Pagi itu udara masih terasa dingin ketika Alena berdiri di depan cermin kamar kosnya.
Hari pertama bimbingan skripsi setelah liburan semester.
Jujur saja, perutnya terasa sedikit mual.
Bukan karena takut dosen pembimbing, tapi karena seseorang.
Reno.
Cowok yang tadi malam dengan santainya berkata, “Bareng gue aja.”
Seolah itu hal yang biasa. Padahal bagi Alena? Sama sekali tidak biasa. Sangat tidak biasa.
Alena merapikan rambutnya yang dibiarkan terurai. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dipadukan kardigan cokelat muda dan celana jeans.
“Jangan kelihatan berlebihan cuma karena dijemput Reno,” gumamnya pada diri sendiri.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Reno Chat
Udah siap?
Jantung Alena langsung berdebar aneh.
Cepat-cepat ia membalas.
Udah, bentar lagi turun.
Belum sempat ia menyimpan ponsel, pesan baru masuk lagi.
Gue udah depan kos.
Alena langsung berdiri kaget.
“DEPAN KOS?!”
Ia segera mengambil tas berisi skripsinya, memasukkan laptop dengan tergesa-gesa, lalu segera keluar kamar.
Begitu sampai di bawah, matanya langsung menemukan sosok itu.
Reno bersandar santai di motor sport hitam miliknya.Mengenakan kaos hitam, jaket tipis berwarna abu-abu, dan celana jeans gelap.Dan entah kenapa… cowok itu terlalu enak dipandang di pagi hari begini.
Beberapa penghuni kos bahkan diam-diam melirik. Ada yang berbisik pelan.
“Cowok siapa tuh? Ganteng banget.”
“Mungkin pacarnya.”
Alena pura-pura tidak mendengar, meski pipinya mulai terasa panas sendiri.
Saat Reno melihatnya keluar, cowok itu langsung berdiri tegak.Tatapannya berhenti di wajah Alena selama beberapa detik, lalu… tersenyum tipis.Sangat tipis, tapi cukup membuat jantung seseorang terasa tidak tenang.
“Pagi, Ren,” sapa Alena pelan.
“Pagi, Al.” Nada suara Reno terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya. Tidak dingin, tidak datar.Aneh. Malah bikin Alena jadi salah tingkah.
“Ayo naik,” kata Reno.
Ia mengambil helm cadangan berwarna hitam lalu menyerahkannya.“Pakai ini.”
“Makasih.” balas Nya
Motor sport milik Reno sebenarnya cukup tinggi, agak sulit dinaiki apalagi membawa tas sebesar ini.Belum sempat Alena naik dengan sempurna, Reno langsung menahan motornya.“Tunggu, pelan saja.”
Cowok itu bahkan sedikit memiringkan motornya supaya Alena lebih mudah naik.
Hal kecil, tapi selalu begitu.Reno tidak pernah romantis, tidak pernah mengucapkan kata-kata manis, tapi perhatian-perhatian kecilnya… selalu berhasil membuat Alena berharap lagi.
“Udah?” tanya Reno.
“Iya uda.” balas Alena
“Pegang saja kalau takut.” ucap Reno
Jantung Alena langsung berdetak kencang.
“Hah?”
“Motor gue agak tinggi.”ucap Reno lagi
“Mmmm…”
Alena menggigit bibirnya pelan, lalu perlahan memegang bagian belakang jaket Reno. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.
Dan Reno seolah menyadari hal itu.
Cowok itu sama sekali tidak mengendarai dengan cepat. Padahal biasanya Reno terkenal suka melaju kencang.
Namun kali ini, kecepatannya jauh lebih pelan. Beberapa kali bahkan Reno melirik kaca spion, seolah ingin memastikan Alena baik-baik saja.
“Dingin?” tanyanya tiba-tiba.
“Enggak kok.”
“Kalau dingin bilang saja.”
Alena diam.
Kadang Reno itu bikin bingung.Kalau tidak suka, kenapa bersikap perhatian?
Kalau suka… kenapa tidak pernah mengatakannya?
