus asa, dan air mata mulai menetes membasahi pipinya. Kalau nyonya cantik itu tidak datang, sementara dia sudah keluar dari pekerjaannya, kemana lagi dia harus mencari pekerjaan? Ketika melamar itu ada seorang tetangganya yang sudah bekerja dikota mengantarkannya sehingga dia bisa diterima menjadi pembantu di toko itu. Lalu sekarang ia harus kemana? Ia juga tak tahu tetangganya itu bekerja dimana, dan kalaupun tahu, lalu menemuinya, pasti ia akan mendapat marah.
Suni mengusap air matanya, dan terkejut ketika seseorang memegang bahunyua.
“Hei, mengapa menangis?”
Suni menoleh, dan hampir bersorak karena nyonya cantik itulah yang datang.
“Ya ampun bu, saya kira ibu berbohong, sementara saya sudah kehilangan pekerjaan.”
Nyonya cantik itu tertawa sambil menggandeng Suni kearah mobilnya.
“Ayo naik, aku antar kamu ke kampung kamu untuk memberikan uang kepada bapak kamu,” kata nyonya cantik itu sambil menjalankan mobilnya.
Suni menatap sang nyonya dengan kagum.
“Ya ampun.. ibu mengendarai mobil sendiri?”
“Iya dong, besok kalau uang kamu sudah banyak, kamu juga bisa beli mobil, lalu kemana-mana mengendarai mobil kamu sendiri.”
Mata Suni terbelalak.
“Benarkah ?”
Nyonya itu mengangguk. Suni menyandarkan kepalanya, menikmati jok mobil yang empuk dan wangi menyeruak yang hampir membuatnya mabuk.
“Kamu tidak digaji?”
“Oh iya, lupa ngomong, saya diberi uang, tapi tidak genap sebulan, karena saya memang belum dua bulan bekerja disitu.”
“Tidak apa-apa, nanti aku tambahin, biar bapak kamu senang. Nanti bilang sama bapak kamu, karena pekerjaan kamu bagus, maka kamu mendapatkan gaji tambahan.”
“Ya bu.”
“Dan bilang juga bahwa setiap bulan kamu akan mengirimkan uang lebih untuk bapak kamu, supaya bapak kamu hidup berkecukupan. Bapak kamu bekerja?”
“Buruh tani bu.”
“Kalau uang kamu sudah cukup, suruh bapak kamu berhenti bekerja. Kamu akan bisa mencukupi semua kebutuhannya.”
“Ya ampuun, nyonya ini baik bangeeet, baru ketemu sudah begitu royal, pasti dia malaikat penolong aku, yang merasa iba karena aku telah disakiti oleh mas Gunawan,” pikir Suni.
***
“Suni, kamu malam-malam datang, diantar oleh siapa?”
“Itu majikan Suni pak, dia baik banget. Setengah tua, tapi cantik, dan sangat baik. Ini Suni diantar pulang, hanya untuk memberi bapak uang. Ini pak, hasil kerja Suni selama dua bulan,” kata Suni sambil mengulurkan amplop berisi uang.
“Kok tebal banget, isinya berapa ini?”
“Nanti saja bapak buka. Itu cukup untuk hidup bapak sebulan, membeli baju, makanan dan apa saja yang bapak mau. Setiap bulan Suni akan mengiriminya agar bapak tidak kekurangan.”
“Ini gaji kamu? Mengapa diberikan bapak semuanya? Apa kamu tidak butuh uang?”
“Suni sudah cukup pak, majikan Suni memberi Suni makan yang cukup, dan pakaian yang tidak mengecewakan. Pokoknya bapak tidak usah khawatir, Suni akan bekerja baik-baik, agar hidup kita lebih enak.”
“Tapi nduk..” kata pak Kardi ragu.
“Pak, Suni tidak bisa lama, soalnya majikan Suni sendiri yang mengantar. Lain kali Suni akan pulang lebih lama dan bercerita banyak sama bapak,” kata Suni sambil beringsut mau pergi. Diciumnya tangan bapaknya dan dengan cepat dia menghampiri mobil majikan barunya.
Pak Kardi menatap kepergian Suni dengan mata berkaca-kaca. Suni adalah satu-satunya darah daging yang dimilikinya, dan sudah dua bulan meninggalkannya. Kali ini dia datang hanya memberikan sebungkus uang, lalu pergi dengan tergesa-gesa.
“Bapak ingin bicara banyak, kok tiba-tiba pergi lagi,” bisiknya pilu.
