“Laura, will you marry me.” Javan tiba-tiba saja berlutut di depan Laura, dengan kotak cincin di ujung tangannya.
Suasana ramai orang lalu lalang, sejenak terhenti karena mereka tertarik untuk menyaksikan, momen sepasang kekasih tersebut. Hubungan asmara yang sudah berjalan selama lima tahun lamanya, membuat Javan Mongoose tidak ingin menunda pernikahan. Usianya yang semakin matang dan pekerjaan mapan, memantapkan hatinya untuk mempersunting sang kekasih. Dia berharap dengan lamaran romantis di depan umum, Laura tidak lagi memiliki alasan untuk menolak dan membuatnya malu.
Namun, faktanya bukanlah Javan yang merasa malu, melainkan sang kekasih —Laura Swan. Dia yang tidak suka menjadi pusat perhatian. Wanita itu lesu menutup wajahnya dengan tangan. Bukan karena merasa terharu, tetapi kesal, sangat kesal.
“Kenapa juga dia harus melamar di sini sih? Tidak bisakah dia membaca suasana hatiku terlebih dahulu sebelum bertindak,” gumamnya kesal.
“Laura ... Laura?” Javan yang berlutut cukup lama mulai merasa tidak enak. Jangan-jangan lamaran kali ini juga gagal seperti sebelumnya.
Ya, bukan hanya sekali Javan berusaha melamar Laura dan ini merupakan usaha yang kelima kali. Oleh sebab itu, Javan berharap hati Laura benar-benar bisa dia taklukkan kali ini. “Kumohon jangan membuatku malu,” batin Javan.
“Javan, aku—“
“Terima, terima, terima,” sorak sorai orang-orang yang masih menunggu jawaban adegan tersebut terdengar memaksa Laura untuk menerima lamaran Javan. Semua orang menantikan akhir bahagia layaknya drama percintaan pada umumnya.
Tidak sedikit para wanita yang saling berbisik satu sama lain, mereka menganggap cara Javan sangat romantis dan tidak semua pria bersedia melakukannya, apalagi di muka umum. “Beruntungnya wanita itu.”
Laura tidak bisa lagi mengelak, mendengar ocehan yang dianggap sebaliknya. “Baiklah yang penting aku harus segera keluar dari situasi ini terlebih dahulu,” pikir Laura sambil mengangguk-angguk.
Sialnya, Javan serta orang-orang malah mengira tindakannya sebagai isyarat jawaban bersedia menerima lamaran itu. Javan yang bahagia tidak ingin membuang waktu langsung menyematkan cincin di jari manis Laura dan langsung memeluk erat wanita yang selama ini dicintainya itu.
“Terima kasih, terima kasih, Sayang.”
Berbeda dengan Javan yang terlihat bahagia, Laura malah tampak syok dan memaksakan senyum kecutnya. Niat hati ingin menunda malah dianggap iya.
Sudahlah, dia sudah lelah dengan pekerjaan di rumah sakit tadi, biarlah Javan berbahagia untuk malam ini. Laura akan menjelaskannya besok saja. “Javan, kau memelukku terlalu erat, aku bisa mati,” ucap Laura kesulitan bernapas.
“Oh, maaf maaf, Sayang. Aku tidak sengaja karena terlalu bahagia. Maaf maaf dan terima kasih, terima kasih karena sudah bersedia menjadi istriku.”
Kerutan berlapis tercetak di dahi Laura, rasa tidak nyaman mendengar kata istri dari mulut Javan membuatnya sedikit risih. Meskipun menjalin hubungan cukup lama, tetapi entah mengapa Laura tidak pernah membayangkan akan menikah dengan Javan.
Kekasihnya itu pasti akan memintanya berhenti bekerja setelah menikah, agar fokus mengurus rumah tangga, sedangkan Laura sangat amat belum siap meninggalkan karir yang selama ini diraihnya. Namun, mau bagaimana lagi, kalau memang begini akhirnya, Laura hanya berharap Javan juga mengalah dan tidak terlalu banyak menuntut.