Mereka tiba di kampus sekitar dua puluh menit kemudian.
Suasana kampus sudah mulai ramai. Mahasiswa semester akhir berjalan mondar-mandir membawa map skripsi dengan wajah penuh beban.
“Capek banget lihat muka orang lagi ngerjain skripsi,” gumam Reno sambil membuka helmnya.
Alena terkekeh kecil.“Kamu ngomongnya kayak gak lagi ngerjain skripsi aja.”
“Gue santai saja.” ucap Reni
“Makanya gak selesai-selesai.” balas Alena
Reno meliriknya, lalu tersenyum kecil.
“Galak banget pagi-pagi.”
Belum sempat Alena membalas, suara berat tiba-tiba terdengar membuat mereka menoleh.Itu dosen pembimbing mereka, Pak Bagas.
Secara refleks mereka langsung menegakkan badan.“Pagi, Pak.”
“Kebetulan ketemu. Sekarang saja kita bimbingan.” balas Pak Bagas
Reno langsung menghela napas kecil.
“Sial…”
Alena menahan tawa.
Di ruangan dosen, suasananya seperti biasa… menegangkan.
Pak Bagas membaca halaman demi halaman skripsi milik Alena lebih dulu. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, lalu pulpen merah di tangannya mulai bergerak.Coret. Coret. Coret lagi.
Jantung Alena perlahan terasa berat.
“Alena.”
“Iya, Pak…” balas Alena
“Teori yang kamu gunakan bagus, tapi analisisnya kurang mendalam. Bagian ini harus diperbaiki.”
Pak Bagas memberikan banyak catatan.
“Bagian ini direvisi. Ini terlalu umum. Data yang kamu gunakan belum cukup kuat. Kesimpulannya jangan terlalu luas.”
Semakin banyak coretan, semakin sesak rasanya d**a Alena.Bagi Alena, kalau tugas tidak sempurna, dia langsung merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Sementara Reno? Terlihat sangat santai.
Skripsi cowok itu juga dicoret, bahkan lebih banyak lagi, tapi reaksinya hanya,
“Siap, Pak.”
Hanya itu. Santai saja. Seolah bukan masalah besar.
Setelah selesai, mereka keluar dari ruangan.
Alena diam saja, matanya terus menatap kertas yang penuh dengan coretan merah. Rasanya dia merasa gagal total.
“Jangan terlalu dipikirkan, Al.” ucap Reno
Suara Reno membuat langkahnya berhenti.
“Iya…”
“Biasalah begitu.”
“Tapi banyak banget revisinya…” ucap Alena beruntun.
Reno berjalan pelan di sampingnya.
“Lo tuh terlalu keras sama diri sendiri.”
Alena tersenyum kecil.“Tapi aku pengen hasilnya bagus.”
“Bagus itu tidak harus sempurna.” balas Alena.
Kalimat itu membuat Alena terdiam.
Kadang Reno berbicara dengan bahasa yang sederhana, tapi selalu tepat sasaran.
“Kalau gue jadi lo,” lanjut Reno, “mungkin gue udah nangis lihat coretan segitu banyaknya.”
Alena spontan tertawa kecil.“Kamu mau mengejek ya?”
“Enggak.”ucap Reno sambil menatapnya sebentar.“Cuma mau bikin lo ketawa saja.”
Dan lagi-lagi… jantung Alena terasa tidak tenang.
Kantin kampus sudah penuh sesak saat mereka masuk.
Ternyata semua teman-teman mereka sudah berkumpul di sana. Ada Dian, Fika, Tasya, Rara, Kevin, dan Dimas.
“WOI, akhirnya datang juga!” seru Kevin.
“Lama banget kalian,” tambah Dian.
Rara tersenyum tipis. Aneh, hari ini dia terlihat lebih ramah dari biasanya.
“Duduk sini, Al.”
Alena duduk, sementara Reno mengambil tempat di sebelahnya.
“Gimana hasil bimbingan kalian?” tanya Fika penasaran.
“Gue aman sih,” jawab Reno santai sambil duduk dengan santai. “Aman saja meskipun dicoret-coret.”
