“AMEL!!!” teriakan itu lantas membuat wanita yang bernama Amel itu membalikan badan dan mandapati Clara yang sedang berlari kearahnya sedang menenteng buku ditangan dan tas di Pundak.
“Host….” Menghembuskan nafas Ketika sudah tiba di depan wanita itu, dan sedikit menurunkan badannya untuk mengurai Lelah.
“Capek ya?” tanya Amel tanpa rasa bersalah sama sekali. Padahal sahabatnya itu kan mengejar dirinya.
“Enggak!!” jawab Clara dengan sinis, sudah tahu malah nanya pula. Tentu wanita itu mengucapkan itu dalam hatinya.
“Nih…” wanita itu menyerahkan setumpuk buku yang ada ditanganya ke lengan Amel, yang sigap langsung diterima oleh wanita itu,
“Gara-gara buku kamu aku hamper terlambat!” omel Clara menatap tajam kearah Amel. Dan lagi sahabatnya itu hanya membalas cengiran sebelum mengimbuhi kalimat Clara barusan.
“Makasih ya, udah mau bentuain aku.”
“Ya, dan aku mau kamu teraktir aku siang ini makan.”
“Bilang aja kamu minta geratisa, iyakan?” goda Amel disertai mata memicing, curiga dengan permintaan temannya itu.
Sementara Clara memasang cengiran khasnya lalu mengagaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. “Anak kos, biasa.” Imbuhnya sambal memulai melangkahkan kakinya menuju kelas tempat mereka mengajar.
Clara dan Amel berpisah, mereka memang memiliki kelas yang berbeda dan mengajar mata pelajaran yang berbeda. Matematika adalah jurusan Clara sedangkan Amel dia jurusan Bahasa Indonesia. Kedua sahabat itu melepas gengaman tangan mereka seolah berat untuk saling melapas antara satu sama lain, padalah jarak kelas mereka hanya berbeda dua ruangan saja.
***
“Hahhahhaha….” Clara begitu puas tertawa saat Amel menceritakan semua kejadian paginya kepada Clara dimana ia lupa terhadap suaminya sendiri.
Dan Clara, wanita itu semakin terbahak-bahak saat tahu kalua Amel malah teriak di kamarnya waktu melihat pria itu- tentu yang di maksud adalah Angga.
“Astaga Clara sakit perutku. Bisa-bisanya kamu lupa sama suami kamu sendiri,” lanjutnya kemudian. Tangannya sudah memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa terlalu lama.
“Ya, dan tertawa lah sepuasmu Clar. Kau tidak berada di posisiku sih. Coba kalau bisa di tukar, aku akan dengan senang hati memberikan itu padamu.” Bibir Amel melengkung kebawah, mengingat ia tidak menikah dengan lelaki pilihannya membuatnya merasa amat terbebani.
Pun demikian, memang ini salahnya juga. Sudah lama sang bapak meminta ia menikah. Bahkan dari umur dua puluh tiga tahun, saat dua tahun setelah kelulusan. Namun Amel tidak menyanggupi karena baginya menikah muda itu tidak ada dalam kamusnya.
Dan saat umurnya sudah menginjak ke dua puluh enam tahun, malah sang bapak berusaha mencarikan jodoh. Bertemulah ia dengan Angga suaminya saat ini.
Ganteng sih memang, tapi perasaan yang Amel punya belum ada bahkan sedikipun pada pria itu.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Amel. Bagimana dia akan hidup dengan lelaki yang bahkan tidak ia sukai sama sekali seperti Angga?
“Jadi ceritanya kau menyesal dengan pernikahanmu Mel?” tanya Clara sambal memainkan alisnya naik turun. Pasalnya ia juga hadir disana waktu itu, dan ia melihat wajah calon suami Amel yang begitu tampan dan gagah.
Bibirnya yang tipir, badannya yang tegap dengan postur tubuh seratus Sembilan puluh centi. Bodynya yang berisi serta jangan lupa tatapan mata coklat yang dapat menghipnotis semua kalangan wanita itu.
Jika dirinya yang ditukar dengan Amel mungkin bisa jadi dia akan bersedia. Angga pria dengan segala ketampanan yang dimiliknya, siapa yang tidak akan mau?
