Suasana di kafe itu riuh, penuh tawa dan obrolan yang bersahutan. Meja panjang di sudut ruangan sudah dipenuhi orang-orang, semuanya teman-teman lama yang sudah saling kenal sejak masa kuliah dulu. Hari ini Rara yang mengajak semua berkumpul, alasannya jelas banget: hari ini ulang tahunnya, dan dia bilang mau mentraktir semuanya.
Tapi di tempat lain, di sebuah ruangan yang lebih sepi, Reno duduk sendirian. Matanya terus terpaku pada layar ponsel di tangannya, jempolnya bolak-balik menggeser layar, mengecek pesan yang sama berulang kali seolah berharap kalau dilihat lagi, balasan yang dia tunggu-tunggu itu bakal muncul tiba-tiba.
Belum ada. Kosong. Nol.
“Kenapa sih…” gumamnya pelan, suaranya terdengar kesal tapi ada nada cemas yang nyelip di sana. “Dari kemarin juga nggak dibalas-balas. Sibuk banget apa sampai nggak sempat angkat tangan lihat HP?”
Dia sudah kirim pesan sejak siang kemarin, cuma nanya lagi apa, terus lanjut nanya udah makan belum, sampai yang terakhir tadi pagi kamu di mana sih?. Tapi semuanya cuma centang satu, atau paling banter centang dua tapi nggak dibaca, apalagi dibalas. Biasanya Alena paling cepet balas, paling lama juga cuma setengah jam, ini udah sehari lebih diam seribu bahasa. Rasanya aneh, nggak enak, bikin kepikiran terus.
Reno menghela napas panjang, memasukkan HP ke saku celana tapi cuma bertahan tiga detik sebelum akhirnya diambil lagi, dicek lagi, masih sama. Dia geleng-geleng kepala, bingung sendiri kenapa bisa sekeras ini kepikiran satu orang.
Belum sempat dia berpikir lebih jauh, ponselnya bergetar. Bukan pesan dari Alena, tapi notifikasi dari grup chat mereka yang isinya semua orang.
Rara: Guys, udah sampai belum? Aku udah di meja pojok yang tadi aku bilangin ya! Jangan lupa hari ini aku yang bayar, makan sepuasnya! 🥳🥳🥳
Fika: Dikit lagi nyampe, macet dikit nih!
Tasya: Aku udah di dalem, liat deh tuh Rara udah duduk manis banget! 😂
Niko: Gas, aku bawa semangat makan nih!
Dimas: Otw, bentar lagi nyampe
Dian: Aku juga udah di jalan!
Reno membaca pesan-pesan itu, terus jempolnya bergerak cepat mengetik: Aku juga udah di dalem, baru nyampe.
Terus dia melihat lagi ke atas, nama Alena nggak muncul. Dia ingat, Rara tadi pagi juga sempat kirim pesan ke Alena, ngajak datang, bilang mau mentraktir karena ulang tahun. Tapi sampai sekarang juga nggak ada balasan.
Reno berjalan menuju meja yang dimaksud, duduk di kursi kosong yang paling ujung. Di depannya Rara sudah duduk, senyumnya lebar banget, terlihat banget kalau dia lagi senang banget hari ini. Begitu lihat Reno datang, senyumnya makin melebar, melambai-lambaikan tangan seolah dia orang paling penting yang datang.
“Eh Reno! Akhirnya dateng juga!” seru Rara, suaranya agak kencang sampai orang-orang di meja lain sempat melirik.
Reno cuma mengangguk tipis, duduk sambil meletakkan HP di meja, layarnya menghadap ke bawah. “Iya, baru nyampe. Selamat ulang tahun ya, Ra.”
Rara makin senang, pipinya merona. “Makasih Reno! Seneng banget kamu mau dateng. Pokoknya hari ini makan apa aja, minum apa aja, semuanya aku yang bayar, nggak usah sungkan-sungkan!”
Beberapa menit kemudian yang lain datang satu per satu. Fika, Tasya, Kevin, Dimas, Dian, semuanya sudah lengkap. Suasana makin rame, saling nyapa, saling ngobrol, bercanda. Semua orang ngucapin selamat ulang tahun ke Rara, ada yang ngasih kado kecil, ada yang cuma ngomong langsung, Rara nerima semuanya dengan senyum lebar banget. Dia merasa ini hari terbaik dalam hidupnya, semua orang ada di sini, semua orang perhatian, dan yang paling penting—Reno juga ada di sini, duduk nggak jauh dari dia.