Semua tertawa. “Selalu saja santai anak ini,” kata Kevin.
“Kalau kamu, Al?” tanya Fika.
Semua mata langsung tertuju pada Alena.
“Mmm… masih banyak bagian yang harus diperbaiki,” jawab Alena sambil tersenyum kecil.
“Oh…”
Belum sempat percakapan berlanjut, Rara tiba-tiba berbicara.“Makanya, Al, jangan terlalu tinggi ekspektasinya.”
Suasana langsung menjadi hening.
Rara terus berbicara sambil menyeruput minumannya. “Lihat saja, skripsi lo gak pernah kalau gak dicoret.”
Dian langsung melirik ke arah Rara.
“Ra…”
Tasya pura-pura sibuk dengan minumannya, Fika mulai merasa tidak nyaman.
Sementara Alena hanya diam saja.
Kalimat itu… terasa menusuk.
Padahal sebenarnya Alena memang sedang merasa kecewa pada dirinya sendiri, dan ucapan itu membuat perasaan gagal itu semakin terasa besar.
“Rara.”
Suara Reno tiba-tiba terdengar. Datar, tapi tegas.Semua orang langsung menoleh.
Cowok itu menatap Rara.
“Gak usah ngomong kayak gitu.”
Rara terlihat sedikit kaget.
“Hah? Gue cuma bercanda kok.”
“Gak lucu.”Nada suara Reno terdengar dingin.“Orang lagi merasa sedih malah dijatuhin lagi.”
Kevin dan Dimas saling berpandangan. Dian bahkan sampai ternganga kaget.
Karena… Reno? Membela Alena? Secara terang-terangan?
Rara tersenyum kecil, tapi kali ini senyumnya terlihat kaku.“Yaudah deh, sensitif banget.”
Alena cepat-cepat tersenyum. “Tidak apa-apa, serius…”
Tapi Reno tetap diam, tatapannya masih terlihat dingin.
Beberapa detik kemudian, cowok itu mendorong gelas minuman ke arah Alena.
“Nih, minum dulu.”
Alena menoleh bingung.“Hah?”
“Dari tadi muka lo kayak mau nangis.” ucap Reno
Jantung Alena berdetak kencang.
“Mana ada…”
“Ada.” ucap Reno
Nadanya pelan, tapi terdengar lembut.
Dan anehnya… Alena malah jadi benar-benar ingin menangis.
Karena… kadang ada orang yang bisa mengerti keadaan kita tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.
Percakapan kembali berlanjut.
Mereka membahas tentang skripsi, dosen yang galak, hingga kegiatan liburan. Hingga matahari mulai terbenam.
“Gue duluan ya,” kata Kevin sambil berdiri.
“Gue juga,” sambung Dimas.
Satu per satu mulai pulang, hingga akhirnya hanya tinggal Reno dan Alena.
“Lo pulang naik apa?” tanya Reno.
“Naik taksi daring saja. atau gak ojol"ucap nya simple.
“Ngapain ribet.” ucap Reno
“Hah?” tanya Alena
“Gue anter.” ajak Reno
“Oh tidak usah, repot-repot saja—” ucap Alena
“Alena.”
Nada suara Reno terdengar pelan, tapi tegas.“Gue anter.”
Dan bodohnya… Alena selalu sulit menolak permintaan Reno.
Perjalanan pulang terasa lebih sepi.
Angin sore menerpa wajah mereka dengan lembut.
Kali ini, tanpa sadar… tangan Alena sedikit lebih erat memegang jaket Reno. Tidak lagi terlalu jauh.
Entah karena dia sudah lelah, atau karena dia merasa terlalu nyaman berada di sana.
Tiba-tiba Reno berbicara.
“Masih kepikiran soal skripsi?”
“Mmm…”
“Jangan terlalu keras sama diri sendiri.”
Alena diam sejenak.
“Aku takut gagal, Ren.”
Motor melambat sedikit saat berhenti di lampu merah.
Reno menoleh sekilas ke arah belakang.