“Aku tidak menyesal. Hanya saja aku khawatir,” imbuh Amel mengeluarkan nafas dari bibirnya.
“Apa sih yang membuat kamu khawatir Mel? Takut kalau suami kamu itu tidak setia? Iya?”
“Salah satunya itu Clar. Tapi ada satu hal lagi, cinta. Bagimana kalau aku tidak bisa cinta sama dia. Padahal menurut teori yang sudah kita tahu, rumah tangga tanpa cinta maka sama saja itu akan menghancurkan. Seberapa lama pun itu kita mencoba bertahan.”
Keheningan terjadi beberapa saat. Membiarkan mereka saling berpikir masing-masing. Sebelum Clara menyahuti kalimat yang membaut Amel langsung melotot.
“Kamu kan bisa belajar mencinta dia Mel.” Detik itu juga wanita itu terdiam karena sadar sudah dalah bicara dengan sahabatnya itu.
Pelan dia mengimbuhi, “Pelan-pelan saja Mel. Nanti juga terbiasa sendiri.” Tidak ada sahutan lagi dari amel membuat Clara bernafas lega, ia tahu bagaimana sahabatnya itu. Bahkan sudah kenal dengan luar dan dalamnya.
***
“Mau pulang denganku?” tanya Clara yanga sudah menstater motor metik beatnya yang berwarna putih. Hendak pergi. Namun melihat sahabatnya masih setia di pintu pagar sambal melirik jam tangan yang melekat di lengan kirinya, Clara membatalkan niatnya.
“Gak papa?” Amel bertanya. Arah rumah mereka berlawanan. Dari tempat amel akan memakan dua kali lipat waktunya dari sekolah, sungguh tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.
Tapi kali ini angkot sudah tidak ada lagi yang lewat. Tukang ojek juga karena sekoleh mereka lumayan cukup jauh dari jalanan. Sialnya lagi, tadi pagi dirinya di antar…. Jadilah kini Amel kesusahan mendapatkan angkutan untuk pulang kerumah.
“Ya, gak papalah Mel. Besok kan sebagai balasannya kamu bisa teraktir aku lagi di warung bu Erni…”
Seketika itu juga tangan Amel dengan Gerakan cepat menjitak kepala Clara. Dan sahabatnya itu memberengut serta mengelus kepalanya yang terkena jitakan Amel.
“Rasain….” Imbuh Amel. Menatap tajam Clara, lalu detik kemudian tertawa melihat wajah Clara yang meringis.
Setelah tawa mereka reda, Clara pun berucap, “Ayo… keburu malam.” Dan detik berikutnya saat Amel hendak naik keatas tempat duduk di belakang Clara sebuah suara brigton dari belakang mereka menghentikan pergerakan kaki Clara.
“Clara….” Lelaki itu memanggilnya sambal berlari kecil. Dan menyamakan jaraknya saat Amel sudah Kembali berdiri diatas tanah.
“Maaf aku lama, macet….” Imbuh Angga tidak dating dari gerbang depan, melainkan dari gerbang belakang. Karena menurutnya dekat dari kantornya.
Dia sudah berusaha secepat mungkin mengejar jam pulang mengajarnya Amel, dan beruntungnya dia saat wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu belum pulang—revisi hampir pulang itu.
“Loh di jemput toh… ko gak bilang,” Clara berusaha menggoda sahabatnya Amel. Namun tatapanya tidak beralih dari Angga yang menurutnya seperti pangeran berkuda.
“Mel. Pengaran lo jemput tuh,” tambah Clara dan kali ini ia Sudah menatap Amel yang juga menatapnya penuh dengan intimidasi.
Merasa jadi seperti penganggu di sana, Clara menghidupkan motornya dan melesat pergi dari sana. Amel hanya menatap punggung sahabatnya itu beserta motornya hilang perlahan-lahan.
“Mel, yok pulang.” Angga mengajak wanita itu untuk Kembali. Di raihnya tangan Amel, berbalik dan berjalan.
Namun langkahnya terhenti karena Amel belum juga bergerak, wanita itu sedang memandang tangan mereka yang bartaut. Sadar, Angga langsung melepasnya, lalu ia berucap lirih sesaat.
“Maaf.”
bersambung