“Oh iya. Bagaimana kalau kita langsung saja mencari WO untuk pernikahan kita nanti. Atau kau mau langsung mencoba gaun saja? Atau—” Javan yang tampak begitu bahagia langsung dihentikan oleh Laura.
“Javan! Tidak bisakah kita bahas hal ini lain hari? Aku sudah terlalu lelah menghadapi banyak pasien hari ini,” kesal Laura.
“Maaf, Sayang, maaf. Aku hanya terlalu bersemangat untuk menikahimu. Kalau begitu bagaimana kalau kita cari makan malam dulu?”
“Aku sudah tidak punya selera makan,” batin Laura tidak mampu keluar dari mulutnya. Hanya gelengan kecil yang bisa Laura berikan sebagai jawaban. Dia hanya ingin segera istirahat dan tidak mau mendengar ocehan Javan yang pastinya hanya akan membahas seputar pernikahan. “Aku mau pulang saja. Aku butuh istirahat. Besok aku harus berangkat pagi.”
“Baiklah kalau begitu. Biar aku antar!”
Keduanya pun bergerak pulang. Benar saja, sepanjang perjalanan Javan terus mengoceh tentang pernikahan. Pria itu juga membahas keinginan untuk segera memiliki momongan. Tak tanggung-tanggung dia mengharapkan lima anak dari Laura, tanpa memikirkan bagaimana pendapat Laura sendiri.
“Kenapa juga harus macet? Kepalaku rasanya mau pecah mendengar dia mengoceh,” batin Laura. Dia memilih berpura-pura tertidur daripada harus menanggapi ocehan Javan. Memperdebatkan hal yang belum pasti hanya akan menambah beban pikiran, sedangkan dia tidak kekurangan masalah yang membuat kepalanya pecah.
Syukurlah setelah beberapa waktu perjalanan keduanya pun tiba di kediaman Mario, tempat di mana Laura dan keluarganya tinggal bersama. Meskipun memiliki penghasilan yang lebih dari cukup, ayah Laura tidak mengizinkan putri-putrinya untuk tinggal sendiri, kecuali setelah menikah tentunya.
Mobil hitam mulai berhenti di halaman depan. Laura membuka sabuk pengamannya dan berkata, “Terima kasih sudah mengantarku.”
Namun, Javan juga melepaskan sabuk pengamannya. Dia bertindak tidak seperti biasanya yang langsung pulang setelah mengantar sang kekasih. “It’s okay. Lagi pula aku harus bertemu dengan keluargamu.”
“Apa? Sekarang?” tanya Laura terkejut.
“Tentu saja. Tidak baik menunda kebaikan. Ayahmu juga pasti merasa bahagia mendengar pernikahan kita.”
“Tapi ini sudah malam?” Laura berusaha menahan Javan. Dia saja ingin meminta maaf dan mengembalikan cincinnya besok, kenapa pula Javan malah mau merusak rencananya.
“Baru jam sebelas.” Javan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sejenak. Dia lantas menoleh ke rumah Laura, di mana semua lampu tampaknya masih menyala, artinya penghuni rumah tersebut masih terjaga. “Lagian sepertinya ayahmu belum tidur.”
Tanpa menunggu persetujuan Laura, Javan turun dari mobilnya.
Laura yang panik berusaha mengejar dan menahan Javan. “Tapi, Javan.”
“Tenang saja. Aku akan pergi jika ternyata ayahmu sudah tidur,” ucap Javan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Laura.
“Dasar tidak sopan!” gerutu Laura.
Sementara itu, di dalam rumah seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam tampak melayangkan tangan ke udara. Dia mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi putrinya yang kini tengah bersimpuh. “Berani-beraninya kau mencoreng nama baik keluarga ini, hah.”
“Sudah, Pa sudah. Lagi pula Rose sudah meminta maaf dan sangat menyesal. Jangan menyiksanya seperti ini! Kasihan dia.” Sophia yang melihat putrinya di tampar oleh sang suami untuk pertama kali langsung memeluk Rose.