“Lo gak bakal gagal.”
“Kok kamu yakin?”
“Karena lo itu Alena.”
Singkat, tapi cukup membuat Alena terdiam sepanjang perjalanan.
Karena entah kenapa… kalau Reno yang mengatakannya, rasanya dia jadi ingin percaya.
Padahal… cowok itu juga orang yang paling sering membuat hati Alena merasa bingung.
Tanpa terasa Langit mulai berbalut jingga keemasan saat motor sport milik Reno akhirnya berhenti tepat di depan gerbang tempat Alena tinggal. Ia melepas helmnya lebih dulu, lalu menoleh ke arah gadis di belakangnya.
“Udah sampai.”
Alena yang sedari tadi terdiam dalam perjalanan pun turun perlahan. “Iya…”
Suasana di antara mereka tiba-tiba terasa canggung. Biasanya, hubungan mereka tak pernah sedekat ini—menjemput, pergi bersama ke kampus, hingga pulang beriringan. Rasanya… terlalu mirip seperti sepasang kekasih.
Ih, pikiran apa pula ini.
Alena buru-buru menggeleng pelan, berusaha membuang segala pemikiran aneh yang melintas di kepalanya, lalu melepas helm yang dipakainya dan menyerahkannya kembali pada Reno.
“Makasih ya, Ren…”
Reno menerima benda itu dengan anggukan singkat. “Hmm.”
Ia tampak ingin berkata sesuatu, namun seperti biasa—selalu tertahan di ujung bibir, tak pernah benar-benar terucap.
“Udah, sana istirahat,” ujarnya akhirnya.
“Kamu hati-hati di jalan.”
“Iya.”
Hening menyelimuti mereka selama dua detik, sebelum Reno tiba-tiba menambahkan kalimat yang membuat Alena melongo tak percaya.
“Dan jangan nangis gara-gara revisi.”
“Aku gak nangis kali!” bantah Alena cepat.
“Belum,” balas Reno santai.
“Reno!”
Cowok itu hanya tersenyum tipis—sangat tipis, nyaris tak terlihat, namun cukup membuat pipi Alena merona hangat tanpa alasan.
“Bye, Al.”
“Bye…”
Motor itu melaju perlahan menjauh, meninggalkan debu tipis di belakangnya. Dan bodohnya, Alena masih berdiri terpaku di sana beberapa saat, menatap hingga sosok itu benar-benar hilang dari pandangan.
“Ya Allah, Alena…” Ia menepuk pelan dahinya sendiri. “Jangan makin suka, jangan.”
Begitu melangkah masuk ke lobi tempat tinggalnya, Alena langsung mengerutkan kening kebingungan. Di meja resepsionis, berjajar rapi begitu banyak kantong kertas berisi makanan, sementara beberapa pengantar pesanan masih mondar-mandir menunggu konfirmasi.
“Mbak Alena ya?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya?”
“Ini pesanannya.”
“Ini juga.”
“Oh, sama ini lagi.”
Alena tertegun, mulutnya sedikit menganga. “Buset…”
Petugas di meja resepsionis pun ikut tersenyum melihat reaksinya. “Laper banget kayaknya, Mbak.”
Alena nyengir lebar, tak ada rasa bersalah sedikit pun. “Hehe…”
Bagaimanapun kondisinya—sedih, senang, atau sedang bimbang—satu hal yang tak pernah berubah adalah kebiasaannya: jajan selalu menjadi prioritas utama.
Sesampainya di kamar, Alena langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di dekat televisi, lalu mulai membuka satu per satu kantong makanan yang dibawanya.
“Anjayyy…” serunya pelan, matanya berbinar terang.
Ada pizza ukuran medium, steak ayam lengkap dengan saus jamur kesukaannya, kentang tumbuk yang tampak begitu lembut dan gurih, dan yang paling ditunggu—kotak berisi kue kering kenyal yang sedang digemari banyak orang.
Alena tersenyum lebar, rasanya seolah semua beban di pundaknya lenyap seketika.
“INI SIH PENYELAMAT HIDUP.”