Di dalam hati Rara, dia senang banget, bahkan ada rasa puas yang nggak bisa dia sembunyiin. Pas dia kirim pesan ke Alena dan nggak dibalas, dia dalam hati bilang bagus deh. Dia tahu selama ini Reno sering banget ngobrol sama Alena, sering perhatian, dan itu bikin dia nggak nyaman. Sekarang Alena nggak ada, nggak ada juga pesan, berarti kesempatan dia buat deketan sama Reno makin besar. Dia bisa duduk di sebelah Reno, ngobrol, bercanda, siapa tahu nanti Reno malah makin perhatian sama dia.
“Syukurlah dia nggak datang,” gumamnya pelan, hampir nggak kedengaran, tapi senyum licik terukir di bibirnya. “Kalau dia ada, pasti Reno lebih sering ngobrol sama dia. Sekarang kan cuma aku di sini, yang paling deket sama dia.”
Dia makin semangat, berencana mau ngobrol banyak sama Reno, mau nunjukin kalau dia juga asik, juga perhatian, jauh lebih baik dari Alena.
Tapi baru beberapa menit semua orang duduk, baru aja pesan makanan, obrolan yang tadinya tentang ulang tahun Rara, tentang kado, tentang rencana liburan, tiba-tiba berbelok arah.
Niko yang baru aja minum es teh, meletakkan gelasnya, terus ngomong: “Eh ngomong-ngomong, Alena mana? Dari tadi nggak kelihatan, nggak dateng?”
Rara yang baru aja mau ngomong sesuatu ke Reno, mulutnya masih terbuka, tapi langsung kaku. Dia berharap banget orang-orang nggak nanya soal itu, tapi ternyata harapannya cuma harapan.
Belum sempat dia jawab, Dimas langsung nyambung: “Iya bener, aku juga mau nanya. Dari kemarin aku kirim pesan juga nggak dibalas. Biasanya kan paling cepet balas, ini aneh banget.”
“Kamu juga gak dibalas?” tanya Dian, matanya kaget. “Aku juga lho! Tadi pagi aku nanya dia mau ikut nggak, cuma dibaca doang, terus nggak ada jawaban. Aneh banget kan?”
Fika ikut angkat bicara, mukanya kelihatan khawatir. “Iya nih, aku juga gitu. Dari kemarin sore nggak ada kabar. Biasanya kalau pergi atau sibuk kan kasih tau, ini diam aja. Kenapa ya?”
Semua orang mulai ngomong bareng, semuanya nanya soal Alena, semuanya bingung kenapa dia nggak ada, kenapa nggak balas pesan. Reno yang dari tadi cuma diem, tiba-tiba angkat kepalanya, mukanya kelihatan lebih cemas dari sebelumnya.
“Aku juga dari kemarin kirim pesan nggak dibalas,” kata Reno, suaranya terdengar berat. “Nggak tau dia di mana, sibuk apa. Biasanya nggak gini, kan?”
“Iya bener banget,” jawab Tasya. “Jadi khawatir deh, jangan-jangan ada apa-apa ya? Atau sakit? Atau pergi ke mana terus HP-nya ketinggalan?”
“Mungkin dia lagi sibuk banget ya? Misalnya lagi ada urusan mendadak?” tebak Kevin.
“Tapi seenggaknya kasih tau dong,” balas Reno, mukanya makin cemberut. “Ini dari kemarin nggak ada kabar sama sekali. Bikin kepikiran aja.”
Rara duduk di situ, senyumnya perlahan menghilang, diganti rasa kesal yang makin lama makin besar. Ini hari ulang tahunnya! Hari ini dia yang mentraktir, hari ini semua orang seharusnya ngomongin dia, ngucapin selamat, ngobrolin hal-hal yang berhubungan sama dia. Tapi apa yang terjadi? Semua orang malah ngomongin Alena! Semua orang khawatir sama Alena! Bahkan Reno, yang seharusnya perhatian sama dia, malah kelihatan paling khawatir, paling kepikiran soal Alena.
Rasa kesal itu makin memuncak, rasanya pengen teriak, pengen bilang “Hari ini ulang tahun aku lho! Kenapa kalian malah ngomongin orang lain?! Aku ada di sini, kalian nggak lihat apa?!”. Tapi dia nggak bisa, dia harus tetap kelihatan manis, tetap kelihatan baik, apalagi di depan Reno.
Dia cuma bisa duduk di situ, mendengarkan obrolan mereka yang nggak berhenti-henti, semua bahas Alena.
“Mungkin dia lagi di luar kota ya?” kata Dian. “Soalnya kalau di Jakarta biasanya pasti bales cepet.”
“Atau lagi ada masalah ya?” tambah Fika. “Kadang kan kalau lagi ada masalah suka ngurung diri, nggak mau ngomong sama siapa-siapa.”
“Tapi harusnya nggak mungkin, kemarin pas aku ngobrol sebentar sama dia dia kelihatan baik-baik aja,” kata Dimas.