Ia masuk kedalam rumah, lalu membuka amplop berisi uang yang diberikan anaknya.
“Banyak benar gaji kamu nduk, bekerja apa sih disana?” bisik pak Kardi. Tapi entah mengapa, ada perasaan tak nyaman ketika membuka amplop uang itu.
***
Pak Murti mengadakan pesta meriah untuk pernikahan puteri tunggalnya. Walau ada sedikit kekecewaan karena tak berhasil menjadikan Gunawan sebagai menantunya, tapi pak Murti cukup senang melihat puterinya tampak bahagia.
Berkali-kali ia meminta maaf kepada Gunawan atas tak berhasilnya keinginan itu. Dan Gunawan justru merasa sungkan karena pak Murti selalu mengucapkan kata maaf.
“Bapak jangan pikirkan itu. Jodoh itu sudah ditentukan dari atas sana. Kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas bukan?” selalu itulah jawaban Gunawan untuk menutupi hatinya yang perih, karena sesungguhnya ia juga mencintai Yessy. Cinta yang tiba-tiba disadarinya, dan tiba-tiba menyakitinya.
Ia menatap ke pelaminan, melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut muka kedua mempelai. Gunawan menghela nafas berkali-kali. Ia ingin lari, menjauh, tak ingin melihat keceriaan itu, tapi pak Murti menyerahkan tanggung jawab pesta itu kepada dirinya. Kemudian ia duduk menjauh, bahkan tak ingin berbincang dengan rekan-rekan bisnis yang hampir semua menghadirinya, membiarkan gemuruh pesta, musik yang bertalu, berpadu dengan gemuruh dadanya.
Hingga pesta berakhir, lalu semuanya larut dalam kesibukan membenahi sisa-sisa hiruk pikuk itu, Gunawan memilih segera pulang. Membenamkan dirinya didalam kamar, menikmati kesendirian yang menggigit.
***
Dua hari dirumah majikan barunya, Suni benar-benar takjub. Rumahnya besar dan bagus. Ada beberapa pembantu yang membersihkan rumah dan kebun. Perabotan yang serba mewah, dan Suni belum pernah melihatnya. Sofa yang bagus, almari bagus, ada potret sang majikan dipajang besar disudut ruangan. Semula Suni mengira dia akan mendapat tugas membersihkan rumah juga, tapi tidak. Suni heran karena selama dua hari sang majikan hanya mengajaknya belanja. Belanja pakaian bagus-bagus dan diberikan padanya. Harusnya Suni bertanya-tanya, mengapa dia harus mengenakan pakaian bagus dan seksi. Tapi Suni begitu gembira mendapatkan semua yang pernah diimpikannya. Menjadi gadis kota dan berpakaian seksi, berdandan ala artis.
Rumah dimana Suni dibawa masuk adalah rumah induk. Disebelahnya ada sebuah pavilyun, yang ketika Suni melongok dari jendela kemarnya, ia mendengar tawa renyah perempuan, yang pastinya berjumlah lebih dari dua orang.
“Siapa mereka bu?”
“O, itu anak-anak ibu, ada beberapa. Belum saatnya kamu mengenal mereka. Tempatmu disini, didekat kamar aku. Besok-besok kalau kamu sudah pintar segalanya, barulah kamu berkenalan dengan mereka.”
“O, jawab Suni heran, tapi tidak melanjutkannya bertanya.”
‘Bu Susi..’ begitu sang nyonya memperkenalkan namanya sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya dirumah mewah itu, sangat baik dan ramah kepada dirinya.
“Apa kamu suka baju-baju ini?”
“Sangat suka bu.. bu Susi sangat baik.”
Lalu bu Susi mendandaninya. Bagaimana cara mempergunakan alas bedak, bagaimana membedaki wajahnya yang sudah cantik, mengoles lipstik, membentuk alis yang bagus, dan memasang bulu mata agar tampak lebih cantik.
“Ya ampun… apa itu aku?” teriak Suni ketika melihat wajahnya sendiri yang sudah didandani.
“Ya Suni, itu kamu. Lihat, kamu seperti boneka barby.”
“Siapa boneka barby?”
“Boneka mainan yang sangat cantik.”
“Aduh, saya seperti boneka mainan?”
“Sekarang kamu harus berlatih untuk mendandani diri kamu sendiri. Tidak selamanya aku yang harus mendandani kamu. Semua alat kecantikan ada di kamar ini.”