Revisi skripsi? Urusan nanti saja.
Perasaan sedih? Bisa ditunda.
Sekarang, makan adalah hal paling penting yang harus dilakukan.
Ia segera mengambil alat penyangga ponsel, lalu memotret setiap hidangan dengan cermat—dari berbagai sudut, merekam sedikit video yang tampak menarik, hingga mengatur pencahayaan agar hasilnya terlihat sempurna.
“Cantik banget, ya Allah…”
Setelah puas, ia mulai mengunggahnya ke laman akunnya, disertai tulisan:
Semester akhir emang capek, tapi jajan adalah solusi 🫠🍕🍪
Hanya lima detik berlalu, banyak orang sudah mulai melihat unggahannya. Dan di antara nama-nama yang muncul, ada satu nama yang membuat jantung Alena berdetak tak beraturan.
Reno melihat cerita kamu
Alena membeku di tempat. “Ih, ngapain sih dia secepat itu lihatnya?”
Namun sebelum pikirannya mulai melayang ke mana-mana, perutnya berbunyi keras, mengingatkan tugas utamanya saat ini.
“Yaudah, makan dulu aja.”
Potongan pertama pizza masuk ke mulut, dan mata Alena langsung membesar. Rasanya lezat sekali.
Lalu dilanjutkan dengan steak ayam yang dipotong kecil-kecil, dicelupkan ke dalam saus jamur yang kental, lalu dikunyah pelan.
“MANTAP SEKALI INI RASANYA,” gumamnya puas. Suasana hatinya langsung membaik drastis.
“Gapapa kalau revisinya banyak… kita hadapi semuanya sambil makan,” bisiknya pada diri sendiri.
Berikutnya adalah kentang tumbuk yang begitu lembut dan lumer di mulut. “Ya Allah… ternyata hidup ini masih layak dijalani.”
Dan yang terakhir, Dubai chewy cookie. Begitu digigit, cokelat di dalamnya meleleh membanjiri mulut, dengan tekstur yang pas dan rasa manis yang tidak berlebihan.
“INI SIH BIKIN LUPA SEGALA MASALAH,” serunya dalam hati.
Ia terus makan dengan lahap, tetap tak lupa meletakkan botol air minum di sampingnya. Bagaimanapun, prinsip hidup Alena sudah pasti: boleh banyak makan, tapi minum air putih adalah kewajiban.
“Biar gak seret,” gumamnya sambil meneguk air.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang tertera di layar membuat wajah Alena seketika melembut.
Mama Menelepon ❤️
Ia segera mengangkatnya dengan nada ceria. “Halo Mama sayanggg!”
Suara lembut dari seberang sana terdengar begitu menenangkan. “Halo anak Mama…”
“Udah pulang dari kampus?” tanya Mama.
“Udah, Maaa.”
“Gimana hasil bimbingannya?”
Pertanyaan itu membuat tangan Alena berhenti bergerak. Jika harus jujur, hari ini terasa berat. Banyak sekali catatan revisi yang diberikan, membuatnya merasa kecewa pada diri sendiri. Bayangan tinta merah di kertas skripsinya masih terngiang jelas di kepala.
Namun, Alena tidak pernah suka membuat orang tuanya khawatir. Maka, seperti biasa, ia memilih terdengar baik-baik saja.
“Mmm… banyak revisi sih, Ma… tapi Alena yakin bisa kok.”
Itu bukan kebohongan. Ia memang merasa kecewa, tapi bukan berarti ia akan menyerah.
Di seberang telepon, terdengar helaan napas pelan. “Semangat ya, Sayang… Mama yakin kamu pasti bisa.”
Kalimat sederhana itu, namun selalu berhasil menghangatkan hatinya. “Makasih, Mama…”
“Oh iya, Al…” suara Mama terdengar lagi. “Papa tadi telepon Mama. Katanya setelah lulus, kamu diminta untuk melanjutkan bisnis di perusahaan keluarga.”
Alena terdiam, pandangannya jatuh ke meja yang masih penuh dengan sisa makanan. Topik ini lagi.