Wanita itu memeluk dan mengusap lembut pipi putrinya yang kini menangis tersedu-sedu. Bekas merah dan panas, tempat di mana tangan Mario mendarat, terlihat begitu jelas.
Selama ini suaminya itu selalu berhati lembut. Namun, baru kali ini Sophia melihat kemarahan yang begitu besar dalam diri suaminya.
“Maaf kau bilang?” Mario yang merasa darah mulai mendidih di kepala memejamkan matanya untuk sejenak. Pria itu bergerak membelakangi istri dan putrinya, dengan satu tangan di pinggang dan satu lainnya menyugar rambut yang sudah tidak lagi menampakkan sehelai pun warna putih, karena dia baru saja mengecatnya dengan warna pirang.
Lima belas tahun lamanya mereka menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Dia menjaga kedua putrinya dengan sangat hati-hati dan selalu memberikan nasehat yang baik. Akan tetapi, mengapa hal buruk seperti ini masih juga terjadi.
“Bagaimana bisa aku memaafkannya jika ayah dari bayi yang dikandungnya pun kita tidak tahu? Anak yang tidak jelas keturunan siapa?” Suara lirih penuh dengan kekecewaan terdengar begitu jelas. Raut wajah Mario lesu, penuh dengan ketidakberdayaan setelah mengetahui salah satu putrinya hamil di luar nikah. Dia adalah sosok yang menjunjung tinggi adab dan moral. Namun, tampaknya dia gagal dalam mendidik anaknya sendiri.
Padahal jelas-jelas Rose tidak pernah menunjukkan diri jika dia memiliki kekasih. Belum lagi, Rose masih kuliah. Dia adalah sosok yang penurut terhadap orang tua dan selalu mengikuti arahan. Bagaimana bisa Rose menyalahi aturan.
“Pa, dia bukan anak yang tidak jelas keturunannya. Dia adalah anakku.” Rose yang sedari tadi terdiam mulai membuka mulutnya. Dia menghapus air mata di pipi, menahan isakan tangis yang menyakitkan hati dan mengelus perut datar, tetapi akan mengembang beberapa bulan kemudian itu.
“Beraninya kau!” Mario yang murka kembali hendak memukul Rose.
Namun, Laura yang baru saja tiba segera berlari dan menghentikannya. “Papa! Apa yang Papa lakukan?”
Laura yang tidak tahu kenapa situasi di dalam rumah begitu mencekam menghentikan perdebatan itu. Meskipun saudara tiri, Laura dan Rose memiliki hubungan layaknya kakak dan adik pada umumnya, alias tidak peduli dengan urusan masing-masing. Hanya saja, apa kesalahan yang dilakukan oleh adiknya tersebut, hingga dapat menyebabkan ayahnya murka dan ringan tangan.
Suasana hening untuk sesaat. Hanya isakan tangis dan deru napas memburu yang terdengar di sana. Tidak ada satu pun orang yang berani membuka mulut, sedangkan Mario berusaha untuk menjernihkan pikirannya.
“Kamu pikir membesarkan anak seorang diri tanpa suami itu mudah? Bukan hanya gunjingan yang akan kau dapat. Tapi, anakmu juga akan di cap sebagai anak haram seumur hidupnya. Kamu pikir dirimu mampu menerima semua itu sendirian, sedangkan pria yang menghamilimu mungkin sedang asyik dengan wanita lain.”
Mario terdiam sejenak lalu kembali berkata, “Sebelum Papa benar-benar murka dan mengusirmu dari rumah ini. Lebih baik kamu katakan saja, siapa ayah dari anak yang kau kandung itu.”
“Apa? Rose hamil?” ucap Laura terkejut. “Bodoh apa dia lupa memakai pengaman?” lanjutnya dalam hati.
Rose menoleh ke arah pintu secara perlahan, dia melihat di mana sosok yang diharapkan berdiri di ambang pintu. Cukup lama Rose menatapnya, sehingga semua orang di dalam sana pun paham apa artinya.
“Tidak mungkin. Kau bercanda, kan?” teriak Laura.