Suni mengangguk-angguk, lalu dia menghapus semua dandanan itu, dan mencobanya dengan tangannya sendiri. Berkali-kali dia melakukannya tidak berhasil, dan untuk kesekian kalinya barulah berhasil.
Di hari ketujuh Suni benar-benar sudah bisa tampil cantik tanpa dibantu.
Suni keluar dari kamar, dan bu Susi berdecak kagum melihat penampilannya.
“Kamu cantik sekali. Dan malam ini kamu sudah harus mengerjakan tugas kamu.”
“Bagus sekali bu, selama disini saya belum pernah melakukan apapun.”
“Sebentar, ada tamu rupanya. Kamu tunggu dulu disini.”
Bu Susi menyuruh Suni duduk disofa, lalu bergegas menyambut seseorang yang baru saja turun dari mobil. Bukannya membawa kerumah, bu Susi mengajaknya ke pavilyun. Suni diam dan masih saja bingung harus melakukan apa.
“Katanya malam ini aku harus bekerja. Aku kira aku harus menyuguhkan minum untuk tamu yang baru datang. Ternyata tamu itu dibawa ke rumah kecil itu,” gumam Suni sambil menyilangkan kedua kakinya. Alangkah nyaman duduk bersilang kaki diatas sofa yang empuk. Suni mengayun-ayunkan tubuhnya dengan nikmat.
Tak lama kemudian bu Susi masuk dan duduk didepan Suni.
“Suni, mulai sekarang namamu bukan Suni. Itu nama kampungan.”
“Lalu aku harus berganti nama?”
“Bagaimana kalau Nike, haaa bagus kan.. Nike.. ingat ya, nama kamu Nike..”
“Nike.. Nike.. Nike.. Nike..” Suni menghafalkan nama Nike berkali-kali.
Lalu Suni tersenyum senang. Nama yang bagus..
Hari telah malam, Suni mulai mengantuk. Ia ingin masuk kekamarnya, tapi bu Susi menahannya.
“Tunggu, itu tamu untuk kita.”
“Untuk kita?” tanya Suni heran.
“Maksudku tamu aku, dan kamu nanti harus melayani dia.”
“Saya buatkan minum?”
“Tidak, di kulkas banyak minuman dingin.”
“Selamat malam, Susi!” terdengar suara berat dan membuat Suni terkejut.
“Hai Frans, masuklah..”
“Mana dia?”
“Ssst..” bu Susi mengerdipkan sebelah matanya.
Tamu yang dipanggil Frans itu melirik kearah Suni, lalu tersenyum sambil mengangguk-angguk.
“Nike, minum untuk pak Frans,” kata bu Susi sambil menatap Suni.
Suni mengambil minuman dingin dari dalam kulkas, lalu diletakkannya dimeja. Ia melihat yang dipanggil Frans adalah seorang laki-laki yang tidak lagi muda. Badannya tambun, kumisnya sekepal. Tapi Suni benci melihat senyumnya. Laki-laki itu menatapnya seperti hendak menelannya hidup-hidup.
“Cantik,” pak Frans meraih pinggang Suni. Suni menggeliat lalu mengundurkan diri.
Melihat tingkah Suni , Frans tetawa ngakak.
“Benar-benar perawan kencur, tapi cantik. Kamu benar,” kata Frans sambil menenggak minuman yang disuguhkan.
Suni ingin beranjak kebelakang, tapi bu Susi menahannya.
“Nike, kamu harus menemani pak Frans.”
Suni menghentikan langkahnya.
“Pak Frans belum lama datang ke kota ini, dia harus ditemani. Tapi aku sedang nggak enak badan.”
Suni mengerutkan keningnya.
“Nike jangan takut, kita akan berputar-putar melihat kota ini, kamu pasti suka,” kata pak Frans sambil menghabiskan minumannya.
“Tapi bu..”
“Kamu kan sudah janji untuk melakukan tugasmu. Ini tugas pertama kamu. Dia banyak uang, dia akan memberi kamu uang yang banyak,” bisik Susi ke telinga Suni.
Frans sudah berdiri, dan Susi mendorong Suni pelan, memaksanya mengikuti pak Frans.
“Dia baik kok,” bisik Susi lagi.
Suni dengan ragu mengikuti pak Frans. Mobilnya bagus. Benarkah dia akan diberi uang yang banyak? Tak ada yang bisa Suni katakan, ketika Susi membukakan pintu depan, lalu Frans duduk dibelakang kemudi.
“Layani dia dengan baik, sekali lagi jangan takut,” pesan bu Susi sebelum Frans menjalankan mobilnya.