Ia tahu betul bahwa Papa memiliki harapan yang besar padanya. Perusahaan keluarga mereka memang cukup besar, dan sebagai anak tunggal, secara logika dialah satu-satunya penerus. Namun, entah kenapa, hati Alena berkata lain. Ia ingin mencoba berjuang sendiri, merasakan bagaimana rasanya mencari pekerjaan dengan usahanya sendiri, bahkan mungkin merasakan kegagalan, sebelum akhirnya memutuskan jalan mana yang akan dipilihnya.
“Nanti Alena pikirin lagi ya, Ma…” suaranya terdengar pelan. “Tapi… aku pengen mencoba dulu, mau cari kerja pakai cara Alena sendiri.”
Hening menyelimuti sejenak, sebelum suara Mama terdengar lagi, tetap lembut seperti biasa. “Baiklah, Sayang… apapun yang kamu mau, Mama dukung.”
Mata Alena mulai berkaca-kaca. Mamanya tidak pernah memaksa, selalu memberi kebebasan, namun tetap ada di sana mendukung apapun pilihannya.
“Makasih, Mama…”
“Yang penting jangan terlalu capek, ya. Makan yang teratur.”
“Lagi makan nih, Ma.”
“Makan apa?”
Alena langsung bersemangat lagi. “Pizza, steak ayam, kentang tumbuk, sama dubai chewy cookie yang cokelat enak banget itu loh!”
Tawa kecil Mama terdengar dari seberang sana. “Ya ampun… kalau sedih emang langsung cari makan ya, anak Mama.”
Alena ikut tertawa. “Hehe… gapapa lah, yang penting bahagia dan sehat.”
Percakapan mereka berlanjut beberapa menit lagi, sebelum akhirnya telepon ditutup.
Suasana kamar kembali sunyi, hanya terdengar suara AC yang berhembus pelan dan cahaya lampu yang hangat. Alena duduk bersandar di sofa, pandangannya kosong melayang, memikirkan banyak hal—tentang skripsi, masa depan, perusahaan Papa, dan satu nama yang tak pernah lepas dari pikirannya: Reno.
Hari ini cowok itu terasa berbeda. Lebih perhatian, lebih lembut, lebih sering tersenyum—semua hal yang membuat hatinya bimbang dan mudah salah paham.
Alena menggigit kue di tangannya pelan.
“Kenapa sih…” bisiknya pelan. “Kalau emang gak suka, jangan baik-baik banget… bikin bingung.”
Tiba-tiba ponselnya berkedip, menandakan pesan baru masuk.
Pesan dari Reno
Udah makan?
Alena membeku, jantungnya kembali berdetak kencang tanpa alasan yang jelas.
“Ya Allah… cowok ini kenapa sih…”
Cepat-cepat ia mengetik balasan.
Udaaaah 😌
Lalu segera mengirim foto makanan yang tadi dipotretnya.
Beberapa detik kemudian, tulisan ‘Sedang mengetik…’ muncul di layar.
Pantesan cerita lo isinya makanan semua
Alena langsung manyun.
Ih emang kenapa 😠
Lagi-lagi tulisan itu muncul.
Gapapa
Bagus
Jadi gak sedih lagi kan?
Alena terdiam lama. Ternyata Reno menyadari segalanya. Ia tahu bahwa Alena sedang sedih, dan tanpa banyak kata, ia berusaha menghiburnya dengan caranya sendiri.
Hati Alena terasa hangat, namun juga semakin bimbang. Ia menggigit bibir pelan, lalu mengetik pelan.
Mmm lumayan
Balasan datang sangat cepat.
Good
Besok jangan murung lagi
Jelek diliat
“IH!”
Alena tanpa sadar mengomel sendiri, namun senyum di bibirnya tak bisa hilang.
Hari yang tadinya terasa berat dan menyakitkan, kini berakhir dengan pesan sederhana dari orang yang paling sulit ia lupakan. Dan bodohnya, harapan itu tumbuh lagi pelan namun pasti meski ia sadar betul, berharap pada Reno adalah hal yang paling berbahaya.