Reno menghela napas, tangannya memainkan gelas di depannya dengan gelisah. “Nanti coba aku telepon deh, siapa tahu diangkat. Kalau nggak diangkat juga, aku coba tanya ke orang lain, siapa tahu ada yang tau.”
Mendengar itu, hati Rara rasanya sakit banget. Reno mau telepon Alena? Dia mau cari tau di mana dia? Padahal di sini ada dia, ada yang lagi ulang tahun, ada yang mau ngobrol sama dia, mau deketan sama dia, tapi Reno nggak peduli sama sekali. Semua perhatiannya, semua pikirannya, cuma buat Alena.
“Kalian…” Rara akhirnya berani buka suara, suaranya terdengar agak lirih, campuran antara kesal dan sedih. “Kalian lupa ya hari ini apa?”
Semua orang langsung diem, menoleh ke arah Rara.
“Loh apa emangnya?” tanya Niko, mukanya bingung.
“Hari ini ulang tahun aku lho!” kata Rara, suaranya makin tinggi, matanya berkaca-kaca. “Aku yang ngajak kalian semua, aku yang mau mentraktir, hari ini seharusnya kita ngobrolin aku, kita seneng-seneng bareng buat aku. Tapi apa yang kalian lakuin? Dari tadi cuma ngomongin Alena, nanya dia di mana, kenapa nggak bales pesan, kenapa ini kenapa itu. Kalian lupa kalau aku ada di sini? Kalian lupa kalau hari ini hari penting buat aku?”
Suasana langsung jadi canggung banget. Semua orang saling pandang, nggak tau harus ngomong apa. Mereka sadar, mereka memang terlalu asik ngomongin Alena sampai lupa sama tujuan utama mereka berkumpul hari ini.
“Eh maaf ya Ra, kita nggak bermaksud gitu kok,” kata Fika, mencoba menenangkan. “Kita cuma khawatir soal Alena, soalnya dia jarang banget gini, jadi kita kaget aja. Bukan berarti kita lupa sama ulang tahun kamu kok.”
“Iya iya, maaf ya Ra,” tambah Tasya. “Kita emang salah, terlalu asik ngomongin hal lain. Hari ini kan hari kamu, jadi kita fokus ke kamu ya. Selamat ulang tahun lagi ya, semoga panjang umur, sehat selalu, semua keinginan kamu terkabul.”
Yang lain juga ikut ngucapin lagi, minta maaf, tapi buat Rara, rasanya nggak ada gunanya lagi. Kata-kata itu cuma formalitas aja, karena dia marah, makanya mereka ngomong gitu. Dia tau di hati mereka, mereka masih kepikiran soal Alena, terutama Reno.
Dia menoleh ke arah Reno, berharap Reno juga minta maaf, juga ngomong sesuatu yang bikin dia senang. Tapi Reno cuma menatapnya sebentar, terus mengangguk pelan, bilang “maaf ya Ra, kita nggak bermaksud bikin kamu kesel”, terus setelah itu dia lagi-lagi mengambil HP-nya, lagi-lagi mengecek layarnya, lagi-lagi kelihatan cemas.
Rasa sakit di hati Rara makin besar. Dia tau sekarang, seberat apa pun dia berusaha, seberapa baik dia bersikap, seberapa banyak dia berusaha menarik perhatian Reno, selama ada Alena, dia nggak bakal pernah jadi yang pertama di mata Reno.
Makanan datang, mereka makan bareng, coba bercanda lagi, coba bikin suasana jadi asik lagi, tapi rasanya nggak sama. Rara makan dengan mulut tapi hatinya nggak ada di situ. Dia cuma duduk diam, sesekali tersenyum kalau diajak ngobrol, tapi di dalam hatinya dia kesal banget, sedih banget. Dia berharap hari ini jadi hari terbaik buat dia, tapi ternyata hari ini jadi hari yang paling bikin dia sadar, bahwa perasaan dia ke Reno cuma satu arah, dan yang ada di hati Reno, selamanya bakal jadi Alena.
Dan di meja lain, Reno makan juga, tapi rasanya hambar banget. Makanan enak yang biasanya dia suka, hari ini rasanya nggak ada apa-apanya. Pikirannya tetap di satu tempat: di mana Alena? Kenapa dia nggak bales pesan? Apa dia baik-baik aja?
Hari itu, ulang tahun Rara yang seharusnya penuh kebahagiaan, malah berakhir dengan rasa sakit dan kesal. Dan semua orang yang hadir, meskipun mencoba bersikap biasa saja, tetap nggak bisa menghilangkan rasa khawatir yang muncul karena satu orang yang bahkan nggak hadir di situ.