"Mas, silakan tanda tangan dulu," perintah sesebapak kepada Bastian sembari menyerahkan beberapa lembar berkas kertas perjanjian kontrak setelah ritual ijab kabul selesai.
Pria itu mengayunkan pena di atas kertas tersebut. Mencoret sebuah tanda atas dirinya di atas materai.
"Maharnya 50 juta ya?" tanyanya memastikan lagi setelah selesai menandatangani.
"Betul, Mas." Bapak berkumis itu menganggukkan kepalanya. Dia adalah mucikari kawin kontrak. Wajahnya ramah dimata pelanggan, namun lain cerita jika menurut sudut pandang para wanita yang akan disewakan. Abah Ramli. Begitu mereka harus memanggilnya. Dikenal galak dan suka memaksa.
Sementara itu, Rania terus meremas tangannya yang sudah berkeringat dingin. Ia sangat gugup. Ini adalah kali pertama dirinya menjajakan diri pada pria asing. Padahal, sebelumnya ia hanya mendengar cerita dari teman-temannya. Bahkan berulang kali ia mengatakan bahwa pekerjaan seperti ini sangat hina. Rania tahu, jika apa yang ia lakukan saat ini adalah salah.
Namun, demi bisa membayar biaya operasi bapaknya ia harus mencari uang dengan cara seperti ini.
"Selesai ya. Silakan istri kontraknya dibawa ke kamar, Mas. Sudah menjadi haknya sampean selama satu minggu. Terserah mau diapakan. Bebas," ujar Abah Ramli kepada Bastian. Memperlihatkan deretan giginya yang jarang.
Bastian mengangguk. "Terimakasih, Pak."
"Terimakasih semuanya," ucap Bastian lagi kepada penghulu yang telah menikahkannya dan juga dua orang saksi, yang tentu tidak dikenal olehnya.
Mereka semua pergi dari hadapan Bastian dan Rania. Tinggal lah sepasang suami istri yang sebelumnya belum kenal satu sama lain dirumah sewa ini. Rumah yang tidak begitu besar, namun sangat nyaman berada disitu. Sebab, letaknya ditengah-tengah perkebunan teh. Di sebuah desa yang agak terpencil. Tempat ini sengaja menjadi pilihan Bastian. Sesuai ekspektasinya, bahwa dirinya ingin menghabiskan waktu jauh dari keramaian kota dan melakukan seks setiap hari selama satu minggu bersama wanita sewaannya.
Rania terus menunduk, ia sama sekali tidak berani menatap sedikit pun ke arah pria asing yang kini telah menjadi suami kontraknya. Rania tahu kewajibannya setelah ini. Bahwa ia harus melayani pria ini. Melayani segala kebutuhannya selama satu minggu, baik kebutuhan eksternal maupun internal.
Bastian memandang Rania. Ia terpukau dengan tampilan gadis desa itu. Kulitnya kuning langsat, bibirnya simetris dan dagunya lancip pula. Rambut Rania hitam memanjang sebahu. Tidak hanya itu, ada yang lebih membuat Bastian tertarik. Yaitu, dua tonjolan didada Rania padat berisi. Menggiurkan Bastian. Gadis itu benar-benar tipe wanita Bastian jika untuk orientasi seksualnya.
Bastian mendekat ke arah Rania. “Hei, Aku Bastian.” Ia menjulurkan satu tangannya. Mengajak Rania untuk berjabat tangan. Sebenarnya hanya sekedar basa-basi. Bastian tahu posisinya sebagai pria. Seorang pria memang harus membuka percakapan lebih dulu ketika mendekati wanita. Itu yang ia tahu.
Meskipun ragu dan ada rasa takut, Rania tetap membalas jabatan tangan kekar tersebut.
“R-rania,” ucap Rania dengan terbata. Setelah menyebutkan namanya, ia kembali menunduk.
“Okay. Aku suka cewek yang pemalu.” Bastian mengatakan itu sambil menempelkan bokongnya ke sofa. Ia duduk tepat disebelah Rania. Tidak ada jarak. Sangat dekat sekali.
Rania hampir reflek menggeserkan tubuhnya untuk menghindar. Namun, ia urungkan niatnya ketika mengingat ajaran Abah Ramli. Bahwa ia harus siap untuk diapakan saja oleh suami kontraknya. Jika ada aduan dari Bastian tentang Rania yang tidak mengenakkan, maka Abah Ramli akan memberikan pelajaran langsung kepada Rania.
Tiba-tiba disela keheningan, Bastian lansung menarik tubuh Rania ke dalam pelukannya. Dengan buas ia melumat bibir Rania. Tanpa memberi jeda untuk Rania bernapas. Gadis itu sangat ketakutan. Ia secara reflek mengeluarkan suara pekikan.
Bastian berhenti melakukan aksi tidak terduganya karena pekikan Rania. Ia sejenak memandang wajah Rania lekat-lekat. Pria itu melihat butir-butir air keringat sudah membasahi kening Rania. Namun, kegugupan gadis itu dan wajah ketakutannya malah membuat syahwat Bastian semakin memuncak.
"Jangan takut. Aku nggak akan berbuat jahat. Please, enjoy!" Bastian berusaha menenangkan Rania. Tapi, tetap saja gadis itu kikuk. Ia sudah berusaha untuk mencoba yang terbaik. Namun, ia masih reflek menghindar karena dirinya yang tidak pernah disentuh pria manapun.
Bastian merasa gemas melihat tingkah Rania. Syahwatnya sudah tidak tertahankan lagi, tapi gadis didepannya masih saja menolak sentuhan darinya.
"Shiitt!" umpat Bastian frustasi.
"Okay. Kalau kamu nggak bisa diajak kerja sama, aku harus paksa!" kecam Bastian. Ia langsung menarik paksa tubuh Rania dan menggendongnya. Awalnya gadis itu memberontak, tapi lagi-lagi ia sadar bahwa tugasnya saat ini memang untuk melayani Bastian. Jadi, Rania terdiam digendongan Bastian.
Pria itu membawa Rania ke dalam kamar yang sudah dihias sedemikian indah oleh tim Abah Ramli. Di atas ranjang yang spreinya berwarna putih itu terdapat banyak kelopak mawar. Menambah aroma natural di kamar yang tidak besar ini.
Bastian meletakkan Rania disana. Ia buru-buru membuka jasnya hingga telanjang d**a. Pria itu meraba setiap titik rangsang pada tubuh Rania. Gadis itu hanya pasrah. Menerima segala yang dilakukan Bastian saat ini padanya.
“Lepas bajumu didepanku sekarang juga!” perintah Bastian seperti seorang komando yang sedang memberi ultimatum kepada bawahannya. Terdengar tegas dan sedikit memaksa. Rania melakukannya, sementara Bastian terus membulatkan mata tanpa berkedip. Terpukau dengan tubuh indah milik Rania.
Setelah Rania selesai melepas semua bajunya, Bastian kembali menidurkan tubuh Rania. Tanpa basa-basi, pria yang memiliki sedikit bulu disekitar d**a itu langsung menindih tubuh istri kontraknya. Jari tangannya mulai menjelajah area intim Rania. Hingga membuat Rania mengerang.
Tiba-tiba Bastian menghentikan gerakannya. Ia bertanya kepada gadis yang tubuhnya ia tindih itu. "Kamu masih perawan?"
Rania mengangguk dengan takut.
Wajah Bastian berubah menjadi masam.
“Shittttt!” umpatnya. Lalu, ia turun dari tubuh gadis tersebut. Menelentangkan badannya diatas ranjang sembari menutup mata menggunakan lengannya.
Rania merasa heran. Ia memberanikan diri untuk bertanya. "A-ada apa? Apakah aku membuat kesalahan?"
Suara Rania terdengar serak. Semua ketakutannya sudah sirna, dan kini berganti menjadi kecemasan. Ia cemas jika Bastian tidak menyukainya dan akan melaporkannya pada Abah Ramli. Jika itu terjadi, maka dirinya akan berada dalam bahaya. Abah Ramli akan menghukumnya habis-habisan.
Bastian menggeleng.
"A-ah, apakah Mas Bastian mau kalau aku yang mengendalikan semuanya malam ini?" Rania terpaksa bertanya. Ia jadi merasa tidak enak hati dengan pria ini. Bagaimanapun juga, melayaninya adalah tugas dirinya sebagai istri sewa.
Namun, Bastian menggeleng lagi.
"Terus, aku harus gimana, Mas?" Rania menggigit bibir bawahnya sambil meremas kedua tangannya. Ia merasa bingung dengan tingkah Bastian yang mendadak memberhentikan permainan panas mereka.
Bastian bangkit dari tidurnya. Ia berjalan dan mengutip pakaiannya di lantai.
"Malam ini juga, aku akan menghentikan kawin kontrak kita," ujar Bastian sambil mengenakan kembali kemejanya.
Kedua mata Rania membulat sempurna. Ia sangat terkejut mendengar keputusan pria tersebut.